Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Catatan

Kisah Pegiat Literasi Surabaya, Buka Lapak Bacaan Gratis di Tunjungan Malah Sering Kena Gusur

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
12 November 2024
A A
Lapak Buku Bacaan Gratis di Tunjungan Surabaya. MOJOK.CO

ilustrasi - lapak buku bacaan gratis di Tunjungan Surabaya. (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Salah satu pegiat literasi dan pendongeng di Surabaya punya cara tersendiri untuk menarik minat baca anak-anak. Salah satunya dengan membuka lapak buku bacaan gratis dan mendongeng di sekitar Jalan Tunjungan saat car free day.

***

Saya tak sengaja bertemu dengan Handoko (35) saat joging di hari Minggu. Anak-anak terlihat mengerumuninya, saya pikir dia sedang berjualan sesuatu. Namun, saat saya berhenti sejenak dan memperhatikan mereka, anak-anak itu terlihat termenung, sesekali antusias dengan apa yang dikatakan Handoko. Rupanya, pemuda asal Surabaya itu sedang mendongeng.

Semakin saya mendekati mereka, saya melihat tumpukan buku bacaan yang tertata rapi di atas alas banner. Di antaranya ada buku-anak-anak, novel, puisi, dan sebagainya. Saya kira Handoko bermaksud menjual buku-buku itu. Namun, dia hanya meminjamkannya secara suka rela. Saya dibebaskan membaca buku apa saja, asal tidak membawanya pulang.

Niat menggerakkan literasi untuk amal jariah

Handoko punya minat besar di bidang seni, budaya, dan sastra, meskipun jarang mempelajarinya saat duduk di bangku sekolah teknik menengah. Baginya, membaca buku dan bercerita adalah kegiatan yang menyenangkan.

Sejak tahun 2014, dia mulai mengoleksi buku seperti novel, kumpulan cerita pendek, puisi, dan sebagainya. Namun, pemuda asal Surabaya itu tidak bisa menyebutkan jumlah pasti koleksi bukunya, sebab memang sangat banyak dan tidak sempat mendata. 

Pendongeng, Handoko, yang giat menggerakkan literasi di Tunjungan Surabaya. MOJOK.CO
Pendongeng, Handoko, yang giat menggerakkan literasi di Tunjungan Surabaya. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Yang pasti, 90 persen buku yang dia pinjamkan di pinggir Jalan Tunjungan berasal dari koleksi pribadinya. Buku-buku itu dia beli dengan uang hasil kerja kerasnya. Dia sering diundang untuk melatih maupun mendongeng di berbagai acara, sehingga uangnya ditabung untuk membeli buku baru.

“Niat saya ini kan amal jariah, saya senang saja karena bisa bermanfaat kepada masyarakat terutama anak-anak dalam bidang literasi, membaca, menulis,” ucapnya Minggu (1/3/2020).

Sementara itu, sebagian kecil bukunya yang dipinjam juga berasal dari sumbangan masyarakat maupun pemerintah. Perkenalannya dengan pemerintah terjadi saat Handoko menjadi petugas taman baca di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Surabaya. 

Menggerakkan literasi bersama komunitas

Menjadi pegawai perpustakaan memunculkan keinginan Handoko untuk saling berbagi ilmu pengetahuan lewat buku yang dia punya. Dia lalu berinisiatif untuk membiasakan anak-anak membaca dan menyukai kegiatan tersebut.

Mulanya Handoko sempat kebingungan, dengan cara apa dia bisa menumbuhkan minat baca kepada anak-anak? Sementara, di era sekarang anak-anak lebih suka bermain gawai. Bahkan sekarang sudah ada buku digital atau portal membaca seperti Wattpad.

Di tengah kebingungannya itu, Handoko justru bertemu dengan komunitas Anak Dolanan. Komunitas itu memperkenalkan anak-anak pada permainan tradisional. Dari sanalah semangatnya muncul. 

