Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sehari-hari

Derita Punya Kepribadian Perfeksionis: Dianggap Penuh Kesempurnaan, padahal Harus Melawan Diri Sendiri agar Tak Kena Mental

Shofiatunnisa Azizah oleh Shofiatunnisa Azizah
27 Februari 2026
A A
Kepribadian Perfeksionis

Ilustrasi - Kepribadian perfeksionis (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Kerfeksionisme sering dianggap sebagai sebuah kelebihan. Sebagian orang bahkan membanggakan diri sebagai individu yang perfeksionis. Padahal nyatanya, kepribadian perfeksionis bisa berujung berlebihan sampai mengganggu ketenangan mental karena semua harus serba sempurna.

Inilah yang membuat para perfeksionis perlu memutar otak. Mereka harus mencoba berhenti membuat standar sendiri agar tidak terlalu berlebihan.

Perfeksionis sering tidak menyadari kepribadiannya sampai terkena batunya sendiri

Ada tiga jenis kepribadian perfeksionis yang dijabarkan oleh psikolog Paul Hewitt dan Gordon Flett. Di antaranya adalah self-oriented perfectionism atau seseorang yang mempunyai ekspektasi tidak masuk akal terhadap dirinya sendiri.

Dalam kepribadian tipe ini, seseorang sering menciptakan standar sempurna dan menekan dirinya sendiri apabila tidak dapat memenuhi ekspektasi tersebut.

“Orang-orang yang perfeksionis adalah pemikir atau nggak berpikir sama sekali dalam keinginannya menjadi sempurna. Gagal mencapai target, bagi mereka, bisa jadi lebih membuat frustasi daripada gagal jauh dari targetnya,” kata Gordon Flett, seperti dikutip dari siniar American Psychological Association.

Menurutnya, seseorang yang perfeksionis butuh menjadi benar-benar sempurna. 

Mereka tidak berjuang untuk mencapai kepuasan tersendiri seperti orang-orang umumnya, bahkan tidak begitu menyenangi yang dilakukan, tetapi fokus pada pencapaiannya saja.

Jadilah, sepanjang apa pun prosesnya, seberat apa pun usahanya, yang menjadi penilaian hanya berhasil atau tidak berhasil.

“Jadi, mereka hanya fokus pada percobaan selanjutnya daripada menikmati pencapaiannya saat ini,” tambahnya.

Rachael pernah mengalaminya. Ia menjadi kepribadian yang terlalu perfeksionis sampai merasa bahwa “cukup baik” tidaklah baik. Perasaan ini juga yang membuatnya menghabiskan masa sekolahnya dengan rasa cemas, takut-takut tidak bisa mencapai standarnya sendiri.

Perasaan semacam ini juga membuat Rachael merasakan tidak nyaman semasa sekolahnya. Ia terus dihantui kecemasan tanpa alasan, tapi di lain sisi juga terasa sangat beralasan.

Karena itu, ketika memutuskan untuk berkuliah lagi, Rachael menyadari bahwa sudah saatnya berhenti menjadi seorang perfeksionis atau ia akan kembali terjebak dalam masalah yang sama, yaitu standarnya sendiri.

“Setelah aku lulus masa SMP, SMA, dan kuliah dengan sangat cemas karena perfeksionis soal prestasi akademik, aku tahu harus mengubah sesuatu aku nggak akan bertahan di kuliah pascasarjana,” katanya, dilansir dari laman konseling pribadinya.

Lelahnya, ingin semua serba sempurna karena kepribadian perfeksionis menyamar sebagai sifat positif

Menyadari bahwa dirinya harus keluar dari lubang yang telah dibuatnya sendiri, langkah pertama Rachael adalah berusaha memahami bahwa dia sudah cukup baik.

Iklan

Sebab, orang-orang berkepribadian perfeksionis diderita penyakit ingin selalu lebih baik, mencapai taraf sempurna. Namun, tentu saja ini mustahil, meski tidak mustahil bagi perfeksionis.

