Ada banyak “hasutan” tidak menyenangkan yang akan menyambut penumpang saat baru turun dari Stasiun Tugu, Jogja: driver ojek online yang menawarkan jasa tanpa aplikasi, ojek pengkolan, hingga hasutan dari orang yang minta donasi.
Setelah beberapa kali turun di Stasiun Tugu, Jogja, Prisa (26) mengaku kesal dengan cara “menghasut” orang-orang yang minta donasi. Karena bagi Prisa, mereka cenderung tidak jujur dari awal, tapi tiba-tiba menjebak seseorang pada perasaan tidak enak di akhir.
Orang minta donasi di Stasiun Tugu Jogja menarget orang sendiri
Beberapa kali turun di Stasiun Tugu, Jogja, Prisa melihat kebanyakan orang yang minta donasi ini adalah perempuan. Mereka beroperasi di trotoar jalan persis di depan pintu kedatangan.
Dari beberapa kali pengalaman Prisa, orang yang minta donasi seperti sudah menarget penumpang yang sendirian. Apalagi jika tampak tidak terlalu terburu-buru.
“Aku setiap turun kan nggak buru-buru. Jalan santai aja sambil menikmati hiruk-pikuk Jogja,” ujar perempuan asal Jakarta tersebut, Sabtu (4/4/2026).
Di momen itulah, seorang perempuan langsung menghampiri Prisa dengan sapaan khasnya: “Permisi, Kak. Boleh minta waktunya sebentar….”
Dari beberapa kali pengalaman saya turun di Stasiun Tugu, Jogja, saya dua kali mengalami hal serupa. Setelah keluar dari area peron, saya biasanya memang melipir untuk rokok sebatang sebelum memesan ojol. Di momen itu, dua kali saya dihampiri dua perempuan berbeda dengan tujuan yang sama: minta donasi.
Orang yang minta donasi di Stasiun Tugu Jogja tidak jujur dari awal
Prisa mengaku lama-lama semakin kesal bahkan menyebut orang yang minta donasi di Stasiun Tugu Jogja “menghasut” karena tidak jujur dari awal.
Begini, beberapa kali bertemu dengan mereka, setelah sapaan “Permisi, Kak”, mereka biasanya akan langsung menegaskan kalau mereka tidak jualan. Mereka hanya butuh waktu sebentar untuk didengar.
“Kalau pengalamanku yang pertama sampai ketiga kali ketemu mereka, kan aku ngasih kesan penolakan dari gestur. Mereka nangkep, terus langsung bilang, ‘Tenang, Kak, kami nggak jualan kok. Kami cuma mau minta waktu sebentar, 5 menit aja.’ Ya sudah aku dengerin lah,” kata Prisa. Orang yang minta donasi itu kemudian akan mempresentasikan komunitas atau yayasan miliknya.
Ternyata jebakan di akhir…
Orang yang minta donasi itu memang menepati janji: presentasi secepat mungkin. Itu melegakan Prisa karena bisa lekas melanjutkan pesan ojol.
Di awal-awal bertemu dengan orang yang minta donasi di Stasiun Tugu, Jogja, Prisa mengira endingnya paling-paling diminta untuk follow akun Instagram. Namun, Prisa keliru.
Sebab, di akhir, mereka langsung nodong menunjukkan nomor rekening atau barcode QRIS: minta donasi. “Seikhlasnya aja, Kak. Donasi kakak nanti akan kami gunakan untuk bla bla bla bla,” ujar Prisa. Bahkan ada juga yang sudah mematok minimal: minimal Rp50 ribu-Rp100 ribu untuk donasi.
Tak pelak Prisa merasa dihasut dan dijebak. Sebab, sejak awal mereka bilang tidak jualan. Asumsi Prisa mendengar itu: jika tidak jualan, artinya Prisa hanya cukup mendengarkan tanpa harus mengeluarkan uang akhirnya. Tapi ujung-ujungnya Prisa tetap mengeluarkan uang juga untuk donasi.
“Ujungnya jualan kesedihan dan presentasi kan. Tapi poinku gini. Jujur aja dari awal kalau minta donasi. Jadi dari situ orang bisa nentuin sendiri, mau ngasih atau nggak. Kalau orang ngerasa dihasut dan dijebak kayak aku, akhirnya malah nggak ikhlas waktu ngasih donasi,” gerutu Prisa.
