Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Kilas Sosial

Napak Tilas Stasiun Ngabean yang Pernah Dilewati KA Jenazah Pakubuwono X

Kenia Intan oleh Kenia Intan
28 Juli 2023
A A
stasiun ngabean mojok.co

Stasiun Ngabean (Oleh Alqhaderi Aliffianiko/Wikipedia)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Stasiun Ngabean, bangunan mangkrak yang terletak di kawasan Terminal Ngabean, ternyata menyimpan nilai sejarah. Stasiun kecil ini pernah dilewati oleh Kereta Api (KA) jenazah Sri Susuhunan Pakubuwono X.

Kalau cermat, kalian akan melihat bangunan tua di sisi selatan kompleks Terminal Ngabean. Bangunan yang  dicat putih-biru itu adalah Stasiun Ngabean, stasiun bikinan Belanda yang aktif digunakan sejak 1895 hingga 1980-an.

Stasiun Ngabean terakhir melayani penumpang Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA) atau yang sekarang disebut dengan PT Kereta Api Indonesia (KAI) pada 1973. PJKA memutuskan untuk menutup layanan stasiun itu karena moda transportasi kereta kalah saing dengan transportasi darat lain seperti mobil dan bus. Namun, stasiun itu masih terpakai untuk angkutan tebu pabrik Gula Madukismo hingga 1980-an.

Secara fisik bangunan ini sebenarnya masih terlihat kokoh. Plat nama stasiun bertuliskan “Ngabean”, lengkap dengan keterangan ketinggian stasiun “+100 m” masih terpampang jelas di salah satu dinding. Di sekitar bangunan stasiun itu juga masih terdapat tiang sinyal keluar dan masuk kereta api, bekas wesel, dan sisa batang rel kereta api lengkap dengan bantalannya.

Menyimpan Sejarah

Tidak sekadar bangunan mangkrak, Stasiun Ngabean menyimpan cerita sejarah berharga. Dilansir dari Susur Rel 2015 Kompas, stasiun ini pernah dilewati oleh KA jenazah Raja Kasunanan Surakarta Sri Susuhunan Pakubuwono X yang menuju tempat pemakaman Raja-raja Mataram di Imogiri, Bantul.

KA jenazah itu dipesan dan dirancang khusus oleh Pakubuwono X sejak 1909. Ia memesan ke perusahaan Belanda bernama Werkspoor. Kereta itu selesai dibuat pada tahun 1914 dan dibawa ke Hindia-Belanda pada tahun 1915. Sepanjang keberadaannya di Hindia-Belanda, KA jenazah itu baru digunakan satu kali yakni untuk mengantar jenazah Pakubuwono menuju pemakamannya di Imogiri.

Pakubuwono X yang tutup usia pada 1 Februari 1939 itu bukanlah sosok yang sembarangan. Ia dinilai berhasil mempersatukan trah kerajaan Mataram yang terpecah menjadi Kerajaan Surakarta dan Yogyakarta sejak 1755. Ia juga banyak berperan di balik layar dalam mendukung pergerakan nasional memperjuangkan kemerdekaan. Termasuk, mendukung pendirian organisasi Serikat Dagang Islam di Surakarta pada 1905.

Pakubuwono X juga dikenal menjadi pendorong modernisasi di Jawa. Pada masanya ia sudah menciptakan sistem kredit rumah bagi warga kurang mampu. Fasilitas publik seperti pasar, stasiun kereta, rumah sakit, dan sekolah masif didirikan di masa kepemimpinannya yang selama 46 tahun. Pasar Klewer dan Stasiun Solo Balapan adalah salah satu warisannya.

Reaktivasi yang hampir mustahil

Sempat ada harapan untuk mengaktifkan kembali jalur-jalur kereta api dan stasiun lama yang ada di Yogyakarta. Mengingat jalur-jalur itu memiliki nilai sejarah dan bisa menjadi daya tarik wisata. Namun, harapan itu sepertinya sulit terwujud. Apalagi sebagian besar jalur kereta api itu sudah tidak tampak jejaknya.

Asal tahu saja, rel dari Stasiun Tugu ke Stasiun Ngabean bercabang ke dua arah yakni ke Brosot dan Pundong. Kedua jalur sama-sama dibangun oleh perusahaan swasta Hindia Belanda, Nederland Indische Spoorweg Maatschappij (NISM),

Sayangnya, jalur rel Ngabean-Pundong ini tidak meninggalkan banyak bekas. Pada 1943-1944, Jepang membongkar rel jalur sepanjang 27 km untuk dikirim ke Burma. Pada saat itu Jepang membutuhkannya untuk pembangunan jalur kereta api di Burma. Secara total, kurang lebih ada 901 km rel kereta api dari Indonesia yang diangkut ke sana. 

