Jalan-jalan ke Plunyon, Kalikuning nyatanya tak membuat saya langsung puas hanya dengan melihat pemandangan alamnya yang indah. Sebab beberapa bangunan bersejarah di sana juga menarik perhatian saya, di antaranyanya Umbul Wadon, sebagai jantung air Kota Jogja dan Sleman.
Pesona Jembatan Plunyon, Kalikuning yang jadi lokasi syuting
Destinasi alam Plunyon, Kalikuning di lereng Gunung Merapi, Cangkringan, Sleman mulai ramai dikunjungi wisatawan setelah film KKN di Desa Penari tayang pada tahun 2022. Sebagai salah satu lokasi syuting film, Jembatan Plunyon menarik perhatian penonton untuk datang ke sana karena panoramanya yang indah.
Jembatan yang dibangun oleh warga setempat pada awal 1980-an itu menyuguhkan latar belakang hutan pinus, sungai, dan Gunung Merapi yang memanjakan mata. Tak pelak, lokasi tersebut kini terkenal untuk spot foto.
Padahal dulu, Jembatan Plunyon punya dua fungsi. Pertama, sebagai jalur penghubung untuk menyalurkan hasil bumi warga ke wilayah sekitar Yogyakarta dan Magelang. Kedua, sebagai saluran irigasi yang mengalirkan air ke sawah dan ternak di sekitarnya.

Setelah letusan Gunung Merapi tahun 2010, Jembatan Plunyon sempat hancur hingga akhirnya mendapat perbaikan tahun 2018. Meski begitu, dampak dari bencana tak selalu buruk. Akibat letusan dahsyat yang menimbulkan trauma banyak orang, kondisi Plunyon, Kalikuning justru perlahan-lahan pulih.
“Dulu, batu di sini sangat licin, tetapi setelah erupsi, semuanya tertutup pasir sehingga berubah bentuk. Warna air di Kali Kuning pun berubah, dari kuning keruh menjadi lebih jernih setelah tertutup batu dan pasir,” kata pengelola Plunyon Kalikuning, Sarjiman dikutip dari Detik Travel, Jumat (26/6/2026).
Menelusuri reservoir tua: Umbul Lanang dan Umbul Wadon
Saat saya berkunjung ke sana pada Sabtu (13/6/2026), fungsi utama irigasi di Plunyon, Kalikuning masih berjalan. Bahkan terdapat pipa-pipa besar untuk mengalirkan airnya ke Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) guna kebutuhan masyarakat Sleman dan Yogyakarta.
Saya pun memutuskan untuk berjalan lebih jauh sekitar 220 meter dari Jembatan Plunyon hingga menemukan dua bangunan tua untuk reservoir air. Salah satunya dikenal sebagai Umbul Lanang dan Umbul Wadon.
Berbeda dengan foto tahun 2016 yang memperlihatkan tanah di sekitar umbul masih mengeluarkan banyak air, saat saya berkunjung ke sana, kondisi tanahnya hanya becek. Suasananya pun sangat berkabut sehingga menebalkan suasana mistis.

Bagaimana tidak, saya masih menemukan sisa-sisa sesajen, seperti bunga mawar merah muda dan uang Rp2 ribu. Masyarakat meyakini bunga mawar pink sebagai bentuk penghormatan yang tulus, apresiasi yang mendalam, serta ketenangan batin yang dipersembahkan kepada leluhur maupun rasa syukur kepada Tuhan.
Dalam konteks Plunyon, Kalikuning, sesajen berfungsi sebagai sarana spiritual untuk memohon keselamatan, perlindungan dari bencana Gunung Merapi, serta kelancaran bagi warga yang beraktivitas di sekitar kawasan tersebut.
Ketika jantung air Plunyon, Kalikuning terancam eksploitasi
Konon, Umbul Wadon adalah sumber air utama Kalikuning yang tak pernah mati. Namun, kelestariannya semakin terancam oleh eksploitasi yang berlebihan tanpa ada konservasi secara konsisten.
Melansir dari buku berjudul “Menolak Privatisasi Air”, Astri Hanjarwati mengungkap terdapat perebutan pembagian air antar-masyarakat dan PDAM Sleman, hingga menimbulkan perlawanan atau gerakan dari masyarakat sekitar sejak tahun 2003.

“Akibat eksploitasi dari kebijakan pemerintah, debit air menyusut tajam sehingga ratusan hektar lahan pertanian di Kecamatan Pakem, Cangkringan, dan Ngemplak mengalami gagal panen. Warga pun kesulitan mendapat pasokan air untuk peternakan maupun kebutuhan dasar sehari-hari,” tulis Astri dikutip dari buku Menolak Privatisasi Air.
Pada akhir Mei 2004, masyarakat berhasil membongkar pipa ilegal dan menyepakati pengukuran ulang pembagian air melalui Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL).
Upaya melestarikan air di Plunyon, Kalikuning
Upaya untuk melestarikan air pun terus dilakukan hingga hari ini, seiring dengan laju pembangunan dan bertambahnya jumlah penduduk, serta kebutuhan air yang makin meningkat. Salah satunya dengan membuat data spasial mengenai peta sumber daya air di sekitar daerah Plunyon, Kalikuning.

Seperti yang telah dilakukan oleh mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) dalam laporannya yang berjudul “Penyusunan Basis Data Spasial Sumberdaya Air Melalui Partisipasi Masyarakat (Studi Kasus di Desa Kepuharjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta)”.
Data itu menunjukkan bahwa Desa Kepuharjo masih mengalami tingkat kritis air terutama pada musim kemarau. Sebaliknya, di musim hujan, surplus air justru meningkat. Masalah krisis air juga terjadi di daerah lain karena kebakaran hutan seluas 200 ha saat erupsi Merapi tahun 2010. Hal ini pun telah menjadi sorotan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sri Sultan Hamengku Buwono X.
Guna mengurangi kelangkaan air bersih, Sri Sultan melakukan upaya perbaikan hutan dengan menanam pohon langka di kawasan Merapi, termasuk di sekitar Plunyon, Kalikuning. Dengan penanaman tersebut, dia berharap sumber mata air kembali deras.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchammad Aly Reza
BACA JUGA: Ekspektasi Menikmati “Lantai Dua Jogja” di Plunyon Kalikuning Rusak karena Ulah Jamet dan Beberapa Spot yang Tak Terawat atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan













