Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Catatan

Pengalaman Tak Menyenangkan Pertama Kali ke Semarang, Baru Turun Bus Langsung Jadi Target “Pemalakan” Tanpa Belas Kasihan

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
20 April 2025
A A
Pengalaman tak menyenangkan pertama kali ke Semarang: dirampok di Terminal Terboyo MOJOK.CO

Ilustrasi - Pengalaman tak menyenangkan pertama kali ke Semarang: dirampok di Terminal Terboyo. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Pemaksaan yang tidak bisa dilawan (2)

“Loh, nggak bisa, Pak. Saya cari agen resmi,” jawab Selia.

“Mau ke Solo kan?”

“Iya, mau ke Solo.”

“Lah iya, ini tiket ke Solo. Mau di agen, mau di saya, sama saja.”

Perdebatan itu memancing perhatian. Seorang laki-laki lain lantas datang menghampiri Selia dan si calo. Awalnya, Selia merasa lega karena bisa jadi laki-laki itu akan membelanya.

Akan tetapi dia salah. Laki-laki yang baru datang justru turut “memaksa” Selia membayar uang karcis ke si calo. Sialnya lagi, orang-orang yang berlalu-lalang di sekitar mereka tampak acuh. Hanya menatap sejenak, lantas berlalu tidak peduli.

Karena merasa terdesak dan mulai diserang rasa takut, Selia pun memberi uang karcis pada si calo. Dia lantas diminta mengikuti langkah si calo.

“Untungnya memang diantar ke bus jurusan Solo. Cuma ketika karcisku yang dari calo tadi dicek kondektur, si kondektur bilang kalau calo Terminal Terboyo, Semarang, memang brutal-brutal. Dia lalu ngasih tau beberapa tips biar aku lolos dari paksaan-paksaan calo situ,” bebernya.

Persoalan calo yang terasa seperti perampok tidak hanya saya dan Selia keluhkan. Di laman LaporGub Jateng, tercatat banyak aduan dari orang-orang yang menjadi korban calo di Terminal Terboyo.

Modus operasinya pun, meminjam istilah para korban, seperti perampokan. Para korban berharap, ada tindakan dari aparat untuk menertibkan calo-calo tersebut demi menjaga kenyamanan pendatang yang datang ke Semarang.

Menghadapi ego para pengendara

Sejak 2017 hingga 2022 tinggal di Semarang, Jazeela (26) belum pernah merasakan betapa ngerinya berhadapan dengan para calo di Terminal Terboyo. Wajar saja, dari Tuban (tempat asalnya) dia membawa motor sendiri.

Hanya saja, hari-hari pertamanya di Semarang terasa tidak begitu menyenangkan lantaran suasana di jalanan.

“Orang-orang di jalan seperti nggak mau ngalah. Terutama di jam-jam macet (pulang kerja),” tuturnya.

Misalnya, di sejumlah ruas jalan di Semarang tidak memiliki zebra cross. Alhasil, para pejalan kaki akan kesulitan untuk menyebarang.

Iklan

“Dan sialnya, para pengendara seperti nggak mau ngasih kesempatan buat pejalan kaki untuk nyeberang. Padahal nyeberang cuma berapa detik sih,” katanya. “Ada zebra cross aja sering kali pengendara-pengendara, terutama motor, main serobot, nggak mau ngalah. Kan bikin jantungan orang yang nyeberang ya.”

Sejak hari-hari pertamanya di Semarang, Jazeela tentu saja merasa kesal. Hanya saja, dia mengakui tidak bisa berbuat banyak. Bertahun-tahun setelahnya, dia hanya bisa mengelus dada tiap kali mendapati pemandangan semacam itu di jalanan kota berjuluk “Kota Lumpia” ini.

Orang-orang baik di Semarang

Meski begitu, Semarang bukannya tidak memiliki orang-orang baik. Saya merasakannya sendiri.

Pada Juli 2024 lalu, saya kehabisan bus untuk jurusan Semarang-Jogja lantaran dari Rembang saya berangkat agak terlambat. Beruntungnya, di Jalan Baru (tempat agen bus) saya bertemu dengan seorang agen yang sekaligus sampingan sebagai driver ojek online (ojol).

