Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Kilas

Sejarah Partisipasi Gerakan Perempuan di Indonesia

Kenia Intan oleh Kenia Intan
27 Desember 2022
A A
partisipasi perempuan
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Kebijakan afirmatif keterwakilan minimal 30 persen di parlemen menjadi salah satu jalan mendorong partisipasi perempuan di dunia politik. Namun, tahukah kalian bahwa keterlibatan perempuan dalam politik sebenarnya memiliki sejarah yang panjang di Indonesia. 

Sejak awal abad 19-an, perempuan sebenarnya sudah menunjukkan keterlibatannya di ranah publik dalam bentuk organisasi pergerakan pra-kemerdekaan dan pasca-kemerdekaan. Beberapa organisasi perempuan yang tercatat saat itu ada Poetri Mardika di Jakarta (1912), Purborini (1917), Aisyiyah di Yogyakarta (1917), Wanita Susilo di Pemalang (1918), Wanito Hadi di Jepara (1919), dan Poetri Boedi Sejati (Surabaya, 1919). 

Hingga akhirnya di era 1950-an, terdapat organisasi perempuan yang cukup progresif di zamannya bernama Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani). Organisasi itu merupakan metamorfosis dari Gerakan Wanita Sedar (Gerwis) yang berdiri di Semarang pada 4 Juli 1950. 

Gerwani tergolong organisasi yang modern saat itu karena mampu merancang program-program kerja guna mengembangkan diri dan berpartisipasi dalam politik. Program kerja pertama dan utamanya mengenai masalah hak-hak wanita dan hak-hak anak. Bahkan pada 1961, Gerwani mulai menitikberatkan perjuangannya pada masalah krisis ekonomi yang terjadi dalam negeri.

Sayangnya, organisasi beranggotakan 1,5 juta orang itu harus tumbang. Presiden Soekarno pada 1965 menginstruksikan Ormas untuk memilih pasangan partai politik dalam kerangka Nasakom. Gerwani akhirnya berafiliasi dengan Partai Komunis Indonesia (PKI). 

Saat itulah kehancuran Gerwani bermula. Sebagai organisasi sayap kiri PKI, Gerwani turut tertuduh dalam peristiwa G30S/PKI 1965. Organisasi perempuan terbesar ketiga di dunia itu dilabeli sebagai organisasi terlarang. 

Ketika Orde Baru (Orba), organisasi perempuan tidak terlalu menonjol. Orba dengan trilogi pembangunannya menghendaki stabilitas politik. Dus, Orba membonsai partisipasi perempuan ke dalam wadah PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga) dan Dharma Wanita. Kedua organisasi itu dinilai  tidak memberi kontribusi dalam pengambilan keputusan politis, malah menjadi alat  pelaksanaan program pemerintah yang selalu cenderung “top down“.

Reformasi

Menjelang dan pasca-jatuhnya Orba melalui gerakan Reformasi 1998, gerakan perempuan kembali menggeliat dalam wujud organisasi-organisasi masyarakat sipil. Komisi Nasional Perempuan (Komnas) Perempuan yang berdiri pada 15 Oktober 1998 adalah salah satunya. Komisi negara independen yang berfokus pada isu perempuan itu dibentuk berdasar Keppres 181/1998 yang kemudian diperbarui oleh Perpres 65/2005 dan Perpres 66/2005.

“Tantangan saat ini, masih adanya keraguan di kalangan masyarakat tertentu apakah perempuan siap dan mampu menjalankan fungsi dan peran di kancah politik,” jelas Anggota Bawaslu Kota Bogor Rika Handayani seperti dikutip dalam laman resmi Bawaslu Bogor Kota. 

Persoalan lain, nilai sosial budaya tidak memberi akses dan kesempatan bagi perempuan untuk menduduki posisi sentral di lembaga-lembaga politik. Padahal, kemampuan intelegensi, manajerial,dan kemampuan kepemimpinan perempuan Indonesia memiliki kualitas yang memadai. 

Penulis: Kenia Intan
Editor: Purnawan Setyo Adi

BACA JUGAMelihat Kembali Keterlibatan Perempuan dalam Penyelenggara Pemilu

Terakhir diperbarui pada 7 Januari 2026 oleh

Tags: gerwaniorganisasi perempuanpartisipasi perenpuan
Kenia Intan

Kenia Intan

Content Writer Mojok.co

Artikel Terkait

Kartini Dalam Tungku Pembakaran Api Gerwani
Video

Kartini Dalam Tungku Pembakaran Api Gerwani

28 April 2023
hantu perempuan
Podium

Nestapa Perempuan dalam Film Horor, Kalau Tidak Manut Bakal Jadi Setan Menakutkan

30 Maret 2023
Arsip

Gerwani Bantu Atasi Keruwetan Rumah Tangga

22 April 2022
Ultah Korpri dan Lagu Haram Karya Ahmad Dhani
Esai

Ultah Korpri dan Lagu Haram Karya Ahmad Dhani

29 November 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Dugaan Korupsi Bupati Sukoharjo: Warisan Bernama Korupsi MOJOK.CO

Dugaan Korupsi Bupati Sukoharjo: Warisan Bernama Korupsi 

13 Juli 2026
Derita Orang Rembang, Makan Mie Gacoan Harus ke Tuban MOJOK.CO

Makan Mie Gacoan adalah Kemewahan bagi Anak Muda Desa, Rela Motoran 2 Jam Demi Makanan yang “Menyiksa” Mulut Mereka

14 Juli 2026
Kisah sebuah desa di Kebumen, Jawa Tengah, yang bangkit dari kemiskinan MOJOK.CO

Cerita Desa di Kebumen Bangkit dari Kemiskinan: Punya Rumah Layak Huni, