Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Catatan

4 Jurusan Kuliah yang Kerap Disepelekan tapi Jangan Dihapus, Masih Relevan dan Dibutuhkan di Bisnis Rezim Manapun

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
27 April 2026
A A
Jurusan kuliah di perguruan tinggi yang kerap disepelekan tapi jangan dihapus karena relevan. Ada ilmu komunikasi, sejarah, dakwah, dan manajemen MOJOK.CO

Ilustrasi - Jurusan kuliah di perguruan tinggi yang kerap disepelekan tapi jangan dihapus karena relevan. Ada ilmu komunikasi, sejarah, dakwah, dan manajemen. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Jika memang harus ada beberapa jurusan kuliah perguruan tinggi yang dihapus demi relevansi industri, rasa-rasanya semoga empat jurusan berikut ini tidak termasuk. Sebab, meski kerap “disepelekan”, tapi empat jurusan ini masih punya relevansi dengan kebutuhan bisnis yang geliatnya masih sangat masif di era manapun—setidaknya hingga saat ini. 

***

Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendikti saintek) memiliki wacana untuk menutup program studi (prodi) di perguruan tinggi yang tidak relevan dengan kebutuhan kehidupan dunia di masa depan. 

“Nanti mungkin ada beberapa hal yang harus kami eksekusi dalam waktu yang tidak terlalu lama terkait dengan prodi-prodi perlu kita pilih, kita pilah, dan kalau perlu ditutup, untuk bisa meningkatkan relevansi ini,” ujar Sekjen Kemdiktisaintek, Badri Munir Sukoco, dalam Simposium Nasional Kependudukan Tahun 2026, Kamis (23/4/2026) dikutip dari siaran di Kanal YouTube Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga.

Lebih lanjut, kata Badri, Kemendikti saintek juga berencana menyusun prodi atau jurusan kuliah di perguruan tinggi yang dibutuhkan di masa mendatang. 

Kenapa “perampingan” jurusan kuliah tersebut dianggap perlu? Sebab, sering kali lulusan dari suatu jurusan kesulitan mendapat pekerjaan. Ambil contoh jurusan kependidikan atau keguruan yang jumlahnya paling banyak. 

“Kita meluluskan tiap tahun 490.000 dari kependidikan. Sedangkan pada waktu yang sama, lowongan untuk calon guru dan fasilitator di taman kanak-kanak hanya 20.000. Jadi yang 470.000 tidak punya pekerjaan,” tutur Badri.

Atas situasi tersebut, beberapa sarjana dari sejumlah jurusan berharap agar jurusan mereka kuliah dulu tidak serta-merta dihapus. Sebab, meski kerap disepelekan, tapi masih relevan loh dengan bisnis-bisnis yang terus ada di era mana saja (sebuah satire). 

Jurusan kuliah di fakultas dakwah UIN, harus tetap eksis karena 

Obrolan tongkrongan pada Minggu (26/4/2026) yang mempertemukan tiga anak lulusan UIN merasa, sepertinya jurusan di dalam fakultas dakwah UIN, seperti Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) atau Manajemen Dakwah, jangan buru-buru dihapus. 

Alasannya,  jurusan tersebut masih sangat relevan loh dalam konteks penyiaran keagamaan hari ini. Dengan kata lain, “bisnis agama” masih sangat potensial. 

Bagaimana tidak, sosok seperti Mama Ghufron yang dikenal dengan dakwah pakai bahasa Suryani (maqoli-maqoli) saja masih bisa eksis dan mendapat pengikut banyak. 

Selain itu, kenyataan hari ini menunjukkan tidak sedikit orang menggunakan label agama untuk meraup keuntungan komersial. Sementara tidak diikuti oleh kompetensi intelektual-keagamaan, hanya modal public speaking dan cerita-cerita ajaib kewalian. Bahkan di banyak kasus juga menggunakan label tersebut untuk memanipulasi pengikut atau murid yang berujung pada kekerasan seksual. 

Dari obrolan itu, Mojok lantas membuka jajak pendapat secara daring. Hasilnya, ada tiga jurusan kuliah lain yang seringnya disepelekan, tapi mestinya harus dipertahankan, antara lain: 

Anak jurusan kuliah sejarah: sejarawan sangat dibutuhkan di rezim manapun, jangan ada penghapusan

Di lingkaran mahasiswa jurusan sejarah (survei diisi 4 sarjana sejarah, 3 dari  dari Jogja, 1 dari Surabaya) mengakui, jurusan tersebut memang kerap disepelekan. Bahkan sering muncul bercandaan: sejarah itu bikin gagal move on karena hanya belajar tentang masa lalu. Ngapain masa lalu terus-menerus dipelajari? 

Iklan

Prospek kerja jurusan ini juga dianggap abu-abu. Buktinya, keempat responden tersebut bekerja di luar gelar sebagai sarjana sejarah. Hanya satu yang bekerja linear, tapi itu pun dengan menjadi guru. 

Namun, mereka optimis, jika mendapat perhatian serius dari pemerintah, sarjana dari jurusan perguruan tinggi sejarah punya prospek karier yang terus relevan di rezim manapun. 

Sebab, teorinya, sejarah dibuat oleh para pemenang. Di sini, sebuah rezim bisa menggunakan ilmu sejarah untuk melegitimasi kekuasaan mereka: memelintir fakta sejarah untuk menutupi sisi kelam kekuasaan di bawah sebuah  rezim yang pernah/sedang berkuasa. 

