Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Catatan

Omong Kosong Menua Tenang di Desa: Menjadi Ortu di Desa Tak Cuma Dituntut Warisan, Harus Pikul Beban Berlipat dan Bertubi-tubi Tanpa Henti

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
21 Februari 2026
A A
Omong kosong menua dengan bahagia di desa: menjadi orang tua di desa harus memikul beban berlipat dan bertubi-tubi tanpa henti MOJOK.CO

Ilustrasi - Omong kosong menua dengan bahagia di desa: menjadi orang tua di desa harus memikul beban berlipat dan bertubi-tubi tanpa henti. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Menjadi orang tua hingga menua di desa tidak lebih seperti kutukan yang sulit diputus. Sebab, orang tua di desa nyatanya tidak hanya berpikir soal membagi warisan ke anak-cucu. Akan tetapi, sepanjang hidupnya harus siap memikul beban yang tidak habis-habis. 

***

Belakangan, karena menjadi lebih sering pulang ke desa saya di Rembang, Jawa Tengah, saya akhirnya terlibat obrolan intens dengan sejumlah orang tua. 

Sebelumnya, saya sempat menyimak keluhan orang tua yang nelangsa melihat anak-anaknya berebut warisan, padahal orang tuanya masih hidup dan segar bugar. 

Sementara baru-baru ini, saya menyimak pengakuan jujur, betapa tidak ada istilah menua dengan bahagia di desa. Sebab, menjadi orang tua, seiring anak dewasa dan umur orang tua bertambah, bebannya ternyata turut bertambah. Bahkan makin berat. 

Dari obrolan-obrolan itu, jika dirangkum, kira-kira berikut inilah beban-beban orang tua di desa yang akan dipikul sampai mati, yang tidak kalah berat dari menyiapkan warisan untuk anak-anak: 

#1 Penuhi permintaan anak yang tidak tahu diri dan bertubi-tubi

Bagi beberapa orang tua di desa, sial betul menjadi orang tua untuk anak-anak generasi sekarang. Menjadi orang tua bagi anak-anak yang hidup di era modern terasa seperti kutukan. 

Pasalnya, kebutuhan anak-anak zaman sekarang tidak hanya berkutat pada makan, jajan, dan sekolah. Tapi juga harus mengikuti perkembangan zaman. 

Saat ini, anak bisa dengan mudah minta dibelikan hp atau motor bahkan sejak baru masuk sekolah dasar. 

Itu pun tidak akan selesai di situ. Sebab, membeli hp artinya orang tua juga harus menyiapkan uang bulanan untuk membeli paket internet. Membelikan motor artinya harus menyisihkan uang bensin harian hingga pajak tahunan. 

Belum urusan maintenance jika hp atau motor perlu diservis. Keluar biaya lagi. Sialnya, permintaan semacam itu—yang mengikuti tren zaman—seperti tidak ada habisnya. Selalu ada saja yang baru. 

Yang lebih menyebalkan dan membebani adalah: punya anak tidak tahu diri. Tak bisa mengukur kondisi orang tua. Apapun permintaannya harus dituruti. 

Misalnya, orang tua hanya mampu membelikan hp android Rp2 jutaan. Tapi anak memaksa dibelikan iPhone keluaran terbaru. Orang tua hanya bisa membelikan motor matic di harga Rp18 jutaan. Sialnya anak menuntut dibelikan motor besar Rp30 jutaan seperti Aerox, NMax, dan sejenisnya. 

Bagaimana mau sediakan warisan, aset ludes untuk kebutuhan

Sering kali orang tua di desa luluh dengan tuntutan sang anak. Bukan karena memanjakan. Tapi lebih karena tak ingin sang anak merasakan apa yang pernah orang tua rasakan di masa mudanya: menahan banyak keinginan karena orang tua tidak mampu membelikan. 

Iklan

Alhasil, yang terjadi adalah, antara orang tua mengajukan pinjaman ke bank atau menjual aset yang dipunya (misalnya beberapa petak sawah). 

Karena aset terus menyusut, otomatis jatah buat warisan ke anak pun berkurang. Maka itu bisa memicu masalah lain lagi nantinya: dibenci anak sendiri gara-gara meninggal tanpa memberi warisan. 

#2 Tak ada istilah menua bahagia di desa: orang tua tanggung anak dari menikah hingga berumah tangga

Bagaimana mau menua dengan bahagia di desa kalau seumur hidup saja harus menanggung hidup anak-anaknya. 

Sebab, di desa, sering kali jika anak hendak menikah memang tinggal bilang ke orang tua. Maka orang tua lah yang akan ubet mencari uang untuk menggelar pesta pernikahan. 

Apalagi jika si anak adalah perempuan, yang secara hukum sosial memang tidak diharuskan untuk bekerja. Sehingga orang tua memang harus menanggung penuh biaya pernikahan anaknya tersebut. 

Bahkan untuk anak yang sudah bekerja sekalipun, ada model seperti ini: anak bekerja itu sebagai penanda kalau setelah menikah ia bakal bertanggung jawab pada keluarganya. Karena sudah bisa mencari uang sendiri. Sementara untuk urusan menikah, biayanya tetap berasal dari orang tua. 

Tapi nyatanya ada kasus orang tua masih harus menanggung anaknya yang sudah menikah itu setelah mereka menikah. Misalnya saat si anak tidak bisa memenuhi kebutuhan rumah tangga mereka dengan baik. 

Belum lagi jika nanti si anak melahirkan. Maka orang tua menjadi orang paling repot. Dari menanggung biaya syukuran (akikah) hingga nanti membantu momong. Ada loh anak yang enggan menceboki dan mencuci pakaian kotor bayinya. Dan orang tua akan dengan ringan tangan membantunya. 

#3 Sandwich generation: rawat orang tua, anak, dan cucu sekaligus

Bahkan hingga menjadi orang tua pun ada loh orang tua yang menjadi sandwich generation: punya tanggungan ganda. 

Satu sisi mereka harus merawat orang tua mereka sendiri yang masih hidup dan telah renta. Di saat bersamaan juga harus mengurus anak dan cucu, karena kondisi ekonomi si anak yang belum stabil. 

Sejujurnya, mereka merasa tidak begitu bahagia menua di desa seperti itu. Mereka hanya mencoba tabah menjalaninya karena menganggapnya dalam koridor dua hal.

Satu, situasi semacam itu merupakan takdir Tuhan yang harus dijalani dengan penuh keikhlasan dan berserah diri. Dua, rasa-rasanya tidak pantas kalau mengeluh dalam menanggung hidup anak, cucu, atau orang tua sendiri. Karena itu merupakan tanggung jawab dan kewajiban. 

“Sampai kapan pun, orang tua tetaplah orang tua yang harus dihormati dan gantian dirawat di masa rentanya. Anak tetaplah anak kecil kita meski sudah berumah tangga. Dan cucu, kasih sayang simbah ke cucu biasanya justru jauh lebih besar,” begitu pedoman yang mereka pegang. 

#4 Tidak ada menua bahagia di desa: jika tak punya warisan, maka harus siap tersisihkan dari rumah sendiri

Jika orang tua tidak punya tanah atau aset lebih untuk dijadikan sebagai warisan pada anak, maka harus siap-siap tersisihkan dari rumah sendiri. 

Sebab, jika rumah menjadi satu-satunya aset yang dimiliki, maka sebagian besarnya harus dibagi untuk dijadikan rumah bagi si anak. Sementara orang tua sering kali harus tersisih ke petak rumah paling kecil dan paling belakang. Pokoknya asal muat buat tidur dan masak. 

Itu pun, dari mengundang tukang untuk mengubah denah rumah, juga menggelar selametan atas “renovasi” rumah tersebut (sebagaimana lazimnya berlangsung di desa), orang tua lah yang akan keluar uang lebih banyak. 

