Setelah mudik Lebaran 2026 di Surabaya, saya akhirnya kembali pulang ke Jogja untuk bekerja. Back to reality, bahasa kerennya. Usai menghadapi serentetan pertanyaan yang diawali dengan kata ‘kenapa?’, rupanya saya belum terhindar dari drama. Di Stasiun Yogyakarta (Tugu), pelajaran soal “vibrasi” saya langsung diuji.
***
Lebaran tahun ini saya memilih naik kereta api (KA) Sancaka yang harganya Rp200 ribu lebih. Jujur, ini adalah pertama kali saya naik kereta tersebut karena biasanya pakai KA Sri Tanjung yang tarifnya Rp88 ribu.
Di dalam KA Sancaka, saya merasa tentram. Tak ada lagi kursi tegak yang duduknya harus berhadap-hadapan. Lebih dari itu, saya cukup menempuh perjalanan selama 4 jam lebih alih-alih naik KA Sri Tanjung yang butuh waktu 5 jam lebih.
Guna mengusir kebosanan dalam kereta, saya tak sengaja membaca sebuah tulisan dari Sitti Rachmi Masie soal “Vibrasi Kebaikan Lewat Kata”. Dalam buku Good Vibes Only yang terbit tahun 2022 itu, Sitti menjelaskan soal makna vibrasi, yakni getaran energi yang memancar ke dalam diri seseorang.
Orang yang memiliki vibrasi tinggi biasanya mudah menarik hal-hal baik dalam hidupnya, merasa bahagia, damai, dan mampu menghadapi tantangan dengan optimis. Saya pikir skill ini perlu dimiliki setiap orang apalagi di masa chaos seperti sekarang.
Hal itulah yang saya coba terapkan saat menghadapi bapak ojek online (ojol) di Stasiun Tugu. Alih-alih melontarkan kalimat negatif atau marah-marah tidak jelas karena sikapnya, saya memilih memahami situasi dan kondisi bapak tersebut.
Stasiun Tugu Jogja terlalu ramai saat mudik Lebaran
Saya tiba di pintu timur Stasiun Tugu pukul 20.38 WIB pada Senin (23/3/2026). Suasana di dalam stasiun cukup ramai saat itu, apalagi di area luarnya. Mereka bukan hanya pengguna kereta tapi orang-orang yang sedang liburan di kawasan Malioboro. Maklum, karena lokasinya berdekatan.
Sebagai orang introvert yang baterai sosialnya cepat habis di tengah keramaian, saya ingin buru-buru kembali ke kosan di daerah Kaliurang. Namun ternyata, saya harus menunggu hampir satu jam di Stasiun Tugu Jogja.
20 menit usai turun dari KA Sancaka, seorang driver motor akhirnya menerima pesanan saya. Menurut aplikasi, saya harus menunggu ojol lagi sekitar 8 menit. Tak lama kemudian, bapak ojol mengirimkan pesan suara kepada saya.
“Kak bisa jalan ke Arte Hotel?” tanyanya.
“Arte Hotel ya Pak? Baik,” jawab saya yang sebetulnya sudah berjalan ke arah berseberangan, tepatnya di Hotel Mulia Kencana agar terhindar dari macet.
Namun saya pikir si bapak ojol bakal lebih cepat tiba jika saya menunggu sesuai perintahnya. Alhasil, saya rela berjalan sekitar 400 meter ke Arte Hotel Malioboro yang rupanya lebih banyak orang dibanding tempat saya menunggu tadi.
Walaupun kesal karena sudah berjalan jauh sambil membawa tas tenteng yang berat, saya tetap menurutinya. Ingat ilmu vibrasi tadi: lepaskan perasaan bahwa kamu bisa mengontrol segalanya, sehingga terhindar dari drama yang tidak perlu.
Turun di Stasiun Tugu langsung disuguhi ketimpangan sosial
40 menit berlalu, tapi bapak ojol tak kunjung kelihatan batang hidungnya. Sementara saya hanya diam dan mengamati suasana keramaian orang-orang sekitar. Pemandangan yang saya lihat, sedikit berbeda dengan suasana di Stasiun Lempuyangan—tempat saya turun biasanya menggunakan KA Sri Tanjung.
