Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Aktual

Ketundukan Kepala Daerah pada Megawati: Marwah PDIP hingga Efek Retret yang Belum Tampak Hasilnya

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
22 Februari 2025
A A
Pakar UGM nilai, ikap Megawati atas retret: menjaga kewibawaan PDIP MOJOK.CO

Ilustrasi - Pakar UGM nilai, ikap Megawati atas retret: menjaga kewibawaan PDIP. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Pakar UGM menilai, sikap Megawati atas retret adalah upaya menjaga kewibawaan PDIP agar tetap garang meski sedang babak belur.

Hingga Sabtu (22/2/2025) pukul 07.45 WIB, belum ada instruksi lanjutan dari Ketua Umum (Ketum) PDI Perjuangan (PDIP), Megawati Soekarnoputi, atas instruksi agar kepala daerah kader PDIP menunda keikutsertaan retret di Magelang.

Sehari sebelumnya (Jumat (21/2/2025)), hingga batas penutupan check-in retret, Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri), Bima Arya, menyebut ada sebanyak 53 kepala daerah yang absen dari retret. 47 di antaranya tanpa alasan, sementara sisanya mengirim surat ketidakhadiran.

Diketahui, instruksi Megawati pada kepala daerah kader PDIP tertuang dalam Surat Nomor 7294/IN/DPP/II/2025, Kamis (20/2/2025), menyusul ditahannya Sekjen DPP PDIP, Hasto Kristiyanto, oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) atas dugaan suap dan menghalangi penyidikan kasus Harun Masiku.

Sejumlah kepala daerah kader PDIP memilih tegak lurus atas instruksi tersebut: menunda keberangkatan ke Magelang.

Megawati menjaga disiplin dan wibawa PDIP

Pakar Politik Universitas Gadjah Mada (UGM), Arga Pribadi Imawan, menilai sikap Megawati sebagai cerminan dari disiplin partai.

“Itu terwujud dengan: ketika kader partai ada masalah tertentu, maka kader partai yang lain harus ikut merasakan dan harus memikirkan jalan keluar masalah tersebut,” beber Arga kepada Mojok, Jumat (21/2/2025). Dalam konteks ini adalah bagaimana Megawati merespons ditahannya Sekjen DPP PDIP, Hasto Kristiyanto.

Dalam kontestasi politik 2024, posisi PDIP memang terkesan babak belur: kalah di Pilpres dan Pilgub Jawa Tengah (Jateng). Lalu petingginya (Hasto) terjerat kasus pidana.

“Ini (sikap Megawati atas retret) adalah bentuk bagaimana Megawati menjaga kewibawaan PDIP agar tetap “garang” meski sedang babak belur,” sambung Arga.

Kepala daerah kader PDIP tunduk pada Megawati, tidak pada rakyat?

Seperti sama-sama diketahui, instruksi Megawati tersebut terbukti “sakti”. Kepala daerah kader PDIP memilih menunda keberangkatan ke Magelang.

Di luar sana, sejumlah pihak menilai bahwa sikap kepala daerah tersebut semakin menunjukkan bahwa kepala daerah memang hanya bekerja atas kepentingan partai. Bukan atas kepentingan rakyat.

Namun, Arga punya pandangan berbeda. Dia mengimajinasikan posisi kepala daerah dengan bandul newton.

“Jika satu bola ditarik dan dilepas, akan ada tiga bola yang diam, ada satu yang terlontar. Yang terlontar itu akan balik lagi menghantam tiga bola, lalu membuat bola pertama terlontar,” begitu ilustrasi Arga.

Maksud Arga, kepala daerah yang berhasil menduduki jabatan publik posisinya seperti bandul. Satu sisi harus menjaga representasi kepentingan partai politik, di sisi yang lain juga harus menjaga representasi kepentingan rakyat.

Iklan

“Kalau untuk kepentingan parpol, maka akan menjauh dulu dari kepeningan rakyat. Tapi nantinya akan kembali ke kepentingan rakyat dengan menjauh dulu dari kepentingan parpol,” beber Arga.

“Jadi tidak saklek kepentingan parpol saja, atau kepentingan rakyat saja,” sambung Pakar Politik UGM tersebut. Sebab, kepala daerah bagaimana pun adalah kader parpol, sekaligus juga dipilih (mendapat dukungan) dari rakyat.

Efektivitas retret tak kalah menarik

Selain drama politik retret yang kini riuh jadi pembahasan, bagi Arga, menyoal efeketivitas retret juga tak kalah menarik.

Pada dasarnya, retret diniatkan untuk sinkronisasi dan penyamaan visi antarinstitusi pemerintahan. Dulu antara Presiden (Prabowo) dengan jajaran Kementeriannya sekaligus penyamaan visi antarkementerian. Lalu sekarang adalah upaya harmonisasi antara pusat dengan daerah.

“Tapi itu tidak terlalu terlihat efektif selama ini (100 hari kerja Prabowo-Gibran). Belum tercermin dalam kerja-kerja secara kolaboratif,” papar Arga.

100 hari Prabowo-Gibran minim kejelasan

Pakar Politik UGM yang lain, Hendry Noor Julian memaparkan sejumlah ketidakjelasan kinerja Prabowo-Gibran dalam 100 hari masa kerjanya.

Di bidang supremasi hukum, Dosen Fakultas Hukum itu menyoroti melemahnya sistem check and balance dalam pemerintahan saat ini. Mengutip teori Donald Black dalam The Behavior of Law, Hendy menjelaskan bahwa kedekatan politik bisa membuat hukum kehilangan daya berlakunya.

Hal itu merujuk pada dominasi koalisi di parlemen yang berpotensi mengurangi efektivitas pengawasan terhadap kebijakan pemerintah.

