Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Kotak Suara

5 Poin Sentilan SBY di Buku ‘Pilpres 2024 & Cawe-Cawe Jokowi’

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
27 Juni 2023
A A
buku sby mojok.co

Ilustrasi SBY dan Jokowi (Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) merilis buku berjudul The President Can Do No Wrong: Pilpres 2024 & Cawe-Cawe Presiden Jokowi (2024). Seperti apa isinya?

Buku yang ia sebut “berisi pandangan pribadi” itu meyinggung banyak hal. Khususnya hal-hal yang berkaitan dengan dugaan keikutsertaan Jokowi di Pilpres 2024. Dalam versi PDF yang diterima Mojok, setidaknya ada lima hal yang SBY sorot dalam buku ini.

Mulai dari pandangannya tentang cawe-cawe Jokowi dalam Pilpres, isu hubungan Jokowi dan Anies Baswedan, hingga upaya kudeta KSP Moeldoko.

Sebagai informasi, buku bersampul merah dan memiliki ketebalan 27 halaman ini tak akan dijual untuk umum. Sekretaris Majelis Tinggi Partai Demokrat Andi Mallarangeng mengatakan buku hanya untuk para kader.

Lantas, seperti apa isinya? Berikut Mojok telah merangkumnya.

#1 Cawe-cawe Jokowi itu ‘tak masalah’

Pertama, SBY menyinggung soal Jokowi akan melakukan cawe-cawe dalam Pilpres 2024. Dalam pengantarnya, mantan orang nomor satu RI ini mengatakan bahwa ada dua jenis cawe-cawe.

Pertama, cawe-cawe dalam hal buruk, dengan sifat destruktifnya yang amat lekat dengan konflik kepentingan. Sementara ada juga cawe-cawe yang baik, dengan sifatnya yang membangun dan punya kepentingan bagi orang banyak.

Menurut pandangan pribadi SBY, apa yang dilakukan Jokowi adalah cawe-cawe yang baik karena semua demi kepentingan bangsa dan negara.

“Jadi, kalau mengatakan bahwa cawe-cawe itu demi kepentingan bangsa dan negara perlulah rakyat Indonesia diyakinkan bahwa cawe-cawe Presiden Jokowi benar-benar demi kepentingan bangsa dan negara,” tulisnya.

#2 Soal Jokowi menghendaki dua pasangan capres-cawapres

Masalah kedua ini masih menyangkut cawe-cawe Jokowi. Kata SBY, menurut sumber yang ia yakini kredibel, Jokowi hanya akan menghendaki dua pasangan capres. Bukan tiga, apalagi empat.

SBY mengaku tak mempermasalahkan jika Jokowi berkehendak demikian. Ia juga bisa menerima jika dalam cawe-cawenya sekalipun Jokowi terang-terangan mau dua pasang capres-cawapres.

“Siapapun di negeri ini, termasuk presiden, tidak dilarang punya kehendak dan harapan,” jelasnya.

Namun, lanjut SBY, yang jadi masalah adalah ketika dalam cawe-cawe dan kehendaknya Jokowi melanggar hukum dan menyalahgunakan jabatannya untuk mencegah pasangan capres ketiga.

“Misalnya, sejumlah pemimpin parpol ‘diancam’, baik langsung maupun tidak langsung, akan diperkarakan secara hukum dan akan masuk ke ranah pengadilan jika mereka tidak menuruti keinginan Pak Jokowi,” ia mencontohkan.

Iklan

#3 Tak masalah Jokowi tak suka Anies, asalkan…

SBY juga menangkap persepsi publik yang melihat bahwa Jokowi tidak menyukai Anies Baswedan, capres yang diusung Koalisi Perubahan—termasuk Partai Demokrat di dalamnya.

Kata SBY, ia tidak mempermasalahkannya, karena itu hak pribadi Jokowi. Namun, akan jadi masalah apabila cara yang dipakai Jokowi untuk “menjegal” Anies sebagai presiden adalah dengan cara-cara di luar etika dan menyalahgunakan kekuasaan.

“Misalnya, dicari-cari kesalahan Anies Baswedan secara hukum, dan akhirnya dijadikan tersangka atas pelanggaran hukum tertentu.”

#4 Jokowi ‘endorse’ capres tertentu

SBY juga mengomentari sejumlah pemberitaan yang menyebut Jokowi akan “meng-endorse” salah satu capres. Sekali lagi, SBY tak mempermasalahkan itu karena secara hukum itu tidak keliru.

“Yang penting, seperti yang telah saya sampaikan sebelumnya, jangan sampai sumber daya dan perangkat negara digunakan untuk memenangkan putra-putra beliau itu,” tegasnya, memberikan syarat.

Kalau itu terjadi, lanjutnya, di samping melanggar undang-undang juga membuat Pemilunya tidak adil.

“Tidak adil bagi kandidat yang lain beserta para pemilihnya,” tulis SBY.

