Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Kilas

Mengenang Tanamur Diskotek Pertama Jakarta, Skena Disko Lahir di Sini

Iradat Ungkai oleh Iradat Ungkai
28 September 2023
A A
Mengenang Tanamur Diskotek Pertama Jakarta, Raja Hiburan Malam Era 80-an MOJOK.CO

Ilustrasi disko (wiktionary.org)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Tanamur adalah bukan sekadar pionir diskotik, tapi juga ruang hidup bagi musik disko di Indonesia pada masanya.

Tanamur (Tanah Abang Timur) merupakan diskotek pertama yang berdiri di Indonesia. Bahkan, banyak pula yang mengatakan kalau Tanamur juga menjadi diskotek pertama di Asia Tenggara di era 1970-an. Lokasi tepatnya berada di Jalan Tanah Abang Timur No. 14 Gambir, Jakarta Pusat.

Iklan

Tempat hiburan malam ini berdiri pertama kali pada 12 November 1970. Pemiliknya bernama Ahmad Fahmy Alhady, seorang pengusaha keturunan Arab sekaligus mantan suami dari Ratna Sarumpaet.

Tanamur, diskotek pertama di Jakarta yang dimiliki oleh orang Arab

Fahmy merupakan lulusan Teknik Industri di Jerman. Semasa kuliah, ia tinggal di apartemen yang memiliki sebuah klub malam. Ia kerap mengunjunginya hingga suatu hari muncul ide mendirikan diskotek di Jakarta.

Kendati awalnya ide tersebut mendapat tentangan dari keluarga, akhirnya ia berhasil mendirikan Tanamur bermodalkan uang sebesar Rp25 juta rupiah. Pada awal berdiri, Diskotek Tanamur seperti rumah biasa yang memiliki atap berbentuk segitiga yang tepat di sebelahnya terdapat sebuah kubah besar berbentuk setengah lingkaran. Hal ini membuat bangunan Tanamur terlihat seperti penggabungan dari bangunan Masjid dan Gereja.

Bangunan Tanamur berlangit rendah, tiang-tiang penyokongnya terbuat dari kayu jati kusam, dan penerangannya remang-remang. Sejumlah lukisan batik, kulit sapi dan kambing, hingga kepala rusa terpampang pada dinding. Tak ketinggalan beberapa roda pedati dan pohon kaktus terpajang sebagai pemanis ruang.

Kendati dari segi interior terkesan seperti gudang suram, Tanamur menjadi tempat ajojing penikmat musik disko lengkap dengan kehadiran DJ. Inilah salah satu yang membedakan Tanamur dari klub malam lain di zaman itu yang cenderung menyajikan live band dengan genre musik Pop dan Jazz. Tanamur juga menyediakan lantai dansa bagi pengunjung.

Tanamur sendiri memiliki DJ tetap bernama DJ Bongky dan DJ Vincent. Diskotek ini juga pernah mendatangkan DJ Robert Smith yang tersohor di luar negeri.

Pengunjung yang datang beragam, dari kalangan anak muda, pebisnis, artis, bahkan sampai seniman. Sejumlah pesohor dunia pernah menikmati malam di Tanamur, dari Muhammad Ali, Chuck Norris, Ruud Gullit, Bee Gees, Deep Purple, Mick Jagger hingga Jean-Claude Van Damme.

Eksodus budaya barat, dari Soeharto sampai Ali Sadikin

Periode 1965-1970 merupakan era di mana budaya barat masuk ke Indonesia. Beralihnya kekuasaan negara dari Soekarno ke Soeharto menjadi faktor penting. Soekarno menentang musik kebarat-baratan, Soeharto sebaliknya.

Eksodus budaya barat ini juga tak bisa dipisahkan dari fenomena oil boom, di mana para investor Amerika Serikat banyak berdatangan dan menanamkan modal di Indonesia. Bar, kafe, restoran, klub malam, spa, hingga panti pijat tumbuh menjamur di kawasan bisnis Jakarta kala itu.

Kebijakan tersebut banyak mendapat tentangan. Kendati demikian semua termentahkan lantaran dunia hiburan sektor penting bagi Gubernur Ali Sadikin (1966-1977). Baginya, pajak dari dunia hiburan krusial untuk pembangunan infrastruktur Jakarta. Salah satu yang terkenal darinya ialah legalisasi rumah judi atau kasino.

Dalam Perkembangan Diskotik Tanamur Di Jakarta (1970 – 2005) yang disusun Enrico Yoland, ketiga hal tersebut memegang peranan penting bagi pesatnya bisnis Tanamur di era 70-80an.

