Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sehari-hari

Dicap Hobi Kuno, Bikin Kue Jadi Jalan Gen Z Jakarta Tetap Waras dari Beban Kerja Usai Ibu Tiada

Shofiatunnisa Azizah oleh Shofiatunnisa Azizah
10 Februari 2026
A A
Pekerja muda hobi bikin kue

Ilustrasi - Pekerja muda hobi bikin kue (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Bikin kue sering dibilang sebagai hobi kuno. Yang banyak melakukannya adalah orang dewasa yang berniat untuk mempersiapkan berbagai perayaan, mulai dari ulang tahun sampai Lebaran. Namun, beberapa tahun terakhir, kegiatan ini mulai menjadi hobi lebih banyak orang, tidak terkecuali gen Z.

Salah seorang pekerja kantoran di Jakarta Selatan, membagikan ceritanya yang menggunakan hobi ini sebagai pintu masuk dimensi yang tidak bisa disentuhnya lagi setelah kepergian seseorang paling berarti. Juga, untuk menghidupkan kembali hari-harinya dari beban kehilangan dan pekerjaan.

Sejarah bikin kue untuk merayakan kehidupan manusia

Membuat kue atau yang dikenal dengan istilah baking secara teknis berarti melakukan pemanggangan melalui oven kompor atau listrik, dan tidak menggunakan medium air dan minyak untuk memasak ini, menghasilkan makanan seperti kue atau pastry.

Menilik sejarah salah satu hasilnya, kue yang dalam bahasa Inggris disebut cake, secara etimologi, berasal dari kaka dalam bahasa kuno Norse yang digunakan oleh pendatang dari utara Jerman di wilayah Skandinavia pada abad ke-13.

Dilansir dari bakingworld, dahulu kue dibuat sebagai hidangan untuk memperingati ritual keagamaan. Namun seiring perkembangan, kue mulai disajikan secara khusus untuk memperingati hari bersejarah dalam kehidupan, seperti hari kelahiran, perkawinan, dan berbagai perayaan-perayaan manusia. 

Merayakan hari-hari bersama ibu dengan kue

Salsa (25) yang saat ini bekerja di salah satu media massa di Jakarta Selatan, bercerita bahwa dirinya memang sempat suka membuat kue saat pandemi Covid-19. Namun setelahnya, ia tidak memilih untuk melanjutkan, terkecuali ketika ibu mengajaknya. Ia bilang beralih lebih menyenangi memasak, sebab lidahnya cenderung menyukai makanan asin dan gurih.

“Hobi dulu, kalau aku kayak, aku seneng bikin kue. Tapi, pas Covid, aku berhenti gitu. Paling aku ikut ibuku, ibuku sering bikin kue gitu paling aku bantu-bantuin aja,” kata perempuan kelahiran tahun 2000 ini kepada Mojok, Senin (9/2/2026) malam.

Ibu, kata Salsa, suka membuat kue. Sering kali ibu meminta dirinya untuk menemani, membantu membuat adonan-adonan, yang membuat ia lebih akrab terhadap proses pembuatan kue itu sendiri. Salah satu kue yang diingatnya paling sering dibuat oleh sang ibu adalah bolu gulung, yang dalam pembuatannya juga membutuhkan bantuan Salsa.

“Almarhumah ibu aku tuh bikin bolunya tuh yang bolu panggang gitu lho, jadi kadang-kadang kalau misalkan dia bikin bolu itu, nanti minta bantuin aku buat ngolesin bagian dalamnya gitulah,” ujarnya.

Ketika itu, Salsa mengatakan, tidak ada perayaan khusus yang menjadi alasan dirinya dan ibu. Ia hanya mengikuti ibu yang suka mengeksplor masakan di dapur. Mungkin hari-hari itu, yang dirayakan bersama ibu adalah hampir seluruh momen yang bisa diciptakan.

Setelah ibu pergi, membuat kue jadi jalan mengenangnya

Pada 2024, ibu Salsa sudah tidak lagi bersamanya. Sebagaimana orang-orang yang mengalami kehilangan, Salsa tidak lagi melakukan hal-hal yang biasa dilakukan bersama ibu. Absennya ibu tidak hanya membuatnya mengubah rutinitas, tetapi juga berpengaruh pada hari-hari yang dijalaninya yang terasa kurang dan berbeda. Karena itu, dirinya juga dikenal sebagai pribadi yang tenang dan pendiam—sebagai tameng dirinya yang menanggung duka kala itu.