Di sekitar Stasiun Tugu Jogja, saya banyak melihat orang keluar masuk hotel berbintang atau sekadar liburan membeli makan di restoran dan jalan-jalan di Malioboro. Sementara di Stasiun Lempuyangan tak berdekatan dengan hotel maupun tempat wisata.
Namun, ada kesamaan yang tak kasat mata antara Stasiun Tugu Jogja dan Stasiun Lempuyangan, yakni di antara orang-orang yang membawa koper dan ingin bersenang-senang itu, ada banyak pedagang bakso, cilok, hingga tukang ojek pengkolan yang mencari nafkah. Begitu pula bapak ojol yang sedang berjuang menjemput saya.
Mengingat kondisi tersebut, saya yang tadinya kesal karena harus menunggu lama, jadi tak enak hati untuk protes dan tetap sabar menanti kedatangan sang ojol. Tak lama kemudian, Bapak ojol tadi mengirim foto tempat lokasinya berada, yang mana saya harus jalan lagi sekitar 100 meter untuk menemukannya. Tak sampai di situ, kesabaran saya masih diuji saat kami berdua akhirnya bertemu.
Nyaris batal pesan ojol di Stasiun Tugu Jogja
“Kak, boleh pinjam powerbank nggak? Karena baterai saya habis” ujar Bapak ojol itu setelah kami bertemu di Stasiun Tugu Jogja.
“Maaf Pak, saya nggak ada powerbank,” jawab saya.
“Oh, ya sudah kalau begitu boleh di-cancel saja nggak Kak?” jawabnya.
“Ha? Gimana Pak maksudnya? Saya sudah menunggu hampir satu jam. Kalau di-cancel saya takut harus nunggu lagi,” kata saya agak sewot dan nyaris melupakan nilai-nilai vibrasi yang saya baca tadi di kereta.
“Oh gitu ya Kak, soalnya saya takut pembayaran online-nya (lewat dompet digital) nggak masuk,” ujarnya.
Oh, pikir saya masuk akal alih-alih mengucap ck dalam hati.
“Nggak apa Pak, saya nanti ubah bayar tunai saja. Saya juga bisa buka maps kalau bapak nggak tahu arahnya,” kata saya akhirnya mencoba mencari solusi.
“Oh baik Kak,” ucap sang driver ojol.
Hidup lebih tenang tanpa drama
Saya kira, kesepakatan tadi sudah tak jadi soal, tapi saya merasa kikuk dan bersalah karena terlihat memarahinya tadi. Alhasil, hampir setengah perjalanan kami berdua hanya diam. Guna mencairkan suasana, saya akhirnya melontarkan pertanyaan ke bapak ojol tersebut.
“Pak, ponselnya sudah mati belum atau saya perlu buka G-Maps?”
“Enggak Kak, aman. Saya sudah hafal,” jawabnya.
Selang beberapa detik, si bapak ojol malah meminta maaf atas kejadian tadi.
“Maaf ya Kak, tadi harus nunggu lama dan saya malah minta cancel karena baterai HP saya habis,” ujarnya memelas.
“Nggak apa Pak, saya paham. Nanti kalau uangnya nggak masuk saya bisa bayar tunai atau kalau nggak ada kembalian saya bisa transfer,” kata saya mencoba menenangkan kembali.
“Makasih ya Kak, soalnya saya takut. Biasanya ada pelanggan yang marah-marah padahal kondisinya memang lagi macet, apalagi di Stasiun Tugu. Musim liburan juga,” ujarnya.
Dari sana, kami akhirnya mengobrol banyak. Soal alasan ia tidak mudik hingga keresahannya ngojol di Stasiun Tugu. Sebab bukan rahasia lagi kalau di stasiun yang katanya modern itu, nyatanya belum ramah untuk driver ojol dan user KA jarak jauh.
Kondisi yang serba semrawut ini membuat saya berpikir bahwa Stasiun Tugu Jogja hanya cocok untuk orang-orang yang memiliki vibrasi tinggi. Bukan cuma orang berduit tanpa etika. Tapi orang yang tetap tenang di situasi apapun, karena ia tahu energinya terlalu berharga untuk mengurus hal-hal percuma.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchammad Aly Reza
BACA JUGA: Kapok Naik Kereta Eksekutif karena Turun di Stasiun Tugu Jogja, Keluar Stasiun Langsung Disuguhi “Ujian Nyata” atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














