Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Catatan

Pelajaran Hidup dari Seorang Driver Ojol di Semarang yang Suka “Yapping”: Tak Lupa Membantu Sesama di Tengah Tekanan Hidup

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
6 November 2025
A A
Driver ojol di Simpang Lima Semarang terlalu Ramah. MOJOK.CO

ilusrtasi - driver ojol di Semarang suka yapping. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Panasnya perjalanan ke Simpang Lima Semarang tak bikin saya gerah, setidaknya menghangatkan jiwa karena kebaikan hati seorang driver ojek online (ojol) yang peduli dengan orang luar daerah. Tak heran, Semarang punya julukan kota ATLAS yang merupakan akronim dari Aman, Tertib, Lancar, Asri, dan Sehat.

***

Saya tak bisa membayangkan bagaimana motor butut saya saat dipakai untuk jalan-jalan di Kota Semarang, sebab jalannya naik-turun seperti gunung. Padahal, tempat yang saya kunjungi masih berada di wilayah kota, yakni dari Simpang Lima ke Universitas Negeri Semarang (UNNES).

Sementara, motor Yamaha Mio 2011 pasti tak sanggup melewati jalan menanjak. Berdasarkan pengalaman saya saat pergi ke Bukit Argobelah, Klaten mesinnya sudah berat sekali bahkan sebelum perjalanan menuju bukit. Pengalaman saya ini pernah saya tulis di sini.

Mungkin itu sebabnya driver ojol yang saya tumpangi selalu pakai motor yang kurang lebih keluaran 2020 ke atas. Salah satunya seorang ojol yang mengendarai Honda Vario 150.

Namun, bukannya bersyukur punya motor bagus dibanding motor butut saya, bapak itu masih mengeluh karena harus berkali-kali service. Dari situlah percakapan kami mengalir sampai saya melihat sendiri kebaikan hati beliau.

Kembali ke Semarang untuk temani ibu

Namanya, Bhastian. Pemuda asal Semarang itu dulunya pernah merantau ke Jakarta dan sempat bekerja selama beberapa tahun. Namun, ia memutuskan pulang ke kampung halaman setelah mendengar ayahnya meninggal. Mendengar cerita pribadi tersebut, saya sedikit risih dan bingung harus menanggapi bagaimana. Namun, Bhastian tampak semangat saat bercerita.

“Saya nggak tega tinggalin ibu sendirian di rumah Mbak. Beliau orang tua saya satu-satunya yang masih hidup. Saya sempat menyesal nggak bisa dampingi bapak saat detik-detik terakhir beliau nggak ada (meninggal),” ujar Bhastian saat bertugas menjadi driver ojol untuk mengantar saya dari Puskesmas Sekaran ke Simpang Lima Semarang pada Kamis (16/10/2025).

Mulanya, Bhastian mengaku berat karena harus resign dari pekerjaannya, sementara ia juga masih punya tanggungan untuk menghidupi anak dan istrinya. Untungnya, sang istri mendukung keputusan tersebut.

“Mungkin kami juga sudah capek dengan kehidupan Jakarta. Istri saya bilang rezeki sudah ada yang ngatur. Jadi saya optimis, ya walaupun ujung-ujungnya ngojol hehe,” kelakar Bhastian.

Kasih motor butut kesayangan ke adik tingkat

Dalam perjalanan hidupnya itu, sarjana Universitas Islam Sultan Agung (UNISSULA) tersebut masih bersyukur karena diberi kesehatan dan punya motor yang bagus, sehingga bisa digunakan untuk ngojol.

“Semasa kuliah dulu, saya harus ‘mati-matian’ Mbak buat beli motor. Saya kuliah sambil kerja di percetakan buku pendidikan sampai akhirnya bisa beli Honda Supra X,” ucap Bhastian.

Kini, Honda Supra X-nya itu sudah ia berikan ke adik tingkatnya dulu yang masih ada di Semarang. Meski sudah butut, ia mengaku mesinnya awet. Dan karena iba ke adik tingkatnya yang masih sulit cari kerja, ia pun memberikan motor bekasnya.

