Land of Leisures (LOL) 2026 mulai berlangsung pada Kamis (25/6/2026). Acara curated market yang sudah berlangsung selama satu dekade ini tak cuma meriah, tapi juga berdampak bagi masyarakat sekitar.
***
Pagi itu, Atrium Plaza Ambarrukmo sudah dipadati lautan manusia. Meski beberapa booth masih tutup dan sebagian penjaga stan masih sibuk menata etalase produk, animo publik justru sudah meluap. Keseruan terasa bahkan jauh sebelum pita seremonial resmi digunting oleh penyelenggara.
Setelah acara pembukaan dan pengguntingan pita, lautan manusia tersebut pelan tapi pasti mengisi ruang-ruang tenant di Atrium Plaza. Yang saya lihat, banyak yang langsung berhenti cukup lama di tenant fesyen seperti kacamata dan baju.
Saat itu, saya memilih untuk mengitari tenant-tenant terlebih dahulu, sembari mencari titik mana yang paling memikat.
Gelaran LOL edisi kali ini jelas punya bobot historis yang istimewa: usia sepuluh tahun. Bukan usia yang singkat, dan menunjukkan bahwa acara ini sudah punya pijakan yang amat mantap.
Dan, ini terlihat dari traffic pengunjung yang makin meningkat beberapa jam setelah acara dibuka. Perlu diingat, ini Kamis, masih hari kerja, di jam kerja pula, tapi arus pengunjung sudah begitu ramai.
Sulit membayangkan sepadat apa lautan manusia ini saat akhir pekan tiba, mengingat festival ini dihelat empat hari penuh.

Kualitas produk adalah kunci utama
Fenomena membludaknya massa pada hari kerja tersebut sejatinya cukup masuk akal. LOL tidak pernah menempatkan dirinya sekadar sebagai lapak bertransaksi. Ia adalah panggung bagi jenama yang telah melewati kurasi ketat.
Saya mendapat kesempatan berbincang dengan Aprilian Laili, Project Director Land of Leisures 2026, untuk mendapat gambaran utuh tentang event ini, dimulai dari sejarahnya.
Laili, sapaan akrabnya, berpendapat bahwa masalah terbesar yang dihadapi para pelaku kreatif di Jogja, salah satunya, adalah wadah. Tidak bisa dimungkiri, Jogja memang tempatnya orang kreatif. Akan tetapi, kreativitas tanpa wadah hanya akan percuma.
Masalah wadah ini tak hanya perkara tempat unjuk gigi, tapi juga perkara update hal-hal yang menjadi tren aktual di kota lain, seperti Jakarta. Padahal, konektivitas ini penting, terutama untuk peningkatan kualitas.
Itulah yang mendasari dibuatnya LOL, agar jenama dari Jogja dan Jakarta bisa saling merangkul, bisa saling update, yang tentu saja efeknya ke peningkatan kualitas.
Sepuluh tahun berselang, buah dari persilangan ide tersebut mulai matang. Produk dari Jogja bisa bersaing.
“Seiring berjalannya waktu, mulai setelah pandemi, brand-brand dari Jogja ternyata juga sudah cukup bisa bersaing. Awalnya, fifty-fifty produk dari Jogja dan Jakarta, tapi kini akhirnya lebih banyak brand Jogja. Karena secara kualitas, brand dari Jogja bisa disandingkan,” jelas Laili, Kamis (25/6/2026).
Ia menjelaskan bahwa proses kurasi LOL menempatkan kualitas produk sebagai parameter utama. Stan yang lolos saringan adalah mereka yang punya estetika sekaligus ketajaman membaca zaman.
“Kriterianya tadi, seperti yang sempat aku bilang, kualitas produk. Terus juga bagaimana tenant ini cukup bisa adaptif dengan tren,” ujarnya.
“Kebanyakan yang datang ke Land of Leisures adalah anak muda. Otomatis anak muda mencari sesuatu yang relate dengan yang sedang happening sekarang kan. Dari apparel, kemudian dari aksesoris, terus food and beverages, semuanya itu memang harus sesuai tren,” imbuhnya, detail.
Kurasi yang ketat ini dimaksudkan agar kualitas LOL tetap terjaga, pun ini juga membantu para tenant meraih banyak keuntungan. Seperti peningkatan kualitas lewat pertukaran ide, serta yang paling jelas adalah keuntungan.

Kurasi selektif ini berbanding lurus dengan perputaran ekonomi yang terus bertumbuh setiap tahunnya. Berdasarkan data pendapatan yang dihimpun penyelenggara dari para tenant seusai acara, LOL menawarkan prospek bisnis yang sehat. Bukti nyatanya adalah tingkat retensi peserta; sejumlah jenama tercatat tak pernah absen mengikuti festival ini lebih dari lima edisi.
“Kita memang menyukai produknya, terus market, orang-orangnya yang dateng ternyata sangat-sangat antusias dengan produknya, salah satunya adalah Demie Bakmi. Dia sering ikut Land of Leisures, tapi orang masih antre.”
Jogja adalah market yang menarik
Berdasarkan amatan saya di lokasi, tenant-tenant yang ada memang sesuai dengan tren yang sedang happening di anak muda. Sebagai contoh, ada tenant kacamata dengan desain yang unik.
Selain dominasi busana dan kacamata berdesain unik tadi, stan tumbler juga mencuri panggung. Kesadaran akan gaya hidup sehat membuat produk ini laris manis sebagai penunjang hidrasi harian yang vital bagi kaum urban.
Jenama Domma menjadi salah satu pemain di sektor ini. Wina (23), penjaga gerai Domma, menuturkan bahwa bisnis mereka berawal dari penjualan stoples sebelum akhirnya melakukan rebranding.
“Pas kita coba-coba market di 2021, salah satu yang paling masuk market adalah tumbler, lalu 2023 kita mulai fokus ke tumbler,” ungkapnya saat saya temui.
Bagi jenama asal Jakarta tersebut, membuka gerai di Yogyakarta bertujuan memperluas penetrasi brand awareness. Wina mengungkapkan, masa puncak penjualan biasanya jatuh pada bulan Januari serta pascalebaran—momen saat resolusi hidup sehat mendorong orang ramai-ramai mendaftar ke pusat kebugaran.

Eksposur masif LOL dalam mengonversi kesadaran merek menjadi transaksi nyata turut diamini oleh Bellywise Jogja. Bagi jenama kuliner lokal tersebut, edisi 2026 menandai partisipasi keempat mereka.
Hanna (28), staf pemasaran Bellywise, mengonfirmasi bahwa keikutsertaan mereka selalu membuahkan audiens baru yang berkualitas bagi store utama mereka.
“Biasanya kalau event gini ‘kan bagiin voucher. Nah terus, biasanya voucher kita validate sebulan setelah event ini. Ya biasanya ada yang dateng ke resto untuk menukarkan voucher tersebut,” jelasnya.
Lihat postingan ini di Instagram
Dampak Land of Leisures pada sekitar
Manfaat ekonomi sebuah perhelatan akbar sejatinya tidak boleh berhenti di dalam gedung penyelenggaraan. Keberhasilan event baru teruji ketika tetesan rezekinya meluber hingga ke lingkaran luar, yakni pihak-pihak yang tak terlibat secara langsung, tapi punya peran vital.
Salah satunya, tukang parkir.
Adi (42), penyedia jasa parkir di barat Plaza Ambarrukmo, menyatakan bahwa acara-acara seperti ini meningkatkan jumlah pengguna jasa parkir yang ia sediakan. Bahkan, baru hari pertama saja, sudah terasa peningkatannya, meski hari itu masih siang, masih di jam kerja.
“Biasane yo tambah rame, nganti bludak-bludak, tekan kono, biasane (Biasanya tambah ramai, sampai membludak),” ujarnya.

Adi menambahkan, puncak pengguna jasa parkir biasanya pada weekend, Sabtu-Minggu, di saat artis utama tampil. Malam hari jadi waktu tersibuk untuknya mengatur parkir.
Peningkatan brand kreatif Jogja yang bergabung, ramainya animo pengunjung, serta efek-efek positif yang tercipta dari LOL menunjukkan bahwa suatu event jelas tak hanya perkara seremonial dan seru-seruan saja. Namun, ia bisa memberikan efek-efek positif yang berantai, hingga ke akar rumput, menghidupi hingga kanan-kirinya.
Reporter: Rizky Prasetya
Editor: Ahmad Effendy
Ikuti berita dan artikel Mojok lainnya di Google News.