“Aku masih harus mengingatkan diri kalau ‘cukup baik’ nggak apa-apa,” katanya.

“Dan kalau usahaku setiap hari berbeda-beda, juga nggak apa-apa,” tambahnya lagi.

Namun setiap kali Rachael mencoba meyakinkan dirinya seperti ini, selalu muncul penolakan yang juga terdengar bersamaan di telinganya. Ia memainkan toleransinya sendiri, kalau menjadi perfeksionis juga sebenarnya tidak apa-apa.

Baginya, mempunyai kepribadian perfeksionis bukan sesuatu yang buruk. Sifat ini justru memberi rasa aman kalau melakukan sesuatu dengan sempurna berarti tidak akan gagal—premis yang dia sadari kemudian hari kalau sepenuhnya keliru.

“Kita nggak bisa sempurna 100 persen sepanjang waktu,” katanya menyadari dalihnya sendiri.

Sayangnya, Rachael juga tidak bisa mengelak ketika merasakan tekanan dan malu ketika melakukan kesalahan dan tidak mencapai taraf kesempurnaannya. “Perfeksionis ini sering menyamar sebagai sifat positif,” akunya.

Bukannya untung, jadi perfeksionis malah buntung

Pengalaman yang sama juga dirasakan Dhanty (27) yang mengaku “agak” perfeksionis saat ditanyai. Namun, penyematan “agak” ini sejatinya hanya akal-akalan Dhanty untuk terdengar tidak terlalu begitu.

“Aku juga agak perfeksionis sebenarnya,” katanya kepada saya, Senin (9/2/2026) lalu.

Ketika ditanyakan kembali, bagaimana perasaannya sebagai seorang perfeksionis, Dhanty mengaku merasa takut. Sama seperti Rachael.

“Takut, takut salah, takut nggak bener, takut nggak sesuai,” katanya.

Alhasil, dia menjadi lebih keras terhadap diri sendiri untuk mencapai kesesuaian yang diada-adakannya. Karena itu juga, Dhanty merasa membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan apabila dirinya tidak memaksakan standar tersebut.

“Jadi butuh waktu yang lebih lama karena harus done perfectly,” akunya.

Yang tidak jarang, dalam waktu itu, malah muncul perasaan tidak masalah menunda-nunda asal sempurna. Di sinilah, Dhanty menyadari kalau kepribadiannya ini tidak baik untuk diteruskan dan harus coba dikurangi. 

Sebab bukannya untung dengan standar sempurna itu, Dhanty malah merugi karena sering terpukul mundur tanpa disadari.

Mau tidak mau menerima ketidaksempurnaan atau mengalihkan kepada hal lain

Sejak saat itu, Dhanty berusaha menyalurkan keharusan sempurnanya pada hal lain yang juga menuntut kesempurnaan, setidaknya untuk kepuasan diri sendiri. Hal ini ditemukan Dhanty dalam journaling.

Menurutnya, mengatur berbagai hal dalam jurnalnya adalah cara untuk mengalihkan perfeksionisnya pada sesuatu yang berbeda. Hasilnya, Dhanty merasa tidak lagi terlalu perfeksionis dalam kehidupan sehari-hari.

“Di journaling itu aku buat ngurangin perfeksionisku, aku ke situ,” katanya.

Karena itu, Dhanty punya dua jurnal sampai hari ini. Ada jurnal yang dibuatnya untuk estetika, ada juga untuk mencurahkan isi hatinya. Dengan kedua jurnal itu, ia berusaha untuk konsisten agar tidak kembali memaksakan diri.

Hal yang sama dilakukan Rachael. Ia menanamkan pikiran bahwa tidak sempurna bukanlah akhir dari segalanya. “Nggak semua keputusan itu menyangkut hidup dan mati, dan nggak setiap perbuatan harus sempurna juga,” kata Rachael.