Tak terasa, sambil mendengarkan cerita-cerita Bhastian, kami sudah berada di bundaran Tugu Muda sebelum menuju Simpang Lima Semarang. Saya pun asyik memotret bangunan-bangunan di sekitar, karena dekat Tugu Muda ada Lawang Sewu hingga Museum Mandala Bhakti yang menjadi rujukan wisatawan. 

Iklan

Saat itulah Bhastian baru menyadari bahwa saya seorang pendatang dari Jogja. Ia pun makin bersemangat menceritakan sejarah Kota Semarang, termasuk Pertempuran Lima Hari di Semarang sejak tanggal 15 November.

“Untung Mbak datangnya hari ini, karena baru aja kemarin jalanan ini macet. Orang-orang ngadain pawai dalam rangka memperingati Pertempuran Lima Hari di Semarang,” ucap Bhastian. 

Saya pun hanya manggut-manggut mendengarkan penjelasannya sambil menikmati jalanan kanan kiri saat lampu merah. Saat itulah seorang bapak tua yang mengendarai motor plat K menjejeri kami. Motornya tampak butut, lebih ringkih fisiknya dari motor Yamaha Mio saya.

Bantu seorang bapak tua yang nyasar di Semarang

Bapat tua itu lalu bertanya ke Bhastian, di mana lokasi Kantor Balai Kota Semarang? Entah apa keperluannya di sana, tapi ia sempat menunjuk sebuah gedung berwarna krem dan menanyakan apakah gedung itu Kantor Balai Kota Semarang.

Bhastian pun menjawab bukan, setahu dia itu wisma penginapan untuk tamu meskipun bertuliskan “Pemerintah Kota Semarang”. Ia lalu menjelaskan arah yang benar sambil menggerak-gerakkan tangannya seperti anak panah. Dari raut wajahnya, Bapak itu tampak bingung tapi tetap tersenyum usai Bhastian menjelaskan.

Karena khawatir bapak itu nyasar, Bhastian meminta izin kepada saya untuk mengantar bapak tersebut. Saya pun tak keberatan karena masih punya banyak waktu luang.

“Simpang Lima sudah dekat kok Mbak, tinggal melewati bundaran terus lurus. Cuman kalau antar Bapaknya ke balai kota kita harus belok kiri dulu jadi agak jauh, nggak apa kah? Mbaknya nggak bayar lebih kok, cuman waktunya jadi agak lama. Bagaimana?” jelasnya.

“Aman saja Pak, anterin Bapaknya aja. Kayaknya beliau juga nggak bisa nge-map,” jawab saya yang selalu mengandalkan G-Maps di gawai saat nyasar.

Bhastian kemudian memanggil Bapak tadi yang ada di sampingnya dan meminta bapak itu mengikuti motornya. Mendengar tawaran tersebut, raut wajahnya langsung sumringah. Ia berterima kasih atas bantuan Bhastian.

Makna berharga dari kata “Terima Kasih”

Usai melewati bundaran dan Jalan Pandanaran, Bhastian belok kiri ke Jalan Pekunden. Ia mengurangi sedikit kecepatan mesin motornya agar bapak itu bisa mengikuti dia dari belakang. Sementara, saya sesekali menoleh ke belakang memastikan bapak itu tak ketinggalan.

Kami pun sempat bercakap-cakap dari mana Bapak itu berasal. Dari plat motor bertuliskan K, kami menduga kalau ia dari Puwodadi, Grobogan. Daerah Jawa Tengah yang lebih dekat dari Semarang dibanding Pati, Kudus, Jepara, Rembang, atau Blora. Namun, bisa saja analisis kami salah.

Kurang dari 10 menit, kami pun tiba di gedung Kantor Balai Kota Semarang. Tanpa menghentikan motornya di dekat trotoar, Bhastian hanya memencet klakson dan menunjukkan bangunan di samping kirinya. Ia tak melupakan tugas utamanya sebagai seorang driver ojol yang hendak mengantar saya.

Bapak itu pun mengerti. Ia mengangguk lalu tersenyum, seolah mengucapkan terima kasih dari jauh. Bhastian kemudian melanjutkan perjalanannya untuk mengantar saya ke Simpang Lima Semarang. Ia menurunkan saya di depan Masjid Baiturrahman sesuai permintaan.

