Saya punya kira-kira 7 kucing. Ditambah 3 kucing liar yang diberi makan di teras. Alhasil sebagai anak kos, pengeluaran kucing-kucing itu tentu lebih besar dari milik saya. Gaji yang masuk untuk hidup sehari-hari sebagai anak kos di Jogja pun, musnah setengahnya untuk mereka.
Namun sebagai pecinta anak bulu (anabul) dengan tingkat hampir ekstrem, saya tidak terlalu keberatan. Rasanya lebih mudah mengeluarkan lebih dari Rp100 ribu untuk makan kucing daripada makan sendiri.
Bisa jadi, pada taraf ini, saya sudah terlalu dibutakan cinta kepada kucing-kucing yang hanya mengeong ketika diajak berbicara. Sama sekali tidak bisa menjawab dalam bahasa manusia. Namun maklum, namanya juga cinta buta.
Merelakan lebih dari setengah UMP Jogja untuk kucing
Sebagai informasi, Upah Minimum Provinsi (UMP) untuk gaji di Jogja itu sekitar Rp2,4 juta. Pengeluaran untuk kucing-kucing saya setidaknya mencapai angka 2.
Hitung-hitungannya begini, mereka punya kebutuhan makan kering, makan basah, hiburan, dan kebersihan. Namun, untuk kebutuhan kebersihan, barang yang dibeli sering cukup awet selama berbulan-bulan. Lain hal dengan kebutuhan hiburan yang setiap mainan rusak, beli lagi, serta butuh catnip (ganja kucing) untuk relaksasi mereka.
Sementara itu, untuk makan 10 kucing itu kira-kira akan menghabiskan lebih dari 2 kilo makan kering dalam seminggu, serta sedikitnya 5 bungkus makan basah dalam sehari. Totalnya, Rp200 ribu untuk makan kering ditambah Rp30 ribu untuk makan basah per harinya. Dikalikan dengan perhitungan satu bulan, sekitar Rp2 juta dihabiskan hanya untuk makan kucing.
Dibanding biaya sebulan menjadi anak kos “medioker” di Jogja saja, biaya makan kucing jauh lebih tinggi. Belum lagi, biaya ini bisa membengkak kalau ada pengeluaran dadakan, seperti kucing yang tiba-tiba tidak mau makan karena bosan dengan makanannya.
Namun, begitulah kehidupan pemilik anabul yang sudah menjadi rahasia umum. Salah seorang dokter hewan di Twitter (kini X) yang dikenal dengan sebutan Dok Purbo melalui akun @piyokavet menyebut, nasib ini memang mau tidak mau harus dihadapi kalau memelihara hewan, seperti kucing.
“97 persen cara kamu piara hewan kesayangan itu salah total. Sudah bertahun-tahun boncos dan pusing kan?” tulisnya, dikutip pada Rabu (11/3/2026).
Setelah itu, Purbo menyebutkan solusinya adalah dengan tidak memelihara hewan. Sebab, dalam merawat hewan, butuh komitmen seumur hidup.
Menjadi miskin karena kucing
Salah seorang anak kos di Jogja, Fendi (28), juga pernah dan masih mengalami nasib naas itu. Ia memiliki satu kucing betina, tapi mampu membuatnya miskin sepanjang hidup.
Salah satu momen pengurasan isi dompet Fendi terjadi bersamaan dengan momentum adiknya yang akan menikah. Kala itu, kucing bernama Klingi itu terserang virus Corona kucing yang membuatnya harus dirawat inap selama hampir satu bulan.
Padahal saat itu, Fendi sedang mengerjakan beberapa proyek pekerjaan yang membuatnya merasa cukup “tajir” dengan pemasukan yang besar. Ditambah, Fendi merasa memiliki riwayat pengeluaran yang besar dalam beberapa waktu sebelum pernikahan adiknya. Itu membuatnya merasa mampu untuk berkontribusi pada pernikahan mendatang.
Karena itu juga, biaya perawatan kucing dianggap sepele sebelum mengecek total mutasi rekening.
“Kebetulan saat itu, aku lagi banyak proyek dan beberapa bulan sebelum adikku menikah transferanku banyak banget kayak jadi orang paling kaya di kabupaten, dari tabungan aku jor-joran banget,” katanya, Rabu (11/3/2026).
