Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Catatan

WNI Lebih Sejahtera Ekonomi dan Mental di Malaysia tapi Susah Lepas Paspor Indonesia, Sial!

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
21 Februari 2026
A A
Sejahtera ekonomi di Negeri Jiran ketimbang jadi WNI. Tapi berat terima tawaran lepas paspor Indonesia untuk jadi WN Malaysia MOJOK.CO

Ilustrasi - Sejahtera ekonomi di Negeri Jiran ketimbang jadi WNI. Tapi berat terima tawaran lepas paspor Indonesia untuk jadi WN Malaysia. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Menjadi WN Malaysia sebenarnya memberi kesejahteraan ekonomi bagi WNI. Namun, rasanya justru susah sekali untuk melepas paspor Indonesia. Antara perasaan emosional dengan kampung halaman bercampur dengan kemuakan pada kondisi keluarga dan negara. 

Paspor Indonesia dapat upah layak di Malaysia ketimbang di RI

Usia bapak saya sudah hampir kepala enam. Namun, ia masih belum memutuskan kapan akan benar-benar pulang ke Indonesia dan tidak lagi bekerja di Malaysia. 

Bapak sudah bekerja menjadi TKI di Malaysia sepanjang 1999-2026 (27 tahun, hampir 30 tahun). Bukan sekali/dua kali saya dan ibu membujuknya untuk tak usah lagi balik kerja ke Malaysia. Namu, Bapak bergeming. Alasannya selalu sama: Bermodal paspor Indonesia dan dokumen penting seperti (permit dan izin tinggal tetap) membuatnya mendapat upah layak di Malaysia. 

Bapak saya adalah kuli bangunan dan tukang kayu. Jika proyek dari taukenya lancar, dalam sebulan ia bisa mengantongi upah Rp7 jutaan untuk menghidupi kami di rumah. Rata-rata ada di angka Rp5 jutaan. 

Sementara WNI di negaranya sendiri, bagi bapak, tidak akan mendapat penghargaan serupa sekalipun untuk jenis pekerjaan yang sama. Bapak beberapa kali mencari peruntungan dengan nguli di negara sendiri. Sudah upah harian kecil, belum tentu setiap bulan ada proyek. Upah Rp5 juta sebagai kuli di Malaysia bahkan setara dengan gaji seorang PNS di Indonesia. 

Kata bapak, rata-rata temannya memang begitu: nguli di Malaysia karena memang dapat upah yang jauh lebih layak. 

Saat tawaran jadi WN Malaysia datang, justru berat lepas paspor Indonesia 

Dari taukenya, bapak pernah mendapat tawaran untuk mengubah kewarganegaraannya menjadi WN Malaysia. Konon karena sang tauke suka dengan cara bapak bekerja. Itu terjadi di masa awal 2000-an, setelah bapak tertangkap dan dipenjara sebagai imigran gelap karena tidak memiliki dokumen legal. 

Tentu saja bapak tergiur. Sebab, saat itu—bahkan hingga saat ini—bapak mengaku selalu overthinking jika membayangkan menetap di Indonesia: mau kerja apa nanti? Sementara dengan menjadi WN Malaysia, kecemasan tersebut rasa-rasanya bisa teratasi. 

Tapi di sisi lain bapak juga merasa berat untuk melepas paspor sebagai Warga Negara Indonesia. Dilematis memang. Satu sisi pesimis dengan peluang hidup sebagai WNI di negara sendiri, tapi sisi lain juga berat jika melepas paspor Indonesia. 

Alasannya sebenarnya sentimentil. Bagaimana pun ia merasa punya ikatan dengan tanah air (terutama kampung halaman kami di Rembang, Jawa Tengah). Sehingga, di tengah overthinking perihal masa depan sebagai WNI, ia tetap menyimpan sedikit bayangan untuk menghabiskan masa tua di kampung halaman: mengurus ladang. 

Alhasil, berbeda dengan teman-temannya, bapak kemudian memilih mengurus permit dan dokumen izin tinggal tetap. Agar ia, sepanjang masih sehat, masih tetap bisa mencari nafkah di Malaysia, sebelum kelak benar-benar yakin untuk pulang ke Indonesia. 

Cerita tentang bapak secara khusus saya tulis lebih panjang di sini. 

