Saya pernah terpaksa belanja di Matahari Store yang berada di Jalan Malioboro, Jogja, meski suasananya sepi pembeli. Sial bagi saya, karena kunjungan pertama saya itu jadi pengalaman yang kurang mengenakkan di hati.
***
Kamis (20/2/2025) siang itu, suasana Jalan Malioboro, Jogja sebetulnya sedang memanas. Segerombolan orang dari berbagai aliansi mahasiswa berkumpul di Taman Parkir Parkir Abu Bakar Ali yang berada di sisi utara kawasan Malioboro, Jogja sejak pukul 12.00 WIB.
Seluruhnya mengenakan baju berwarna hitam meski terdiri dari berbagai universitas dan aliansi. Tak lama kemudian, usai massa aksi tiba di Jalan Malioboro, segerombolan dari aliansi buruh, wibu, hingga emak-emak ikut membaur bersama aksi.
Mereka menggaungkan orasi bertema ‘Jogja Memanggil’ atas munculnya tagar Indonesia gelap hingga kabur aja dulu. Lalu diikuti dengan nyanyi-nyanyian aksi. Kalau sudah begitu, ruko-ruko di sepanjang Jalan Malioboro bakal mematikan langsung musiknya.
Tak hanya itu, beberapa pegawai ruko tampak keluar untuk melihat aksi dari depan pintu. Ada yang ikut bernyanyi, ada yang ikut menyimak orasi, ada yang memang bersiap jaga seperti di Matahari Store.
Aksi yang berjalan damai itu pun selesai sekitar pukul 16.30 WIB. Saya pun mencari tempat ibadah di Mall Malioboro untuk salat sekaligus menyelonjorkan kaki sejenak. Tanpa saya sadar, saat saya melepas ransel saya dari punggung, baju saya sudah bolong besar. Benar-benar sobek dari bahu hingga ketiak.
Saya pun terpaku beberapa detik saat melihat langsung di kamar mandi, bagaimana bisa ini terjadi dan tanpa saya sadari?
Menghindari kaos “I Love Jogja”
Alih-alih sibuk memikirkan penyebabnya, saya pun langsung ke toko baju terdekat. Saya tidak langsung mencari baju di Mall Malioboro karena saya pikir harganya akan lebih mahal. Toh, dari awal saya tidak berniat belanja baju untuk gaya-gayaan tapi karena keadaan genting.
Kalau di Mall Malioboro, pilihan saya jadi lebih banyak dan bakal sibuk memilih, sementara saya harus menyelesaikan tulisan massa aksi hari itu juga. Jadi tidak sempat untuk belanja dan bersenang-senang.
Meski buru-buru memilih baju, saya juga tidak ingin membeli sembarang baju. Eman-eman duitnya. Maka saya punya prinsip, beli baju yang nyaman untuk kerja di lapangan dan tidak bertuliskan “I Love Jogja” atau baju semacamnya yang banyak dijual di ruko-ruko sekitar Malioboro.
Nah, pada saat saya berjalan-jalan di Malioboro itulah saya menemukan Matahari Store, sembari memegangi baju samping saya yang makin sobek. Jujur saja, mulanya saya ragu untuk masuk karena bangunan Matahari Store di Jalan Malioboro tampak lawas.
Lebih baik berkunjung di ruko yang ada di mall saja to sekalian? Tapi karena saya sudah malas berjalan kembali, saya akhirnya memutuskan untuk masuk di Matahari Store, Malioboro.
Matahari Store yang sepi pengunjung
Masuk ke Matahari Store, Malioboro menciptakan perasaan nostalgia bagi saya. Dulu, saat saya kecil, ayah dan ibu di Surabaya sering mengajak saya berbelanja di sana. Seiring berjalannya waktu, kami lebih suka belanja online.
Tak hanya saya, temuan riset dari Populix kepada 6.285 responden menyatakan, kelompok usia 18-21 tahun menjadi kalangan teratas yang suka belanja online melalui aplikasi e-commerce, yakni sebesar 35 persen. Sementara, 33 persen lainnya adalah kelompok usia 22-28 tahun. Dan 18 persen lainnya adalah kelompok usia 29-38 tahun.
Baca Halaman Selanjutnya
Lebih suka beli online, tapi terpaksa beli offline