Namun semuanya berubah, setelah dirinya harus membayarkan sekitar Rp2 juta untuk pengobatan kucingnya. “Tapi, kucingku sakit dia rawat inap hampir satu bulan dengan total Rp2 juta sekian,” kata dia.
Biaya itu, belum termasuk perawatan sendiri di rumah. Fendi bilang, dia ternyata harus menghabiskan lebih banyak uang karena banyaknya printilan yang harus dibeli, ditambah tenaga dan waktu yang harus disisihkan.
“Belum termasuk ketika dia dipulangkan perawatannya nggak semurah di petshop,” ujarnya.
Setelah mencurahkan semuanya demi si Klingi, barulah laki-laki asal Wonogiri ini menyadari bahwa dirinya tidak pernah tajir. Malahan, status ekonominya lebih dekat dengan “miskin” karena kucingnya.
“Akhirnya, aku menyadari aku tidak sekaya itu karena kucing,” tukasnya.
Anak kos Jogja hanya salah satu dari yang kasih sayangnya di luar nalar untuk kucing
Namun, Fendi maupun saya, yang merupakan anak kos-kosan di Jogja bukan satu-satunya. Penelitian yang dilakukan CommBank menunjukkan setiap generasi menggelontorkan jumlah uang yang berbeda untuk hewan peliharaannya.
Generasi milenial menghabiskan paling banyak sekitar 357 dolar AS atau Rp6 juta rupiah, diikuti generasi X dengan Rp4,7 juta, gen Z Rp4,3 juta, dan baby boomer Rp2,9 juta.
Penelitian menunjukkan pemilik hewan rata-rata menghabiskan 10 persen penghasilannya untuk hewan kesayangan, bahkan lembaga kesejahteraan hewan di Inggris dan Wales (RSPCA) mengatakan dedikasi ini bisa mencapai 30 persen hanya untuk makanan hewan.
Salah satu riset yang dilakukan Michael W. White dan kawan-kawan pada empat tahun lalu, tahun 2021, juga dimulai dengan kutipan menarik, “I work hard so my dog can have nice things [Aku bekerja keras sehingga anjingku bisa punya barang-barang bagus].”
Penelitian ini menemukan, orang-orang yang memiliki hewan peliharaan secara konsisten menghabiskan seluruh harta kekayaannya untuk peliharaan mereka. Bahkan, mereka lebih bahagia daripada ketika diminta mengingat bagaimana perasaannya saat mengeluarkan uang untuk hewan peliharaan ketimbang diri sendiri.
Penelitian ini, persis yang saya alami. Karena kucing-kucing yang saya miliki berada di rumah, saya merasa lebih senang ketika mengetahui mereka makan dengan lahap, meski ada seseorang yang mempertaruhkan uang makannya di sini.
“Kucing-kucing mana? Makannya gimana?”
“Si ini sehat?”
“Mau lihat si itu.”
Kalimat-kalimat itu semacam sudah menjadi makanan sehari-hari yang lebih mengenyangkan daripada nasi ketika diamini. Ini juga selaras dengan penelitian White dan kawan-kawan yang menemukan, pemilik hewan yang diminta menghabiskan lebih dari Rp50 ribu, tepatnya Rp84 ribu (5 dolar AS) melaporkan tingkat kebahagiaan yang lebih tinggi daripada ketika menghabiskannya untuk diri sendiri.
Maka dari itu, data menunjukkan orang-orang di China, misal, bisa menghabiskan 1,5 miliar dolar untuk hewannya. Juga, pemilik hewan di AS yang bisa menggelontorkan sampai 100 miliar dolar. Apabila dikonversi, nominalnya sekitar Rp1.687.300.000.000.000. Sebab sebesar apa pun yang diberikan untuk hewan piaraan seperti kucing, semuanya terasa setara dan wajar-wajar saja, sekalipun harus hidup miskin hari-hari setelahnya.
Penulis: Shofiatunnisa Azizah
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Nongkrong di Coffe Shop Jogja Malam Hari, Rela Pulang Pagi demi Hindari Tukang Parkir atau artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














