Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Kabar

Elang Jawa Terbang Bebas di Gunung Gede Pangrango, Tapi Masih Berada dalam Ancaman

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
13 Desember 2025
A A
Elang Jawa terbang bebas di Gunung Gede Pangrango, tapi masih berada dalam ancaman MOJOK.CO

Ilustrasi - Elang Jawa terbang bebas di Gunung Gede Pangrango, tapi masih berada dalam ancaman. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Pagi itu, langit di atas Danau Situ Gunung, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) dihiasi pemandangan yang jarang sekali disaksikan. Seekor Elang Jawa (Nisaetus bartelsi), yang diberi nama Raja Dirgantara, membuka sayapnya lebar dan meluncur bebas di udara.

Momen pelepasliaran yang dilakukan Sabtu (13/12/2025) lalu bukan sekadar seremoni. Ia menjadi simbol tekad kuat pemerintah dan pegiat konservasi untuk menjaga masa depan salah satu satwa paling langka di Pulau Jawa itu. 

Elang yang menjalani rehabilitasi di Pusat Pendidikan Konservasi Elang Jawa itu dilepas kembali setelah dinyatakan siap hidup di alam bebas, lengkap dengan perangkat GPS telemetry untuk memantau pergerakannya. 

elang jawa.MOJOK.CO
Raja Dirgantara “Mengudara”, Dilepasliarkan di Gunung Gede Pangrango dan Dipantau GPS (Mojok.co/Eko Susanto)

Data terbaru yang dihimpun tim riset Tiga Dekade Konservasi Elang Jawa menunjukkan populasi burung top predator itu meningkat dibandingkan survei pada 2009. Jumlah pasangan yang siap berkembang biak kini diperkirakan mencapai 511 pasang di seluruh Pulau Jawa, meningkat jika dibandingkan sekitar 325 pasang pada studi sebelumnya.

Angka ini tentu membangkitkan optimisme. Peningkatan jumlah Elang Jawa menunjukkan bahwa upaya konservasi, termasuk rehabilitasi dan perlindungan habitat di wilayah taman nasional seperti TNGGP, membawa kontribusi nyata.

Namun, statistik itu juga menyimpan catatan penting. Meski jumlah elang lebih banyak dari satu dekade lalu, statusnya tetap sangat rentan jika ancaman ekologis tidak diredam. Penelitian dari tim riset Tiga Dekade Konservasi Elang Jawa menunjukkan bahwa tanpa upaya serius, nasib spesies ini masih bisa terancam di masa depan.

Habitat dan fragmentasi

Salah satu faktor yang membuat Elang Jawa tetap berada dalam risiko adalah kerusakan dan degradasi habitat. Satwa yang membutuhkan hutan primer dengan pohon-pohon tinggi kini menghadapi kenyataan bahwa hutan yang tersisa di Jawa makin terfragmentasi karena aktivitas manusia.

Profesor Syartinilia dari IPB University, yang selama 20 tahun terlibat dalam riset tentang Elang Jawa, menjelaskan bahwa semakin kecil ukuran petak hutan primer, semakin rendah kemampuan spesies ini untuk bertahan dalam jangka panjang. Isolasi habitat menciptakan “pulau‐pulau hutan” yang terpisah satu sama lain, sehingga menghambat pergerakan dan pertukaran gen antar kelompok. 

“Ini menjadi tantangan serius bagi masa depan Elang Jawa, meskipun jumlah mereka secara keseluruhan terlihat meningkat,” kata Syartinilia kepada Mojok, Kamis (11/12/2025).

elang jawa.MOJOK.CO
Menurut Syartinilia, populasi elang Jawa memang meningkat dibanding satu dekade lalu. Namun, ia masih berada di dalam ancaman. Dan, ancaman ini datang dari aktivitas manusia. (Mojok.co/Eko Susanto)

Selain isu habitat, Elang Jawa juga menghadapi ancaman lain yang tidak kalah serius: yakni perdagangan satwa liar ilegal. Walaupun dilindungi, penjualan burung langka di pasar gelap, termasuk lewat platform online, masih terjadi. 

Menurut Syartinilia, dalam beberapa kasus, individu yang ditangkap dari alam untuk perdagangan bisa mengurangi jumlah populasi yang bertelur dan memperkecil kesempatan generasi baru bertahan.

Aktivitas manusia seperti perambahan hutan, penggunaan lahan untuk pertanian intensif, hingga kebakaran hutan tak kalah memberi tekanan pada keseimbangan ekosistem yang menopang kehidupan Elang Jawa.

Perlunya pendekatan holistik dalam konservasi

Para ahli konservasi menilai bahwa pendekatan yang holistik sangat penting untuk memastikan keberlangsungan hidup Elang Jawa. Tidak cukup hanya melindungi kawasan taman nasional atau memberi makan burung yang direhabilitasi.

Menjawab tantangan itu, Kementerian Kehutanan tengah memproses penetapan tujuh kawasan konservasi baru yang bisa menjadi penopang keberlangsungan habitat Elang Jawa. Tambahan kawasan konservasi itu berupa Taman Nasional (TN) dan Taman Hutan Raya (Tahura).