Sejak tiga kali merasa terhasut dan terjebak orang yang minta donasi di Stasiun Tugu, Jogja, Prisa akhirnya mulai menghindari area luar tiap turun. Ia memilih duduk di area dalam, memesan ojol, lalu keluar saat ojol mulai menuju titik jemput yang sudah Prisa tentukan.
Butuh ketegaan untuk menolak, hati-hati modus penipuan
Dalam sebuah perjalanan, saat turun di Stasiun Tugu, Jogja, seorang teman yang menyertai perjalanan saya berbisik: harus tega-tegaan menolak orang yang minta donasi. Alasan pertama, persis seperti keluhan Prisa: tidak jujur dari awal. Alasan kedua, bisa jadi ada modus penipuan di balik aktivitas minta donasi tersebut. Alasan ketiga, ya memang karena tidak pengin memberi donasi saja.
(Dan memang ada loh yang bermodus penipuan. Pada Maret 2026 aparat Polres Kota Yogyakarta menangkap lima terduga pelaku penipuan berkedok minta donasi yang beroperasi di sekitar Stasiun Tugu. Penangkapan dilakukan setelah aksi mereka viral di media sosial dan memicu keresahan publik. Dalam laporan Polresta Yogyakarta disebut, terungkap adanya sistem pembagian hasil di antara para pelaku.)
Bisikan itu diberikan usai teman saya itu melihat saya dihampiri oleh orang yang minta donasi, saat saya sedang menikmati sebatang rokok. (Sejak turun dari kereta, sebenarnya kami sudah pamit berpisah tujuan. Tapi ternyata, saat saya masih menikmati sebatang rokok, ia masih mengamati gerak-gerik saya dari kejauhan).
Teman saya itu mengaku beberapa kali dihampiri orang yang minta donasi di Stasiun Tugu, Jogja. Namun, sejak sapaan “Permisi, Kak.”, teman saya sudah langsung menyergah, “Maaf saya sedang buru-buru.”
Tapi jangan anggap selesai di situ. Sebab, kalau meminjam istilah teman saya, mereka akan melayangkan hasutan memelas: Cuma sebentar dan tidak jualan. Hanya mau presentasi.
“Aku sudah pernah pakai dua cara penolakan. Cara satu, tetap nolak walaupun mereka bilang nggak jualan atau cuma sebentar. Akhirnya mereka pergi sambil minta maaf dan terima kasih. Cara dua, aku pernah dengerin aja presentasinya, tapi pas bagian nyodorin rekening donasi, aku bilang nggak bisa ngasih. Walaupun sambil bujuk ‘seikhlasnya’ dan sambil memelas. Karena dari awal nggak ada bilang minta donasi,” beber teman saya itu.
Selalu luluh dengan narasi orang tua dan anak-anak
Tapi ada orang yang mengaku, walaupun sering kali kesal, tapi ujung-ujungnya tetap memberi donasi karena luluh. Misalnya Darwin (31) yang kerap naik-turun kereta di Stasiun Tugu, Jogja.
“Ya nggak setiap turun (Stasiun Tugu) terus ada orang minta donasi. Tapi beberapa kali lah. Dan aku pasti ngasih,” ujar Darwin.
Pasalnya, Darwin menghadapi orang minta donasi yang membawa narasi orang tua dan anak-anak. Misalnya, yayasan peduli lansia terlantar atau komunitas untuk anak-anak terlantar.
Itu membuat Darwin langsung teringat orang tuanya yang sudah sepuh dan anak-anaknya yang masih kecil.
“Syukur orang tua dan anak-anakku hidup cukup. Mangkanya, aku nggak bisa kalau lihat ada orang tua dan anak-anak terlantar. Karena aku sendiri nggak akan membiarkan orang tua dan anak-anakku begitu,” ujarnya.
“Kalau prinsipku, ya sudah aku ngasih donasi. Urusan ada unsur penipuan atau disalahgunakan nantinya, itu sudah jadi urusan Tuhan,” tegasnya.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Pintu Timur Stasiun Tugu Jogja Nggak Cocok untuk User Eksekutif Nirempati dan Ojol yang Kesabarannya Setipis Tisu atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














