Di kalangan anak-anak perantauan, ungkapan “Rindu masakan ibu” menjadi ungkapan populer untuk menggambarkan betapa kangen untuk pulang ke rumah.
Alasannya, pertama, saat di rumah anak perantauan tidak perlu bingung mencari makanan yang murah atau sesuai selera. Sebab, kala bangun tidur, ibu sudah menghidangkan makanan di meja.
Kedua, ada tipikal anak perantauan yang memang benar-benar hanya cocok dengan masakan ibu. Contohnya saya sendiri. Sesederhana apapun masakan ibu, di lidah saya itu tetaplah makanan terbaik dan terenak.
Saya tidak pernah kehilangan mood makan walaupun yang terhidang hanya sambal terong dan telur dadar. Berbeda kalau di perantauan. Meski banyak pilihan makanan, nyatanya tetap membenturkan saya pada kebosanan yang berujung pada tidak selera makan.
Namun, dalam sebuah obrolan di Threads yang saya ikuti pada Rabu (11/3/2026) dini hari, ternyata ada anak perantauan yang mengakui kalau “Rindu masakan ibu” kerap kali hanya slogan semata: untuk membahasakan “Pengin pulang” atau “Kangen rumah” secara lebih puitis.
Masakan ibu yang “itu-itu saja” di rumah merusak mood
Misalnya yang diakui oleh Zabila (24), perempuan asal Sukabumi yang merantau di Kota Bandung, Jawa Barat.
Zabila sebenarnya tidak menampik kalau sekali waktu ia benar-benar rindu dengan masakan ibu. Terutama saat rasa kangen pada rumah sudah memuncak sementara musim liburan masih jauh.
Hanya saja kalau ditanya, ia tidak bisa mendeskripsikan, masakan ibu seperti apa yang ia rindukan. Pokoknya kangen saja dengan aroma dapur saat ibu memasak.
Masalahnya kemudian, kendati sudah pulang ke rumah, antusiasme untuk makan masakan ibu hanya terjadi sehari/dua hari saja. Selebihnya adalah kebosanan.
“Kayak nggak mood aja lihat makanan yang itu-itu saja. Nggak tahu ini problem umumnya cewek atau nggak ya. Tapi aku suka gitu. Soal makan mood-moodan,” ucap Zabila.
Begitu juga dengan Elham (26), pemuda asal Tulungagung yang merantau di Gresik, Jawa Timur. Kalau kata Elham: “Pas jauh dari rumah ngiler membayangkan wujud dan aroma dapur. Tapi pas sudah di rumah, malah enek dan nggak selera karena menunya (apalagi menu desa sebagaimana tempat tinggal Elham) yang membosankan dan nggak variatif.”
Lebih pilih nyari makan di luar atau bikin mie instan daripada masakan ibu karena membosankan
Jika sudah begitu, Zabila biasanya lebih sering memilih mencari makan di luar. Pada akhirnya tidak jauh berbeda dengan aktivitas di perantauan: nyari makan di luar.
Elham pun sama. Tapi kalau tidak sedang ingin keluar rumah, ia dengan sadar dan sengaja membeli dua bungkus mie instan di warung tetangga. Lalu dengan tanpa berdosa pula memasaknya dengan sepengetahuan ibu.
“Ibu tanya sih, ‘Loh, udah dimasakin kok bikin mie?’. Dulu aku jawab terus terang, lagi nggak tertarik aja sama menunya,” ungkap Elham.
Elham tidak memperhatikan ekspresi wajah sang ibu mendengar jawaban tersebut, karena Elham sibuk memasak mie instan. Namun, yang ia tahu, ibunya langsung diam. Itu artinya, sebenarnya tidak terjadi apa-apa dari urusan lebih memilih memasak mie instan saat masakan ibu banyak terhidang di meja makan.
Diam-diam ibu tersakiti dan memendam duka mendalam
Seiring waktu, Zabila dan Elham akhirnya sadar kalau tindakannya yang terkesan “menyepelekan” masakan ibu tersebut ternyata membuat ibu diam-diam tersakiti dan memendam duka mendalam.
Kesadaran itu Zabila dapat justru dari media sosial. Sebuah konten pernah melintas di beranda Instagramnya. Isinya: masakan ibu sering kali bukan perkara rasa. Tapi kasih sayang besar pada anak-anaknya.
“Kalau anak ngabari mau pulang ke rumah, ibu itu sangat semangat dan antusias buat masakin. Bagi dia masakannya bakal disukai. Karena sedari anak kecil, ya masakan-masakan dari tangan ibu pasti masuk di mulut anak,” tutur Zabila mencoba menjelaskan apa yang ia tangkap dari konten tersebut.
Sehingga, ketika tiba-tiba (seiring waktu) anak merasa “enek” dan bosan dengan masakan ibu, diam-diam ada perasaan sedih dalam hati ibu. Di kepala ibu berdentang-dentang pertanyaan: “Kira-kira harus masak model apa ya agar anak makan di rumah?”
Sedangkan kesadaran Elham didapat dari cerita adiknya. Sepengakuan sang adik, tiap kali masakan tidak habis dan harus dibuang, tampak jelas dari wajah ibu kalau perempuan itu amat nelangsa.
Ya siapa yang tidak nelangsa melihat masakan yang dimasak sungguh-sungguh untuk menyenangkan anak justru harus berakhir menjadi sampah. Bahkan sama sekali tidak disentuh oleh sang anak.
“Adikku katanya juga beberapa kali ibu ngeluh, ‘Lah iya sudah dimasakin tenanan (sunggung-sungguh), tapi masmu nggak mau makan.’,” kata Elham.
Lidah kita banyak gaya usai terpapar perantauan
Kalau Zabila dan Elham mencoba mengingat-ingat: Iya juga ya, bertahun-tahun sebelum menjadi anak perantauan, bagi lidah mereka tidak ada yang lebih enak selain masakan ibu.
Dulu apapun yang ibu masak, sama sekali tidak mengesankan membosankan meskipun cenderung itu-itu saja masakannya.
Renungan Zabila dan Elham: Lama menjadi anak perantauan membuat lidah mereka menjadi banyak gaya setelah mengenal Richeese Factory, Mie Gacoan, menu Jejepangan, nasi padang terkenal, dan macam-macam.
Mereka akhirnya menyadari, referensi kuliner itu lantas membuat lidah mereka menjadi asing dan enggan saat berhadapan dengan masakan ibu yang amat sederhana dan “ndeso”.
“Aku sampai “ditampar” seorang mutual pas ngobrolin ini di medsos. Dia bilang, ‘Kak, kakak pulang ke rumah itu nggak lama. Nanti juga bakal balik lagi ke kota. Maka kalau di rumah, hargai masakan ibu. Toh hanya sebentar aja kok di rumahnya. Nanti kan kalau balik ke perantauan, masih bisa makan makanan yang enak menurut kakak.’ Itu membuatku tertampar banget,” tutup Zabila.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Orang Tua yang Menua adalah Ketakutan Terbesar Anak, meski Kita Menolak Menyadarinya atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














