Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sehari-hari

Saudara Kandung di Desa Itu Bak Mafia, Justru Jadi Orang Paling Busuk dan Licik demi Sikat Sertifikat Tanah Saudara Sendiri

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
20 Februari 2026
A A
Toxic sibling relationship antar saudara kandung karena rebutan sertifikat tanah. Saudara kandung bisa jadi mafia tanah soal warisan MOJOK.CO

Ilustrasi - Toxic sibling relationship antar saudara kandung karena rebutan sertifikat tanah. Saudara kandung bisa jadi mafia tanah soal warisan. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Jika tidak ada persoalan yang menyangkut tanah warisan, hubungan saudara kandung di desa memang bisa tampak sangat guyub-rukun. Namun, jika sudah berurusan dengan sertifikat tanah, terciptalah toxing sibling relationship: saudara kandung justru bak mafia tanah, menjadi orang paling jahat dan licik terhadap saudara kandungnya sendiri. 

***

Iklan

Persoalan tanah warisan di desa memang kerap menjadi momentum terjadinya toxic sibling relationship. Saya sudah beberapa kali menulisnya di Mojok: antarsaudara kandung bisa berisik saling berebut tanah warisan padahal orang tua masih hidup. Hanya warisan orang tua yang diinginkan, tapi tidak dengan merawat orang tua di masa renta mereka. 

Di tahap mengerikan, untuk menggambarkan betapa busuknya saudara kandung jika menyoal harta, mereka bisa menggelapkan sertifikat tanah milik saudara kandung sendiri. Dan konflik tersebut akan dibawa sampai mati. 

Tipu muslihat saudara kandung, gadaikan sertifikat tanah untuk memperkaya diri sendiri

Darmadi (50) terbius oleh omongan kakak pertamanya yang bertamu pada suatu siang di tahun 2010-an. Kakak Darmadi membujuk agar Darmadi menyerahkan dua sertifikat tanah milik Darmadi. Satu, sertifikat tanah untuk rumah yang Darmadi dan anak-istrinya tempati. Dua, sertifikat tanah tegalan jati. 

Saat itu, Kakak Darmadi bilang akan menggunakan sertifikat tanah tersebut untuk mengajukan pinjaman di bank. Uangnya akan digunakan untuk merintis bisnis jual-beli bibit tanaman. 

“Saya tergiur karena dia bilang, soal nebus, nanti dia yang urus. Kalau bisnis sukses, nanti saya bisa ikut kerja sama dia, biar saya nggak merantau-merantau lagi ke Malaysia,” ujar warga desa asal Rembang, Jawa Tengah, itu dalam obrolan bapak-bapak sembari menanti pengumuman awal puasa Ramadan 2026 dari pemerintah. 

Darmadi mengaku saat itu dirinya seperti digendam. Tanpa pikir panjang dan berembuk dengan istri terlebih dulu, ia justru langsung mengiyakan bujuk rayu si kakak: menyerahkan dua sertifikat tanah miliknya secara cuma-cuma.

Dengar-dengar, kakak Darmadi memang merintis bisnis jual-beli bibit tanaman dan konon sejumlah bisnis lain. Di momen itu, ia seperti lupa kalau menggunakan sertifikat tanah milik Darmadi. Bahkan lupa kalau punya saudara Darmadi. Dari situlah toxic sibling relationship tercipta antarkeduanya. 

Menagih sampai mati, karena terancam tak punya tempat tinggal dan tanah warisan buat anak-istri

Konflik antara Darmadi dengan keluarga kakaknya tersebut berlangsung cukup panjang. 

Sejak sang kakak tampak hidup makmur, Darmadi berkali-kali sengaja mendatangi kediaman sang kakak di desa kecamatan (memang tidak tinggal satu desa dengan Darmadi). Darmadi berkali-kali bertanya dan meminta, “Apakah sertifikat tanah miliknya sudah ditebus? Kalau sudah, mana, ingin kuambil.”

Kakak Darmadi berkali-kali juga menegaskan kalau sertifikat tanah itu memang sudah ditebus. Namun, kalau diminta, ia selalu bilang akan mengantarnya sendiri ke rumah Darmadi. 

“Waktu itu saya takutnya dia balik nama pakai cara licik. Kalau begitu, saya bisa kehilangan rumah dan tanah tegalan, yang itu sudah saya siapkan sebagai tanah warisan untuk anak-istri,” ujar Darmadi. 

