Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Konsultasi Celengan

Kok Bisa-bisanya Udah Punya Gaji 20 Juta di Jakarta Masih Ngos-ngosan?

Haryo Setyo Wibowo oleh Haryo Setyo Wibowo
13 Juni 2019
A A
gaji jogja, tinggal di jakarta MOJOK.CO
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Kalau gaji 20 juta masih dianggap belum cukup untuk bisa hidup sejahtera di Jakarta, emangnya  berapa sih minimal penghasilan supaya bisa hidup enak di sana?

Sahabat Celenger yang sudah rindu hari gajian padahal masih tanggal muda,

Definisi “surga dan neraka” bagi para pencari kerja bisa jadi bertabrakan dengan surga dan neraka yang kita imajinasikan dalam ajaran agama. Surga itu kerja dengan gaji Jakarta, tinggal di Jogja, cuaca Cisarua. Seger banget! Sementara neraka, gaji Jogja, tinggal di Jakarta, dengan cuaca Ethiopia. Ada segernya, ada macetnya, sekaligus bisa terpanggang gelombang panas. Mamam! Hahaha.

Tentu saja itu guyon. Tidak perlu secara khusus mendebat bahwa di Jogja, bermukim banyak orang kaya, sementara di Jakarta banyak tinggal karyawan miskin yang hidup berhimpitan seperti di rumah merpati. Karena memang pada praktiknya tidak sedikit orang yang mendapatkan banyak penghasilan besar dari tingginya mobilitas. Pipis di Jogja, makan siang plus pup di Jakarta, dan malamnya sudah menikmati makan hewan lucu di Kaliurang; sate kelinci.

“Gaji yang pantas itu harusnya berapa besar, sih? Di angka berapa kita akan disebut sejahtera?”

Belasan tahun silam, sahabat saya yang sangat brilian, saat wawancara kerja di sebuah perusahaan minyak besar dan berpengaruh mendapatkan satu butir pertanyaan di luar urusan teknis pekerjaan yang sebelumnya telah dibabatnya habis. Sepertinya, calon user yang kebetulan ekspatriat tersebut hendak menguji seberapa besar teman saya menghargai dirinya.

“Where do you see yourself in five years?”

Mendapat pertanyaan serupa itu, yang biasa terjadi, si pewawancara dan yang ditanya saling mengawang-awang nggak jelas. Variasi jawabannya sangat mungkin tidak akan lepas dari kata kunci berikut:  deep expertise, take more managerial responsibilities, travelling around the world, take on new challenges, lead some projects dan hal lain yang mudah dihafalkan. Klasik sekali!

Memang beberapa panduan wawancara juga tidak menyarankan untuk menjawab secara spesifik. Misalnya seperti menyebut dalam lima tahun menjadi seorang Vice President (VP), mempunyai gaji 50 juta atau lebih, kendaraan mewah, dan hal ambisius lain.

Tidak keliru, namanya saja ambisi, tetapi sangat mungkin apa yang disebut tersebut tidak dapat dipenuhi oleh perusahaan. Bayangkan kalau posisi VP harus dijabat oleh keluarga pemilik, gaji untuk karyawan di luar keluarga hanya dipatok paling tinggi 10 juta sepenting apapun posisi kalian.

Balik lagi ke teman yang saya sebut di atas. Dia tidak menyebut angka, tidak menyebut posisi, dan tidak pula menyebut harapan memiliki kendaraan mewah jenis tertentu.  Dia hanya menjawab pendek, “I want your lifestyle.” Penuh percaya diri dan dapat membaca gelagat di sekitarnya. Dia melihat penampilan user-nya yang mentereng, berwawasan, dan penuh percaya diri.

Sebenarnya tidak pernah ada jawaban baku dalam wawancara kerja. Selama calon karyawan dianggap bakal jadi aset penting perusahaan, maka jawaban-jawaban yang tidak terkait langsung dengan pekerjaan sedikit banyak tidak akan dihiraukan. Dia membuktikan itu, dan posisinya di perusahaan pengelolaan ladang minyak terus melaju sampai saat ini hingga posisi puncak, dengan gaji jauh di atas menteri.