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Saudara Kandung di Desa Itu Bak Mafia, Justru Jadi Orang Paling Busuk dan Licik demi Sikat Sertifikat Tanah Saudara Sendiri atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 21 Februari 2026 oleh

Tags: beban orang tuabeban orang tua di desaDesakehidupan di desamenua di desaorang tua di desasandwich generationWarisanwarisan orang tua
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Toxic sibling relationship antar saudara kandung karena rebutan sertifikat tanah. Saudara kandung bisa jadi mafia tanah soal warisan MOJOK.CO
Sehari-hari

Saudara Kandung di Desa Itu Bak Mafia, Justru Jadi Orang Paling Busuk dan Licik demi Sikat Sertifikat Tanah Saudara Sendiri

20 Februari 2026
Anak yang dicap gagal penuhi standar sukses justru paling tulus merawat orang tua. Anak yang sok sibuk dan dibilang sukses malah jadi yang paling berisik soal warisan MOJOK.CO
Urban

Anak yang Dicap Gagal Justru Paling Tulus dan Telaten Rawat Ortu, Anak yang Katanya Sukses cuma Berisik Rebutan Warisan

13 Februari 2026
Orang dengan kesulitan ekonomi (kurang mampu atau miskin) di desa, justru paling tulus dalam kehidupan sehari-hari MOJOK.CO
Catatan

Orang Miskin dan Sulit Ekonomi di Desa Justru Paling Tulus Peduli, Tapi Tak Dihargai karena Tak Bisa Bantu Materi

12 Februari 2026
Pilih gaya hidup irit dan pelit ke diri sendiri demi keluarga. Tiap mencoba self reward merasa berdosa MOJOK.CO
Urban

Selalu Pelit ke Diri Sendiri demi Hidupi Keluarga, Tiap Mau Self Reward Pasti Merasa Berdosa padahal Tak Seberapa

11 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Dandangan Kudus: Bukan Sekadar Ramai, Tapi Serius Kelola Sampah dan Lingkungan

Dandangan Kudus: Bukan Sekadar Ramai, Tapi Serius Kelola Sampah dan Lingkungan

16 Februari 2026
kuliah di austria, rasisme.MOJOK.CO

Kuliah di Austria Bikin Kena Mental: Sistem Pendidikannya Maju, tapi Warganya “Ketus” dan Rasis

20 Februari 2026
Salat tarawih 8 rakaat di masjid 23 rakaat. Siasat mengejar sunnah di tengah lelah MOJOK.CO

Tarawih 8 Rakaat di Masjid yang Jemaahnya 23 Rakaat, Ganggu karena Pulang Dulu tapi Jadi Siasat Mengejar Sunnah di Tengah Lelah

19 Februari 2026
Wawancara beasiswa LPDP

Niat Daftar LPDP Berujung Kena Mental, Malah Diserang Personal oleh Pewawancara dan Tak Diberi Kesempatan Bicara

20 Februari 2026
Sate entok di Kaliurang, Jogja

Sate Entok, Olahan Unggas Terbaik yang Jarang Diketahui padahal Rasanya Lebih “Jujur” daripada Bebek Goreng

18 Februari 2026
Geliat open bo di MiChat saat malam Valentine: pelampiasan lewat layanan "rasa pacar" MOJOK.CO

Geliat Layanan Open BO “Rasa Pacar” di MiChat, Pelampiasan dan Upaya “Laki-laki Gagal” Mencari Validasi

14 Februari 2026

Video Terbaru

Dandangan Kudus: Bukan Sekadar Ramai, Tapi Serius Kelola Sampah dan Lingkungan

Dandangan Kudus: Bukan Sekadar Ramai, Tapi Serius Kelola Sampah dan Lingkungan

16 Februari 2026
Damardjati Supadjar: Ketika Filsafat Tak Hanya Tinggal di Kampus

Damardjati Supadjar: Ketika Filsafat Tak Hanya Tinggal di Kampus

14 Februari 2026
Kiai Faizi: Cara Hidup Merasa Cukup di Dunia yang Terlalu Buru-buru

Kiai Faizi: Cara Hidup Merasa Cukup di Dunia yang Terlalu Buru-buru

10 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.