Barulah suatu hari, pada satu tahun setelahnya, Salsa mencoba untuk mengambil cooking class bersama teman-teman kantornya. Iseng, katanya, tapi itulah yang membuka sudut ruangan yang telah tertutup cukup lama dalam dirinya.

“Aku diajakin [teman kantor], ikut aja. Tapi, kayaknya aku mau ikut lagi sih,” katanya.

Dalam kelas itu, Salsa tidak terlalu mempersiapkan banyak hal. Sama seperti ketika membuatnya bersama ibu, ia mengikuti langkah-langkah dalam mengadon dengan didampingi oleh juru masak yang akan memastikan dirinya tidak melakukan kesalahan.

Iklan

Kelas pertama, Salsa memilih membayarkan sekitar Rp280 ribu untuk dapat membuat golden stroop swirl cake, semacam bolu gulung yang menonjolkan kombinasi rasa karamel dan tekstur kacang pecan. Pilihan ini, tanpa disadari, adalah kue yang sering dibuat mendiang ibunya. 

Setelah mengikuti kelas lagi dan lagi dengan pilihan berbeda, Salsa menyadari alasannya membuat kue bukan hanya untuk mengisi waktu luang di sela akhir pekan, bahkan akhir pekan dapat menjadi waktu yang amat berarti bagi pekerja Jakarta dengan beban kerja yang terkadang tidak masuk akal.

“Mungkin, ini cara aku buat ngenang ibu lagi. Soalnya ibu kan yang suka baking, ibu suka bikin-bikin gitu, ibu juga yang suka ngajak buat ditemenin,” katanya.

Kesempatan untuk mengunjungi kembali kenangan bersama ibu yang terwujud melalui pembuatan kue menghidupkan hari-hari yang dihadapinya. Bukan hanya rasa bahwa masih ada sosok lengkap orang tua di sisinya, penguatan ini juga mendorongnya untuk lebih hidup dalam menjalani hari sebagai pekerja.

Bukan sekadar bikin kue, tetapi penguat ikatan ibu-anak

Yang dialami Salsa, dalam istilah baking mungkin dapat disandingkan dengan sifting. Urusan tepung dan bubuk yang harus diayak untuk menghilangkan gumpalan-gumpalan dalam bubuk, aktivitas yang beberapa kali dijalaninya bersama ibu itu membuatnya melupakan bahwa ia tidak terlalu menyukainya. Sebab, ia menyukai kebersamaan dari waktu yang dihabiskan.

Northern Healthcare, penyedia layanan hidup independen bagi individu dengan dukungan klinis karena diagnosis kesehatan mental di Inggris, mengatakan, membuat kue dapat menguatkan hubungan keluarga. Melakukannya bersama dengan anggota keluarga menciptakan pengalaman, serta bonding terhadap satu sama lain.

Kelly Markham, mengaku mengalami hal serupa melalui baking. Ibu satu anak itu tidak menyukai baking, tetapi ia menyukai banana nut bread yang selalu dibuat ibunya setiap natal—demikian juga anaknya.

Saking sukanya, anak Kelly meminta banana nut bread yang tidak bisa dibuatnya sehingga harus menghubungi sang ibu. Saat itu, ibunya bilang sudah memberikan resep, tetapi siapapun tahu rasanya tidak akan sama seperti yang dimasak dengan tangan ibunya sendiri.

“Tapi Ma, ya nggak akan sama,” kata Kelly dalam sambungan telepon kepada ibunya, dikutip dari The Esposito Institute.

Ia berpikir untuk akhirnya ikut membuat kue itu bersama ibunya. Menurutnya, ibunya menjadi sangat senang sampai mengajaknya untuk mengikuti cooking class bersama—yang sebenarnya Kelly jelas tidak akan ingin mengikuti—tetapi kehadiran ibu mendorong Kelly untuk melakukannya.

Jadi hobi baru, lepas stres dan beban kerja gen Z

Memerhatikan cerita keduanya, ibu adalah sosok yang memperkenalkan membuat kue secara tidak langsung melalui kue-kue yang dihasilkannya. Hal ini kiranya sebab kegiatannya dapat dikatakan sebagai “grandma hobbies” atau hobi orang tua. 

Namun, neuropsikolog dari Henry Ford Health, Jannel Phillips, menjelaskan bahwa melakukan kegiatan ini sebagai hobi memiliki berbagai manfaat. Selain menciptakan keterhubungan sebagaimana yang disaksikan dari Salsa dan Kelly, membuat kue bisa membantu melepas beban.