#5 Soal Jokowi jadi ‘penentu akhir’

Bagian kelima buku ini membahas pandangan SBY terkait pandangan publik yang menyebut bahwa Jokowi akan menjadi penentu akhir bagi parpol-parpol dalam pilpres mendatang.

“Menurut pengakuan dan pernyataan sejumlah pimpinan partai politik, baik secara terbuka maupun tertutup, Pak Jokowilah yang akan menentukan dan memberikan kata akhir siapa pasangan capres- cawapres yang mesti diusung oleh partai-partai politik itu,” tulis SBY.

Terkait pandangan itu, SBY mengaku tak ada yang perlu dipermasalahkan. Malahan, jika seandainya hal itu benar, ketua-ketua parpol lah yang lebih pantas dikritisi.

“Mengapa mereka mau diperlakukan seperti itu?,” kata SBY.

Bonus: soal kudeta Moeldoko

Selain lima hal di atas yang ia highlight, dalam penutupnya SBY juga membahas soal upaya hukum peninjauan kembali (PK) yang diajukan Moeldoko terhadap putusan MA terkait KLB di Deli Serdang. Ia menilai PK Moeldoko itu mestinya “tak dapat dimenangkan”.

SBY juga menyinggung soal kabar adanya tekanan terhadap MA untuk memenangkan PK Moeldoko. Ia pun mewanti-wanti agar MA tak serta-merta mempercayai hal itu.

“Jika benar memang ada tekanan dari ‘pihak-pihak tertentu atau dari orang kuat’ saya berharap MA tidak serta merta mempercayainya,” pungkasnya.

Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Purnawan Setyo Adi

BACA JUGA 4 Temuan KPU Saat Verifikasi Administrasi Bacaleg DPR RI, Hampir 90 Persen Tak Penuhi Syarat

Cek berita dan artikel lainnya di Google News

Terakhir diperbarui pada 27 Juni 2023 oleh

Tags: Buku SBYCawe-cawe JokowiPemilu 2024sby
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Sowan ke rumah Jokowi di Solo. MOJOK.CO
Ragam

Alasan Warga Sowan ke Rumah Jokowi hingga Rela Menunggu Berjam-jam

26 Februari 2025
Rasanya Satu Kelompok KKN dengan Anak Caleg, KKN Undip.MOJOK.CO
Kampus

Rasanya Satu Kelompok KKN dengan Anak Caleg, Semua Urusan Jadi Mudah Meski Suasana Bikin Tak Betah

14 Juli 2024
Komeng: Olok-Olok Rakyat Biasa untuk Menertawakan Politik MOJOK.CO
Esai

Komeng Adalah Bentuk Olok-Olok Paling Menohok yang Mewakili Lapisan Masyarakat Biasa untuk Menertawakan Politik

19 Februari 2024
bayi prabowo gibran di sumatera selatan.MOJOK.CO
Ragam

Kisah Bidan yang Membantu Persalinan Bayi Bernama Prabowo Gibran di Sumatera Selatan

16 Februari 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Gagal kuliah di PTN karena tidak lolos SNBP, padahal masih ada jalur SNBT dan UM UGM

Keterima ITS tapi Tak Diambil demi Nama Besar UGM, Malah Merasa Bodoh karena Gagal SNBP padahal Hanya Seleksi “Hoki-hokian” dan Kuliah di PTN Tak Pasti Aman

1 April 2026
Kerja di Pabrik, Kuliah S2, dan Dihajar Asam Lambung MOJOK.CO

Kerja di Pabrik, Kuliah S2, dan Dihajar Asam Lambung

6 April 2026
Astrea Grand, Motor Honda yang Menjadi Mitos MOJOK.CO

Astrea Grand, Motor Honda Penuh Dusta yang Celakanya Pernah Menjadi Mitos dan Membuatnya Dikagumi karena Motor Ini Memang Meyakinkan

5 April 2026
Kursi kereta eksekutif dibandingkan kereta ekonomi premium lebih nyaman untuk mudik Lebaran

Saya Kapok Naik Kereta Ekonomi Premium, Ditipu Embel-embel Mirip Eksekutif padahal Hampir “Mati” Duduk di Kursi Tegak

1 April 2026
Pilih resign dan kerja jadi penulis di desa ketimbang kerja di luar negeri di Singapura

Resign dari Perusahaan Bergaji 3 Digit di Luar Negeri karena Tak Merasa Puas, Kini Memilih Kerja “Sesuai Passion” di Kampung Halaman

2 April 2026
Ribetnya urusan sama pesilat. Rivalitas perguruan pencak silat seperti PSHT dan PSHW (SH Winongo) bikin masalah sepele jadi alasan rusuh MOJOK.CO

Makin Muak ke Ulah Pesilat: Perkara Tak Disapa Duluan dan Beda Perguruan Langsung Dihajar, Dikasih Fakta Terang Eh Denial

7 April 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026
Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

4 April 2026
Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

2 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.