Siapapun tahu, bukan itu pertanyaannya. Bukan juga mempertanyakan mengenai posisi duduk, tetapi etika berbagi kursi dalam satu mobil yang sama.
Seakan tidak cukup menyiksa dengan mencoba menahan diri dalam ruang terbatas, si penumpang di samping yang sudah mendapat lebih banyak tempat justru menyandarkan kepala selama hampir setengah perjalanan. Di titik ini, rasa ingin marah-marah tentu memuncak, kalau saja tidak menyadari bahwa kendaraan yang sedang dinaiki adalah travel.
“Travel ya, agak susah disalahkan,” kata salah seorang teman yang bereaksi terhadap cerita saat itu.
Ia lalu menanyakan, “Kurang berapa jam lagi harus menahan itu?”
“Lima jam,” jawab saya.
Sungguh keberuntungan sedang tidak bersama saya hari itu. Mulai saat itu juga, travel akan menjadi pilihan terakhir (sekalipun hanya ada dua pilihan antara travel mobil atau bus) untuk perjalanan mudik Lebaran di Kalimantan.
Gambling kenyamanan mudik Lebaran dengan travel
Beberapa teman juga pernah mengalami hal serupa dalam perjalanan mereka dengan travel. Lisa (23) salah satunya. Berbanding terbalik dengan saya yang harus menghadapi sopir mobil yang “berulah“, ia justru dihadapkan dengan rasa frustasi dan takut yang bercampur aduk sepanjang perjalanan.
“Pernah tuh aku, travelnya kayak sakit gitu lho,” katanya, Kamis (12/3/2026).
Melihat kondisi sopirnya saat itu, bukannya merasa takut kalau akan terjadi hal yang tidak diinginkan kepada dirinya dan seluruh penumpang. Lisa menjadi ketar-ketir kalau si pengemudi akan mengalami kejadian yang tidak diinginkan.
“Itu deg-degan sepanjang jalan, takut ia kenapa-kenapa,” ujarnya.
“Soalnya sopirnya, kayak orang stroke,” ujar dia menambahkan.
Namun, Lisa hanya bisa pasrah. Sebagaimana penumpang travel umumnya, Lisa bilang, tidak ada yang tahu siapa yang akan mengemudikan kendaraan travel yang ditumpangi. Jadilah, tidak ada banyak hal yang bisa diperbuat.
“Karena random, gak tahu akan siapa orangnya. Kita cuman tahu agen doang, tapi gak tahu siapa yang nyetir,” katanya.
Namun di lain sisi, pengalaman naik travel ini barang tentu tidak bisa disamaratakan—seperti kata Lisa soal pemilihan pengemudi yang random. Sebagai penumpang juga, saya tidak mengatakan menolak untuk menaiki travel selamanya. Contoh travel di Jogja, salah satu yang dinaungi Blue Bird, adalah pilihan yang jarang keliru.
Penulis: Shofiatunnisa Azizah
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Saya Tidak Peduli Keluar Duit Lebih Banyak demi Tak Mengorbankan Kenyamanan, Pilih Mudik dengan Pesawat daripada Mode Apa Pun atau artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan













