Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Lulusan UII Bertahan Kerja Karena Gaji Besar di Jogja, Meski Kesehatan Mental Hancur-hancuran

Agung Purwandono oleh Agung Purwandono
4 April 2024
A A
Lulusan UII Bertahan Kerja Karena Gaji Besar di Jogja, Meski Kesehatan Mental Hancur-hancuran MOJOK.CO

Ilustrasi Lulusan UII Bertahan Kerja Karena Gaji Besar di Jogja, Meski Kesehatan Mental Hancur-hancuran. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Seorang pekerja startup di Jogja memilih bertahan meski suasana kerja membuatnya hampir gila. Dapat gaji besar di Jogja jadi alasan ia tidak mau resign karena membuatnya cukup untuk biaya konsultasi ke psikolog.

***

Iklan

Beka (27) mengirim pesan melalui WhatsApp. Ia bertanya, apakah wajar jika seseorang naik jabatan, senior-seniornya akan membencinya. Pesan singkatnya tersebut membuat saya mengajaknya bertemu. Selain sudah lama tidak bersua, tentu saja curhatnya bisa jadi bahan liputan saya. 

Sejak lulus dari Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia (UII) beberapa tahun silam, Beka setidaknya sudah berganti tiga tempat kerja. Dua tempat kerja sebelumnya ia resign karena persoalan yang hampir sama. Kesehatan mental. 

“Kalau yang pertama itu, teman-teman kantor nggak ada yang support. Sebagai satu-satunya karyawan paling muda, aku justru jadi sasaran bully,” kata Beka, Selasa (2/4/2024) di sebuah kafe di Kota Jogja. Beka merasa, suaranya tidak didengar. Setiap kali ia menyampaikan pendapat, teman-teman kerjanya justru mengabaikannya. 

Ia sampai pada titik jika ia merasa tidak punya kompetensi apapun. Ia merasa tidak cukup layak di bidang pekerjaannya. Lama kelamaan bahkan ia merasa tidak ada gunanya untuk hidup. 

“Akhirnya aku datang ke psikolog dan psikiater. Diagnosanya aku mengalami masalah kesehatan mental yang disebut borderline,” kata Beka. Borderline personality disorder yang Beka sebutkan adalah gangguan mental yang ditandai dengan suasana hati, perilaku, dan hubungan yang tak stabil. Gejala termasuk ketidakstabilan emosional, perasaan tidak berharga, rasa tidak aman, impulsif, dan hubungan sosial terganggu.

Lulusan UII yang punya masalah kesehatan mental

Ia akhirnya memutuskan untuk resign dan fokus pada terapi. Kondisi kejiwaannya saat itu begitu kacau. Ia sempat menyembunyikan kondisi tersebut dari orang tuanya. “Akhirnya bilang jujur ke orang tua, karena ternyata mahal juga urusan kesehatan mental ini. Saat itu aku rutin minum obat yang nggak murah,” kata Beka tertawa. 

Usai resign, Beka merasa hidupnya lebih tenang. Namun, itu bertahan tidak lama. Kurang lebih dua bulan menganggur, gangguan mentalnya sering kambuh. Ia merasa hidupnya tidak aman karena nggak punya pekerjaan. 

Ia akhirnya melamar pekerjaan di sebuah startup sebagai content writer. Bidang pekerjaan yang awalnya menurutnya mudah, ternyata tidak. “Kalau dari lingkungan kerja sebenarnya sangat sehat, bahkan perusahaan menyediakan layanan konseling untuk karyawannya. Kalau konsultasi dengan psikolog di luar kantor juga biaya diganti,” kata Beka. 

Namun, Beka terlanjur merasa insecure. Ia menilai, tempat kerjanya nggak salah, tapi dirinya saja yang memang punya masalah. Ia akhirnya memutuskan resign setelah setahun bekerja. “Kalau yang ini masalahnya memang bukan di tempat kerja, tapi aku saja yang punya banyak masalah,” katanya terbahak. 

Kerja di startup dengan gaji besar di Jogja, tapi kena mental karena suasana kantor yang kekeluargaan 

Beka kemudian memilih menjadi content writer freelance. Ia merasa bisa mengatur waktu untuk mengelola persoalan kesehatan mentalnya. Setelah merasa dirinya lebih stabil dalam hal mental, Beka mencoba melamar kerja. Incarannya adalah startup di Jakarta.

