Menjadi WN Malaysia sebenarnya memberi kesejahteraan ekonomi bagi WNI. Namun, rasanya justru susah sekali untuk melepas paspor Indonesia. Antara perasaan emosional dengan kampung halaman bercampur dengan kemuakan pada kondisi keluarga dan negara.
Paspor Indonesia dapat upah layak di Malaysia ketimbang di RI
Usia bapak saya sudah hampir kepala enam. Namun, ia masih belum memutuskan kapan akan benar-benar pulang ke Indonesia dan tidak lagi bekerja di Malaysia.
Bapak sudah bekerja menjadi TKI di Malaysia sepanjang 1999-2026 (27 tahun, hampir 30 tahun). Bukan sekali/dua kali saya dan ibu membujuknya untuk tak usah lagi balik kerja ke Malaysia. Namu, Bapak bergeming. Alasannya selalu sama: Bermodal paspor Indonesia dan dokumen penting seperti (permit dan izin tinggal tetap) membuatnya mendapat upah layak di Malaysia.
Bapak saya adalah kuli bangunan dan tukang kayu. Jika proyek dari taukenya lancar, dalam sebulan ia bisa mengantongi upah Rp7 jutaan untuk menghidupi kami di rumah. Rata-rata ada di angka Rp5 jutaan.
Sementara WNI di negaranya sendiri, bagi bapak, tidak akan mendapat penghargaan serupa sekalipun untuk jenis pekerjaan yang sama. Bapak beberapa kali mencari peruntungan dengan nguli di negara sendiri. Sudah upah harian kecil, belum tentu setiap bulan ada proyek. Upah Rp5 juta sebagai kuli di Malaysia bahkan setara dengan gaji seorang PNS di Indonesia.
Kata bapak, rata-rata temannya memang begitu: nguli di Malaysia karena memang dapat upah yang jauh lebih layak.
Saat tawaran jadi WN Malaysia datang, justru berat lepas paspor Indonesia
Dari taukenya, bapak pernah mendapat tawaran untuk mengubah kewarganegaraannya menjadi WN Malaysia. Konon karena sang tauke suka dengan cara bapak bekerja. Itu terjadi di masa awal 2000-an, setelah bapak tertangkap dan dipenjara sebagai imigran gelap karena tidak memiliki dokumen legal.
Tentu saja bapak tergiur. Sebab, saat itu—bahkan hingga saat ini—bapak mengaku selalu overthinking jika membayangkan menetap di Indonesia: mau kerja apa nanti? Sementara dengan menjadi WN Malaysia, kecemasan tersebut rasa-rasanya bisa teratasi.
Tapi di sisi lain bapak juga merasa berat untuk melepas paspor sebagai Warga Negara Indonesia. Dilematis memang. Satu sisi pesimis dengan peluang hidup sebagai WNI di negara sendiri, tapi sisi lain juga berat jika melepas paspor Indonesia.
Alasannya sebenarnya sentimentil. Bagaimana pun ia merasa punya ikatan dengan tanah air (terutama kampung halaman kami di Rembang, Jawa Tengah). Sehingga, di tengah overthinking perihal masa depan sebagai WNI, ia tetap menyimpan sedikit bayangan untuk menghabiskan masa tua di kampung halaman: mengurus ladang.
Alhasil, berbeda dengan teman-temannya, bapak kemudian memilih mengurus permit dan dokumen izin tinggal tetap. Agar ia, sepanjang masih sehat, masih tetap bisa mencari nafkah di Malaysia, sebelum kelak benar-benar yakin untuk pulang ke Indonesia.
Cerita tentang bapak secara khusus saya tulis lebih panjang di sini.
Dari keterpaksaan justru jatuh hati pada Negeri Jiran
Pergulatan batin serius harus dialami oleh Aira (27), perempuan asal Batam, Kepulauan Riau.
Melalui beasiswa, Aira sempat mencecap S1 di Malaysia pada 2016. Jelas ia terbuai dengan kondisi Negeri Jiran. Fasilitas lebih memadai dari Indonesia, terkesan tertib, dan tidak terlalu banyak drama seperti di Indonesia (kecuali kalau sudah menyoal sepak bola).
Jujur saja, awalnya Aira mengaku terpaksa saat harus kuliah di Malaysia. Saat itu, Aira ingin mengejar beasiswa kuliah di Eropa. Hanya saja, orang tuanya tidak merestui kalau terlalu jauh.
“Kalau mau kuliah di luar negeri, sudah lah ke Singapura atau Malaysia saja,” begitu kata bapak Aira saat itu.
Seturut pengakuan Aira, keluarganya memang penganut sistem patriarki. Sangat kuat sekali. Sehingga perempuan seperti Aira tidak bisa leluasa menentukan pilihan hidupnya sendiri. Harus ngikut apa kata orang tua, terutama bapak. Kendati dalam konteks kuliah itu, Aira sebenarnya menggunakan beasiswa, alias tidak akan meminta sokongan biaya dari orang tua.
“Akhirnya terpaksa ya di Malaysia. Masih untung diizinkan kuliah di luar Indonesia kan. Untung juga waktu itu lolos,” kata Aira.
Akan tetapi, dari keterpaksaan itu, Aira lambat laun justru jatuh hati dengan Negeri Jiran. Sebagaimana yang ia ungkapkan di awal tulisan ini. Malaysia sekian langkah lebih maju ketimbang Indonesia: baik infrastrukturnya maupun sumber daya manusianya.
Sial, harus terkurung sebagai WNI!
Aira menjalani aktivitas kuliah dan aktivitas sehari-hari di Negeri Jiran dengan sangat antusias. Sampai-sampai ia jarang pulang ke Batam.
Menjelang kelulusan, ia bahkan mendapat tawaran untuk langsung bekerja di tempat magangnya sebelumnya: mengisi posisi digital marketing.
“Apalagi karena aku muak banget dengan situasi politik dan betapa beratnya jadi WNI, aku berpikir, kayaknya menarik kalau nggak cuma kerja, tapi sekalian saja lepas paspor Indonesia, jadi WN Malaysia,” ujar Aira.
“Karena ternyata ada beberapa teman kuliahku yang memutuskan seperti itu. Nyaman di Malaysia, terus pindah warga negara,” sambungnya.
Namun, bapaknya justru memaksa Aira untuk pulang ke Indonesia. Tentu saja menentang keras bayangan Aira untuk pindah kewarganegaraan. Kata sang bapak, persetan urusan kondisi negara Indonesia. Pokoknya kalau Aira pindah jadi WN Malaysia, ia bakal mendapat dua cap sekaligus dari keluarga: pengkhianat negara sekaligus pengkhianat keluarga besar alias durhaka.
“Kesel juga. Tapi akhirnya pulang ke Batam. Kerja di bidang yang sama sebenarnya, digital marketing. Tapi jangan tanya mentalku aman atau nggak di Indo, karena setiap hari dijejali kabar buruk yang terus-menerus dikirim oleh orang-orang berdasi itu, sial betul!” Pungkasnya.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Ramai, ‘Cukup Aku Saja yang WNI’: Saya Justru Bangga Melepas Status Warga Negara Austria Demi Paspor Indonesia atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