Sahabat celenger yang semangat kerjanya mlempem mengingat tanggal gajian masih lama,

Setelah bekerja sekian tahun. Posisi kalian saat ini ada di mana? Masih berpikir gajinya kurang, berpikir gaji berapa pun disyukuri, mulai berpikir melompat pindah ke perusahaan lain atau mulai berpikir resign?

Iklan

Kelas menengah Jakarta—yang ngehek terutama—di keseharian mereka dari masa ke masa selalu membincangkan kepantasan gaji dalam besaran tertentu untuk masa kerja tertentu. Tidak salah, namanya saja harapan. Tapi hobi ngece-nya itu lho kalau sudah berkomentar soal demo buruh yang menuntut kenaikan gaji.

“Kerja kagak becus, gaji minta digedein. Entar nangis kalo perusahaannya bangkrut atau relokasi ke tempat lain yang pekerjanya lebih rajin dan nggak kebanyakan menuntut!”

Untung yang di-sliding buruh. Kelompok penghasilan terpinggirkan yang berani makan nasi Padang asli Minang (bukan Wonosari) kalau di tanggal muda saja dan kebutuhan rumah sudah terpenuhi. Jadi mereka sudah kebal. Bayangkan kalau yang dibegitukan ayam petelur, sudah optimis akan bertelur jadi batal. Untuk kemudian mogok dan memilih memproduksi teleque terus.

Geli banget kalau mendengar bahwa di Jakarta itu bakal ngos-ngosan hidupnya kalau sudah berkeluarga sementara penghasilan “hanya” ada di kisaran 20-30 juta saja. Katanya, aman tuh 50 juta. Ya itu sih kalo situ pelihara BMW dan Mercy, dan punya gaya hidup boros kayak hobi belanja-belanji, clubbing sana-sini dan nongki di coffei shop fancy minimal 3 kali sehari~ makanya hidup rasanya deg-degan terus. Coba kalo pelihara Vario dan Ayla, 20 juta juga sudah bisa hidup sejahtera asal bisa ngaturnya!

Rumah kontrakan atau rumah yang diperoleh melalui KPR, yang merupakan penyedot utama penghasilan, usahakan jangan lebih besar dari 30%. Lho ya nggak masalah kalau gaji 20 juta, tapi siap ngos-ngosan nyicil rumah sebesar 15 juta per bulan selama 15 tahun demi dapat rumah seharga di atas 1 miliar. Paling konsekuensinya setiap hari harus puasa agar pengeluaran lainnya tidak terganggu. Risikonya lemes, syukur-syukur bisa sakti.

Uang itu luwes. Misal di tahun ini buruh meminta kenaikan UMR di DKI sebesar 4 juta, berarti itu angka yang layak (pantas) menurut ukuran mereka. Sementara kelas menengah kita banyak yang berpikir bahwa angka sebesar itu dipandang terlalu wah untuk mereka. Buruh pingin sebulan sekali beli Starbuck nggak boleh, pemborosan nggak perlu. Bolehnya beli Starling saja: “Starbuck keliling”.

Di Jakarta, kos di tengah kota dan ber-AC dengan bandrol 1-2 juta masih cukup banyak. Apalagi yang tanpa AC, jauh lebih murah. Apalagi kalau sedikit menjauh dari pusat kota. Sekali makan 10 ribu pun sudah kenyang. Namun, kalau UMR sebesar kota Jogja dan harus hidup di Jakarta, tanpa cuaca Ethiopia pun bisa jadi “neraka”.

Sekali tempo memang perlu diadakan program uji nyali, bukan ala dunia lain di stasiun televisinya Pak Chairul Tanjung (CT). Tapi, antara orang yang menganggap 20-30 juta itu bukan angka yang aman untuk hidup di Jakarta dengan buruh gaji UMR. Di hari kedua, saya pastikan orang yang ngos-ngosan dengan penghasilan 20-30 juta tersebut akan mengibarkan bendera putih. Hahaha.