Namun, tidak ada yang nyantol. Sampai kemudian ia justru dapat panggilan wawancara dari sebuah startup di Yogyakarta yang dapat pendanaan dari luar negeri. 

Awalnya ia menangani konten dari perusahaan tersebut. Di tempat ini, ia kembali mengalami tekanan mental yang menurutnya berat. Ia merasa, meski perusahaan tersebut merupakan startup dengan pendanaan dari asing, tapi karyawannya masih punya mindset terlalu lokal. 

Iklan

“Orang-orangnya kan orang lama, jadi kayak komunitas. Obrolannya bukan soal pekerjaan, tapi ngrasani temannya. Sebagai orang baru, tentu saja saya jadi salah satu bahan omongan,” kata Beka. 

Ia sebenarnya ingin kerja dengan tenang, sesuai dengan aturan perusahaan. Ia ingin melaksanakan apa yang memang perusahaan minta dari kemampuannya. Namun, ia merasa lebih banyak drama dalam pekerjaannya. Suasana kantor justru sangat kekeluaragaan. Kadang tidak terasa seperti di kantor.

“Jadi karena kekeluargaan yang ada ya rasan-rasan, kadang bukan urusan pekerjaan yang dibahas tapi persoalan-persoalan yangg nggak ada hubungannya dengan pekerjaan. Bahkan apa saja yang aku kenakan jadi bahan obrolan. Aku jadi merasa nggak punya teman,” kata Beka.

Masa probation selama tiga bulan, Beka rasakan sangat lama. Ia sudah berencana mundur selama masa uji coba tersebut, tapi ia terhalang dengan aturan harus membayar denda yang nggak sedikit. Di sisi lain gaji yang ia dapatkan tergolong gaji besar di Jogja.

Setiap hari, Beka merasa di tempat kerja seperti neraka. Ketika ada karyawan yang sepertinya ingin membantunya, justru malah seperti menusuk dari belakang. Hal ini makin membuatnya terpuruk secara mental.

Sudah dapat gaji besar di Jogja, dapat promosi melewati senior-seniornya

Ia sudah ancang-ancang untuk tidak akan melanjutkan kerja di tempat tersebut usai masa probation terlewati. Bahkan ia yakin, tidak akan lolos dari masa probation, karena ia merasa tidak maksimal dalam pekerjaannya. 

“Di luar dugaan aku lolos probation, saat itu sudah mau mundur, tapi ternyata gajinya besar untuk ukuran Jogja, jadi aku putuskan untuk lanjut saja. Gaji yang besar itu minimal bisa untuk nutup biaya konsultasi ke psikolog,” kata Beka tertawa.

Meski baru lolos probation, Beka langsung dapat gaji antara Rp5 juta hingga Rp6 juta. Tentu saja ini di atas rata-rata gaji karyawan di Jogja, apalagi UMR. 

Nggak lama kemudian, Beka dapat promosi jabatan dan melewati senior-seniornya yang sudah lebih lama bekerja di tempat itu. Ia merasa dibenci oleh senior-seniornya. 

Untungnya promosi jabatan tersebut membuatnya justru tidak perlu sering-sering berinteraksi dengan teman-temannya di kantor. Ia lebih banyak berurusan dengan mitra yang jadi klien perusahaan.  

Beka sudah tidak ambil pusing dengan kesehatan mentalnya yang sempat hancur-hancuran. “Gangguannya masih ada, tapi kan sekarang punya uang banyak, jadi terawat, jadi mudah mengontrolnya,” katanya terbahak. 

Bertahan meski tiap hari deg-degan

Teman Beka yang lain, Hapsa (29) mengalami hal yang hampir sama. Tekanan besar di tempat kerjanya membuatnya punya persoalan kesehatan mental. Namun, karena menjadi tulang punggung keluarga, Hapsa berpikir ulang untuk keluar dari tempat kerja. 

“Dulu aku orang yang sangat percaya diri, tapi di kantorku sekarang caci maki dari atasan itu sudah biasa,” kata Hapsa. 

Ia bahkan mengalami jantung berdebar setiap kali melihat atasannya tersebut. Bahkan atasan tersebut bisa mengomentari hal-hal yang tidak terkait secara langsung dengan pekerjaan. Misalnya saja, Hapsa yang semula suka dengan rambut pendek, tak berani lagi memendekan rambut. “Omongannya kadang sangat seksis, pakaian karyawan bisa dikomentari,” kata Hapsa yang bekerja di sebuah perusahaan IT yang ada di Jogja.