Dengan mengetahui celahnya, justru Rachael merasa bahwa dia dapat memperbaikinya. Bukan hanya memaksakan kesempurnaan—sesuatu yang tidak dipelajarinya selama keukeuh menjadi perfeksionis.

Penulis: Shofiatunnisa Azizah

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Gen Z Jogja Rela Antre buat “Ibadah” Photobox di Tugu, Pilih Tahan Kantuk setelah Sahur karena FOMO dan artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 2 Maret 2026 oleh

Tags: mentalperfeksionisperfeksionismesifat perfeksionistoxic positivitytoxic traits
Shofiatunnisa Azizah

Shofiatunnisa Azizah

Artikel Terkait

gen z kerja merantau beban mental dan finansial.mojok.co
Ragam

Gen Z Pilih Merantau dan Tinggalkan Ortu karena Rumah Cuma Menguras Mental dan Finansial

6 Februari 2026
Menentukan Waktu yang Tepat untuk Menikah | Semenjana Eps. 4
Video

Menentukan Waktu yang Tepat untuk Menikah | Semenjana Eps. 4

24 Februari 2025
Mahasiswa UNESA Surabaya Berbagi Cerita tentang Skripsinya yang Lancar karena Dosen Pembimbing yang Suportif dan Tidak Antikritik skripsi sastra inggris uny dosen pembimbing
Kampus

Cerita Mahasiswa Surabaya yang Dapat Dosen Pembimbing Perfeksionis yang Bikin Banyak Mahasiswa Telat Lulus, Selalu Disalahin dan Akhirnya Ganti Pembimbing

15 Mei 2024
Lulusan UII Bertahan Kerja Karena Gaji Besar di Jogja, Meski Kesehatan Mental Hancur-hancuran MOJOK.CO
Ragam

Lulusan UII Bertahan Kerja Karena Gaji Besar di Jogja, Meski Kesehatan Mental Hancur-hancuran

4 April 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Makan bersama sia-sia: niat kumpul keluarga, tapi bikin ortu kesepian karena anak-anak sibuk main hp sampai tak nyahut saat diajak bicara MOJOK.CO

Kumpul Keluarga Justru bikin Ortu Makin Kesepian dan Terabaikan, Anak Sibuk sama HP dan Tak Saling Bicara

25 Februari 2026
Perbandingan pengguna iPhone vs Android (Infinix dan Samsung)

8 Tahun Pakai iPhone, Ternyata Saya Dibutakan Gengsi padahal Android Lebih Praktis dan Nyaman

25 Februari 2026
7 buah legendaris dalam game Blox Fruits yang jadi incaran MOJOK.CO

7  Koleksi Buah Legendaris di Game Blox Fruits yang Jadi Incaran: Tak Cuma Memperkuat, Tapi Juga Jadi Aset Berharga

24 Februari 2026
MBG untuk sahur dan berbuka di bulan Ramadan

Sahur dengan MBG, Nilai Gizinya Lebih Cocok untuk Mahasiswa ketimbang Anak Sekolah

24 Februari 2026
Honda Scoopy membawa maut saat dipakai mudik Surabaya ke Lumajang. MOJOK.CO

Alasan Saya Bertahan Pakai Honda Scoopy untuk Mudik Surabaya-Lumajang, meski Tertipu dengan Tampang dan “Fitur” Biasa Saja yang Menyiksa

25 Februari 2026
Lagu religi "Tuhan Itu Ada" jadi ajang promosi Klaten lewat musik MOJOK.CO

Adhit & Carlo Jikustik Gandeng Klaten Project Rilis Lagu Religi “Tuhan itu Ada”

25 Februari 2026

Video Terbaru

Budaya Tionghoa Jogja dan Rahasia yang Jarang Dibicarakan

Budaya Tionghoa Jogja dan Rahasia yang Jarang Dibicarakan

28 Februari 2026
Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

25 Februari 2026
Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

23 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.