Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Catatan

Jauh-Jauh dari Papua Barat Ikut UTBK di UNESA Surabaya, Mantap Ambil PGSD meski Nasib Guru Miris demi Bantu Anak-Anak di Pelosok Papua

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
15 Mei 2024
A A
Jauh-Jauh dari Papua Barat untuk PGSD UNESA Surabaya MOJOK.CO

Ilustrasi - Mantap ambil PGSD di UNESA Surabaya meski gaji guru ngenes demi bantu anak-anak pelosok Papua. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Di tengah isu nasib guru di Indonesia yang makin mengkhawatirkan, seorang calon mahasiswa baru (camaba) asal Kaimana, Papua Barat tetap bertekad untuk menjadi seorang guru. Di UTBK 2024 ini, ia berharap bisa lolos Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) UNESA Surabaya. Jurusan yang memang ia incar.

Pilih UTBK PGSD UNESA Surabaya karena cita-cita mulia

Sudah menjadi rahasia umum bahwa kesejahteraan guru di Indonesia seolah dianaktirikan. Kalau sekadar menjadi guru honorer gaji sangat jauh dari kata layak. Sementara untuk tembus PPPK atau bahkan ASN pun sangat sulit.

Mojok sendiri sudah kerap mendengar cerita penuh keluh kelas dengan teman-teman guru honorer. Dengan beban kerja yang nyaris sama beratnya dengan guru ASN, teman-teman guru honoer nyatanya hanya mendapat gaji yang mengenaskan. Paling umum, teman-teman guru honorer mendapat gaji antara Rp300 ribu hingga Rp500 ribu per bulan.

Namun, fakta-fakta minor itu coba Mahmila kesampingkan lebih dulu. Ia ingin menjadi guru tak hanya menyoal gaji. Tapi lebih pada kesadaran untuk memberi sumbangsih pada pendidikan di kampung asalnya di Kaimana, Papua Barat.

“Saya ikut UTBK dan memilih Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) karena ingin terlibat memperbaiki kondisi pendidikan di daerah kelahiran saya,” ujar Mahmila seperti yang Mojok kutip dari laman resmi UNESA Surabaya.

Anak-anak Papua sudah melek pendidikan

Dalam keterangan camaba PGSD UNESA Surabaya tersebut, sebagian besar sekolah di Papua memang masih memiliki murid yang sedikit. Sebuah SD bisa hanya memiliki total 100 murid.

Dengan begitu, jumlah murid dalam satu kelas tentu bia dibilang sangat belasa. Berkisar di angka belasan bahkan bisa kurang.

Akan tetapi, menurut Mahmila, paling tidak kondisi pendidikan di Papua sudah mengalami kemajuan yang signifikan. Bahkan di daerahnya di Kaimana, Papua Barat, mulai banyak anak-anak yang memiliki minat tinggi untuk bisa lanjut hingga perguruan tinggi.

Jauh-Jauh dari Papua Barat UTBK di UNESA Surabaya MOJOK.CO
Mahmila (18), jauh-jauh dari Kaimana Papua Barat untuk UTBK di UNESA Surabaya. (Dok. UNESA)

“Secara keseluruhan kualitas pendidikan di Papua ini mengalami peningkatan tapi masih ada ruang untuk peningkatan lebih lanjut,” kata Mahmila.

“Tinggal bagaimana kita sebagai generasi penerus bisa melanjutkan dan meningkatkan kualitas pendidikan di sana,” sambung camaba PGSD UNESA Surabaya tersebut.

Lulus PGSD UNESA Surabaya ingin ngajar anak-anak di pelosok

Lebih lanjut, Mahmila sendiri mengaku memberi perhatian khusus pada kondisi pendidikan di daerah-daerah pelosok Papua. Pasalnya, untuk derah pelosok atau pedalaman memang kekurangan guru atau tenaga pendidik.

Tak jarang ditemui keadaan di mana satu desa mungkin hanya memiliki satu tingkat pendidikan. Entah itu SD saja, SMP saja, atau SMA saja.

Kondisi tersebut akhrinya menyebabkan anak-anak yang ingin melanjutkan pendidikan harus keluar ke desa lain atau bahkan ke kota. Tentu anak-anak tersebut harus menempuh jarak yang agak jauh bahkan juga harus menempuh medan yang terjal.

Itulah kenapa di UTBK 2024 ini Mahmila dengan mantap mendaftar PGSD di UNESA Surabaya. Menempuh jarak yang begitu jauh dari daerah asalnya, Kaimana, Papua Barat.

Iklan

Perjalanan lintas pulau itu pun tak dilakukan Mahmila semata dengan bayangan materialistik. Ia kesampingkan dulu isu-isu minor tentang nasib guru di Indonesia. Ia hanya ingin kuliah sunggunh-sungguh di PGSD UNESA Surabaya, belajar bagaimana menjadi seorang guru, belajar bagaimana membuat sistem pendidikan yang baik, dan lain-lain. Ilmu-ilmu tersebut lantas akan ia bawa pulang untuk membangun pendidikan di daerahnya sendiri.