“Alih-alih menjadi mekanisme kontrol, hubungan eksekutif dan legislatif saat ini cenderung bersifat partnership,” jelas Hendry dalam Diskusi Pojok Bulaksumur bertajuk “Dari Janji ke Aksi: 100 Hari Pemerintahan Prabowo-Gibran”, Jumat (7/2/2025).

Di awal pemerintahan, kata Hendry, ide Prabowo yang akan memaafkan koruptor menuai banyak kritikan dan kecaman. Sebab, menurut perspektif hukum, status seseorang sebagai koruptor harus didasarkan pada putusan hukum yang berkekuatan tetap.

“Jika benar ada mekanisme yang memungkinkan koruptor bebas setelah mengembalikan uang negara, hal ini akan menimbulkan banyak persoalan, terutama dalam hal penegakan hukum dan keadilan,” sambung Hendy.

Asta Cita tak terealisasi konkret

Sementara di waktu yang sama Mada Sukmajati dari Departemen Politik dan Pemerintahan Fisipol UGM menilai bahwa janji-janji dalam Asta Cita (delapan program prioritas) pemerintahan Prabowo-Gibran masih belum terealisasi secara konkret.

Dia menyebut beberapa program seperti makan siang bergizi gratis, pemeriksaan kesehatan gratis, dan pembangunan sekolah unggul masih minim kejelasan dalam perencanaan dan eksekusi.

“Kenyataannya implementasi masih parsial dan bahkan dalam beberapa aspek kita tidak tahu bagaimana mekanismenya,” ujar Mada.

Belum lagi efisiensi anggaran yang menyebabkan puluhan ribu pekerja kehilangan mata pencaharian karena kena PHK.

Kebijakan-kebijakan di 100 hari kerja Prabowo-Gibran, seolah tidak mencerminkan lahir dari hasil perencanaan yang matang dan kolaboraitif. Malah lebih terkesan asal-asalan.

Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Solo Fighter vs Keroyokan di Kandang Banteng, Benarkah Jateng Tak “Merah” Lagi? atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 22 Februari 2025 oleh

Tags: Megawatipakar ugmpdipretretUGM
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Gojek, gocar instant.CO
Urban

GoCar Instant di RSUP Sardjito Anti Ribet: Jawaban Buat Kamu yang Ingin Cepat, Murah, dan Tetap Aman di Jalan

12 Februari 2026
Diancam Pihak Resto karena Telat Antar Makanan Lebih Mudah Diterima daripada Gagal Jadi Sarjana Hukum UGM MOJOK.CO
Edumojok

Perjuangan Ojol sambil Kuliah: Pernah Diancam Pihak Resto karena Telat Antar Makanan, Kini Lulus Jadi Sarjana Hukum UGM

5 Februari 2026
Asriadi Cahyadi pemilik Dcell Jogja Store, toko musik analog. MOJOK.CO
Sosok

Saat Musik Analog Bukan Lagi Barang Jadul yang Bikin Malu, tapi Pintu Menuju Kenangan Masa Lalu bagi Pemuda di Jogja

4 Februari 2026
Tak Mau Jadi Beban Orang Tua, Mahasiswa Psikologi UGM Pilih Kuliah Sambil Ngojol untuk Bayar UKT MOJOK.CO
Edumojok

Tak Mau Jadi Beban Orang Tua, Mahasiswa Psikologi UGM Pilih Kuliah Sambil Ngojol untuk Bayar UKT

2 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kesulitan korban kekerasan seksual dalam berbicara

Korban Kekerasan Seksual Sering Jatuh Ditimpa Tangga: Sulit Bicara, Bukan Dipahami, tapi Malah Dihakimi

11 Februari 2026
3 Kuliner Jogja yang Tidak Lagi Merakyat- Mahal dan Berjarak (Wikimedia Commons)

3 Kuliner Jogja yang Tidak Lagi Merakyat: Ketika Lidah Lokal yang Murah Direbut oleh Lidah Wisatawan yang Dipaksa Mahal

11 Februari 2026
Gabung LPM/Persma demi jadi wartawan/jurnalis karena tampak keren. Kini menyesal setelah kerja di media online daerah dengan gaji rendah MOJOK.CO

Sesal Kerja Jadi Wartawan, Label Profesi Keren tapi Realitasnya Jadi Gembel dan Simbol Anak Gagal di Keluarga

10 Februari 2026
Orang dengan kesulitan ekonomi (kurang mampu atau miskin) di desa, justru paling tulus dalam kehidupan sehari-hari MOJOK.CO

Orang Miskin dan Sulit Ekonomi di Desa Justru Paling Tulus Peduli, Tapi Tak Dihargai karena Tak Bisa Bantu Materi

12 Februari 2026
Sinefil.MOJOK.co

Orang Nggak Mau Dijuluki “Sinefil” karena Tahu Itu Ejekan, tapi Tetap Banyak yang Mengaku “Si Paling Film”

9 Februari 2026
Jadi LO sertifikasi kerja rawan bujukan wanita simpanan

Jadi LO Sertifikasi Kerja di Jogja, Kena Modus “Eksplor Jogja” Berujung Bujukan Jadi Wanita Simpanan

12 Februari 2026

Video Terbaru

Kiai Faizi: Cara Hidup Merasa Cukup di Dunia yang Terlalu Buru-buru

Kiai Faizi: Cara Hidup Merasa Cukup di Dunia yang Terlalu Buru-buru

10 Februari 2026
Hutan Jawa dan Dunia yang Pernah Bertuah

Hutan Jawa dan Dunia yang Pernah Bertuah

7 Februari 2026
Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

4 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.