“Kerjanya gila, sering lembur, dan nggak sesantai itu sampai tangan sakit-sakitan. Bikin aku kangen keluarga, rindu masakan ibu. Belum lagi kalau musim dingin, rasanya seperti mau meninggal,” kata Cahya.
Setelah itu, ia berganti tugas menjadi caregiver atau perawatan pada lansia. Sebagai caregiver, Cahya harus sepenuhnya disiplin. Beruntung, waktunya jauh lebih luang dari pekerjaan sebelumnya. Mulai dari bangun tidur, menghangatkan masakan yang dibuat tadi malam untuk sarapan, berangkat kerja, dan mengurus lansia.
Malamnya, ia masih harus belajar kosakata baru, lalu melanjutkan aktivitasnya dengan bikin konten di media sosial sebelum tidur. Kini, kegiatan itu sudah 5 bulan ia jalani.
Tak hanya itu, Cahya juga terkejut dengan beberapa peraturan ketat dibandingkan tempat kelahirannya, Jakarta. Saat kerja di Jepang, Cahya jarang melihat orang menerobos lampu merah, bahkan terdapat jarak 5 langkah antara kendaraan dengan zebra cross.
Kendaraan yang melintas pun tak terlalu ramai, orang-orang juga tidak boleh terlalu berisik saat nongkrong atau kumpul-kumpul di luar.
Perlahan bisa melunasi utang keluarga
Meski awalnya tak betah dan belum bisa beradaptasi, Cahya harus bertahan demi mendapat gaji lebih besar. Ia juga harus pandai mengatur pengeluarannya, karena harga di Jepang juga tidak murah.
“Rata-rata gaji yang ku dapatkan dalam sebulan adalah Rp16 juta dan harus ku bagi untuk menabung, bayar utang, dan memenuhi kebutuhan hidup,” ujar Cahya.
Sekilas, angka Rp16 juta memang terlihat lebih besar dibandingkan UMP Jakarta. Namun, sebagian besar uangnya seringkali harus ia kirimkan ke keluarga, sebab utang-utangnya masih menumpuk, yakni sekitar Rp70 juta.
Setelah meninggalkan Jakarta sekitar 1,5 tahun dan kerja di Jepang, Cahya perlahan bisa melunasi utang-utang itu. Mimpi-mimpinya pun mulai menjadi kenyataan dan masa depannya mulai tertata lagi.
“Dari aku yang dulunya minta satu boxer ke orang tua aja nggak mampu kebeli, sekarang aku bisa beli boxer sendiri bahkan untuk satu keluarga juga uangnya masih lebih,” kelakar Cahya.
Cahya juga bersyukur karena doa dari orang tua dan kekasihnya selama ini selalu mengiringi langkah Cahya. Dari sang ibu yang awalnya berat melepas kepergian anaknya, sekarang ia lebih ikhlas.
Begitu pula kekasihnya yang setia dan sabar menunggu di Jakarta untuk menjalani hubungan jarak jauh (LDR). “Bahkan cewek saya yang awalnya nggak mau LDR ikut bertekad bantu ekonomi saya dengan nyusul saya kerja di Jepang lewat LPK yang sama. Karena itu, saya benar-benar ngerasain surga dunia.”
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Ironi Kerja di Jepang: Banting Tulang Hingga 5 Kali Lebaran Tak Pulang, tapi Setelah Sukses Hasilnya Tak Bisa Dinikmati dan artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














