Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Kilas

Seumur Hidup Melawan, Mengapa Kartini Akhirnya Mau Dipoligami?

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
21 April 2023
A A
Seumur Hidup Melawan, Mengapa Kartini Akhirnya Mau Dipoligami? MOJOK.CO

Ilustrasi Kartini (Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Kartini melawan poligami sepanjang hidupnya. Namun, seperti yang kita tahu, ia harus mengalah dan bersedia menjadi istri kedua. Lantas, apa yang bikin Kartini mau dipoligami?

Kartini lahir di lingkungan bangsawan, yang mana ayahnya adalah seorang Bupati Jepara. Sebagai perempuan dari keluarga priayi, ia juga diharuskan menikah dengan seorang berdarah biru pula.

Sebenarnya, Kartini memahami tradisi ini. Namun, ada satu hal yang ia tolak, yakni poligami. Dalam pandangan Kartini, tak ada perempuan yang bahagia dimadu. Baginya juga, seorang laki-laki akan kehilangan kehormatannya jika menikahi lebih dari satu perempuan.

Kartini yang menolak poligami

Sejak kecil, Kartini sudah paham betul bagaimana pahitnya hidup dalam lingkungan poligami. Ngasirah, sang ibu, pernah merasakan hidup dalam poligami sebab ayahnya harus menikahi perempuan lain.

Dalam surat-surat Kartini yang dihimpun dalam buku Habis Gelap Terbitlah Terang, dengan penuh menyayat hati, Kartini menuliskan bagaimana pandangannya soal cinta dan laki-laki yang memadu perempuan.

“Cinta! Apa yang kita ketahui tentang cinta? Bagaimana kita dapat mencintai seorang pria yang tak pernah kita kenal sebelumnya?” tulisnya, yang dikutip dalam buku terbit pertama kali dalam judul Door Duisternis tot Licht (1911) itu.

“Bagaimana pria itu dapat mencintai kita? Tentu saja mustahil. Perempuan dan laki-laki muda dipisahkan, dan tak pernah diizinkan untuk berjumpa,” sambungnya, dalam surat tertanggal 25 Mei 1899 tersebut.

Kalimat itu Kartini tulis dan kirimkan kepada sahabtnya, Rosa Abendanon, setelah sang ayah akan menjodohkannya dengan Bupati Rembang Raden Adipati Djojoadiningrat. Padahal, saat itu Djojoadiningrat sudah punya istri.

Kala itu, Kartini sendiri juga sedang dalam pingitan, alias “dikurung” di rumah sambil menunggu lamaran yang datang. Dengan demikian, saat menerima lamaran Djojoadiningrat, itu adalah pertemuan pertama mereka.

“Bagaimana mungkin seorang pria dan wanita dapat mencintai satu dengan yang lain ketika mereka baru berjumpa pertama kali dalam kehidupan ini setelah mereka terikat dalam pernikahan? Saya tak akan pernah, tak akan pernah jatuh cinta,” tulisnya.

“Mencintai, pertama-tama membutuhkan rasa hormat, menurut hemat saya; dan saya tidak dapat menghormati pemuda Jawa muda. Bagaimana saya bisa menghormati seseorang yang telah menikah dan menjadi seorang ayah, dan yang telah memiliki istri yang melahirkan anak-anaknya, membawa perempuan lain ke dalam rumahnya?” tegasnya, melalui surat tertanggal 6 November 1899 itu.

Namun, pada akhirnya, Kartini mengalah dari sikapnya itu. Ia menerima lamaran Adipati Djojoadiningrat dan menikah di usia 24 tahun.

Alasan mau dipoligami

Kerelaan Kartini untuk dipoligami bukan tanpa alasan. Meski poligami merupakan racun yang selama ini ia perangi, keinginannya untuk menjaga martabat sang ayah, RM Adipati Sosrodiningrat, bikin ia bersedia untuk jadi istri kedua.

Misalnya, beratnya keputusan Kartini ini pernah ditulis Krisnina Maharani dalam bukunya, Pikiran Kartini (2015). Ia mengutip surat Kartini kepada Abendanon tertanggal 14 Juli 1903.

Iklan

“Saya telah berjuang, bergulat, menderita, dan saya tidak dapat menjadikan nasib celaka Ayah, dan dengan demikian membawa bencana bagi semua yang saya cintai,” tulisnya.

Nasib celaka, sebagaimana yang ia maksud, adalah kondisi sang ayah yang kerap dirundung dan jadi bahan gosip sesama koleganya lantaran Kartini tak kunjung menikah. Padahal, Kartini sudah 24 tahun, yang untuk masa itu dipandang sebagai perawan tua.

Ayahnya sendiri sebenarnya juga tak terlalu memaksakan kehendaknya. Namun, sikap Kartini yang ingin menjaga kehormatan sang ayah membuatnya keukeuh bahwa keputusannya menerima lamaran Adipati Djojoadingrat adalah pilihan tepat.

