Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sehari-hari

Ikut Bukber Kantor di Acara ASN Itu Bikin Muak: Isinya Orang Cringe dan Seksis yang Bikin Risih, tapi “Haram” Buat Ditolak

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
22 Februari 2026
A A
Bukber, ASN, kantor.MOJOK.CO

Ilustrasi - ASN (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Bagi sebagian besar pekerja, terutama Gen Z dan milenial, kata “bukber” atau buka puasa bersama biasanya identik dengan momen hangat bareng teman lama atau keluarga. Namun, ceritanya bakal berubah 180 derajat kalau imbuhannya adalah “bukber kantor” atau “bukber instansi” seperti ASN.

Alih-alih, jadi ajang kumpul dan senang-senang, acara ini seringkali berubah jadi simulasi lembur yang dibungkus dengan embel-embel “silaturahmi”.

Bagi para Gen Z, datang ke bukber kantor, terutama ASN, bukan cuma soal rasa malas, tapi juga kelelahan mental. Ada tuntutan untuk tampil sempurna, tertawa pada candaan yang tidak lucu, hingga menelan komentar-komentar kasar yang dibalut label “bercanda”.

Bukber ASN, “haram” untuk ditolak

Vito (25), adalah salah satu Gen Z yang mengalami hal ini. Ia merupakan seorang tenaga honorer di sebuah instansi pemerintahan. Bagi Vito, undangan bukber dari kantornya bukan sekadar ajakan makan, tapi perintah halus yang kalau ditolak risikonya adalah masa depan karier.

“Jujur saja, sebagai honorer, posisi saya ini paling bawah. Kalau saya nggak datang, nanti pas perpanjangan kontrak tahun depan, wajah saya yang nggak muncul di bukber bakal diingat,” tawa Vito, Jumat (20/2/2026).

Vito bercerita bahwa ia sebenarnya ingin sekali pulang ke rumah. Namun, ia harus tetap di kantor sampai jam 8 malam, duduk di pojokan, sambil mendengarkan ocehan bosnya.

“Makanannya sih enak, tapi makannya sambil nahan kantuk dan dengerin bos pamer pencapaian. Rasanya kenyang di perut, tapi pegel di hati,” tambahnya.

Hal senada diungkapkan oleh Maya (27), seorang staf di instansi pemerintahan yang lingkungannya sangat kaku. Menurutnya, bukber kantor itu “haram” untuk ditolak karena adanya budaya “nggak enakan”. 

“Kalau kita izin nggak ikut, besoknya di kantor pasti bakal ditanya-tanya terus. ‘Wah, Maya nggak kompak nih’, atau ‘Sombong banget nggak mau kumpul’. Akhirnya ya terpaksa datang, meski hati dongkol banget,” ujarnya.

Rangkaian acara bukber kantor sering nggak jelas

Satu hal yang paling bikin muak dari bukber formal dengan ASN adalah susunan acaranya. Seringkali, panitia membuat agenda yang terlalu panjang dan membosankan. 

Harusnya, poin utama bukber adalah saat adzan Maghrib berkumandang dan orang-orang makan. Tapi di acara kantor, makan adalah urutan kesekian.

Biasanya, acara dimulai dengan sambutan-sambutan. Mulai dari ketua panitia, kepala divisi, sampai pimpinan tertinggi. Celakanya, sambutan ini sering kali berubah jadi rapat evaluasi terselubung. 

“Pernah sekali, bos sambutan sampai 45 menit. Isinya yapping soal urusan pemerintahan sama pamer pencapaian, padahal itu sudah tinggal 5 menit lagi adzan. Kita yang dengerin sudah muak,” keluh Maya.

Belum lagi sesi foto yang tidak ada habisnya. Foto per divisi, foto per lantai, foto bareng pimpinan dengan gaya mengepalkan tangan seolah-olah semangat kerja. Padahal, menurut Maya, saat itu semua orang cuma pengen cepat-cepat pulang.

