Mobilitas bus pariwisata menjadi tantangan tersendiri bagi Kawasan Sumbu Filosofi (KSF) dan tata kelola kota di Jogja.
Di titik ini, Pemerintah Kota Yogyakarta harus menyusun strategi matang. Sebab, urusannya bukan hanya pada pelestarian kawasan wisata (apalagi yang telah ditetapkan UNESCO sebagai Warisan Dunia seperti KSF), tapi juga tetap menjaga keberlanjutan sistem mobilitas dan pariwisata kota.
Fokus mengurangi tekanan bus pariwisata di Kawasan Sumbu Filosofi Jogja
Oleh karena itu, Pemerintah Kota Yogyakarta berkomitmen untuk mengurangi beban kendaraan—seperti kepadatan bus pariwisata—di Kawasan Sumbu Filosofi. Salah satunya melalui penataan tata kelola parkir bus pariwisata.
Bagi Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, pengembangan destinasi wisata baru memang penting. Namun, dalam konteks kebijakan transportasi, prioritasnya adalah pengendalian beban lalu lintas di kawasan warisan dunia.
“Kalau fokus kita adalah mengurangi beban di Sumbu Filosofi, maka langkah-langkahnya harus konkret ke arah sana. Yang pertama, tekanannya harus berkurang. Kalau tekanannya berkurang, otomatis bus tidak masuk ke kawasan inti,” ucap Hasto di Ruang Yudistria Balai Kota, Kamis (8/1/2025) lalu.

Perhitungan realistis untuk pengalihan bus pariwisata
Salah satu titik yang Hasto jadikan contoh adalah kawasan Senopati. Selama ini kawasan tersebut menjadi salah satu titik tekanan akibat parkir dan aktivitas bus pariwisata.
Menurut Hasto, penataan kawasan tersebut harus dimulai dengan mengurangi beban kendaraan terlebih dahulu. Baru disusul solusi lanjutan.
Wali Kota Yogyakarta itu juga menekankan pentingnya perhitungan kapasitas dan skenario pengalihan bus secara realistis. Baik pada hari biasa maupun saat musim puncak kunjungan wisata.
“Kita hitung dulu kapasitas yang ada, berapa bus per hari, hari biasa dan peak season. Setelah itu baru kita tentukan dialihkan ke mana. Pemikirannya dibalik, ini dibutuhkan atau tidak. Kalau dibutuhkan, bagaimana skenarionya,” beber Hasto.
Dalam membangun sistem transportasi kota, Hasto menekankan prinsip bertahap namun visioner. “Kita mulai dari yang bisa dijangkau sekarang, start small, act now, think big. Kita susun kerangka besar sistem transportasi Kota Jogja yang ideal, supaya tidak tambal sulam dan tidak kontraproduktif dengan pembangunan ke depan,” tegasnya.
Penyediaan TKP di Kawasan Sumbu Filosofi dan pengembangan Terminal Giwangan
Sementara Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Yogyakarta, Agus Tri Haryono memaparkan, salah satu langkah yang tengah disiapkan untuk mengurangi beban kendaraan seperti bus pariwisata di Kawasan Sumbu Filosofi Jogja adalah penyediaan Tempat Khusus Parkir (TKP) baru bagi bus pariwisata.
Selain itu juga diwacanakan pengembangan Terminal Giwangan sebagai kawasan Transit Oriented Development (TOD). Kebijakan ini, kata Agus, diarahkan untuk mengurangi tekanan langsung kendaraan besar di kawasan inti Sumbu Filosofi seperti Malioboro, Tugu, dan sekitarnya.
“Salah satu tekanan terbesar datang dari pergerakan lalu lintas, khususnya bus pariwisata. Kondisi tersebut tidak hanya berdampak pada kelancaran mobilitas, tapi juga berpengaruh terhadap kualitas kawasan dan keberlanjutan aktivitas ekonomi pariwisata,” terang Agus.

Terminal Giwangan: pintu masuk dan pusat pertumbuhan ekonomi Jogja Selatan
Dalam konteks itulah, kawasan Jogja bagian selatan—dengan pusat di Terminal Giwangan—dinilai memiliki posisi yang sangat strategis. Tidak hanya berfungsi sebagai simpul transportasi dan pintu masuk kota, tapi juga diposisikan sebagai pusat pertumbuhan ekonomi di Jogja Selatan.
“Kawasan ini berstatus sebagai Kawasan Strategis Kota dan menjadi lokus pembangunan prioritas dalam dokumen perencanaan pembangunan daerah tahun 2025–2029,” jelas Agus.
Agus menambahkan, penguatan peran Terminal Giwangan semakin terbuka setelah Pemerintah Kota Yogyakarta memperoleh hak pengelolaan lahan di sisi selatan terminal. Hal ini membuka peluang optimalisasi aset daerah secara terintegrasi.

“Pengelolaan Kawasan Terminal Giwangan pada dasarnya merupakan bagian integral dari perjalanan strategis dan prioritas pembangunan Kota Jogja, khususnya untuk mendorong pemerataan pembangunan wilayah selatan dan penguatan struktur ekonomi kota,” ungkap Agus.
Adapun penyusunan master plan Kawasan Terminal Giwangan telah dilakukan melalui proses kajian selama lebih dari empat bulan. Proses tersebut melibatkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari perangkat daerah tingkat kota dan provinsi, pelaku usaha, operator transportasi, pelaku pariwisata, hingga kalangan akademisi.
Dengan upaya-upaya tersebut, Pemerintah Kota Yogyakarta berharap semua bisa berjalan selaras. Kelestarian Kawasan Sumbu Filosofi Jogja bisa terjaga, tapi juga membangun sistem mobilitas dan pariwisata kota yang lebih tertata, berimbang, dan berkelanjutan.
BACA JUGA: Liburan Menyenangkan di Obelix Hills Jogja, Nikmati Sunset Sambil Ngopi hingga Live Music di Akhir Pekan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