Toh, Bupati Rembang sendiri juga punya latar belakang pendidikan yang bagus. Ia pernah bersekolah di Belanda, dan selama menjabat sebagai bupati, ia tergolong berprestasi karena bisa mengendalikan peredaran opium yang membahayakan masyarakat kala itu.

Syarat mau dinikahi

Selain itu, ihwal lain yang tak banyak diungkap, rupanya Kartini juga mengajukan sejumlah “syarat” kepada calon suami yang akan memperistrinya.

Dalam buku Pikiran Kartini, syarat itu di antaranya membolehkan Kartini membuka sekolah dan mengajar para putri pejabat di Rembang. Ia juga boleh membawa ahli ukir Jepara ke Rembang untuk mengembangkan kerajinan itu secara komersial.

Syarat lain, misalnya, yakni terkait upacara pernikahan. Kartini menolak prosesi jalan jongkok, berlutut, menyembah kaki mempelai pria, dan akan berbicara dalam bahasa Jawa Ngoko (bahasa sehari-hari untuk sebaya), bukan Kromo Inggil (bahasa yang lebih halus; biasanya untuk berbicara dengan orang yang lebih tua.

Syarat-syarat ini, untuk ukuran zaman itu yang begitu feodal, termasuk progresif dan radikal.

Sayangnya, kehidupan Kartini di Rembang hanya berlangsung kira-kira satu tahun. Ia wafat pada 17 September 1904 pada usia 25 tahun, tepat empat hari setelah melahirkan putranya, Raden Mas Soesalit Djojodiningrat.

Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA Surat Terbuka Kartini untuk Aurel Hermansyah dan tulisan menarik lainnya di Kanal Pemilu.

Terakhir diperbarui pada 21 April 2023 oleh

Tags: JeparaKartinipoligamirembang
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

TKI-TKW Rembang dan Pati, bertahun-tahun kerja di luar negeri demi bangun rumah besar di desa karena gengsi MOJOK.CO
Urban

Ironi Kerja di Luar Negeri: Bangun Rumah Besar di Desa tapi Tak Dihuni, Tak Pulang demi Gengsi dan Standar Sukses yang Terus Berganti

7 Februari 2026
Rekomendasi penginapan di Lasem, Rembang. MOJOK.CO
Urban

Lasem Lebih Terkenal daripada Rembang tapi Hanya Cocok untuk Wisata, Tidak sebagai Tempat Tinggal

6 Februari 2026
Rekomendasi penginapan di Lasem, Rembang. MOJOK.CO
Sehari-hari

5 Penginapan di Lasem: Dari Megahnya Bangunan Tionghoa hingga Sunyinya Pengunjung

3 Februari 2026
Ngerinya jalan raya Pantura Rembang di musim hujan MOJOK.CO
Catatan

Jalan Pantura Rembang di Musim Hujan adalah Petaka bagi Pengendara Motor, Keselamatan Terancam dari Banyak Sisi

12 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

self reward.mojok.co

Self Reward Bikin Dompet Anak Muda Tipis, Tapi Sering Dianggap sebagai Keharusan

6 Februari 2026
Surat Wasiat dari Siswa di NTT Itu Tak Hanya Ditujukan untuk Sang Ibu, tapi Bagi Kita yang Gagal Melindungi Korban Kekerasan Anak. MOJOK.CO

Surat Wasiat Siswa di NTT Tak Hanya bikin Trauma Ibu, tapi Dosa Kita Semua yang Gagal Melindungi Korban Kekerasan Anak

7 Februari 2026
TKI-TKW Rembang dan Pati, bertahun-tahun kerja di luar negeri demi bangun rumah besar di desa karena gengsi MOJOK.CO

Ironi Kerja di Luar Negeri: Bangun Rumah Besar di Desa tapi Tak Dihuni, Tak Pulang demi Gengsi dan Standar Sukses yang Terus Berganti

7 Februari 2026
Derita punya pasangan hidup sandwich generation apalagi bonus mertua toxic MOJOK.CO

Derita Punya Pasangan Hidup Sandwich Generation sekaligus Mertua Toxic, Rumah Tangga bak Neraka Dunia

5 Februari 2026
Sriwijaya FC, Tim Bola “Mainan” Politisi yang Dikelola seperti Toko Kelontong, Tapi Saya Tak Malu Pernah “Dibaptis” Jadi Fansnya.MOJOK.CO

Sriwijaya FC, Tim Bola “Mainan” Politisi yang Dikelola seperti Toko Kelontong, Tapi Saya Tak Malu Pernah “Dibaptis” Jadi Fansnya

5 Februari 2026
Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

3 Februari 2026

Video Terbaru

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

4 Februari 2026
Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

3 Februari 2026
Buya Hamka dan Penangkapan yang Disederhanakan

Buya Hamka dan Penangkapan yang Disederhanakan

31 Januari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.