Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Catatan

Omong Kosong Slow Living dan Frugal Living di Desa: Mau Hidup Stabil Mental dan Finansial, Malah “Diperas” Pakai Dalih Tradisi

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
2 Januari 2026
A A
slow living, jawa tengah, perumahan, desa.MOJOK.CO

Ilustrasi - slow living (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Mana ada slow living dan frugal living, hal-hal kecil harus dipaksa dibesar-besarkan

Begitu juga misalnya ketika sepasang orang tua akan menggelar akikah untuk anaknya yang baru lahir. Sudah habis banyak untuk biaya lahiran, masih harus nambah biaya lagi untuk bikin acara di rumah.

Sebab, akikah di desa seperti di desa tiga narasumber Mojok ternyata tidak sekadar menyembelih kambing. Tapi juga harus menggelar acara beruntun: Dari hari pertama lahir, hari kelima, hari ketujuh, hingga sebulan.

Sementara di momen akikah, doa bersama dan intim saja tak cukup. Harus mengundang orang dalam jumlah besar, harus menghadirkan hiburan seperti hadrah. Itu artinya harus menyediakan dana untuk beli suguhan buat para tamu, rokok, sewa sound system, dan bisyarah untuk grup hadrah yang diundang.

Kambing yang disembelih untuk akikah pun tak cukup sekadar poel. Tapi juga harus berukuran besar dan berharga mahal. Tujuannya, ya agar saudara bisa memamerkan ke tetangga-tetangga, yang dibalut dengan dalih “Ya biar layak dan cukup saja kalau dibagikan” atau “Buat anak itu harus total”.

Padahal akikah itu sederhana saja mulanya. Secara hukum, itu sunnah. Hanya memang dianjurkan (muakadah). Kalau toh dikerjakan, sedianya cukup menyembelih kambing (yang sudah memenuhi syarat akikah) lalu membagikannya ke keluarga, tetangga, hingga kelompok fakir-miskin di sekitar dalam kondisi matang (siap santap). Hanya cukup di situ.

Tapi entah bagaimana mulanya itu kemudian menjadi perkara wajib di desa. Juga diharuskan membuat acara besar-besaran dengan dalih “sudah menjadi tradisi”. Dan itu berlaku untuk acara apa saja.

Wajib bawa oleh-oleh kalau bepergian, harus bagi-bagi kalau dapat “rezeki” dari besan

Pertanyaan “Mau ke mana” dan pesan “Hati-hati di jalan” dari tetangga kepada tetangga yang hendak bepergian sepintas terdengar sebagai sebuah keramahan. Namun, bagi teman dan tiga narasumber saya, jika tetangga tahu ada tetangga yang hendak bepergian, itu bisa jadi ancaman bagi isi kantong.

Sebab—lagi-lagi entah bagaimana mulanya—di desa itu seolah menjadi keharusan kalau seseorang bepergian, maka pulangnya harus membawa buah tangan untuk dibagi-bagikan. Dalihnya kerukunan, tapi nyatanya berimbas pada penyakit hati.

Misalnya begini: Umumnya warga desa mengadakan ziarah Wali Sanga saban menjelang bulan Ramadan. Maka sepulang ziarah, tetangga yang berangkat harus membawakan oleh-oleh. Begitu juga dalam konteks bepergian-bepergian jauh yang lain.

“Masalahnya, mereka berangkat itu kan nabung berbulan-bulan. Selama tiga hari perjalanan pasti juga habis uang banyak. Masa begitu saja tidak dimengerti?” Tanya saya.

Kata tiga narasumber saya, cara mikir beberapa orang desa tidak sampai di situ. Tapi sependek: Kalau tidak ngasih oleh-oleh, artinya bukan tetangga yang baik. Maka habis jadi gunjingan.

Kok bepergian. Bahkan misalnya ada orang yang baru didatangi besan atau saudara jauh dan mendapat banyak “rezeki” (bawaan), itu pun harusnya dibagikan juga ke tetangga. Kalau tidak, akan keluar kalimat: “Iya, dimakan-makan sendiri mentang-mentang dapat bawaan dari besan/saudara jauh.” Makin omong kosong saja slow living dan frugal living di desa.

Dikit-dikit sumbangan pengajian

Saat wafatnya Kiai Jazir (takmir inspiratif Masjid Jogokariyan, Jogja) kapan lalu, tiga narasumber saya mengaku amat takjub dan nyesek sekaligus. Sejujurnya mereka baru tahu sosok Kiai Jazir saat berita wafatnya viral di media sosial, tapi mereka kagum bukan main.

Sebab, Kiai Jazir memberikan contoh bagaimana seharusnya masjid melayani masyarakat. Sementara di desa narasumber saya, masjid lebih banyak meminta pelayanan.

Iklan

Masjid teramat sering menggelar pengajian. Saking rapatnya agenda pengajian, dikit-dikit ada tarikan sumbangan. Itu merepotkan.

Bagi tiga narasumber Mojok, bukan masalah kikir untuk menyumbang ke masjid. Tapi pengurus masjid teramat sibuk bikin acara pengajian, tapi lupa menyisihkan sebagian isi kotak amal atau kas masjid untuk membantu tetangga masjid yang kelaparan.

Ironi tahlilan

Bagian paling ironis adalah tahlilan. Orang baru diterpa duka (atas meninggalnya anggota keluarga), tapi kepala dan pundaknya harus ditumpuki tambahan beban: Biaya untuk acara tahlilan 7 hari, 40 hari, 100 hari, hingga 1000 hari.

Selama itu pula harus menyediakan amplop untuk kiai atau modin yang memimpin tahlil. Bahkan di beberapa desa, masih mengakar kuat tradisi: Keluarga orang yang ditinggal harus menyediakan amplop (umumnya berisi Rp5 ribu-Rp20 ribu) ke orang-orang yang datang melayat.

Orang yang datang nyumbang pun bukan tulus sepenuhnya nyumbang. Mereka bawa beras, minyak, dan macam-macam. Tapi suatu saat mereka meminta itu harus kembali dalam nilai yang sama. Kalau tidak, ya jadi gunjingan.

Padahal hukum tahlilan beserta sedekah kepada orang meninggal adalah sunnah muakkadah (sejumlah ulama menyebutnya sekadar mubah (kebolehan)). Tidak ada kewajiban.

Tak ada alasan tak punya uang

Tiga narasumber saya mengaku pernah berupaya untuk mengubah cara pandang tersebut di desa masing-masing. Mencoba menormalisasi hal-hal yang bukan menjadi keharusan. Tidak lain demi meringankan beban orang tak punya dan menempatkan sesuatu berdasarkan skala prioritasnya.

Kalau prioritasnya adalah saving untuk pasca nikah atau pasca melahirkan, ya cukup bikin acara semampunya. Secukupnya dana. Kalau yang baru berduka adalah orang tidak punya, ya seharusnya tidak perlu dipaksakan bikin tahlilan dengan tamu besar, tanpa ada gunjingan dari tetangga.

Sialnya, di desa—bahkan orang yang dianggap tokoh agama pun—ikut melanggengkan tradisi semacam itu. Katanya, tidak ada alasan tak punya uang, yang ada adalah orang pelit.

Karena cara pandangnya begini: Masa buat mengungkapkan syukur (misalnya dalam konteks pernikahan atau akikah) atau mendoakan keluarga sendiri (dalam konteks tahlilan kematian) harus itung-itungan? Menghadapi cara pandang seperti itu, konsep slow living dan frugal living jelas tidak berlaku.

Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Merelakan Gaji Besar dari Perusahaan di Dubai daripada Mental Rusak karena Tekanan Hidup dan Pilih Slow Living di Gunungkidul atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

 

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 3 Januari 2026 oleh

Tags: Desafrugal livinghidup di desapilihan redaksislow livingslow living di desa
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Purwokerto .MOJOK.CO
Urban

Purwokerto Tempat Pensiun Terbaik, tapi Bukan untuk Semua Orang: Kamu Butuh 4 Skill Ini Buat “Survive”

18 April 2026
Sewa iPhone biar dianggap keren daripada pengguna Android
Catatan

iPhone XR, Bikin Menderita Orang Kota tapi Jadi Standard “Keren” Pemuda di Desa: Rela Gadaikan Barang demi Penuhi Gengsi

17 April 2026
Derita orang Jember kerja di Jakarta: teralienasi karena dianggap tertinggal MOJOK.CO
Urban

Orang Jember Kerja di Jakarta: Mencoba Berbaur tapi “Tersisihkan”, Dianggap Tertinggal dan Tak Tersentuh Pendidikan

16 April 2026
Ribetnya punya mobil di desa. Bisa menjadi musuh masyarakat perkara parkir. Rawan jadi korban iseng bocil-bocil nakal MOJOK.CO
Catatan

Repotnya Punya Mobil di Desa: Bisa Jadi “Musuh Masyarakat” Perkara Parkir dan Garasi, Masih Rawan Jadi Korban Kenakalan Bocil-bocil

15 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Orang Desa Nggak Cocok Jadi PNS Jika Tak Punya Ilmu Menjilat Atasan. MOJOK.CO

PNS Tinggalkan Suasana Slow Living di Desa karena Muak dengan Teman Kantor yang Suka Menjilat Atasan, Ujungnya Malah Bernasib Lebih Buruk

17 April 2026
Lolos seleksi CPNS dalam sekali coba tanpa bimbel. Setelah jadi PNS ASN malah tersandera stigma MOJOK.CO

Lolos Seleksi CPNS dalam Sekali Coba, Aman Finansial tapi Hidup “Tersandera” karena Leha-leha Dapat Gaji Buta

13 April 2026
Pasang WiFi di rumah desa. Niat untuk kenyamanan dan efisiensi pengeluaran keluarga malah dipalak tetangga MOJOK.CO

Pasang WiFi di Rumah Desa Boncos: Password Dipalak-Dicolong Tetangga, Masih Dicap Egois kalau Mati Disuruh Gali Kubur Sendiri

14 April 2026
AMSI dan UAJY kerja sama untuk ciptakan media yang sehat. Penandatanganan diwakili Rektor UNY Sri Nurhartanto dan Ketua AMSI Pusat Wahyu Dyatmika. (Istimewa)

AMSI dan UAJY Kerja Sama untuk Ciptakan Ekosistem Media yang Sehat

14 April 2026
Gaji Jakarta 12 Juta Bikin Gila, 3 Juta di Magelang Hidup Waras MOJOK.CO

Daripada Menyiksa Diri Hidup di Jakarta dengan Gaji 12 Juta Sampai Setengah Gila, Pindah ke Magelang dan Hidup Waras Cukup dengan Gaji 3 Juta

16 April 2026
Orang Jakarta pilih bayar iPhone dengan cicilan

Tren “Aneh” Orang Jakarta: Nyicil iPhone Bukan karena Butuh, Alasannya Susah Dipahami Orang Miskin

14 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.