Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sehari-hari

Umur 30 Cuma Punya Honda Supra X 125 Kepala Geter: Dihina tapi Jadi Motor Tangguh buat Bahagiakan Ortu, Ketimbang Bermotor Mahal Hasil Jadi Beban

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
8 April 2026
A A
Di umur 30 cuma punya motor Honda Supra X 125 kepala geter. Dihina tapi jadi motor tangguh yang bisa bahagiakan orang tua MOJOK.CO

Ilustrasi - Di umur 30 cuma punya motor Honda Supra X 125 kepala geter. Dihina tapi jadi motor tangguh yang bisa bahagiakan orang tua. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Saat banyak orang terus upgrade kendaraan (upgrade dari motor lama ke motor mahal keluaran terbaru), Honda Supra X 125 masih menjadi kendaraan utama hingga usia kepala tiga. 

Ternyata di situlah letak masalahnya: umur sudah 30-an tahun tapi kendaraan kok masih gitu-gitu saja. “Anak gagal” kemudian menjadi cemooh yang diam-diam didesiskan oleh tetangga bahkan saudara. Begitu yang dialami Rifat (37) dan Bebed (25), dua laki-laki asal kabupaten di pesisir utara, Jawa Tengah. 

Kerja bertahun-tahun dianggap tidak ada hasilnya karena cuma punya motor Honda Supra X 125 murahan

Di desa asal Rifat di Jawa Tengah, ia dikenal termasuk salah satu pemuda yang pernah bertahun-tahun merantau ke Malaysia. Namun, ia memutuskan berhenti setelah menikah pada 2016 silam.

Ia memilih bekerja di daerah asal istri, Ngawi, Jawa Timur, di bidang kerajinan kayu. Karena ia merasa, rasanya berat baginya kalau harus menjalani long distance marriage. 

Persis setelah menikah itu pula, Rifat membeli motor untuk membantu mobilitasnya dan istri. Saat itu ia membeli motor Honda Supra X 125 tahun 2014 bekas. Ia masih dapat di harga Rp6 jutaan dengan kondisi barang masih bagus.

Motor tersebut masih ia gunakan hingga sekarang. Termasuk untuk pulang ke desanya di Jawa Tengah. 

“Habis pandemi lah. Cuma punya motor Supra X 125 itu kok seolah-olah tertinggal di mata tetangga dan saudara di desa saya. Ya karena memang makin banyak motor keluaran baru yang mahal-mahal itu,” ujar Rifat, Selasa (7/4/2026). 

Bahkan, Rifat kerap mendengar orang—baik secara eksplisit maupun implisit—mempertanyakan: kok tidak kepikiran beli motor baru? Menimbang kondisi Rifat yang sudah berkeluarga, punya dua anak. 

“Mesti kalau nyindirnya ya gini, ‘Emang sudah seharusnya roda empat’. Minimal-minimalnya motor yang lebih gede biar perjalanan lebih nyaman,” kata Rifat. 

Satu-satunya motor keluarga yang dihina, dianggap biang nggak ada satu cewek pun yang nyantol

Serupa, Bebed yang sehari-hari menjadi pekerja pabrik juga kerap digojlok perkara motornya. Karena motor Honda Supra X 125 miliknya sudah ia pakai sejak SMA, dan masih ia pakai hingga sekarang di saat banyak teman SMA-nya sudah beralih ke motor-motor besar dan mahal. 

“Apalagi motorku sudah gredek, endhas geter (kepala geter). Karena memang sudah beberapa kali kubuat jatuh di aspal. Kalau naik motor itu pokoknya sampai bunyi ‘gredak-gradek’ lah,” kata Bebed. 

Akan tetapi motor tersebut punya nilai sentimentil bagi Bebed. Sebab, Honda Supra X 125 itu menjadi motor satu-satunya di keluarga Bebed. Dibeli bapaknya memang untuk kebutuhan sekolah SMA Bebed pada waktu itu. 

Sementara sang bapak sehari-hari memilih jalan kaki kalau untuk mobilitas di desa sendiri dan naik angkutan umum kalau sedang keluar.