Puncak kejayaan Tanamur hingga meredup lalu bangkrut

Era 80-an menjadi puncak kejayaan Diskotek Tanamur. Di masa itu, Tanamur hampir tak pernah sepi tiap malamnya. Diskotek ini mendapat keuntungan besar datang dari tiket masuk dan penjualan minuman seperti orange juice, whisky cola dan vodka.

Iklan

Kesuksesan Tanamur mendorong kemunculan diskotek-diskotek lain di Jakarta. Sebut saja Diskotik Ebony, Earthquake, Fire, Stardust, Pit Stop, dan Music Room (Musro).

Malam di Ibu Kota kala itu penuh ingar bingar. Hampir tiap malam tersaji acara-acara yang berbeda dari tiap diskotek. Tedapat pula gimik-gimik Ladies Night atau Couples Night untuk membuat pengunjung tertarik untuk datang.

Krisis moneter pada 1997-1998 menjadi titik balik Diskotek Tanamur. Bisnis mereka lesu. Kondisi kian buruk saat adanya tragedi bom Bali 2002. Banyak orang takut mengunjungi tempat hiburan malam. Jumlah tamu menurun. Tiga tahun berselang, Tanamur tutup tepat di usianya yang ke-35.

Kini bangunan Tanamur masih berdiri meski ringkih dan terbengkalai. Hanya ada tumpukan barang di sana, tak ada kegiatan. Di sisi depan, berdiri warung ayam hingga warung rokok.

Penulis: Iradat Ungkai
Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA Berkunjung ke Dizkorea: Diskonya Para Pencinta Korea
Cek berita dan artikel Mojok lainnya di Google News

 

Terakhir diperbarui pada 28 September 2023 oleh

Tags: diskodiskotekjakartatanamur
Iradat Ungkai

Iradat Ungkai

Kadang penulis, kadang sutradara, kadang aktor.

Artikel Terkait

kekerasan di matraman, kos di jakarta.MOJOK.CO
Urban

10 Tahun Merantau Bikin Sadar, Kita Benar-benar Sendiri di Kota Orang: Adanya Teman “Benalu” dan Kalau Susah pun Haram Diketahui Ortu

3 Agustus 2026
orang kota slow living di desa, jakarta, norak.MOJOK.CO
Urban

Desa adalah Tempat Ideal Buat Nine to Five: Gaji “Utuh”, Mental Sehat, asalkan Memegang 3 Prinsip Ini

28 Juli 2026
Lulusan s2, susahnya legalisir ijazah setelah wisuda.MOJOK.CO
Sekolahan

Nasib Lulusan S2 di Jakarta: Kuliah Dianggap Nggak Guna karena Kalah Saing dengan Tamatan SMA, tapi Tetap Merasa Bangga

23 Juli 2026
Lulus SMA nekat kerja ke Jakarta untuk jadi cleaning service. MOJOK.CO
Urban

Modal Ijazah SMA Kerja Jadi Cleaning Service di Jakarta demi Lulus Sarjana, Kini Pilih Resign untuk Keliling Indonesia

22 Juli 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Ilustrasi perantau dari desa.MOJOK.CO

Tangis Sunyi Para Perantau: Uang Habis Untuk Hidupi Keluarga, tapi Dicap Durhaka karena Jarang Pulang dan “Tak Hadir” di Orang Tua

3 Agustus 2026
Andai ormas-ormas lain seperti Yakuza Maneges Kediri. Bukan tukang malak tapi garda depan berantas kekerasan seksual di pondok pesantren MOJOK.CO

Andai Ormas Lain seperti Yakuza Maneges Kediri: Dulu Dihina tapi Buktikan Sangat Berguna

5 Agustus 2026
Cinta yang Tak Berbalas Bikin Perempuan Crush Recession hingga Belum Menikah. MOJOK.CO

Crush Recession: Jatuh Cinta Terasa Melelahkan, bikin Perempuan Malas Pacaran

4 Agustus 2026
Olive Chicken di Jogja sama saja dengan Karen Chicken di Surabaya. MOJOK.CO

Olive Chicken Menyelamatkan Lidah Orang Surabaya dari Kuliner Khas Jogja yang Overrated

6 Agustus 2026
Kampung Menari Hasta Budaya, Wadah Gratis Warga Gowongan Lestarikan Tari Klasik Jogja.MOJOK.CO

Kampung Menari Hasta Budaya, Wadah Gratis Warga Gowongan Lestarikan Tari Klasik Jogja

6 Agustus 2026
Kenapa aktivis yang memulai bisnis kerap dicap sebagai kapitalis? MOJOK.CO

Kenapa aktivis harus miskin dan yang memulai bisnis kerap dicap sebagai kapitalis?

4 Agustus 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.