Jika komunitas Anak Dolanan mampu menarik minat anak-anak kembali menyukai permainan tradisional, mengapa dia tidak bisa? Diskusi bersama komunitas membuat Handoko lebih lancar menemukan kiat-kiat untuk menarik minat anak dalam dunia literasi.

“Salah satu kiatnya adalah anak-anak lebih suka membaca buku dengan ilustrasi bagus dan penuh warna,” ucap pegiat literasi di Jalan Tunjungan Surabaya itu.

Iklan

Membuka lapak buku gratis, pagi-pagi, dengan motor pribadi

Handoko mulai membuka lapak bukunya pada tahun 2019 di Jalan Tunjungan Surabaya bersama Komunitas Dolanan, yang juga menyewakan alat permainan tradisional gratis. Biasanya, mereka sudah siap-siap sebelum pukul 06.00 WIB.

lapak bacaan buku Handoko di Jalan Tunjungan Surabaya. MOJOK.CO
lapak bacaan buku Handoko di Jalan Tunjungan Surabaya. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Setibanya di Jalan Tunjungan, Handoko mulai menggelar banner dan tikar di atas pedestarian. Tidak semua koleksi bukunya dia pajang. Biasanya hanya sekitar dua sampai tiga karung buku, sebab Handoko hanya menggunakan motor pribadi. Dia agak kesulitan mengusungnya sendiri.

Saat dia datang, anak-anak yang berasal dari kampung sekitar sudah tidak sabar untuk mampir. Mereka bisa bebas memilih buku tanpa kebingungan, karena Handoko sudah mengelompokkan buku anak-anak, remaja, dan dewasa, termasuk genre bukunya.

“Paling sering yang dibaca adalah buku kumpulan cerita pendek. Kalau novel itu lebih ke Kecil-Kecil Punya Karya (KKPK), sama novel yang karya sastranya banyak dikenal,” kata Handoko. 

Sempat digusur pemerintah Kota Surabaya

Perjalanan Handoko membuka lapak buku gratis sebetulnya tidak mudah. Awalnya, pemerintah Kota Surabaya menentang kegiatan tersebut. Bukan karena gerakan literasinya, tapi Handoko sering dianggap menggunakan lokasi umum tanpa izin. Alhasil, dia sering kena gusur.

Bersama komunitas Anak Dolanan, Handoko pun meminta izin dengan membuat surat ke pemerintah Kota Surabaya. Dia izin untuk menggelar lapak di lokasi car free day maupun taman-taman kota. Meski prosesnya cukup lama, Handoko akhirnya mendapatkan izin.

Kini, mereka lebih sering mangkal di Jalan Tunjungan Surabaya. Jika dibandingkan dengan lokasi car free day lainnya, Jalan Tunjungan memang tidak terlalu ramai. Namun, tempat itu jauh lebih kondusif untuk menggelar aktivitas seperti permainan tradisional dan literasi.

Selain membuka lapak buku gratis di Jalan Tunjungan, Handoko punya perpustakaan dan peminjaman buku di rumah pribadinya. Tepatnya di Jalan Banyu Urip Wetan gang 5I Nomor 11. Perpustakaan itu bebas diakses untuk warga kampung.

“Masyarakat umum juga boleh berkunjung, saya tentu senang. Cuman memang prosedur peminjaman bukunya nanti agak berbeda,” kata dia.

Menebarkan manfaat literasi hingga masa tua

Kegiatan literasi sudah menjadi bagian hidup Handoko. Dia merasa hampa jika sesekali memutuskan absen untuk membuka lapak. Dia juga takut jika pengunjungnya kecewa.

“Saya kalau nggak ngelapak kayak gimana gitu, kayak soto nggak ada kuahnya. Jadi kalau saya libur, saya kepikiran banget,” ucap Handoko.

Suatu hari, Handoko sempat absen dan tidak membuka lapak. Minggu berikutnya, dia sudah ditanya oleh pengunjung, ‘kenapa tutup?’ padahal mereka sudah rindu mendengarkan dongeng dari Handoko. Beberapa pengunjung bahkan sempat khawatir jika Handoko berhenti

Handoko berharap kegiatan ini bisa selalu dia jalani dengan konsisten, bahkan sampai masa tua nanti. Dia ingin tetap berkarya dan menebarkan manfaat untuk sekitar.

