Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Eksplor

Untuk Jogja Menjadi Kota Wisata Rendah Emisi Karbon

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
15 Juni 2026
A A
Untuk Jogja Menjadi Kota Wisata Rendah Emisi Karbon.MOJOK.CO

Ilustrasi - Untuk Jogja Menjadi Kota Wisata Rendah Emisi Karbon (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Berbagai upaya strategis dilakukan untuk mewujudkan Jogja menjadi kota wisata rendah emisi karbon. Di antaranya adalah menata ulang sistem transportasi publik menjadi lebih ramah lingkungan.

***

Randi (34) memijat pelan tengkuknya. Pekerja kantoran asal Jakarta ini sengaja menghabiskan cuti tahunan plus libur panjang nataru lalu dengan berlibur ke Jogja. Niatnya sederhana: mencari ketenangan, melepas penat dari bising ibu kota, dan menikmati syahdunya malam Kota Pelajar.

Namun, bayangan liburan tenang itu runtuh seketika saat mobilnya tertahan di perbatasan timur Jogja, tepatnya di jalur masuk dari arah Prambanan.

Bukannya angin segar yang menyapa. Randi justru disuguhi lautan kendaraan sejauh mata memandang. Lalu lintas merayap sangat pelan.

Penyejuk udara di dalam mobilnya memang berembus dingin. Tetapi di balik kaca, udara terasa panas akibat kepungan asap knalpot dari ribuan mobil yang mengantre panjang.

“Niatnya cari tempat tenang buat istirahat, eh, malah pindah macet doang ke sini. Sudahlah macet, udaranya juga kerasa sumpek banget,” keluh Randi, menceritakan pengalamannya itu pada Sabtu (6/6/2025) kemarin.

Jogja “sumpek” di akhir pekan

Cerita Randi bukanlah pengalaman tunggal wisatawan. Keluhan serupa selalu berulang dan dialami ratusan ribu wisatawan lain setiap kali musim libur panjang tiba.

Bahkan, kini, pemandangan serupa kerap terlihat ketika memasuki akhir pekan.

kemacetan jogja.MOJOK.CO
Memasuki akhir pekan, situasi Jogja menjadi sumpek. Volume kendaraan bisa melonjak 10 kali lipat dari hari biasanya. (dok. Istimewa)

Kepala Dinas Perhubungan Kota Jogja, Agus Arif Nugroho, memberikan gambaran yang membuat siapa pun mengerutkan dahi. Angka yang ia sodorkan kepada saya menunjukkan betapa beratnya beban infrastruktur jalan di kota ini saat momentum liburan tiba.

“Populasi warga Kota Jogja ini aslinya cuma sekitar 400 ribu jiwa,” katanya, saat ditemui pada Jumat (5/6/2026) lalu.

“Tapi, kalau sudah masuk akhir pekan, jumlah orang yang ada di kota ini bisa melonjak 10 kali lipat, sampai 4 juta jiwa,” imbuhnya.

Jika melihat realitasnya di lapangan, kota yang luas wilayahnya cuma 32,5 kilometer persegi ini harus menampung limpahan jutaan manusia beserta kendaraan pribadi mereka secara bersamaan.

Kapasitas dan lebar jalan raya sama sekali tidak bertambah, tetapi arus mobil masuk terus mengalir deras dari berbagai pintu penyeberangan wilayah. 

Iklan

Titik tujuannya pun nyaris selalu sama, yakni pusat kota dan kawasan wisata ikonik seperti Malioboro. 

Di balik lonjakan wisatawan, ada penurunan kualitas udara

Di balik kemacetan panjang tersebut, ada ancaman diam-diam yang jauh lebih berbahaya bagi kesehatan masyarakat, yakni penurunan kualitas udara. 

“Selain macet, hal lain yang tentu menjadi masalah serius bagi Kota Jogja sebagai ikon wisata adalah polusi dan emisi karbon,” jelas Agus.

Menurut catatan Dishub Kota Jogja yang disampaikan Agus, sektor transportasi memang menduduki peringkat pertama sebagai penyumbang emisi karbon paling dominan di kawasan Kota Pelajar. 

Jogja bersinar.MOJOK.CO
Potret acara “Jogja Bersinar 2026” yang digelar pada Jumat (5/6/2026). Dalam acara ini, Kepala Dishub Kota Jogja, Agus Arif Nugroho, menyampaikan bahwa di balik kemacetan panjang yang menghantui Jogja, ada ancaman diam-diam yang jauh lebih berbahaya bagi kesehatan masyarakat: penurunan kualitas udara. (Mojok.co/Ahmad Effendi)

Apalagi, berdasarkan laporan dari berbagai lembaga pemantau kualitas udara, seperti IQAir dan AQICN, kualitas udara Jogja memang kerap merosot ke level sedang hingga buruk setiap kali memasuki akhir pekan.

Hal yang paling menjadi sorotan adalah temuan dari aplikasi pemantau udara asal Indonesia, Nafas, yang sempat menyematkan label merah untuk beberapa titik wisata utama.

Label tersebut mengindikasikan bahwa kualitas udara di kawasan padat seperti Tugu dan sekitarnya masuk dalam kategori sangat tidak sehat. Udara yang dihirup warga asli maupun turis yang sedang berwisata telah terkontaminasi oleh partikel debu kotor. 

“Jika masalah ini terus dibiarkan tanpa penanganan strategis, pariwisata Jogja perlahan akan kehilangan daya tarik alaminya. Karena selama ini kan Jogja identik dengan kota yang nyaman,” tegas Agus.

Menekan emisi karbon melalui penataan transportasi publik

Pemerintah Kota Jogja tentu tidak tinggal diam melihat masalah ini. Wacana untuk menyelamatkan napas kota dari kepungan emisi karbon mulai ditata secara serius dan perlahan terlihat implementasinya di lapangan.

Ditemui di sela acara “Jogja Bersinar 2026” pada Jumat (5/6/2026), Wakil Wali Kota Jogja, Wawan Harmawan, menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk menekan angka emisi karbon secara berkala. 

wakil walikota Jogja.MOJOK.CO
Potret Wakil Wali Kota Jogja, Wawan Harmawan. Pihaknya menegaskan telah berkomitmen menekan angka emisi karbon secara berkala. (Mojok.co/Ahmad Effendi)

Langkah konkret yang diambil, salah satunya, adalah dengan menata ulang sistem transportasi publik menjadi jauh lebih ramah lingkungan. Sehingga kualitas udara dapat membaik tanpa harus mematikan denyut ekonomi sektor pariwisata.

Kawasan Malioboro, sebagai salah satu episenter wisatawan, kemudian dipilih sebagai lokasi untuk proyek jalanan bersih ini.

Wajah jalan paling legendaris di Jogja tersebut diubah secara bertahap, di mana area trotoar dibersihkan dan diperlebar agar pejalan kaki merasa nyaman dan aman. 

“Pemerintah juga menerapkan aturan tegas yang melarang kendaraan pribadi melintas pada jam-jam tertentu, guna mendorong wisatawan untuk menikmati suasana kota dengan berjalan kaki,” tegas Wawan.

trans jogja, bus listrik.MOJOK.CO
Kini, khusus jalur yang melintasi Jalan Malioboro, Trans Jogja mulai digantikan oleh armada bus listrik yang lebih ramah lingkungan. (dok. Istimewa)

Untuk mengakomodasi para wisatawan juga, sarana angkutan umum ikut dibenahi. Bus Trans Jogja kini perlahan mulai digantikan oleh armada bus listrik untuk melayani rute-rute utama yang membelah kawasan Malioboro. 

“Bus listrik ini lebih ramah lingkungan. Harapannya juga, dengan kemudahan transportasi ini, wisatawan tak perlu membawa kendaraan pribadi saat berwisata ke Jogja,” ujarnya.

“Kami juga mulai mengganti armada becak motor di Malioboro dengan becak listrik, karena ini menjadi moda transportasi yang dominan di kota.”

Terobosan tanpa menghilangkan nilai budaya Jogja

Pada Rabu (3/6/2026) lalu, Pemerintah Kota Jogja memang telah memberi bantuan 50 becak listrik kepada para pengemudi. Nantinya, armada yang lebih ramah lingkungan ini akan dipakai untuk melayani para wisatawan.

Perubahan menuju teknologi yang lebih ramah lingkungan memang telah dilakukan. Meski begitu, Wawan menyadari ada satu elemen kultural yang pantang hilang dari wajah Jogja, yaitu sentuhan kearifan lokalnya. 

Sebelum kebijakan ini bergulir, Wawan mengakui memang sempat muncul kekhawatiran di masyarakat bahwa modernisasi sarana angkutan umum ini pelan-pelan akan meminggirkan para pengayuh becak tradisional.

Namun, ia menegaskan, transisi penggunaan energi yang ramah lingkungan ini dapat berjalan beriringan tanpa harus merampas mata pencaharian warga kecil. 

becak listrik.MOJOK.CO
Pemerintah Kota Jogja memang telah memberi bantuan 50 becak listrik kepada para pengemudi. Nantinya, armada yang lebih ramah lingkungan ini akan dipakai untuk melayani para wisatawan. (dok. Pemkot Jogja)

“Tentunya kami tidak menghilangkan aspek manusia dan nilai budaya. Maka dari itu, kami tidak menghilangkan transportasi tradisional seperti becak, tetap menggantinya dengan moda yang lebih ramah lingkungan,” kata Wawan.

Titik temu antara pelestarian lingkungan dan kepedulian sosial ini diwujudkan lewat program sinergi dari PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daerah Operasi 6 Jogja, yang membagikan bantuan puluhan unit becak listrik secara cuma-cuma kepada paguyuban pengayuh becak tradisional. 

Pembagian armada baru ini menjadi jalan keluar yang sangat membumi dan melegakan hati para pekerja jalanan. Jika dilihat dari kejauhan, penampilan fisik kendaraan roda tiga itu tetap dipertahankan persis seperti aslinya, sehingga suasana khas Jogja tetap terjaga.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Jogja dan Produksi Pengetahuan Lewat Ratusan Penerbit Buku, Modal Jadi Ibu Kota Buku UNESCO atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 15 Juni 2026 oleh

Tags: emisi karbonJogjajogja bersinar 2026karbonkemacetan jogjakota jogjakualitas udara jogjamobil listrikpemkot jogjaPLN
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Gaji 2 juta hasil kerja di Jogja habis buat ngasih makan naga (judi slot) karena ilusi jackpot MOJOK.CO
Urban

Gaji 2 Juta Jogja Selalu Lenyap buat Ngasih Makan Naga: Rela Kelaparan dan Susahkan Ortu-Teman demi Jackpot, Tapi Tak Mau Sadar

14 Juni 2026
Evakuasi anjing terbuang dari tangan para jagal di Jogja MOJOK.CO
Suara Bawah Tanah

Evakuasi Anjing Terbuang dari Operasi Senyap Para Jagal di Jogja, Kebal Intimidasi dan Caci Maki

10 Juni 2026
Sanksi untuk Jagal Anjing di Daerah Istimewa Yogyakarta yang Tertunda Realisasinya. MOJOK.CO
Suara Bawah Tanah

Jalan Terjal Menghentikan Operasi Jagal Anjing karena Dianggap Kurang Penting

9 Juni 2026
Kenapa Hidup di Jogja Membuat Saya Terlalu Santai Menghadapi Tagihan yang Seharusnya Bikin Panik MOJOK.CO
Esai

Kenapa Hidup di Jogja Membuat Saya Terlalu Santai Menghadapi Tagihan yang Seharusnya Bikin Panik

3 Juni 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Menunggu Jogja Punya Sirkuit Balap Motor Permanen MOJOK.CO

Menunggu Jogja Punya Sirkuit Balap Motor Permanen

15 Juni 2026
Cara Jawa Tengah (Jateng) menjaga inflasi dan ketersediaan pangan MOJOK.CO

Cara Jawa Tengah Jaga Inflasi dan Ketersediaan Pangan agar Harga Terkendali dan Keterjangkauan Pangan bagi Masyarakat Terjamin

10 Juni 2026
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi terima penghargaan karena pembinaan UMKM dan ekonomi kreatif di Jateng MOJOK.CO

Pengakuan “Tokoh Penggerak” di Balik Ribuan UMKM dan Ekonomi Kreatif Jateng yang Tumbuh Pesat

12 Juni 2026
Tingkatkan literasi dengan baca buku. MOJOK.CO

Cerita Sebuah Keluarga Membangun Kebiasaan Membaca Saat Orang Lain Berubah Menjadi “Phubbing”

11 Juni 2026
Gubernur Jawa Tengah (Jateng) akan membenahi tata kelola pertambangan MBLB dari hulu ke hilir MOJOK.CO

Pembenahan Tata Kelola Tambang di Jateng Jadi Krusial karena Tambang Ilegal Biang Masalah Hukum, Lingkungan, dan Pendapatan

12 Juni 2026
Audiensi antara KPUS dan Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi terkait anjloknya harga telur di Jateng MOJOK.CO

Upaya Merespons Situasi Harga Jual Telur di Jateng yang Anjlok dan Tidak Terserap

10 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.