Iklan

Jokes cringe, seksis, dan misoginis

Yang paling menyakitkan dari bukber dengan orang-orang “berpangkat” adalah ketika suasana mulai cair, tapi cairnya ke arah yang salah. Sering kali, para senior ASN atau atasan mengeluarkan candaan yang sangat tidak pantas atau cringe.

Maya bercerita betapa seringnya ia mendengar jokes yang menyerang fisik atau status personal. 

“Ada senior yang bilang ke staf perempuan, ‘Wah, puasa kok malah makin subur? Nanti baju batiknya nggak muat lho’. Atau bercanda soal istri muda di depan semua orang. Itu nggak lucu sama sekali, tapi kita semua dipaksa ketawa. Kalau kita nggak ikut ketawa, nanti dibilang baperan atau nggak punya selera humor.”

Budaya misoginis ini sering kali dianggap normal dalam lingkup ASN. Perempuan sering dijadikan objek candaan, mulai dari urusan dapur sampai urusan ranjang yang dibalut kiasan-kiasan kasar. Bagi staf muda, ini adalah momen paling menyiksa karena mereka harus menelan kekesalan demi menjaga suasana tetap kondusif.

“Bulan puasa setan dikerangkeng, eh malah setan lain muncul di kantor.”

Tempatnya para atasan gosipin rekan kerja

Setelah sesi makan utama selesai, biasanya acara bukber tidak langsung bubar. Inilah saatnya “menu utama” yang sebenarnya keluar: gosip. Di meja-meja bundar itu, para ASN mulai saling sikut dan membicarakan rekan mereka yang tidak hadir atau mereka yang sedang jadi “incaran” kantor.

“Bukber itu jadi ajang verifikasi gosip,” kata Maya. “Siapa yang mau resign, siapa yang lagi dekat sama siapa, sampai siapa yang kerjanya nggak bener, semua dibahas di sana. Bukannya jadi makin akrab secara positif, malah jadi makin tahu busuknya masing-masing.”

Parahnya lagi, sering terjadi penghakiman terhadap cara berpakaian. Jika ada yang berpakaian terlalu santai, bakal jadi bahan omongan selama seminggu ke depan. Bahkan, sesepele ada yang mengambil makanan terlalu banyak saja, dicap nggak tahu diri. 

“Benar-benar lingkungan yang melelahkan. Benar-benar ujian puasa yang sesungguhnya.”

Kenapa tetap bertahan?

Pertanyaannya: kalau memang sememuakkan itu, kenapa nggak ada yang berani protes? Jawabannya sederhana: hierarki dan senioritas.

Di Indonesia, relasi kuasa di kantor, apalagi instansi pemerintahan (ASN) itu sangat kuat. Seorang staf biasa atau honorer tidak punya daya tawar untuk mengubah budaya ini. 

Bukber kantor akhirnya menjadi semacam “bentuk pengorbanan”. Bagi Maya, ia hadir bukan untuk makan, tapi untuk setor wajah agar namanya tetap aman di dalam daftar absensi “pegawai baik”.

Alhasil, bukber kantor hanyalah sebuah panggung sandiwara tahunan. Semua orang memakai topeng terbaik mereka, memaksakan senyum di depan kamera, dan pura-pura menikmati rendang yang rasanya hambar karena suasana hati yang tertekan.

