Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Kotak Suara

PDIP Mau Gabung Koalisi Besar Asal Dapat Jatah Capres, Wajar?  

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
7 April 2023
A A
Ilustrasi Megawati Sukarnoputri (Ilustrasi Mojok.co)

Ilustrasi Megawati Sukarnoputri (Ilustrasi Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, memberikan lampu hijau untuk bergabung ke koalisi besar. Syaratnya, PDIP harus mendaptkan jatah RI 1 alias calon presiden (capres).

Syarat tersebut diungkapkan oleh politisi PDIP Budiman Sujatmiko. Ia mengatakan, Megawati telah mengamini  kemungkinan gabung ke koalisi besar.

“Sama-sama terbuka bagi PDIP [untuk bergabung dengan koalisi besar],” kata Budiman, kepada media, Kamis (6/4/2023).

Koalisi besar sendiri mencuat setelah terjadi pertemuan lima parpol yang dengan Presiden Jokowi pada Minggu (2/4/2023) lalu di Kantor PAN. Adapun kelima parpol itu adalah Gerindra, PKB, PAN, PPP, dan Golkar.

Budiman menambahkan, sangat masuk akal bagi PDIP jika mereka meminta jatah capres. Alasannya, kata Budiman, karena jika dibanding lima parpol lain kursi PDIP adalah yang paling banyak di Senayan.

“Sebagaimana dikatakan Ibu Ketum, tentu targetnya PDIP RI 1. Wajar kan. Artinya Bu Ketum Megawati sudah menegaskan bersedia untuk masuk koalisi besar, tentu saja yang perlu ditegaskan target PDIP adalah RI 1. RI 2-nya terbuka bagi yang lain,” sambungnya.

PPP memahami keinginan PDIP

Wakil Ketua Umum (Waketum) PPP, Arsul Sani, menilai hal yang wajar jika PDIP memberikan syarat jatah capres jika bergabung dengan koalisi besar.

Arsul menyampaikan, alasannya karena parpol berlambang kepala banteng itu memiliki kursi terbanyak di parlemen.

“Wajar aja dong kalau PDIP itu menginginkan seperti itu wong PDIP partai terbesar, kursinya paling banyak dan hasil-hasil survei masih paling tinggi. Kalau kemudian meletakkan syarat itu sangat wajar,” kata Arsul, Rabu (5/4/2023) kemarin.

Meski demikian, dia juga mengatakan bahwa pembahasan capres yang akan diusung oleh koalisi besar masih akan terus dibahas.

“Masih ada pembicaraan [capres yang diusung], itu menggelinding terus,” pungkasnya.

Gerindra menahan diri, PKB mantap di Cak Imin

Ketua DPP Harian Gerindra, Sufmi Dasco Ahmad mengatakan jika semua pihak harus menahan diri pada koalisi ini. Ia pun menganggap menyampaikan permintaan capres dalam wacana koalisi besar di Pilpres 2024 terlalu dini.

“Saya pikir masih terlalu dini kita mau bicara soal capres, karena partai-partai tentunya juga mempunyai aspirasi yang harus kita sama-sama dengarkan,” ucap Dasco, Rabu Rabu (5/4/2023) kemarin.

Dasco mengakui, partainya terbuka soal peluang terbentuknya koalisi besar yang menggabungkan Koalisi Kebangkitan Indonesia Raya (KKIR) oleh Gerindra dan PKB, dengan Koalisi Indonesia Bersatu (KIB) yang digagas Golkar, PAN, dan PPP.

Iklan

Ia juga mengatakan bahwa koalisi itu sejak awal memang membuka terhadap partai-partai yang ingin bergabung. Namun, kata Dasco, keputusan soal itu tetap harus disepakati bersama PKB.

“Namun, segala sesuatu nanti kita akan putuskan bersama tentunya sesuai kesepakatan PKB dan Gerindra,” katanya.

Sementara di tempat terpisah, Ketua DPP PKB Daniel Johan, mengaku bahwa meski wacana koalisi besar belum tentu jelas, pihaknya sudah “jelas dan mantap” mendorong Ketua Umumnya, Cak Imin, sebagai capres.

“Iya dong PKB tetap mengajukan Cak Imin karena itu amanat muktamar. Pegangan dasar PKB bersama Gerindra membentuk KKIR adalah capres-cawapres ditentukan langsung oleh kedua ketum, Cak Imin dan Pak Prabowo, dan kesepakatan ini masih dipegang teguh oleh kedua partai,” tegasnya.

Sebaiknya PDIP tak gabung koalisi besar

Pengamat politik Universitas Esa Unggul, Jamiluddin Ritonga, menilai bahwa sebaiknya PDIP tak usah gabung ke koalisi besar. Menurutnya, ini penting untuk menjaga marwah Megawati, termasuk keyakinan PDIP bahwa mereka bisa menang dengan mengusung capresnya sendiri.