“Kadang kalau nongkrong, ya teman-teman ada yang terang-terangan bilang, ‘Sudah mau 30 tahun, masa motor nggak ganti-ganti. Hasil kerja ke mana aja?’,” ungkap Bebed. 

Iklan

Bahkan, ada pula yang gojlok: Kalau motor masih Supra kepala geter, ya tidak akan ada cewek yang nyantol. Itu alasan kenapa Bebed masih menjomblo sampai sekarang. Masa sepanjang SMA sudah jomblo, sekarang masih tetap tidak ada satu cewek pun yang nyantol? 

Kalau mau cewek nyantol, kata teman Bebed, minimal Aerox atau PCX lah, Bos, senggol dong!. 

Bahagia nyatanya tidak perlu barang baru dan mahal

Atas cemooh-cemooh yang didapat, Rifat tidak mau ambil pusing. Sebab, baginya, bahagia toh tidak perlu menunggu ganti motor baru dan mahal. Karena nyatanya ia dan keluarga tidak masalah dengan Honda Supra X 125. 

“Seperti yang dibilang Gus Baha. Kalau bahagia nunggu punya Alphard, misalnya, ya nggak akan bahagia-bahagia. Masa bahagia tergantung pada pihak lain, bukan dari diri sendiri,” kata Rifat. “Ya kalau suatu saat anak butuh motor untuk sekolah misalnya, itu urusan lain. Sebagai bapak saya akan perjuangkan.”

Apalagi Rifat memang merawat betul motor tersebut. Sehingga meski sudah sangat lama, tapi performa mesinnya masih terasa oke. Masih tangguh untuk perjalanan jauh, termasuk perjalanan dari Ngawi ke Jawa Tengah untuk keperluan menjenguk orang tua. 

Dan itulah nilai pentingnya. Rifat memang hanya punya motor Honda Supra X 125 di usia kepala tiga. Akan tetapi, ia memberi bakti penuh pada orang tuanya. Sesederhana menggunakan motor tersebut untuk sering-sering pulang ke rumah menjenguk orang tua. 

Berbeda dengan kebanyakan laki-laki di desanya. Memang punya motor mahal dan bagus. Memang hidup dengan ekonomi lebih baik. Tapi dinikmati sendiri. Orang tua tidak ketiban enaknya. 

Sekadar menjalin hubungan hangat dengan orang saja tidak, padahal masih satu desa. Sehingga orang tua merasa tidak merasakan bakti dari anak yang sudah dibesarkan dengan penuh pengorbanan. 

“Ibu saya sering cerita, ada ibu-ibu yang mengaku iri. Karena walaupun saya jauh, kelihatan nggak kaya-kaya amat, tapi masih sering menjenguk ibu saya, masih bisa ngasih-ngasih sesuatu,” ucap Rifat. 

Motor Honda Supra X 125 jadi saksi bakti ke ortu, tak seperti teman-teman dengan motor baru dan mahal yang malah jadi beban

Sementara Bebed kerap menyimpan tawa dalam batin sendiri ketika sedang di-gojlok teman-temannya karena motor Honda Supra X 125 kepala geter. 

Pasalnya, Bebed tahu persis, motor baru dan mahal milik temannya bukan berasal dari jerih payah sendiri. Tapi dari hasil merengek-rengek, ngambek, sampai murka ke orang tua biar dibelikan. 

“Mereka memang ada yang sudah kerja. Tapi tetep saja, kalau begitu-begitu minta orang tua,” kata Bebed. 

“Ada juga yang demi gengsi motor baru, pilih utang bank. Tapi yang bayarin tetap orang tua,” sambungnya. 

Di titik itu Bebed merasa bangga dengan dirinya sendiri meski di umur menjelang 30-an tahun motornya masih Honda Supra X 125 kepala geter. Sebab, motor satu-satunya di keluarganya tersebut menjadi saksi perjuangan seorang anak pertama untuk membahagiakan orang tua. 

Kalau mau, Bebed seharusnya bisa membeli motor baru dari hasil mengumpulkan uang hasil kerjanya. Namun, ia lebih memilih mengalokasikan uangnya untuk membantu meringankan beban bapak: turut menopang ekonomi keluarga. Terutama untuk kebutuhan sang adik yang saat ini tengah menempuh pendidikan di pesantren. 