Keinginan resign sebenarnya ada, tapi ia mengingat lagi tanggung jawabnya sebagai tulang punggung keluarga. Ayahnya sudah meninggal, sedangkan ibunya sudah pensiun sebagai PNS. Adiknya untungnya masih bekerja. 

“Kalau pun nanti resign, harus dapat kerja dulu yang lebih dari sekarang. Ini masih cari-cari tempat kerja di Jakarta yang mau memberikan gaji besar,” kata Hapsa realistis.

Penulis: Agung Purwandono
Editor: Hammam Izzuddin

BACA JUGA Bos yang Toxic adalah Waktu yang Tepat untuk Resign

Cek berita dan artikel Mojok lainnya di Google News

 

Terakhir diperbarui pada 5 April 2024 oleh

Tags: gajigaji besar di JogjaJogjakesehatan mentalmentalUII
Agung Purwandono

Agung Purwandono

Jurnalis dengan pengalaman lebih dari dua dekade yang menekuni penulisan feature dan jurnalisme naratif. Punya ketertarikan pada kisah-kisah manusia yang jarang mendapat sorotan.

Artikel Terkait

kerja, lulusan SMA di keluarga penuh sarjana.MOJOK.CO
Sehari-hari

Cerita Lulusan SMA yang Berhasil Mapan Tanpa Ijazah S1, tapi Diam-Diam Menyesalinya dan Merasa Iri pada Sarjana

21 Juli 2026
Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menjadi tuan rumah “1st Asian Gym for Life Challenge 2026” 1. MOJOK.CO
Kabar

Jogja Jadi Tuan Rumah Lomba Gym se-Asia usai Thailand Mundur, Semua Kalangan Bebas Ikut Tanpa Beban Menang-Kalah

20 Juli 2026
TikTok Bukan Psikolog atau Psikiater, tetapi Gen Z Mencari Diagnosis Kesehatan Mental di Sana MOJOK.CO
Esai

TikTok Bukan Psikolog atau Psikiater, tetapi Gen Z Mencari Diagnosis Kesehatan Mental di Sana

17 Juli 2026
Milenial di Job Fair Yogyakarta 2026 cari peluang kerja di luar negeri. MOJOK.CO
Sehari-hari

Muak dengan Syarat Kerja di Indonesia: Gaji Numpang Lewat hingga Terbatas Usia, Milenial Pilih Cari Kerja ke Luar Negeri

16 Juli 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Cerita Pencari Kerja Difabel datang ke Job Fair Ditemani Ibu: ‘Semua Orang Punya Kemampuan asal Diberi Kesempatan’.MOJOK.CO

Cerita Jobseeker Difabel datang ke Job Fair Ditemani Ibu: ‘Semua Orang Punya Kemampuan asal Diberi Kesempatan’

17 Juli 2026
Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) kerja sama dengan Australia. MOJOK.CO

Satu Dekade Jogja dengan Melbourne Symphony Orchestra: Bukti Orkestra Nggak Melulu Kaku bahkan Bisa Dinikmati Sambil Lesehan

15 Juli 2026
Mahindra Scorpio, mobil pick up mewahnya Koperasi Merah Putih MOJOK.CO

Pengalaman mengendarai dan mengomentari Mahindra Scorpio, mobil pick up Koperasi Merah Putih yang terlalu bagus di depan Pak Babinsa langsung

21 Juli 2026
Daripada Acungkan Senjata di Jalan, Remaja Kreak Semarang Lebih Baik Naik Ring Adu Pukulan MOJOK.CO

Daripada Acungkan Senjata di Jalan, Remaja Kreak Semarang Lebih Baik Naik Ring Adu Pukulan

16 Juli 2026
Beli Saham karena Finfluencer, Rugi Ditanggung Sendiri? MOJOK.CO

Beli Saham karena Finfluencer, Rugi Ditanggung Sendiri?

20 Juli 2026
Pemuda lulusan SMK tidak menyerah mencari kerja dengan modal ijazah SMK demi orang tua MOJOK.CO

Modal Ijazah SMK dan Pengalaman Tak Nyerah Cari Kerja demi Orang Tua, Meski Sering Terima “Penolakan” karena Fisik

21 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.