Baca halaman selanjutnya…

Sehat mental di Negeri Jiran, tapi sial terkurung paspor Indonesia

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 22 Februari 2026 oleh

Tags: berat jadi wnicara membuat pasporkerja di malaysiamalaysiapaspor indonesiasyarat membuat pasporwn malaysiaWNI
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Evakuasi WNI saat terjadi konflik luar negeri MOJOK.CO
Kilas

Saat Terjadi Konflik di Luar Negeri, Evakuasi WNI Tak Sesederhana Asal Pulang ke Negara Asal

16 Maret 2026
Nasib ratusan juta WNI 10 tahun nanti: terancam tidak punya jaminan sekaligus tabungan di masa pensiun MOJOK.CO
Aktual

Nasib WNI 10 Tahun Lagi: Terancam Tua Miskin karena Tak Punya Jaminan untuk Tabungan Pensiun dari Negara

11 Maret 2026
Lepas status WNI dan paspor Indonesia, hidup lebih mudah usai pindah kerja di Jerman MOJOK.CO
Urban

Lepas WNI karena Hidup Serba Susah dan Nelangsa di Indonesia, Hidup Jadi Lebih Mudah usai Pindah ke Jerman

10 Maret 2026
Rela Melepas Status WNI demi Hidup Sejahtera di Norwegia, Karier Melejit berkat Beasiswa Luar Negeri MOJOK.CO
Edumojok

Rela Melepas Status WNI karena “Technical Stuff” di Norwegia, Karier Melejit berkat Beasiswa Luar Negeri

27 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

KA Eksekutif, Kereta eksekutif KAI Jogja ke Jakarta nggak nyaman. MOJOK.CO

Backpackeran Naik KA Eksekutif Jogja-Jakarta Demi Menyembuhkan Luka, Malah Dibuat Kesal dengan Kelakuan Norak Penumpangnya

1 April 2026
Realitas Pahit di Film “Tunggu Aku Sukses Nanti” yang Bikin Gen Z Menangis: Susah Cari Kerja dan “Dihina” Saat Kumpul Keluarga. MOJOK.CO

Realitas Pahit Film “Tunggu Aku Sukses Nanti” yang Bikin Gen Z Menangis: Susah Cari Kerja dan Dihina Saat Kumpul Keluarga

27 Maret 2026
Lewat Setu Sinau, Jalan Malioboro Kota Yogyakarta tidak hanya jadi tempat wisata. Tapi juga ruang edukasi untuk belajar budaya Jawa, termasuk aksara Jawa MOJOK.CO

“Setu Sinau” bikin Jalan Malioboro Tak Hanya Jadi Tempat Wisata, Tapi Juga Ruang Edukasi Aksara Jawa

29 Maret 2026
Kuliah di Universitas Islam Negeri (UIN) diajar dosen absurd. Mata kuliah (matkul) apa yang diajar apa. Fokus mengharamkan dan mengkafirkan pihak lain MOJOK.CO

Diajar Dosen “Absurd” saat Kuliah UIN: Isi Matkul Paksa Sesatkan dan Mengafirkan, Ujian Akhirnya Praktik Wudu yang Berakhir Nilai C

29 Maret 2026
Musik BTS bukan K-Pop. MOJOK.CO

Kisah Pembenci Musik K-Pop yang Hidupnya Terselamatkan oleh Lagu BTS: Mereka Itu Aslinya “Motivator Mental Health”

31 Maret 2026
Metode Soft Saving ala Gen Z dan Milenial bahaya untuk pensiun. MOJOK.CO

Peringatan untuk Gen Z si Paling Soft Saving: Boleh Nabung Sambil Menikmati Hidup di Masa Kini, tapi Masa Tua Jangan Sampai Jadi Beban

28 Maret 2026

Video Terbaru

Serat Centhini dan Asal Usul Jamus Kalimasada dalam Tradisi Jawa

Serat Centhini dan Asal Usul Jamus Kalimasada dalam Tradisi Jawa

29 Maret 2026
Klinik Kopi dan Mitos Slow Living yang Ternyata Cuma Ilusi

Klinik Kopi dan Mitos Slow Living yang Ternyata Cuma Ilusi

28 Maret 2026
Arman Dhani & Lya Fahmi: Kita Dituntut Sukses, Tapi Tidak Pernah Diajarkan Menghadapi Gagal

Arman Dhani & Lya Fahmi: Kita Dituntut Sukses, Tapi Tidak Pernah Diajarkan Menghadapi Gagal

26 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.