Orang dengan kondisi ekonomi kurang mampu atau bahkan miskin, justru bisa menjadi orang paling tulus dalam kehidupan di desa. Selalu peduli dan menjunjung tinggi kerukunan. Mirisnya, mereka justru kerap tidak dihargai.
***
Cerita itu saya dengar melalui sambungan telepon istri. Saya tidak menyaksikannya secara langsung, tapi dari ceritanya saja membuat saya berlinang air mata seketika. Terenyuh.
Ketika akhirnya saya harus kembali bekerja setelah satu bulan menemani istri pasca melahirkan, seorang tetangga perempuan menawarkan bantuan untuk ikut momong bayi kami. Karena di rumah tidak ada orang, ibu saya juga harus kembali bekerja, adik saya sekolah, sementara nenek saya sudah kelewat sepuh.
Kami mengiyakan. Kami juga sepakat untuk menyisihkan sedikit uang untuknya. Itung-itung berbagi rezeki dan sedekah atas nama anak kami. Karena kami tahu persis, tetangga saya itu dalam kondisi serba kesulitan secara ekonomi. Walaupun sebenarnya, tetangga saya itu sejak awal menegaskan hanya ingin membantu momong. Tidak lebih.
Dan apa yang kemudian terjadi, membuka mata saya lebar-lebar: ternyata orang dengan kesulitan ekonomi di desa (kurang mampu atau bahkan miskin), memiliki ketulusan tidak terkira kepada orang lain. Itu membuat saya sedikit mengurangi ketidaksukaan saya pada kebanyakan orang di desa yang kerap menukar kepedulian dengan hitung-hitungan materiil.
Orang kurang mampu atau miskin di desa lebih mengerti makna “membantu”
Saya sudah banyak menulis, bagaimana sistem sosial masyarakat di sejumlah desa berlangsung: tidak ada yang gratis. Bantuan harus dibalas dengan bantuan. Materi harus dibalas dengan materi, kendati istilah yang digunakan adalah “sumbangan”.
Tetangga saya itu menunjukkan makna sesungguhnya. Dalam dua bulan terakhir ini, dari kabar yang disampaikan istri, ia amat rutin naik-turun untuk menjenguk istri dan bayi saya,
Membantu menggendong bayi kami saat istri hendak mencuci pakaian misalnya. Membantu menenangkan ketika tiba-tiba bayi dua bulan itu nangis kejer. Bahkan bersedia direpotkan untuk hal-hal lain.
Awal bulan Februari 2026 lalu, tetangga perempuan saya itu tergelincir karena tergupuh-gupuh turun ke rumah kami (rumah kami memang ada di area perkebunan yang menjorok ke dalam) saat mendengar bayi saya menangis kencang.
Barangkali ia terkilir. Kakinya bengkak. Beberapa hari setelahnya, ia kesulitan berjalan.
Tidak ada imbalan yang lebih baik ketimbang rasa saling peduli dan kerukunan
Istri saya menjenguk beberapa hari setelah kejadian. Dalam kondisi masih agak sulit berjalan, ia dengan hangat menyambut istri dan bayi saya di kediamannya.
Istri saya tahu betul, tetangga saya itu tengah mengalami banyak kesulitan ekonomi. Harus berpikir keras mengembalikan sumbangan-sumbangan pernikahan ke saudara yang nominalnya tidak sedikit. Sementara sang suami, belum bisa melaut kembali karena curah hujan tinggi dan gelombang pasang.
Istri saya bermaksud memberi sedikit rezeki yang kami punya. Paling tidak cukup untuk berobat atau beli lauk.
“Mbak, nggak usah begini-begini. Saya itu bantu momong ya cuma bantu. Biar Mbak’e nggak kewalahan. Sambil nunggu Ibu Mbak’e pulang kerja,” begitu jawab tetangga saya menolak.
Istri saya juga berkali-kali minta maaf karena merepotkan. Sampai ada kejadian tidak diinginkan itu. Namun, jawaban tetangga saya: “Sesama tetangga, sesama wong cilik, yang bisa kita lakukan cuma saling peduli dan menjaga kerukunan, Mbak.”
Baca halaman selanjutnya…