Darmadi nyaris putus asa. Ditagih pakai cara baik-baik, tidak mempan. Cara agak tegas, malah dianggap memancing permusuhan. Jelas ia merasa terpukul dan merasa bersalah kepada anak-istrinya. 

Sampai akhirnya, saat kakak Darmadi jatuh sakit, menjelang kematiannya pada 2023, ia berkata jujur pada Darmadi: sertifikat tanah itu tidak dibalik nama. Dan memang sudah sempat ditebus. Namun, belum lama ini dimasukkan bank lagi, entah untuk keperluan apa. Yang jelas, pada media 2010-2013-an itu, kakak Darmadi sempat menikah lagi (poligami). 

“Kalau aku mau ambil, aku harus tebus sendiri. Katanya begitu. Hampir saya pukul dia, karena butuh uang tidak sedikit untuk menebus. Tapi saya tahan-tahan, nanti malah makin rumit urusannya,” kata Darmadi. 

Untungnya, istri pertama kakak Darmadi adalah perempuan baik. Ia membantu Darmadi menebus sertifikat tanah miliknya tersebut hingga jatuh kembali ke tangannya, sebelum ia terusir dan kehilangan dua aset warisan untuk anak-istri. 

Saudara kandung: mafia tanah berkedok adik sendiri, curi sertifikat tanah demi dapat warisan sesuai keinginan

Masih di Rembang, cerita serupa dituturkan oleh Waliah (40), seorang ibu-ibu asal Rembang, yang belakangan tengah terlibat toxic sibling relationship dengan adik kandungnya sendiri. Pemicu utamanya tidak lain adalah persoalan pembagian tanah warisan. 

Iklan

Waliah saat ini mendiami sebuah rumah bersama suami, dua anak, dan ibu Waliah yang memang sudah sepuh dan tinggal menunggu ajal. 

Ibu Waliah memang pernah bilang, rumah yang didiami Waliah saat ini, yang masih atas nama mendiang bapak Waliah, kelak akan menjadi hak Waliah beserta suami dan dua anaknya. Karena memang tidak banyak tanah warisan yang bisa dibagikan. 

“Kalau saya dapat rumah ini, adik saya dapat sepetak kebun kecil. Dia nggak terima mungkin. Terus sertifikat tanahnya dicuri,” ucap Waliah. 

Pencurian itu terjadi pada suatu hari ketika Waliah, suami, dan dua anaknya menunggui ibu Waliah saat dirawat di Puskesmas. Saat itu, sepengakuan tetangga-tetangga Waliah, adik Waliah memang masuk rumah. 

Ketika ditegur tetangga, “Sedang cari apa?”, adik Waliah dengan licin menjawab kalau ia sedang mengambil beberapa barang dan pakaian untuk dibawa ke Puskesmas. Jelas tidak ada yang curiga kalau adik Waliah itu akan berbuat aneh-aneh. Tidak tahunya, adik Waliah justru berbuat bak mafia tanah. 

“Sudah dibalik nama. Sertifikat tanah sudah atas namanya. Kami ajak rembukan baik-baik nggak mau. Ya berarti kami nggak punya apa-apa,” keluh Waliah getir. 

Bingung urus di jalur hukum dan tak mau kedonyan

Beberapa tetangga sebenarnya memberi tahu Waliah kalau kasus balik nama sertifikat tanah secara sepihak oleh salah satu ahli waris itu merupakan pelanggaran administratif dan bisa diurus melalui jalur hukum. 

Namun, Waliah dan suaminya sepakat tidak mau ribet-ribet. Ia tidak mau terlalu kedonyan (tamak pada dunia) dengan terlibat rebutan tanah warisan dengan adik kandung sendiri. Walaupun hak rumah tersebut sebenarnya sudah diberikan sang ibu untuk Waliah. 

“Aku cuma mau minta, kalau ibu meninggal nanti ya dibantu urus. Sekarang yang ngurus masa tuanya biar kami nggak masalah. Setelah itu, kalau rumah ini diambil, ya gampang nanti. Bisa ikut orang tua suami sementara, sambil mengumpulkan uang untuk bangun rumah sederhana. Biar nanti dia (adik Waliah) dibalas saja sama Allah di akhirat,” tutup Waliah. 

