Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sehari-hari

Gila-gilaan Kerja di Jepang tapi Tak Bisa Menikmati Upah Besar, sebab Saya Generasi Sandwich yang Harus Tebus Utang Keluarga

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
26 Februari 2026
A A
Pemuda Jakarta kerja di Jepang untuk bayar utang keluarga. MOJOK.CO

ilustrasi - Rela kerja di Jakarta meski nggak kuat. Bertahan untuk bayar utang keluarga. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

“Kerjanya gila, sering lembur, dan nggak sesantai itu sampai tangan sakit-sakitan. Bikin aku kangen keluarga, rindu masakan ibu. Belum lagi kalau musim dingin, rasanya seperti mau meninggal,” kata Cahya.

Setelah itu, ia berganti tugas menjadi caregiver atau perawatan pada lansia. Sebagai caregiver, Cahya harus sepenuhnya disiplin. Beruntung, waktunya jauh lebih luang dari pekerjaan sebelumnya. Mulai dari bangun tidur, menghangatkan masakan yang dibuat tadi malam untuk sarapan, berangkat kerja, dan mengurus lansia.

Malamnya, ia masih harus belajar kosakata baru, lalu melanjutkan aktivitasnya dengan bikin konten di media sosial sebelum tidur. Kini, kegiatan itu sudah 5 bulan ia jalani.

Tak hanya itu, Cahya juga terkejut dengan beberapa peraturan ketat dibandingkan tempat kelahirannya, Jakarta. Saat kerja di Jepang, Cahya jarang melihat orang menerobos lampu merah, bahkan terdapat jarak 5 langkah antara kendaraan dengan zebra cross.

Kendaraan yang melintas pun tak terlalu ramai, orang-orang juga tidak boleh terlalu berisik saat nongkrong atau kumpul-kumpul di luar.

Perlahan bisa melunasi utang keluarga

Meski awalnya tak betah dan belum bisa beradaptasi, Cahya harus bertahan demi mendapat gaji lebih besar. Ia juga harus pandai mengatur pengeluarannya, karena harga di Jepang juga tidak murah.

“Rata-rata gaji yang ku dapatkan dalam sebulan adalah Rp16 juta dan harus ku bagi untuk menabung, bayar utang, dan memenuhi kebutuhan hidup,” ujar Cahya.

Sekilas, angka Rp16 juta memang terlihat lebih besar dibandingkan UMP Jakarta. Namun, sebagian besar uangnya seringkali harus ia kirimkan ke keluarga, sebab utang-utangnya masih menumpuk, yakni sekitar Rp70 juta.

Setelah meninggalkan Jakarta sekitar 1,5 tahun dan kerja di Jepang, Cahya perlahan bisa melunasi utang-utang itu. Mimpi-mimpinya pun mulai menjadi kenyataan dan masa depannya mulai tertata lagi. 

“Dari aku yang dulunya minta satu boxer ke orang tua aja nggak mampu kebeli, sekarang aku bisa beli boxer sendiri bahkan untuk satu keluarga juga uangnya masih lebih,” kelakar Cahya.

Cahya juga bersyukur karena doa dari orang tua dan kekasihnya selama ini selalu mengiringi langkah Cahya. Dari sang ibu yang awalnya berat melepas kepergian anaknya, sekarang ia lebih ikhlas. 

Begitu pula kekasihnya yang setia dan sabar menunggu di Jakarta untuk menjalani hubungan jarak jauh (LDR). “Bahkan cewek saya yang awalnya nggak mau LDR ikut bertekad bantu ekonomi saya dengan nyusul saya kerja di Jepang lewat LPK yang sama. Karena itu, saya benar-benar ngerasain surga dunia.”

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Ahmad Effendi

Iklan

BACA JUGA: Ironi Kerja di Jepang: Banting Tulang Hingga 5 Kali Lebaran Tak Pulang, tapi Setelah Sukses Hasilnya Tak Bisa Dinikmati dan artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 27 Februari 2026 oleh

Tags: gaji jepangjakartaJepangkerja di jepangLPKpekerja migranpelatihan pekerja migrantenaga kerja asing
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Artikel Terkait

Tinggalkan Jakarta demi punya rumah desa untuk slow living, berujung kena mental karena ulah tetangga MOJOK.CO
Urban

Orang Jakarta Nyoba Punya Rumah di Desa, Niat Cari Ketenangan Berujung Frustrasi karena Ulah Tetangga

7 April 2026
Saya Setuju Orang Jakarta Tajir Tak Betah Slow Living di Desa (Unsplash)
Pojokan

Orang Kaya dari Jakarta Tak Akan Sanggup Slow Living di Desa Selama Masih Anti-Srawung, Modal Financial Freedom pun Tak Cukup

7 April 2026
Slow living di desa, jakarta.MOJOK.CO
Urban

Orang Jakarta Tak Akan Sanggup Slow Living di Salatiga Selama Masih Anti-Srawung, Modal Financial Freedom pun Tak Cukup

6 April 2026
Gaji 8 Juta di Jakarta Jaminan Miskin, Kamu Butuh 12 Juta MOJOK.CO
Cuan

Gaji 8 Juta di Jakarta Tetap Bisa Bikin Kamu Miskin, Idealnya Kamu Butuh Minimal 12 Juta Jika Ingin Hidup Layak tapi Nggak Semua Pekerja Bisa

2 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Deles Indah, Bukti Klaten Punya Harga Diri yang Bisa Kalahkan Jogja dan Solo sebagai Tempat Wisata Populer MOJOK.CO

Deles Indah, Bukti Klaten Punya Harga Diri yang Bisa Kalahkan Jogja dan Solo sebagai Tempat Wisata Populer

7 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026
Mahasiswa Jogja nugas di coffee shop

Nugas di Kafe Dianggap Buang-buat Duit, padahal Bikin Mahasiswa Jogja Lebih Tenang dan Produktif

6 April 2026
Geger Sepehi 1812: Bukti Keteguhan Sri Sultan Hamengkubuwono II Menolak Tunduk pada Penjajah.MOJOK.CO

Geger Sepehi 1812: Bukti Keteguhan Sri Sultan Hamengkubuwono II Menolak Tunduk pada Penjajah

5 April 2026
Slow living di desa, jakarta.MOJOK.CO

Orang Jakarta Tak Akan Sanggup Slow Living di Salatiga Selama Masih Anti-Srawung, Modal Financial Freedom pun Tak Cukup

6 April 2026
Pembangunan Masif Rusak Hutan Papua, Belasan Spesies Satwa Terancam Punah.MOJOK.CO

Pembangunan Masif Rusak Hutan Papua, Belasan Spesies Satwa Terancam Punah

3 April 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026
Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

4 April 2026
Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

2 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.