Orang tua Nihaya (27) memang bukan dari kalangan PNS atau ASN. Hanya pemilik toko perlengkapan sekolah. Akan tetapi, banyak anak-anak saudara yang terbukti berhasil ketika mengikuti seleksi CPNS. Saudara seusia Nihaya pun ada yang sekali coba langsung tembus.
Lingkungan semacam itu memberi tekanan tersendiri bagi Nihaya. Terutama ketika momen kumpul atau bertemu saudara. Sebab, pertanyaan “Kenapa Nihaya tidak mendaftar CPNS?” akan terus dilayangkan.
Karena dalam bayangan saudara-saudara Nihaya, PNS atau ASN adalah profesi top tier. Selain perkara seragam dan iming-iming gaji besar, juga karena jaminan hari tua yang dijanjikan.
“Kalau orang tua sih nggak maksa. Tapi kalau mulut saudara gitu terus, kan orang tuaku juga kena. Seolah-olah aku ini anak gagal karena setelah dikuliahkan malah cuma gini-ginia aja,” ujar perempuan asal Jawa Barat itu, Rabu (8/4/2026).
Lulus kuliah nganggur lama, dikira tidak bisa apa-apa
Apalagi sejak lulus kuliah pada 2021, Nihaya sempat merasakan menganggur lama. Saat itu masa transisi dari pandemi Covid-19. Lamaran kerja yang Nihaya kirim ke banyak perusahaan belum ada yang tembus.
Untuk mengisi waktu, Nihaya pun menyibukkan diri dengan mengajar les untuk anak-anak SMP dan SMA. Di sela-sela itu ia kerap ikut bantu-bantu di toko orang tuanya.
Situasinya tersebut berlangsung hingga 2022. Tak pelak jika omongan saudara semakin nyelekit saja. Seolah-olah Nihaya tidak bisa apa-apa sehingga mentok hanya bisa ngajar les dan bantu-bantu di toko.
“Karena tolok ukur orang bisa apa-apa menurut mereka itu kalau bisa menghasilkan uang sendiri dan besar,” kata Nihaya.
PPPK saja tidak tembus, langsung mempertanyakan kualitas diri
Niat hati mengikuti seleksi CPNS pada tahun berikutnya, eh pemerintah justru tengah memprioritaskan perekrutan untuk PPPK. Alhasil, pada 2022, Nihaya mencoba mengikuti seleksi PPPK.
Tentu saja persaingannya ketat. Karena banyak orang berpikir akan susah menembus formasi PNS atau ASN. Dengan begitu, PPPK menjadi pilihan, tidak perlu berambisi nunggu seleksi bukaan formasi CPNS tahun berikutnya.
“Di seleksi PPPK memang aku ngincer formasi yang jadi incaran utama banyak orang. Karena pikirku kan rasanya aku bisa bersaing. Tapi cuma lolos administrasi,” ujar Nihaya.
Di titik itu, Nihaya sempat overthinking dengan dirinya sendiri. “Maksudku SKD saja aku nggak tembus loh di PPPK,” keluhnya.
Dari situ Nihaya lantas memutuskan untuk tidak terlalu berharap pada seleksi PPPK atau CPNS berikutnya. Di tahun tersebut, Nihaya mengambil tawaran pekerjaan di sebuah biro umrah.
Gagal seleksi CPNS padahal di formasi sepi peminat, dihina bodoh
Gaji yang Nihaya terima dari menjadi biro umrah sebenarnya tidak kalah dari gaji PNS atau ASN. Hanya saja, karena masih tersisa sedikit ambisi untuk “membungkam” saudara-saudara yang meremehkannya, ia pun tetap mencoba seleksi CPNS tahun berikutnya.
Bedanya, di tahun 2023 itu, ia mencoba daftar pada formasi yang sepi peminat. Hasilnya, ia memang berhasil melaju hingga SKD. Tapi ia gugur di SKB.
“Tahu apa respons saudara? Nyindirnya, PPPK saja gagal, seleksi CPNS daftar di formasi sepi peminat juga gagal. Itu karena saking bodohnya apa ya. Begitu-begitu lah,” ujar Nihaya.
Tidak pelak jika ia sempat nangis sesenggukan. Berhari-hari tidak bergairah untuk beraktivitas.
Tapi setelah ngobrol dengan sang bapak, ia sadar, kecenderungan manusia itu akan selalu begitu: merasa kurang. Karena, meski gagal PPPK dan seleksi CPNS, tapi Nihaya bisa kerja di biro umrah dengan gaji yang sepadan dengan PNS atau ASN. Harusnya Nihaya merasa cukup.
“Kalau kata bapak, omongan jelek orang lain itu bisa jadi karena dua hal. Satu, dia nggak tahu saja soal benefit yang kudapat. Atau dua, mereka tahu, alhasil iri. Karena iri itu akhirnya tetap meremehkan,” kata Nihaya.
Akhirnya bisa bungkam mulut orang yang meremehkan
Singkat cerita, sejak bekerja pada 2023, Nihaya justru semakin dipercaya oleh CEO biro umrah tempatnya bekerja. Pekerjaannya dianggap bagus.
Seiring waktu, Nihaya tidak hanya mendapat gaji pokok, tapi juga mendapat komisi. Kalau ditotal dengan komisi, ya bisa di atas gaji PNS atau ASN. Di titik itu, Nihaya sadar kalau ternyata kegagalannya di PPPK atau seleksi CPNS bahkan saat daftar di formasi sepi peminat telah diganti Allah Swt dalam pekerjaan lain yang tidak kalah layak.
“Itu membuatku lebih percaya diri kalau ketemu keluarga terus disinggung kerjaanku kayak gimana dan gajinya berapa. Ada yang kicep, tapi ada juga yang kayak, “Heleh”, karena kan nggak ada tunjangan hari tua seperti PNS atau ASN. Lucu memang,” kata Nihaya.
Orang-orang yang pernah meremehkan Nihaya semakin kicep ketika pada 2025 lalu Nihaya dan sejumlah karyawan berprestasi mendapat kesempatan umrah gratis dari CEO biro langsung.
“Akhirnya banyak juga pengalaman yang kudapat dengan kerja di biro umrah. Skill marketing, hubungan dengan kolega, sampai pengalaman ke Makkah-Madinah lebih dulu ketimbang saudara yang PNS atau ASN,” ujar Nihaya.
Bahkan kini Nihaya tengah mempersiapkan untuk mengumrahkan orang tuanya. Karena memang, khusus karyawan, apalagi berprestasi, bisa mendapat harga murah jika mengambil paket umrah di sana. Pencapaian itu membuat saudara-saudara yang pernah meremehkan akhirnya tidak lagi sering-sering menyindir. Karena memang sekalipun anak mereka berstatus PNS atau ASN, tapi belum ada tahap seperti itu.
Sementara Nihaya berniat menyerap ilmu, modal, dan pengalaman sebanyak-banyaknya dari tempatnya bekerja. Siapa tahu berguna untuk kelak saat ia sudah tidak lagi menjadi karyawan dan merintis biro sendiri. Amin.
Cerita ini Nihaya bagikan bukan untuk keperluan menyombongkan diri atau pencapaian. Tapi sebagai pengingat setidaknya pada dua hal: jangan suka meremehkan jalan hidup orang lain sekaligus jangan pernah berkecil hati pada kegagalan.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Derita Jadi PNS atau ASN di Desa: Awalnya Bisa Sombong Status Sosial, Tapi Berujung Ribet karena Diporoti dan Dikira Bisa Jadi Ordal atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