“Kita semua tahu itu membosankan, kita semua tahu itu penuh kepalsuan, tapi kita semua juga tahu kalau besok pagi kita masih butuh gaji dari tempat yang sama,” pungkasnya.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Muak Buka Bersama (Bukber) sama Orang Kaya: Minus Empati, Mau Menang Sendiri, dan Suka Mencaci Maki bahkan Meludahi Makanan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 22 Februari 2026 oleh

Tags: aparatur sipil negaraASNBuka bersamabuka puasabukberbukber asnbukber kantorhonorerPNS
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Ribetnya lolos seleksi CPNS dan jadi PNS/ASN di desa: dibayangi standar hidup sukses yang merepotkan MOJOK.CO
Sehari-hari

Derita Jadi PNS atau ASN di Desa: Awalnya Bisa Sombong Status Sosial, Tapi Berujung Ribet karena “Diporoti” dan Dikira Bisa Jadi Ordal

1 April 2026
Kerja Susah di Jogja, Diledek Orang Surabaya Gak Bakal Sukses. MOJOK.CO
Urban

Nekat Tinggalkan Surabaya untuk Meniti Karier di Jogja, Menyesal Tak Dengarkan Nasihat Orang Tua yang Terlanjur Kecewa

31 Maret 2026
Work from home (WFH) untuk ASN tidak peka kondisi pekerja informal MOJOK.CO
Tajuk

WFH 1 Hari ASN Perlu Lebih Peka terhadap Kondisi Pekerja Informal

30 Maret 2026
Ambisi jadi PNS di usia 25 demi hidup sejahtera. Malah menderita karena perkara gadai SK MOJOK.CO
Sehari-hari

Jadi PNS Tak Bahagia Malah Menderita, Dipaksa Keluarga Gadai SK Demi Puaskan Tetangga dan Hal-hal Tak Guna

16 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Lolos Unair lewat jalur golden ticket tanpa SNBP. MOJOK.CO

Kisah Penerima Golden Ticket Unair dari Ketua Padus hingga Penghafal Al-Qur’an, Nggak Perlu “Plenger” Ikut SNBP-Mandiri untuk Diterima di Jurusan Bergengsi

30 Maret 2026
Gen Z rela sise hustle

Tak Cukup Satu Gaji, Gen Z Rela “Side Hustle” dan Kehilangan Kehidupan demi Rasa Aman dan Puas Punya Pekerjaan Sesuai Keinginan

30 Maret 2026
kuliah di jurusan sepi peminat.mojok.co

Nekat Kuliah di Jurusan Sepi Peminat PTN Top: Menyesal karena Meski Lulus Cumlaude, Ijazah Dianggap “Sampah” di Dunia Kerja

2 April 2026
Vario 160 Motor Buruk Rupa yang Menyalahi Kodrat Honda MOJOK.CO

Vario 160 Adalah Motor Buruk Rupa yang Menyalahi Kodrat Motor Honda, tapi Sejauh Ini Menjadi Matik Terbaik yang Tahan Siksaan

3 April 2026
Niat MBG Itu Mulia: Cerita Guru Wali Kelas yang Harus Memastikan Siswa Mau Mencoba Menghabiskan Makanannya MOJOK.CO

Niat MBG Itu Mulia: Cerita Guru Wali Kelas yang Harus Memastikan Siswa Mau Menghabiskan Makanannya

1 April 2026
Ibu hamil kondisi mengandung bayi

Hampir Memiliki Anak Sudah Jadi Anugerah, Ibu Tak Apa Berjuang Mati-matian demi “Buah Hati” yang Belum Tentu Lahir ke Dunia

29 Maret 2026

Video Terbaru

Serat Centhini dan Asal Usul Jamus Kalimasada dalam Tradisi Jawa

Serat Centhini dan Asal Usul Jamus Kalimasada dalam Tradisi Jawa

29 Maret 2026
Klinik Kopi dan Mitos Slow Living yang Ternyata Cuma Ilusi

Klinik Kopi dan Mitos Slow Living yang Ternyata Cuma Ilusi

28 Maret 2026
Arman Dhani & Lya Fahmi: Kita Dituntut Sukses, Tapi Tidak Pernah Diajarkan Menghadapi Gagal

Arman Dhani & Lya Fahmi: Kita Dituntut Sukses, Tapi Tidak Pernah Diajarkan Menghadapi Gagal

26 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.