Alih-alih menjadi beban keluarga, dengan motor Honda Supra X 125 kepala geter itu Bebed justru menjadi salah satu alasan adiknya tetap bisa menempuh pendidikan. Dan itu membanggakan bagi Bebed, ternyata juga membanggakan pula bagi orang tua Bebed. 

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Standar Keren Kabupaten: Pakai Motor BeAT Dihina dan Dijauhi Circle Aerox, NMax, dan Vario karena Tak Masuk Konsep Sinematik atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 8 April 2026 oleh

Tags: harga supra x 125 bekasHonda Supra XMotor Hondamotor supra x 125pilihan redaksisupra x 125supra x 125 bekas
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

perumahan, tinggal di desa, desa mojok.co
Urban

Meninggalkan Hidup Makmur di Desa, Memilih Pindah ke Perumahan demi Ketenangan Jiwa: Sadar Tak Semua Desa Cocok Buat Slow Living

8 April 2026
Slow living di desa, jakarta.MOJOK.CO
Catatan

Warga Desa Sebenarnya Muak dengan Orang Kota yang Datang Buat Sok Slow Living: Arogan, Tak Membaur, Anggap Warga Asli Cuma “Figuran”

7 April 2026
Kelas menengah ke bawah harus mawas diri Kalau pemasukan pas-pasan jangan maksa gaya hidup dalam standar dan tren media sosial MOJOK.CO
Tajuk

Kelas Menengah ke Bawah Harus Mawas Diri, Pemasukan Pas-pasan Gaya Hidup Jangan Pakai Standar dan Tren Media Sosial

6 April 2026
Pekerja Jogja kaget pindah kerja di Purwokerto demi alasan slow living. Tapi kaget dengan karakter orang Banyumas MOJOK.CO
Urban

Pekerja Jogja Pindah Kerja ke Purwokerto Nyari Slow Living, Tapi Dibuat Kaget sama Karakter Orang Banyumas karena di Luar Ekspektasi

6 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Ribetnya urusan sama pesilat. Rivalitas perguruan pencak silat seperti PSHT dan PSHW (SH Winongo) bikin masalah sepele jadi alasan rusuh MOJOK.CO

Makin Muak ke Ulah Pesilat: Perkara Tak Disapa Duluan dan Beda Perguruan Langsung Dihajar, Dikasih Fakta Terang Eh Denial

7 April 2026
Aksi topeng ayam di Fore Coffee Jogja. MOJOK.CO

Di Balik Aksi Topeng Ayam Depan Fore Coffee Jogja: Menagih Janji Hak Ayam Petelur untuk Meraih Kebebasan

2 April 2026
Vario 160 Motor Buruk Rupa yang Menyalahi Kodrat Honda MOJOK.CO

Vario 160 Adalah Motor Buruk Rupa yang Menyalahi Kodrat Motor Honda, tapi Sejauh Ini Menjadi Matik Terbaik yang Tahan Siksaan

3 April 2026
Astrea Grand, Motor Honda yang Menjadi Mitos MOJOK.CO

Astrea Grand, Motor Honda Penuh Dusta yang Celakanya Pernah Menjadi Mitos dan Membuatnya Dikagumi karena Motor Ini Memang Meyakinkan

5 April 2026
Kereta eksekutif murah selamatkan saya dari neraka kereta ekonomi. MOJOK.CO

Penyesalan Kaum Mendang-mending yang Dilema Pakai Kereta Eksekutif hingga Memutuskan Tobat dari Kondisi “Neraka” Kereta Ekonomi

1 April 2026
Warga Desa Sebenarnya Muak dengan Orang Kota yang Datang Buat Sok Slow Living: Arogan, Tak Membaur, Anggap Warga Asli Cuma “Figuran” MOJOK.CO

Tiga Kali Gagal Seleksi CPNS, Pas Sudah Diterima Jadi ASN Malah Tersiksa karena Makan “Gaji Buta”

7 April 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026
Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

4 April 2026
Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

2 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.