Saya kemudian memberi sekotak makanan untuknya yang saya dapat dari acara di puskesmas tadi. Berkatnya, saya mendapat pelajaran berharga tentang indahnya berbuat baik kepada sesama. Sempat saya pusing memikirkan alasan Bhastian repot-repot mengantar Bapak tua tadi ke tujuan, seolah saya lupa kalau pada dasarnya berbuat baik itu tanpa pamrih.

“Terima kasih banyak Mbak,” ucapnya sembari tersenyum riang.

“Kembali kasih, Pak.” Kata saya.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Siasat Ojol Semarang Mencari Keuntungan di Tengah Kebingungan Penumpang atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 6 November 2025 oleh

Tags: driver ojolkota ATLASkota semarangplat KSemarangsimpang limawisatawan
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Artikel Terkait

Jembatan Persen di Gunungpati, Semarang, dari kayu menjadi baja dan bercor beton MOJOK.CO
Kilas

Jembatan Persen di Gunungpati Semarang, Dari Kayu Jadi Bercor Beton berkat Aduan “Solusi AWP”

24 Januari 2026
Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng akan renovasi rumah tak layak huni Mbah Kamijah di Gunungpati MOJOK.CO
Kilas

Saat Kabar Baik Menghampiri Mbah Kamijah, Lansia 87 Tahun yang Tinggal Sendiri di Rumah Tak Layak Huni Gunungpati Semarang

24 Januari 2026
Event bulu tangkis Daihatsu Indonesia Masters 2026 di Istora Senayan jadi berkah bagi driver obol Jakarta MOJOK.CO
Ragam

Berkah di Luar Arena: Ojol Jakarta Terciprat Bahagia dari “Pesta Rakyat” Indonesia Masters 2026 di Istora

20 Januari 2026
Gotong royong atasi tumpukan sampah Kota Semarang MOJOK.CO
Kilas

Gotong Royong, Jalan Atasi Sampah Menumpuk di Banyak Titik Kota Semarang

16 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Umur 23 tahun belum mencapai apa-apa: dicap gagal dan tertinggal, tapi tertinggal ternyata bisa dinikmati dan tak buruk-buruk amat MOJOK.CO

Umur 23 Belum Mencapai Apa-apa: Dicap Gagal dan Tertinggal, Tapi Tertinggal Ternyata Bisa Dinikmati karena Tak Buruk-buruk Amat

2 Februari 2026
Cara Pamit Megadeth Agak Cringe, Tapi Jadi Eulogi Manis Buat Menutup Perjalanan Empat Dekade di Skena Thrash Metal.MOJOK.CO

Album “Pamitan” Megadeth Jadi Eulogi Manis dan Tetap Agresif, Meskipun Agak Cringe

30 Januari 2026
Masturbasi di KRL dan TransJakarta: Maskulinitas Kota dan Tubuh yang Terjepit di Ruang Publik MOJOK.CO

Masturbasi di KRL dan TransJakarta: Maskulinitas Kota dan Tubuh yang Terjepit di Ruang Publik

4 Februari 2026
Misi Mulia Rumah Sakit Visindo di Jakarta: Tingkatkan Derajat Kesehatan Mata dengan Operasi Katarak Gratis MOJOK.CO

Misi Mulia Rumah Sakit Visindo di Jakarta: Tingkatkan Derajat Kesehatan Mata dengan Operasi Katarak Gratis

31 Januari 2026
bpjs kesehatan.MOJOK.CO

Kemensos “Bersih-Bersih Data” Bikin Nyawa Pasien Cuci Darah Terancam, Tak Bisa Berobat karena Status PBI BPJS Mendadak Nonaktif

5 Februari 2026
Pinjol Jerat Gen Z Fomo tanpa Cuan, Apalagi Tabungan MOJOK.CO

Fakta Indonesia Hari ini: Sisi Gelap Gen Z Tanpa Cuan yang Berani Utang Sampai Ratusan Juta dan Tips Lepas dari Jerat Pinjol Laknat

3 Februari 2026

Video Terbaru

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

4 Februari 2026
Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

3 Februari 2026
Buya Hamka dan Penangkapan yang Disederhanakan

Buya Hamka dan Penangkapan yang Disederhanakan

31 Januari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.