Bagi Jamiluddin, modal politik PDIP untuk jalan sendiri sebenarnya sudah cukup mumpuni. Buktinya, jagoan mereka, Ganjar Pranowo, elektabilitasnya selalu di atas, begitu juga dengan PDIP.

“Untuk menjaga marwah PDIP, Megawati Soekarnoputri sebaiknya tidak bergabung ke Koalisi Besar,” kata Jamiluddin, Kamis (6/4/2023).

“Kadernya, Ganjar Pranowo, juga selalu nomor satu soal elektabilitas. Karena itu, sosok Ganjar lebih dari cukup untuk mendampingi Puan Maharani dalam Pilpres 2024,” tegasnya.

Selain itu, lanjutnya, persyaratan yang diajukan PDIP tentu sangat menyulitkan bagi koalisi besar. Sebab, parpol-parpol lain, termasuk Gerindra dan Golkar, juga punya jagoannya masing-masing sebagai capres.

Persyaratan yang diajukan PDIP, tampaknya akan membuat Gerindra dan Golkar sulit menerimanya. Dengan demikian, menurut Jamiluddin, hal itu juga akan menyulitkan keberlangsungan koalisi besar nantinya.

“Bagi Gerindra, Ketua Umumnya Prabowo Subianto sudah harga mati harus jadi capres. Karena itu, Gerindra bisa saja tarik diri bila PDIP bergabung ke Koalisi Besar dan tetap memaksakan capresnya dari mereka,” ucapnya.

Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA Punya Pembeda, PSI Yakin Punya Kontribusi Jika Gabung Koalisi Besar dan tulisan menarik lainnya di kanal Kilas.

Terakhir diperbarui pada 7 April 2023 oleh

Tags: ganjar pranowokoalisi besarMegawatipdipPemilu 2024Puan Maharani
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Pakar UGM nilai, ikap Megawati atas retret: menjaga kewibawaan PDIP MOJOK.CO
Aktual

Ketundukan Kepala Daerah pada Megawati: Marwah PDIP hingga Efek Retret yang Belum Tampak Hasilnya

22 Februari 2025
Hasto Wardoyo pilih urus sampah di Kota Jogja di tengah ketidakpastian instruksi retret Megawati untuk kader PDIP MOJOK.CO
Aktual

Urus 1.600 Ton Sampah Kota Jogja di Tengah “Drama”

21 Februari 2025
Menanti keputusan Megawati yang belum pasti di DPD PDIP Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) MOJOK.CO
Aktual

Suasana Serba Tak Pasti di Kantor DPD PDIP DIY Menanti Kepastian Megawati

21 Februari 2025
Solo Fighter PDIP vs Keroyokan di Kandang Banteng, Pilkada 2024.MOJOK.CO
Aktual

Solo Fighter vs Keroyokan di Kandang Banteng, Benarkah Jateng Tak “Merah” Lagi? 

29 November 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pemuda Jakarta kerja di Jepang untuk bayar utang keluarga. MOJOK.CO

Gila-gilaan Kerja di Jepang tapi Tak Bisa Menikmati Upah Besar, sebab Saya Generasi Sandwich yang Harus Tebus Utang Keluarga

26 Februari 2026
Perempuan Jawa Timur kerja di luar negeri rata-rata menjadi ART dan perawat lansia (Caregiver) di Taiwan karena mudah dan gaji besar MOJOK.CO

Susah Payah Kerja di Taiwan: Gaji Rp13 Juta tapi Hampir Gila, Keluarga Tak Pernah Peduli Kabar tapi Cuma Peras Uang

24 Februari 2026
Saya Nonmuslim dan Gemar War Takjil seperti Meme yang Viral Itu Mojok.co

Saya Nonmuslim dan Gemar War Takjil seperti Banyak Meme yang Viral Itu

23 Februari 2026
Sisi Gelap AI dan Ancaman Imperialisme Digital ala 'Big Tech' MOJOK.CO

Sisi Gelap AI dan Ancaman Imperialisme Digital ala ‘Big Tech’

25 Februari 2026
Bisnis coffe shop, rumah dekat kafe, jogja.MOJOK.CO

Derita Punya Rumah Dekat Tempat Nongkrong Kekinian di Jogja: Cuma Bikin Emosi dan Nggak Bisa Tidur

26 Februari 2026
Bertahun-tahun Jadi User Motor Matic, Memilih Beralih ke Honda Revo yang Nggak “Good Looking” demi Selamatkan Dompet dan Nyawa MOJOK.CO

Bertahun-tahun Jadi User Motor Matic, Memilih Beralih ke Honda Revo yang Nggak “Good Looking” demi Selamatkan Dompet dan Nyawa

24 Februari 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

25 Februari 2026
Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

23 Februari 2026
Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.