Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Catatan

Omong Kosong Slow Living dan Frugal Living di Desa: Mau Hidup Stabil Mental dan Finansial, Malah “Diperas” Pakai Dalih Tradisi

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
2 Januari 2026
A A
slow living, jawa tengah.MOJOK.CO

Ilustrasi - Omong kosong slow living dan frugal living di desa. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Slow living dan frugal living menjadi narasi yang terus menggema di tengah situasi zaman yang makin morat-marit. Orang-orang kota—atau para prantau yang sudah lama merantau di kota metropolitan—lantas berpikir untuk menghabiskan masa hidup di desa.

Beberapa orang menganggap, hidup di desa—dengan segala gambaran ketenangan dan kerukuan, serta sumber daya alam yang melimpah—adalah jawaban untuk hidup dengan stabil. Ya stabil ritme hidupnya, ya stabil finansialnya.

Slow living dan frugal living di desa itu omong kosong

Saya dan bapak saya—yang sama-sama merantau—bukan hanya sekali-dua kali tergiur iming-iming untuk “pensiun” dari perantauan, lalu menghabiskan sisa hidup di kampung halaman.

Konon, jika tinggal di desa, tak perlu pekerjaan bergaji besar untuk bertahan hidup. Ibarat sayur tinggal ambil di kebun belakang rumah. Kalau tak punya garam atau gula bisa meminta tetangga, maka tetangga akan dengan senang hati memberi.

Seorang teman dan tiga narasumber saya sebelumnya memberi tahu saya fakta pahit kehidupan di desa: Ternyata kerukunan dan keramahan antar-warga desa itu mitos belaka. Penuh kepalsuan. Tidak ada yang benar-benar tulus dan gratis.

Dari mereka pula saya tahu fakta berikutnya: Di desa tertentu—seperti desa mereka—slow living dan frugal living di desa itu omong kosong. Alih-alih bisa hidup stabil secara mental dan finansial, hidup di tengah warga desa dengan kecenderungan seremonik justru amat menguras kantong.

Salah satu contoh yang mereka beberkan di tulisan sebelumnya adalah “tradisi buwuh/buwoh/bowoh/ (menyumbang orang menikah, kematian, kelahiran bayi, khitanan, dan hajatan-hajatan lain). Hukumnya mirip utang piutang berkedok “sumbangan”.

Berikut ini adalah contoh-contoh lain, sebagai penegas betapa susahnya mencari kehidupan slow living dan frugal living di desa. Sudah lah mental tak aman, dompet juga terserang.

Resepsi untuk gengsi

Saya kaget ketika mendengar cerita seorang teman menghabiskan lebih dari Rp50 juta untuk acara pernikahannya. Saya juga kaget ketika tahu ada seorang teman sampai meminjam uang ke lintah darat demi resepsi besar-besaran.

“Buat apa?”

“Nuruti orang tua. Orang tua maunya begitu biar terlihat pantas di mata tetangga. Masa acara sekali seumur hidup dibuat seadanya.” Jawab mereka. Saya tertegun.

Begitulah kehidupan di desa. Gen Z seperti mereka sekali pun, kalau hidup di desa, pasti tak akan mudah merencanakan pernikahan berkonsep intim dan hangat. Apalagi kalau sekadar akad di KUA. Mustahil. Begitu juga pengakuan dari tiga narasumber saya sebelumnya. Karena urusannya adalah gengsi masing-masing keluarga.

Masalahnya, entah bagaimana mulanya, di desa telah mengakar pemahaman bahwa setiap hal—tidak hanya resepsi pernikahan—harus dirayakan besar-besaran. Hal-hal yang seharusnya bisa dikerjakan dengan budget minimal, pasti akan membengkak besar. Hal-hal yang seharusnya tidak perlu, dipaksa diada-adakan. Mumet!