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Anak yang Dicap Gagal Justru Paling Tulus dan Telaten Rawat Ortu, Anak yang Katanya Sukses cuma Berisik Rebutan Warisan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 20 Februari 2026 oleh

Tags: balik nama sertifikat tanahkehidupan di desamafia tanahpilihan redaksisertifikat tanahtanah warisantoxic siblingtoxic sibling relationshipWarisan
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Mengenal konsep Green al-Maun dan jihad ekologi dari masjid untuk menjaga lingkungan MOJOK.CO

Dakwah Tauhid Lingkungan dari Masjid, Mempertanyakan Keimanan dari Kesadaran Menjaga Alam

26 Agustus 2026
S2, sarjana nganggur MOJOK.CO

Curhatan Lulusan Sarjana Lanjut Kuliah S2 Modal FOMO yang Justru Berujung Kesulitan Mencari Kerja

26 Agustus 2026
Yamaha Fazzio Cuma Sebatas Skutik Spek Orang Manja MOJOK.CO kredit motor yamaha

Fazzio, Motor “Anak Skena” yang Bikin Perjalanan Sejam Menembus Kemacetan buat Ngonser Tetap Terasa Chill

24 Agustus 2026
Nasib rentan warga pesisir Kabupaten Batang karena ancaman abrasi dan PLTU MOJOK.CO

Nasib Rentan Warga Pesisir Kabupaten Batang: Rumah Terancam Abrasi Sewaktu-waktu, Nafkah “Tersumbat” PLTU

19 Agustus 2026
Ta'awun, Takaful, dan Masjid Al Muharram Brajan yang Menebar Manfaat dari Sampah Sisa Warga.MOJOK.CO

Taawun, Takaful, dan Masjid Al Muharram Brajan yang Menebar Manfaat dari Sampah Sisa Warga

19 Agustus 2026
gaya rambut pria, barbershop, potong rambut mojok.co

Alasan Potongan Rambut Jadi “Jelek” setelah Pulang dari Barbershop, Tukang Cukur Sering Disalahkan meski Problemnya Ada di Pelanggan

18 Agustus 2026
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Alfamart dan PGMM beri bantuan seragam ke 7 madrasah di Magelang sebagai wujud kepedulian sosial MOJOK.CO

Alfamart dan PGMM Beri Bantuan Seragam Sekolah di 7 Madrasah Magelang, Jadi Penunjang Semangat dan Kepercayaan Diri Siswa

24 Agustus 2026
Gelandang Timnas Putri U-16 Indonesia Garuda Pertiwi Ayla Dva Khala Ahisma, Kepala Timnas Putri U-16 Indonesia Garuda Pertiwi Timo Scheunemann, Pelatih Kepala Timnas Putri U-16 Thailand Thidarat Wiwasukhu dan Kapten Timnas Putri U-16 Thailand Kawinthida Kukintod.

Di Lapangan Jadi Lawan, di Luar Jadi Teman: Ayla Bertukar Kaos, Kapten Thailand Bertukar Medsos

23 Agustus 2026
Fikih Hijau ala Masjid Walidah Dahlan UNISA Yogyakarta. MOJOK.CO

Fikih Hijau ala Masjid Walidah Dahlan UNISA: Masjid sebagai Mercusuar Peradaban dan Konservasi Lingkungan

22 Agustus 2026
Perempuan pakai tas cantel di Kota Medan dicap centil karena tingkat kriminalitas yang tinggi. MOJOK.CO

Saya Bersaksi Kota Medan Tak Ramah Perempuan: Pakai Tas Centel Lebih “Hina” dibanding Pelaku Kriminal

27 Agustus 2026
Semesta Buku Yogyakarta 2026 MOJOK.CO

Semesta Buku Yogyakarta Hadir Bersama Pasetaky #4 dan Jakal Bookshop Festival 2026: Rayakan Buku, Komunitas, dan Ruang Literasi 

27 Agustus 2026
Mengenal konsep Green al-Maun dan jihad ekologi dari masjid untuk menjaga lingkungan MOJOK.CO

Dakwah Tauhid Lingkungan dari Masjid, Mempertanyakan Keimanan dari Kesadaran Menjaga Alam

26 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

8 Agustus 2026
Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

7 Agustus 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

🤖 PRAYIT AI ×
Salam dari Mojok! Aku Prayit AI. Ada yang bisa dibantu hari ini, Rek?
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.