Driver ojol itu mengantarkan saya ke garasi travel di daerah kota—berjarak 20 menitan. Driver ojol itu bahkan tidak meminta bayaran kendati mengantar saya sampai tujuan. Alasannya, rumahnya tidak jauh dari garasi travel itu. Dia mengantar saya sekaligus karena sudah hendak pulang. Jadi sekalian.

Istri saya pun pernah mengalami hal yang sama. Dia dan sejumlah temannya pertama kali ke Semarang pada 2018-an untuk jalan-jalan di kota tersebut.

Turun di Terminal Terboyo, mereka sempat kebingungan akses menuju daerah kota bagaimana. Ketika memberanikan diri bertanya ke seorang tukang ojek pangkalan, mereka lantas diantar untuk menuju ke halte BRT, alih-alih si tukang ojek menawarkan jasanya dengan mematok harga tinggi.

Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Berhenti di Terminal Pati Langsung Disuguhi Kekacauan dan Nasib Nelangsa Orang Pantura yang Bikin Iba atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

 

 

 

 

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 22 April 2025 oleh

Tags: calo terminal terboyoSemarangterminal terboyo
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Berhenti Menyalahkan Anak Skena Jalan Gajahmada Semarang! MOJOK.CO
Esai

Berhenti Menyalahkan Anak Skena Jalan Gajahmada Semarang!

30 Maret 2026
Keselamatan warga Kota Semarang jadi prioritas di tengah hujan dan angin kencang yang tumbangkan 80 lebih pohon dalam semalam MOJOK.CO
Kilas

Keselamatan Warga Semarang Jadi Prioritas di Tengah Hujan Angin yang Tumbangkan 86 Pohon dalam Semalam

5 Maret 2026
Siksaan naik bus ekonomi Surabaya Semarang seperti Indonesia dan Sinar Mandiri MOJOK.CO
Catatan

Siksaan di Bus Ekonomi Rute Surabaya Semarang bikin Frustrasi dan Kapok Naik Lagi: Murah tapi Harus Pasrah Jadi “Ikan Pindang” Sepanjang Jalan

22 Februari 2026
Jembatan Persen di Gunungpati, Semarang, dari kayu menjadi baja dan bercor beton MOJOK.CO
Kilas

Jembatan Persen di Gunungpati Semarang, Dari Kayu Jadi Bercor Beton berkat Aduan “Solusi AWP”

24 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Slow living di desa, jakarta.MOJOK.CO

Orang Jakarta Tak Akan Sanggup Slow Living di Salatiga Selama Masih Anti-Srawung, Modal Financial Freedom pun Tak Cukup

6 April 2026
Kerja WFH untuk ASN bukan solusi. MOJOK.CO

WFH 1 Hari dalam Seminggu Cuma Bikin Pekerja Boncos dan Nggak Produktif, Lalu Di Mana Efisiensi Pemakaian Energinya?

6 April 2026
Mahasiswa Jogja nugas di coffee shop

Nugas di Kafe Dianggap Buang-buat Duit, padahal Bikin Mahasiswa Jogja Lebih Tenang dan Produktif

6 April 2026
Ambisi beli mobil sebelum usia 30. Setelah terbeli Suzuki Ertiga tetap tidak bisa senangkan orang tua dan jadi pembelian sia-sia MOJOK.CO

Ambisi Beli Mobil Keluarga sebelum Usia 30, Setelah Kebeli Tetap Gagal Senangkan Ortu dan Jadi Pembelian Sia-sia

3 April 2026
Pilih side hustle daripada pekerjaan kantoran

Pilih Tinggalkan Kerja Kantoran ke “Side Hustle” demi Merawat Anak, Kini Kantongi Rp425 Juta per Bulan dan Lebih Dekat dengan Keluarga

31 Maret 2026
kuliah di jurusan sepi peminat.mojok.co

Nekat Kuliah di Jurusan Sepi Peminat PTN Top: Menyesal karena Meski Lulus Cumlaude, Ijazah Dianggap “Sampah” di Dunia Kerja

2 April 2026

Video Terbaru

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

4 April 2026
Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

2 April 2026
Di Tengah Ribuan Kedai Kopi, Personal Branding dan Konsistensi Lebih Penting daripada Terlihat Keren

Di Tengah Ribuan Kedai Kopi, Personal Branding dan Konsistensi Lebih Penting daripada Terlihat Keren

31 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.