Rasa-rasanya sudah banyak orang yang menyadari banyak sisi unik dari toko kelontong Madura (atau orang-orang lebih sering menyebutnya: warung Madura). Salah satunya, si penjaga kerap kali tampak teleponan dengan durasi yang panjang. Topiknya seperti tidak ada habisnya.
Melalui tulisan “Menguak Alasan Orang Madura Selalu Teleponan Saat Jualan”, Mojok sempat mengulik alasan kenapa penjaga warung Madura selalu teleponan saat berjaga. Bahkan, saat melayani pembeli pun, sambungan telepon itu tidak diputus. Obrolan tetap mengalir dalam mode loudspeaker di sela-sela melayani pembeli: mengambilkan rokok, mentotal harga di kalkulator, dan macam-macam.
Aktivitas teleponan itu menjadi sangat penting bagi penjaga warung Madura, sebab:
- Untuk membunuh kebosanan berjaga sepanjang hari/malam.
- Mengusir kantuk bagi yang mendapat shift jaga malam. Ini juga penting untuk menjaga keamanan warung dari aksi pencurian.
- Mencoba tetap terhubung dengan orang-orang di kampung halaman atau sesama penjaga warung Madura lain. Sebab, di perantauan nun jauh dari rumah, upaya saling terhubung itu bisa membuat tidak merasa kesepian di tanah yang asing.
Lantas, apa sih sebenarnya topik yang mereka bicarakan, karena seperti tidak ada habis-habisnya? Karena sering kali para penjaga warung Madura itu menggunakan bahasa daerah dalam komunikasi mereka, tentu tidak banyak yang mengerti artinya.
Tujuh tahun di Surabaya dan berteman dengan banyak anak Madura membuat aya sedikit banyak mengerti isi obrolan para penjaga warung Madura. Tapi saya tidak mau sekadar “nguping” untuk tahu apa topik yang mereka bincangkan.
Maka, beberapa hari terakhir ini saya mencoba mengajak berbincang penjaga di tiga toko kelontong warung Madura langganan di dekat kos saya di Plosokuning, Sleman.
Jika dirangkum, jawaban tentang topik apa yang mereka obrolkan—setidaknya di tiga orang yang saya wawancara tersebut—kira-kira seperti ini:
#1 Siapa orang yang penjaga toko kelontong alias warung Madura telepon?
Bukan hanya satu kontak saja yang akan ditelepon. Bisa tiga atau lebih. Meliputi
- Keluarga atau saudara di rumah.
- Teman di kampung halaman
- Teman sesama penjaga warung Madura di perantauan yang sama.
- Teman sesama penjaga warung Madura di kota lain.
- Bos pemilik toko kelontong.
Urutan 1-3 adalah urutan yang sering kali memakan durasi lebih panjang dalam setiap teleponan. Sementara 4 dan 5 biasanya menyesuaikan kebutuhan.
#2 Update informasi seputar kampung halaman, gosip tetangga hingga berita kematian
Jika menelepon orang rumah (keluarga, saudara, atau teman), umumnya obrolan seringnya tidak jauh-jauh dari update situasi di kampung halaman. Dari siapa yang melangsungkan pernikahan, berita kematian, siapa yang baru saja membeli mobil baru, hingga gosip-gosip sensitif.
Pada mulanya memang hanya berkabar. Namun, satu informasi baru itu nantinya bisa merembet ke banyak hal. Misalnya, dari isu pernikahan, itu nanti bisa merembet ke review acara, dekorasi panggung, hingga menu untuk para tamu.
Dari isu siapa yang baru saja membeli mobil, itu nanti bisa ke saling berbagi insight soal mobil apa yang enak dikendarai, berapa harga mobil sekarang, dan seterusnya.
Sesekali juga berupa saling berkeluh kesah satu sama lain. Misalnya, soal kondisi di perantauan yang agak menjemukan karena merasa asing dan agak culture shock. Atau update kondisi ekonomi di kampung halaman yang tidak stabil.
Itulah yang membuat obrolan di telepon seperti tidak ada habisnya. Apalagi jika sedang seru-serunya, sayang kalau terputus begitu saja. Sehingga walaupun dalam kondisi ramai pembeli, sambungan telepon itu akan tetap menyala.
#3 Update harga hingga situasi terkini penjaga warung Madura
Jika menelepon teman sesama penjaga toko kelontong Madura, obrolan umumnya berkutat pada situasi masing-masing: banyak pembeli atau sepi? Rokok apa yang sedang banyak diminati? Hingga update harga pasar masing-masing.
Kalau kebetulan punya teman penjaga warung yang sama-sama muda, biasanya obrolan akan dialihkan ke main bareng (mabar) Mobile Legends.
Untuk konteks penjaga warung Madura di kota yang sama, tak jarang mereka akan membuat janji temu. Tak jarang pula saling ngrasani soal harga makanan di warung atau menu apa yang cocok dan tidak cocok di lidah masing-masing.
Kalau sedang ada isu viral yang menyangkut “Madura”, sambungan telepon akan menjelma menjadi forum diskusi. Misalnya, kapan lalu ada pedagang sate di kawasan Malioboro yang kena razia hingga menangis histeris. Dari situ, antarpenjaga warung Madura bisa saling berbagi perspektif.
MBG membuat siswa di Jogja keracunan, lalu obrolan akan mengarah pada situasi MBG di Madura, sampai membandingkan menu dengan masakan rumah yang jauh lebih menggoda.
Sementara untuk obrolan dengan bos pemilik toko kelontong, tidak jauh-jauh dari urusan stok barang, penyesuaian harga, jadwal jaga, upah, hingga update keramaian si toko kelontong yang dijaga dan apa inovasi yang perlu dilakukan.
Jangan salah. Warung Madura memang dikenal kreatif, selain dianggap sebagai warung serba ada. Warung Madura dekat kos saya misalnya. Karena tahu sedang musim hujan, warung tersebut langsung menyediakan mantel plastik. Sehingga bagi orang yang kepalang kehujanan dan tidak bawa mantel, bisa langsung beli di sana.
Misalnya lagi, karena tahu area kos saya jauh dari tambal ban, disediakan lah pompa angin konvensional. Untuk sekadar mengisi angin per satu rodanya dihargai Rp2 ribu.
#4 Ngalor-ngidul bahkan tanpa percakapan, tapi hp tetap menyala
Tapi teleponan itu tidak melulu harus berisi obrolan panjang dan intens. Tidak jarang pula hanya obrolan ngalor-ngidul, saling melempar jokes atau anekdot lokal.
Bahkan, ada pula momen di mana hp tetap menyala, tapi tidak ada percakapan. Hanya komentar tipis-tipis: misalnya, ketika si penjaga telepon menyebut nominal yang harus dibayar pembeli, lalu orang yang ditelepon akan merespons: “Beli apa itu, kok lumayan (banyak uangnya)?” Atau “Beli apa itu kok, cuma Rp2 ribu? Oh korek.” Dan seterusnya.
Entah apapun topik pembicaraannya, dalam ilmu komunikasi, kebiasaan para penjaga warung Madura itu disebut sebagai social presence: Telepon yang terus menyala/tersambung itu menciptakan translocal space.
Dengan mendengar suara kerabat atau teman, mereka tidak lagi merasa berada di ruko sempit 3×4 meter. Melainkan berada di dalam lingkaran komunal yang terasa tetap dekat meski berada di tempat jauh nan asing.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: 2 Hal Sederhana yang Selamatkan Wajah Madura Kami dari Stigma Buruk Maling Besi, Penadah Motor Curian, hingga Tukang Pungli atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