Iklan
elang jawa.MOJOK.CO
Elang Jawa Terbang Bebas di Gunung Gede Pangrango,  Tapi Masih Berada dalam Ancaman. (Mojok.co/Eko Susanto)

“Saat ini sedang berproses penetapan dari usulan Tahura di Gunung Muria. Kemudian Gunung Slamet sebagai Taman Nasional, yang diusulkan oleh Pemprov Jawa Tengah. Kemudian, Tahura Gunung Lawu oleh Pemprov Jawa Timur. Juga sedang berproses usulan Taman Nasional Gunung Sanggabuana di Kabupaten Karawang, Purwakarta, Bogor, dan Cianjur,” jelas Wakil Menteri Kehutanan Rohmat Marzuki dalam momen pelepasliaran Raja Dirgantara, Sabtu (13/12/2025).

Adapun, tiga usulan Tahura lain di Jawa Barat yakni Gunung Wayang di Kabupaten Bandung, Gunung Cikuray di Kabupaten Garut, dan Gunung Cibungur di Kabupaten Purwakarta.

Tak hanya dari sisi pemerintah, sektor swasta juga turut berperan. Program Director Bakti Lingkungan Djarum Foundation (BLDF), Jemmy Chayadi, menyebut semula pihaknya fokus konservasi Macan Tutul Jawa di Gunung Muria. 

Jemmy Chayadi menerima award dari Wamen Kehutanan Rohmad Marzuki. (Mojok.co/Eko Susnato)

Dalam perjalanannya, ternyata Gunung Muria juga menjadi rumah bagi Elang Jawa. Temuan itulah yang mendorong Djarum Foundation bekerja bersama para pegiat konservasi burung pemangsa, seperti tim Burung Indonesia hingga para ahli lapangan. 

Keberadaan Elang Jawa di Gunung Muria menjadi alasan Djarum Foundation mulai terlibat langsung dalam pelestarian spesies tersebut. Jemmy menekankan perlunya kolaborasi jangka panjang untuk keberlangsungan spesies Elang Jawa.

Alhasil, pelepasliaran Raja Dirgantara adalah momen penting yang memberikan semangat baru bagi konservasi Elang Jawa.

“Semoga apa yang kami sudah pelajari di konservasi Macan Tutul Jawa bisa menjadi inspirasi untuk [pelestarian] Elang Jawa,” ungkapnya.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Raja Dirgantara “Mengudara”, Dilepasliarkan di Gunung Gede Pangrango dan Dipantau GPS atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

 

Terakhir diperbarui pada 17 Desember 2025 oleh

Tags: elangelang jawaGunung GedeGunung Gede Pangrangokonservasi elang jawapilihan redaksisatwa langka
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Curhat dan ziarah di makam ibu, tempat terbaik pulang tanpa penghakiman MOJOK.CO
Sehari-hari

Curhat di Makam Ibu Dianggap Lebay dan Sia-sia, Tapi Jadi Tempat Pulang Terbaik yang Penuh Makna dan Rasa Lega

5 Juni 2026
pekerja kantoran.MOJOK.CO
Urban

Akal-akalan “Kantor adalah Keluarga”, Menguras Mental dan Menggerogoti Karier

4 Juni 2026
Riset, Peneliti, Guru Besar Abal-Abal.MOJOK.CO
Sekolahan

Sekte “Pemuja Kargo” di Ekosistem Kampus Indonesia yang Mencetak Peneliti Palsu dan Ilmuwan Abal-Abal

3 Juni 2026
Adegan horor tiap awal bulan di kehidupan dewasa. Gajian ludes seketika karena kebutuhan MOJOK.CO
Urban

Awal Bulan di Kehidupan Dewasa Itu Horor: Setelah Gajian Gaji Langsung Ludes di Kalkulator

2 Juni 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pengalaman Kuliah di Polandia, Eropa Sambil Jadi Tour Guide. MOJOK.CO

Pengalaman Kuliah di Eropa Sambil Jadi Tour Guide bikin Enggan Kembali ke Tanah Air, tapi Tak Ada Jalan Lain Selain Pulang

4 Juni 2026
Campus League Basketball 2026 Regional Jakarta Season 1 tidak hanya jadi panggung prestasi basket, tapi juga warna baru solusi mobilitas masa depan anak muda dengan motor listrik Polytron MOJOK.CO

Puncak Campus League Basketball 2026 Jakarta S1: Tak Hanya Jadi Panggung Basket tapi Juga Hadirkan Solusi Mobilitas Masa Depan Anak Muda

2 Juni 2026
Dompet digital selamatkan pedagang UMKM. MOJOK.CO

4 Kiat Pedagang Es Campur dan Roti Kukus yang Tetap Laris di Tengah Situasi Pelik

3 Juni 2026
Katanya Sekolah Itu Tiket VIP Hidup Mapan, Ternyata Jadi Ibu Rumah Tangga yang Bikin Goyah Negara MOJOK.CO

Katanya Sekolah Itu Tiket VIP Hidup Mapan, Ternyata Jadi Ibu Rumah Tangga yang Bikin Goyah Negara

5 Juni 2026
Dhia Hana Putri Saraswati mahasiswa Umsura dan Unair. MOJOK.CO

Kena Mental Kuliah di Umsura dan Unair Sekaligus, Puluhan Kali Ingin Menyerah tapi Kuat karena Ajaran Muhammadiyah

5 Juni 2026
Derita Bisnis Laundry: Cuan 15 Juta Hilang karena Kebodohan MOJOK.CO

Pengalaman Bisnis Laundry yang Cukup Menyedihkan, Berharap Cuan Besar 15 Juta per Bulan tapi Cuma Dapat 3 Juta: Boncos karena Kebocoran-Kebocoran Sepele

4 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.