Bagi orang-orang yang telah lelah menghabiskan waktunya untuk bekerja, juga faktor usia diri yang berada dalam rentang 20-an dengan beban emosional yang tidak bisa lepas, membuat kue dapat diandalkan sebagai pelepas beban pikiran. Itulah yang kiranya dilakukan Salsa, dari pengamatan Phillips.

“Melakukan aktivitas berulang dan berirama dapat menenangkan. [Aktivitas] ini memungkinkan untuk fokus pada momen saat ini, daripada khawatir atau stres,” kata Phillips, dikutip dari situs Henry Ford Health.

Hingga hari ini, membuat kue semakin marak digemari sebagai sebuah hobi. Hadirnya kelas-kelas yang dapat dilakukan bersama pendamping yang memastikan resep dan eksekusi berjalan selaras, serta hasil masakan yang dapat dibawa pulang mempermudah siapa saja yang berniat mencobanya. Lalu, bagi mereka yang telah mencicipi pengalaman ini sekali, mengulanginya lagi terasa tetap menyenangkan.

Penulis: Shofiatunnisa Azizah

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA Maraknya Fotografer Pelari di Jogja Bukan Perkara Hobi dan Cuan Semata, Pahamilah Batas Etikanya dan artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 10 Februari 2026 oleh

Tags: anak mudabakingcookingGen Zhobi gen zkenangan orang tuakuemasakmemasakpilihan redaksi
Shofiatunnisa Azizah

Shofiatunnisa Azizah

Artikel Terkait

Tidak memberi utang saat teman pinjam uang selalu dicap jahat dan dijauhi dari pertemanan MOJOK.CO
Sehari-hari

Pertemanan Memuakkan: Tak Beri Utang Teman Dijauhi dan Dicap Jahat, Berteman Cuma Diperalat Jadi Dana Darurat

8 Mei 2026
Seni Bertahan Hidup Penjual Mie Ayam Menghadapi Pindah Harga dan Tangisan di Hari Senin MOJK.CO
Esai

Seni Bertahan Hidup Penjual Mie Ayam Menghadapi Pindah Harga dan Tangisan di Hari Senin

8 Mei 2026
menikah dengan keluarga pasangan yang terlilit utang.MOJOK.CO
Sehari-hari

Menikah dengan Pasangan yang Keluarganya Terlilit Utang Bikin Serba Salah: Terlalu Cinta untuk Ditinggal, tapi Bikin Menderita Kalau Bertahan

8 Mei 2026
5 Alasan Earphone Kabel Kembali Tren dibanding TWS: Nggak Ribet Kalau Hilang Sebelah sampai Jadi Peringatan Tersirat Budak Korporat MOJOK.CO
Urban

5 Alasan Earphone Kabel Kembali Tren dibanding TWS: Nggak Ribet Kalau Hilang Sebelah sampai Jadi Peringatan Tersirat Budak Korporat

7 Mei 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

WHV di Australia ternyata berat. MOJOK.CO

Kerja Mati-matian di Australia, Tabungan Sampai Setengah Miliar tapi Nggak Bisa Dinikmati dan Terpaksa Pulang usai Kena Mental

4 Mei 2026
Semester 5 kuliah: Masa paling overthinking kepikiran ortu dan masa depan, percuma cari pelarian MOJOK.CO

Semester 5 Kuliah: Masa paling Overthinking bagi Mahasiswa karena Kepikiran Ortu dan Masa Depan, Percuma Cari Pelarian

5 Mei 2026
Petani di Delanggu, Klaten maju berkat sistem permakultur. MOJOK.CO

Belajar Bertani dari Dasar, Akhirnya Hidupkan Ketahanan Pangan dari Lahan Kosong di Delanggu Klaten

6 Mei 2026
usaha mie ayam wonogiri.MOJOK.CO

Buka Usaha di Luar Pulau Jawa Kerap Gagal Bukan karena Klenik “Dikerjain” Akamsi, Ada Faktor Lain yang Lebih Masuk Akal

6 Mei 2026
menikah dengan keluarga pasangan yang terlilit utang.MOJOK.CO

Menikah dengan Pasangan yang Keluarganya Terlilit Utang Bikin Serba Salah: Terlalu Cinta untuk Ditinggal, tapi Bikin Menderita Kalau Bertahan

8 Mei 2026
Zero post di Instagram cara hidup tenang Gen Z. MOJOK.CO

Gen Z Lebih Tenang Tanpa Feed Instagram (Zero Post), Aslinya Bukan Misterius Cuma Capek Mengejar Validasi dan Ingin Melindungi Diri

7 Mei 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.