“Akhirnya saya memilih kegiatan literasi, karena buku itu nggak sebentar dipakainya, tapi pasti akan selalu dicari,” kata dia.

Kini, saya belum tahu apakah kegiatan Handoko masih berlanjut? Sebab, sejak pandemi Covid-19 saya sudah jarang melihatnya membuka lapak di sekitar Jalan Tunjungan, Surabaya. Saya berharap Handoko masih sehat bugar untuk melanjutkan visinya.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Achmad Aly Reza

BACA JUGA: Mengenal Lasminingrat: Ibu Literasi Pertama Indonesia yang Hari Ini Muncul di Google Doodle

Ikuti artikel dan berita Mojok lainnya di Google News

Terakhir diperbarui pada 12 November 2024 oleh

Tags: jalan tunjungan surabayalapak bukuMinat Bacapegiat literasi
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Artikel Terkait

Jalan Tunjungan Surabaya, "Tempat Wisata" Overrated di Surabaya, Tak Lagi Menyenangkan karena Dipenuhi Orang-orang FOMO!
Liputan

Jalan Tunjungan Surabaya, “Tempat Wisata” Overrated di Surabaya, Tak Lagi Menyenangkan karena Dipenuhi Orang-orang FOMO!

26 Juni 2024
Gimana Minat Baca di Indonesia Mau Tinggi Kalau Bawa Novel ke Sekolah Aja Dirazia MOJOK.CO
Ragam

Gimana Minat Baca di Indonesia Mau Tinggi Kalau Bawa Novel ke Sekolah Aja Dirazia

12 Desember 2023
minat baca mojok.co
Uneg-uneg

Rendahnya Minat Baca dan Mendengar

13 November 2022
Esai

Pakai GPS, Sering Baca Al-Quran, Literasi Bagus tapi Masih Tersesat

27 September 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Rasa Sanga (1): Sunan Gresik Membawa Masuk Islam ke Jawa Lewat Dapur dan Semangkuk Bubur Harisah MOJOK.CO

Rasa Sanga (1): Sunan Gresik Membawa Masuk Islam ke Jawa Lewat Dapur dan Semangkuk Bubur Harisah

23 Februari 2026
Perempuan Jawa Timur kerja di luar negeri rata-rata menjadi ART dan perawat lansia (Caregiver) di Taiwan karena mudah dan gaji besar MOJOK.CO

Susah Payah Kerja di Taiwan: Gaji Rp13 Juta tapi Hampir Gila, Keluarga Tak Pernah Peduli Kabar tapi Cuma Peras Uang

24 Februari 2026
Culture shock mahasiswa Kalimantan dengan budaya guyub Jawa di Jogja

Culture Shock Mahasiswa Kalimantan di Jawa: “Dipaksa” Srawung, Berakhir Tidak Keluar Kos dan Pindah Kontrakan karena Tak Nyaman

26 Februari 2026
Takjil bingka dari Kalimantan

Seloyang Bingka di Jogja: Takjil dari Kalimantan yang Menahan Saya agar Tetap “Hidup” di Perantauan

23 Februari 2026
Rela Melepas Status WNI demi Hidup Sejahtera di Norwegia, Karier Melejit berkat Beasiswa Luar Negeri MOJOK.CO

Rela Melepas Status WNI karena “Technical Stuff” di Norwegia, Karier Melejit berkat Beasiswa Luar Negeri

27 Februari 2026
Yamaha Grand Filano lebih cocok untuk jarak jauh daripada BeAT. MOJOK.CO

Di Balik Tampang Feminin Yamaha Grand Filano, Ketangkasannya Bikin Saya Kuat PP Surabaya-Sidoarjo Setiap Hari Ketimbang BeAT

26 Februari 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

25 Februari 2026
Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

23 Februari 2026
Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.