Baca halaman selanjutnya…

Iklan

Dikit-dikit dipaksa keluarkan uang pakai dalih tradisi 

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 3 Januari 2026 oleh

Tags: Desafrugal livinghidup di desapilihan redaksislow livingslow living di desa
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Rasa Sanga (5): Docang, “Makanan Orang Susah” yang Lekat dengan Ajaran Rendah Hati Sunan Gunung Jati di Cirebon.,MOJOK.CO
Lipsus

Rasa Sanga (5): Docang, “Makanan Orang Susah” yang Lekat dengan Ajaran Rendah Hati Sunan Gunung Jati

9 Maret 2026
Membenci tradisi tukar uang alias penukaran uang baru menjelang lebaran untuk bagi-bagi THR MOJOK.CO
Sehari-hari

Tak Ikut Tukar Uang Baru buat THR ke Saudara karena Tradisi Toxic: Pilih Jadi Pelit, Dibacotin tapi Bahagia karena Aman Finansial

9 Maret 2026
KA bengawan, KA Airlangga, KA Taksaka, Pengalaman 22 Jam Naik Kereta Api Membelah Pulau Jawa MOJOK.CO
Catatan

User KA Bengawan Merasa Kesepian Saat Beralih ke Kereta Eksekutif KA Taksaka, “Kereta Gaib” Harga Rp74 Ribu Tetap Juara Meski Bikin Badan Pegal

9 Maret 2026
Nelangsa pemuda desa saat teman sepantaran yang kerja di perantauan mudik ke desa (pulang kampung): tertekan dan tersisihkan MOJOK.CO
Urban

Nelangsa Pemuda Desa saat Teman Pulang dari Perantauan, Tertekan dan Tersisihkan karena Kesan Tertinggal tapi Tak Punya Banyak Pilihan

9 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Nelangsa pemuda desa saat teman sepantaran yang kerja di perantauan mudik ke desa (pulang kampung): tertekan dan tersisihkan MOJOK.CO

Nelangsa Pemuda Desa saat Teman Pulang dari Perantauan, Tertekan dan Tersisihkan karena Kesan Tertinggal tapi Tak Punya Banyak Pilihan

9 Maret 2026
Lebaran.MOJOK.CO

Lebaran, Momen yang Ingin Saya “Skip” dari Kehidupan karena Hanya Berisi Trauma dan Kesedihan

6 Maret 2026
seleksi CPNS. CPNS Jogja, PNS.MOJOK.CO

Dua Kali Gagal Tes CPNS Meski Nilai Tertinggi, Kini Malah Temukan Jalan Terang Modal Ijazah SMA

8 Maret 2026
Yang paling berat dari mudik lebaran ke kampung halaman bukan pertanyaan kapan nikah atau dibandingkan di momen halal bihalal reuni keluarga, tapi menyadari orang tua makin renta dan apa yang terjadi setelahnya MOJOK.CO

Hal Paling Berat dari Mudik Bukan Pertanyaan atau Dibandingkan di Reuni Keluarga, Tapi Ortu Makin Renta dan Pamitan ke Perantauan

6 Maret 2026
Motivation letter untuk beasiswa erasmus di Portugal. MOJOK.CO

Kisah Pemuda Asal Tulungagung Kuliah di Portugal: Lolos Beasiswa Erasmus karena “Motivation Letter” yang Menggugah

3 Maret 2026
Perjalanan Memaafkan: Dendam ke Orang Tua karena Tak Diizinkan Kuliah di UGM, Jadi Luruh karena Bekal “Ndeso” Bikinan Ibu MOJOK.CO

Perjalanan Memaafkan: Dendam ke Orang Tua karena Tak Diizinkan Kuliah di UGM, Jadi Luruh karena Bekal “Ndeso” Bikinan Ibu

4 Maret 2026

Video Terbaru

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026
Zen RS: Tan Malaka Tokoh Pemikir Bebas dan Pejuang yang Tidak Terikat Struktur Politik

Zen RS: Tan Malaka Tokoh Pemikir Bebas dan Pejuang yang Tidak Terikat Struktur Politik

3 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.