Slow living dan frugal living menjadi narasi yang terus menggema di tengah situasi zaman yang makin morat-marit. Orang-orang kota—atau para prantau yang sudah lama merantau di kota metropolitan—lantas berpikir untuk menghabiskan masa hidup di desa.
Beberapa orang menganggap, hidup di desa—dengan segala gambaran ketenangan dan kerukuan, serta sumber daya alam yang melimpah—adalah jawaban untuk hidup dengan stabil. Ya stabil ritme hidupnya, ya stabil finansialnya.
Slow living dan frugal living di desa itu omong kosong
Saya dan bapak saya—yang sama-sama merantau—bukan hanya sekali-dua kali tergiur iming-iming untuk “pensiun” dari perantauan, lalu menghabiskan sisa hidup di kampung halaman.
Konon, jika tinggal di desa, tak perlu pekerjaan bergaji besar untuk bertahan hidup. Ibarat sayur tinggal ambil di kebun belakang rumah. Kalau tak punya garam atau gula bisa meminta tetangga, maka tetangga akan dengan senang hati memberi.
Seorang teman dan tiga narasumber saya sebelumnya memberi tahu saya fakta pahit kehidupan di desa: Ternyata kerukunan dan keramahan antar-warga desa itu mitos belaka. Penuh kepalsuan. Tidak ada yang benar-benar tulus dan gratis.
Dari mereka pula saya tahu fakta berikutnya: Di desa tertentu—seperti desa mereka—slow living dan frugal living di desa itu omong kosong. Alih-alih bisa hidup stabil secara mental dan finansial, hidup di tengah warga desa dengan kecenderungan seremonik justru amat menguras kantong.
Salah satu contoh yang mereka beberkan di tulisan sebelumnya adalah “tradisi buwuh/buwoh/bowoh/ (menyumbang orang menikah, kematian, kelahiran bayi, khitanan, dan hajatan-hajatan lain). Hukumnya mirip utang piutang berkedok “sumbangan”.
Berikut ini adalah contoh-contoh lain, sebagai penegas betapa susahnya mencari kehidupan slow living dan frugal living di desa. Sudah lah mental tak aman, dompet juga terserang.
Resepsi untuk gengsi
Saya kaget ketika mendengar cerita seorang teman menghabiskan lebih dari Rp50 juta untuk acara pernikahannya. Saya juga kaget ketika tahu ada seorang teman sampai meminjam uang ke lintah darat demi resepsi besar-besaran.
“Buat apa?”
“Nuruti orang tua. Orang tua maunya begitu biar terlihat pantas di mata tetangga. Masa acara sekali seumur hidup dibuat seadanya.” Jawab mereka. Saya tertegun.
Begitulah kehidupan di desa. Gen Z seperti mereka sekali pun, kalau hidup di desa, pasti tak akan mudah merencanakan pernikahan berkonsep intim dan hangat. Apalagi kalau sekadar akad di KUA. Mustahil. Begitu juga pengakuan dari tiga narasumber saya sebelumnya. Karena urusannya adalah gengsi masing-masing keluarga.
Masalahnya, entah bagaimana mulanya, di desa telah mengakar pemahaman bahwa setiap hal—tidak hanya resepsi pernikahan—harus dirayakan besar-besaran. Hal-hal yang seharusnya bisa dikerjakan dengan budget minimal, pasti akan membengkak besar. Hal-hal yang seharusnya tidak perlu, dipaksa diada-adakan. Mumet!
Baca halaman selanjutnya…
Dikit-dikit dipaksa keluarkan uang pakai dalih tradisi