Ilmu komunikasi dan manajemen untuk kebutuhan buzzer

Tak mau ketinggalan, sarjana dan mahasiswa dari jurusan Ilmu Komunikasi dan Manajemen turut berharap kalau dua jurusan kuliah ini semestinya dipertahankan. Berdasarkan hasil survei dari 2 sarjana Ilmu Komunikasi dan 1 mahasiswa Manajemen di Surabaya. 

Kata mereka, dua jurusan tersebut masih sangat relevan karena industrinya masih memadai. Misalnya, mereka mencontohkan, hingga hari ini kita pasti masih sering mendapati akun-akun anonim yang secara kompak menyerang atau memuji seseorang dengan sangat masif setiap kali tengah diterpa isu tertentu. 

Akun tersebut bahkan bisa menyerang warganet yang berada di pihak berlawanan. Itulah akun-akun pendengung alias buzzer. 

Bagi tiga responden Mojok, bisnis buzzer ternyata masih menjanjikan. Bahkan, lanjut mereka, kita bisa menyaksikan seseorang dengan kapasitas non-pakar, hanya modal koar-koar, bisa berbusa-busa tayang di televisi untuk membela tuannya. Sampai menolol-nololkan para pakar yang menjadi lawan diskusinya. 

Maka, jika ngomongin jurusan yang linear atau relevan dengan kebutuhan tersebut, Ilmu Komunikasi dan Manajemen adalah jawabannya. Karena di dalamnya mempelajari komunikasi publik hingga manajemen sumber daya manusia (SDM). Analisis terhadap komunikasi publik siter

Ilmu Komunikasi dan Manajemen relevan di tengah kebutuhan pengalihan isu

Masih dari tiga responden yang sama, kata mereka, dua jurusan kuliah di perguruan tinggi tersebut dirasa masih relevan dengan kebutuhan lain yang sejalan dengan aktivitas buzzering. Yakni kebutuhan atas pengalihan isu. 

Lanjut mereka, kalau diperhatikan, setiap ada isu-isu besar mencuat, tidak butuh waktu lama untuk kemudian tenggelam. Fokus publik sudah dialihkan ke isu-isu lain yang lebih sensasional. Seringnya isu perselingkuhan atau skandal artis atau pejabat. 

Kalau orang tidak memahami psikologi dan manajemen massa, tentu susah untuk membuat skema pengalihan isu tersebut bisa berjalan. Tidak hanya berjalan, tapi juga efektif untuk mengubur isu krusial utama dalam waktu sekejap. 

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Rela Bayar Mahal di Jurusan Keperawatan demi Prospek Karier Perawat, Cuma Berakhir Jadi “Babu” di RSUD atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 27 April 2026 oleh

Tags: ilmu komunikasiJurusan Komunikasijurusan kuliahjurusan sejarahjurusan yang dihapuspenghapusan jurusanperguruan tinggi
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

14 juta pekerja terima gaji di bawah UMP/UMK, sebagian besar dari kalangan lulusan perguruan tinggi (sarjana) MOJOK.CO
Ragam

Nasib Sarjana Kini: Masuk 14 Juta Pekerja Bergaji di Bawah UMP, Jadi Korban Kesenjangan Dunia Kerja

9 Januari 2026
Didikan bapak penjual es teh antar anak jadi sarjana pertama keluarga dan jadi lulusan terbaik Ilmu Komunikasi UNY lewat beasiswa KIP Kuliah MOJOK.CO
Kampus

Didikan Bapak Penjual Es Teh untuk Anak yang Kuliah di UNY, Jadi Lulusan dengan IPK Tertinggi

29 Desember 2025
Riset dan pengabdian masyarakat perguruan tinggi/universitas di Indonesia masih belum optimal MOJOK.CO
Kampus

Universitas di Indonesia Ada 4.000 Lebih tapi Cuma 5% Berorientasi Riset, Pengabdian Masyarakat Mandek di Laporan

18 Desember 2025
Mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi Unair Surabaya iri dengan mahasiswa UPN Veteran Jawa Timur. MOJOK.CO
Catatan

Penyesalan Saya “Yapping” sebagai Mahasiswa Ilmu Komunikasi Unair kepada Mahasiswa UPN Veteran Jawa Timur

23 September 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Mahasiswa gen Z kuliah malas baca jadi brain rot

Mahasiswa Gen Z Bukan Tak Bisa Membaca, tapi “Brain Rot” karena Sering Disuapi dan Kecanduan AI

23 April 2026
nongkrong di kafe, jakarta selatan.MOJOK.CO

Nongkrong di Usia 30 Terasa Tak Sama Lagi: Teman Makin Jompo, Obrolan Kian Membosankan, tapi Saya Berusaha Memahami

22 April 2026
Pasang WiFi IndiHome di kos. MOJOK.CO

Penyesalan Pasang WiFi di Kos: Dipalak Mahasiswa yang Kerjanya Main Game Online Ramai-ramai dan Ibu Kos yang Seenaknya Sendiri

22 April 2026
Ibu terpaksa menitipkan anak di daycare karena orang tua harus bekerja

Ibu Menitipkan Anak di Daycare Bukan Tak Tanggung Jawab, Mengusahakan “Aman” Malah Diganjar Trauma Kekerasan

26 April 2026
Merawat Nilai Luhur di Dalam Candi Plaosan agar Tak Memudar Seiring Zaman Mojok.co

Merawat Nilai Luhur di Dalam Candi Plaosan agar Tak Memudar Seiring Zaman

27 April 2026
Lulusan SMK cuma kerja jadi pegawai di SPBU, diremehkan saudara tapi malah jadi tempat ngutang MOJOK.CO

Lulusan SMK Kerja di SPBU Diremehkan, Malah Jadi Tempat Ngutang buat Kuliah Anak Saudara karena Dikira Punya Segepok Uang

21 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.