Kalau saya sih pengin tukar nasib dengan Pak CT saja. Saya jadi CEO Trans Corp, beliau jadi tukang bikin status di Facebook. Yang ini, saya pastikan juga, di hari ketiga saya bakal nangis-nangis di Facebook…

Terakhir diperbarui pada 13 Juni 2019 oleh

Tags: gajiKelas Menengahkprumr
Haryo Setyo Wibowo

Haryo Setyo Wibowo

Artikel Terkait

Kelas menengah ke bawah harus mawas diri Kalau pemasukan pas-pasan jangan maksa gaya hidup dalam standar dan tren media sosial MOJOK.CO
Tajuk

Kelas Menengah ke Bawah Harus Mawas Diri, Pemasukan Pas-pasan Gaya Hidup Jangan Pakai Standar dan Tren Media Sosial

6 April 2026
Gaji 8 Juta di Jakarta Jaminan Miskin, Kamu Butuh 12 Juta MOJOK.CO
Cuan

Gaji 8 Juta di Jakarta Tetap Bisa Bikin Kamu Miskin, Idealnya Kamu Butuh Minimal 12 Juta Jika Ingin Hidup Layak tapi Nggak Semua Pekerja Bisa

2 April 2026
Bukan Cuma Gaji Kecil, Pindah Kerja dari Jakarta ke Jogja Juga Mesti Siap dengan Budaya Pekewuh yang Memperlambat Kerjaan Mojok.co
Pojokan

Penyesalan Pindah Kerja dari Jakarta ke Jogja: Selain Gaji Kecil, Budaya Pekewuh Ternyata Memperlambat Kerjaan

22 Maret 2026
Tuntutan sosial dan gengsi bikin kelas menengah jadi orang kaya palsu hingga abaikan tabungan demi kejar standar sukses MOJOK.CO
Urban

Gara-gara Tuntutan, Nekat Jadi Orang Kaya Palsu: “Hambur-hamburkan” Uang demi Cap Sukses padahal Dompet Menjerit

14 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Astrea Grand, Motor Honda yang Menjadi Mitos MOJOK.CO

Astrea Grand, Motor Honda Penuh Dusta yang Celakanya Pernah Menjadi Mitos dan Membuatnya Dikagumi karena Motor Ini Memang Meyakinkan

5 April 2026
Gagal seleksi CPNS (PNS ASN) pilih nikmati hidup dengan mancing MOJOK.CO

Gagal Seleksi CPNS Pilih Nikmati Hidup dengan Mancing, Dicap Tak Punya Masa Depan tapi Malah Hidup Tenang

9 April 2026
Gen Z kerja di desa untuk merawat ibu. MOJOK.CO

Tinggalkan Pekerjaan Gaji Puluhan Juta demi Merawat Ibu di Desa, Dihina Tetangga tapi Tetap Bahagia

10 April 2026
Kuliah soshum di PTN merasa gagal karena tak jadi wong untuk orang tua

Lulusan Soshum Merasa Gagal Jadi “Orang”, Kuliah di PTN Terbaik tapi Belum Bisa Penuhi Ekspektasi Orang Tua

6 April 2026
Gudeg, Kuliner Jogja yang Makin Tak Cocok untuk Orang Miskin (Unsplash)

Harga Gudeg Jogja Naik, Berpotensi Menguatkan Sisi Gelap kalau Kuliner Jogja Ini Memang Bukan Makanan Murah Lagi

9 April 2026
slow living, desa, warga desa.MOJOK.CO

Buka Bisnis di Desa Menggiurkan, Tapi Bukannya Slow Living Malah Dibayangi Sengsara karena Kebiasaan Warga

9 April 2026

Video Terbaru

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026
Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

4 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.