“Saya ingin mengajar di daerah saya, supaya jumlah tenaga pendidik semakin banyak dan anak-anak tidak harus pergi ke desa lain untuk belajar,” ujar camaba PGSD UNESA Surabaya tersebut dengan penuh harap.

Hasil UTBK 2024 sendiri baru akan keluar atau diumumkan pada 13 Juni 2024 mendatang. Oleh karena itu, saat ini Mahmila masih harap-harap cemas. Ia benar-benar berharap bisa tembus di PGSD UNESA Surabaya.

Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Awalnya Dilarang Kuliah karena Miskin tapi Malah Bisa Tuntaskan S2 UGM, Kini Wujudkan Mimpi Bapak yang Sempat Pupus meski Banyak Kasus Lulusan S2 Nganggur

Ikuti berita dan artikel Mojok lainnya di Google News.

Terakhir diperbarui pada 15 Mei 2024 oleh

Tags: guru honorerJawa Timurjurusan di unesakampus di jawa timurkampus di surabayapengumuman utbk 2024pgsd unesa surabayaSurabayaunesaUNESA Surabayauniversitas di surabayaUTBKutbk 2024
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Cat therapy di Jalan Tunjungan Surabaya yang merawat 12 kucing. MOJOK.CO
Sosok

Kisah Pemilik “Cat Therapy” di Jalan Tunjungan, Rela Tinggalkan Rumah agar Bisa Merawat 12 Kucing dan Bikin Keluarga Kecil yang Bahagia

26 Maret 2026
Alumnus UT Dapat Cuan dari Tren Foto Newspaper Photobooth di Jalan Tunjungan Surabaya. MOJOK.CO
Sosok

Alumnus UT Buka Bisnis Foto ala Newspaper di Jalan Tunjungan, Satu Cetak Hanya Rp5 Ribu tapi Untungnya Bisa Sejuta dalam Sehari

25 Maret 2026
Stasiun Tugu Jogja lebih buruk dari Stasiun Lempuyangan. MOJOK.CO
Catatan

Kapok Naik Kereta Eksekutif karena Turun di Stasiun Tugu Jogja, Keluar Stasiun Langsung Disuguhi “Ujian Nyata”

25 Maret 2026
Dosa Mahasiswa Interior di Surabaya: Memuja Garis Presisi di Studio, tapi Menyembah Kue Lembek di Dapur MOJOK.CO
Esai

Dosa Mahasiswa Interior di Surabaya: Memuja Garis Presisi di Studio, tapi Menyembah Kue Lembek di Dapur

25 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kucing, hewan peliharaan

Memelihara Kucing Membuat Saya Menjadi Manusia: Tak Saling Bicara, tapi Lebih Memahami ketimbang Sesama Manusia

26 Maret 2026
Bukan Cuma Gaji Kecil, Pindah Kerja dari Jakarta ke Jogja Juga Mesti Siap dengan Budaya Pekewuh yang Memperlambat Kerjaan Mojok.co

Penyesalan Pindah Kerja dari Jakarta ke Jogja: Selain Gaji Kecil, Budaya Pekewuh Ternyata Memperlambat Kerjaan

22 Maret 2026
Stasiun Tugu Jogja nggak cocok untuk orang kaya tak bermoral. MOJOK.CO

Pintu Timur Stasiun Tugu Jogja Nggak Cocok untuk User Eksekutif Nirempati dan Ojol yang Kesabarannya Setipis Tisu

26 Maret 2026
Menjadi Dosen itu Ibarat Aktor Drakor: Dari Tri Dharma jadi Triduka, Saking Diminta Bisa Segalanya MOJOK.CO

Menjadi Dosen itu Ibarat Aktor Drakor: Dari Tri Dharma jadi Triduka, Saking Diminta Bisa Segalanya

27 Maret 2026
Pekerja Surabaya pindah kerja di Jogja kaget dengan kebiasaan "menghibur-hamburkan uang" pekerja Jogja MOJOK.CO

Pekerja Surabaya Pindah Kerja di Jogja: Bingung sama Kebiasaan “Buang-buang Uang”, Repot karena Budaya Traktir Teman

26 Maret 2026
Derita Pekerja Jogja Pindah Jakarta: Gaji Lebih Mending, tapi Semua Serba Cepat dan Nggak Pakai Hati Mojok.co

Derita Pekerja Jogja Pindah Jakarta: Gaji Lebih Tinggi, tapi Semua Serba Cepat dan Nggak Pakai Hati

25 Maret 2026

Video Terbaru

Tirta Aji Mulih Deso: Pemancingan Ikan Predator dengan Sistem Catch and Release (CNR)

Tirta Aji Mulih Deso: Pemancingan Ikan Predator dengan Sistem Catch and Release (CNR)

23 Maret 2026
Tiyo Ardianto BEM UGM: Transformasi Gerakan Mahasiswa di Tengah Krisis Politik dan Ekonomi

Tiyo Ardianto: BEM UGM dan Transformasi Gerakan Mahasiswa di Tengah Krisis Politik dan Ekonomi

23 Maret 2026
Catatan Tan Malaka tentang Perburuan Aktivis 1926 yang Terlupakan

100 Tahun Naar De Republiek: Catatan Gelap Tan Malaka

20 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.