Kejadian itu membuat jalur kereta sulit dikenali. Belum lagi jalurnya telah berubah menjadi lahan sawah atau jalan. Hanya ada beberapa tanda yang masih bisa dikenali, seperti pondasi jembatan rel kereta api di dekat Ring Road Selatan Yogyakarta. Tepatnya di Jalan Ngipik Raya, Karanglo, Banguntapan, Bantul. Selain itu ada beberapa jejak jembatan bekas rel kereta api ke Pundong. Salah satunya, jembatan di Kali Bulus, Desa Paten, Kelurahan Sumber Agung, Kecamatan Jetis, Bantul, yang masih tampak pondasi kunonya.

Sementara jalur KA ke arah ke Sewugalur kondisinya lebih baik. Melacaknya hingga Stasiun Palbapang Bantul relatif tidak lebih sulit walau memang sebagian besar sudah terpendam di tanah. 

Penulis: Kenia Intan
Editor: Purnawan Setyo Adi

BACA JUGA Menanti Jalur Kereta Api Secang-Yogyakarta Hidup Lagi, Biar Enak Kalau ke Semarang atau Sebaliknya

Cek berita dan artikel lainnya di Google News

Terakhir diperbarui pada 28 Juli 2023 oleh

Tags: jalur kereta apikereta apiPT KAIstasiun keretaStasiun Kereta ApiStasiun Ngabean
Kenia Intan

Kenia Intan

Content Writer Mojok.co

Artikel Terkait

Fitur "Pilih Kursi" di KAI Access terasa percuma karena penumpang di kereta api ekonomi tidak tahu diri MOJOK.CO
Sehari-hari

Fitur “Pilih Kursi” KAI Access Terasa Percuma, Mau Duduk Nyaman di Kursi Incaran tapi Malah Makin Kesal

8 Juni 2026
Menormalisasi pakai jasa porter di stasiun kereta api MOJOK.CO
Urban

Pakai Jasa Porter di Stasiun meski Bisa Bawa Barang Sendiri: Sadar 50 Ribu Itu Tak bikin Rugi, Tapi Justru Belum Seberapa

23 April 2026
KA Eksekutif, Kereta eksekutif KAI Jogja ke Jakarta nggak nyaman. MOJOK.CO
Catatan

Backpackeran Naik KA Eksekutif Jogja-Jakarta Demi Menyembuhkan Luka, Malah Dibuat Kesal dengan Kelakuan Norak Penumpangnya

1 April 2026
KA Eksekutif, Kereta eksekutif KAI Jogja ke Jakarta nggak nyaman. MOJOK.CO
Sehari-hari

Penyesalan Penumpang Kereta Eksekutif: Bayar Mahal untuk Layanan Mewah, Malah Lebih Nyaman Pakai Kereta Gaya Lama

31 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Katanya Sekolah Itu Tiket VIP Hidup Mapan, Ternyata Jadi Ibu Rumah Tangga yang Bikin Goyah Negara MOJOK.CO

Katanya Sekolah Itu Tiket VIP Hidup Mapan, Ternyata Jadi Ibu Rumah Tangga yang Bikin Goyah Negara

5 Juni 2026
Sejumlah titik ruas jalan rusak di Jawa Tengah (Jateng) dapat perbaikan di 2026 MOJOK.CO

Jalan Rusak di Jawa Tengah Dapat Perbaikan di 2026: Rusak Berat Diprioritaskan, Pengerjaan Dilarang Asal-asalan

5 Juni 2026
Sisi Gelap Orang Tua Hebat: Hasilkan Generasi Rapuh yang Lembek Hadapi Kerasnya Dunia MOJOK.CO

Sisi Gelap Orang Tua Hebat: Hasilkan Generasi Rapuh yang Lembek Hadapi Kerasnya Dunia

8 Juni 2026
Para Jagal Anjing di Jogja dan Mitos yang Terus Dipelihara.MOJOK.CO

Para Jagal Anjing di Jogja dan Mitos yang Terus Dipelihara

8 Juni 2026
Curhat dan ziarah di makam ibu, tempat terbaik pulang tanpa penghakiman MOJOK.CO

Curhat di Makam Ibu Dianggap Lebay dan Sia-sia, Tapi Jadi Tempat Pulang Terbaik yang Penuh Makna dan Rasa Lega

5 Juni 2026
pabrik semen, pracimantoro, wonogiri.MOJOK.CO

Babak Baru Perlawanan Warga Wonogiri Tolak Pabrik Semen di Pracimantoro, Bawa Ancaman Karst Gunungsewu ke Markas UNESCO

9 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.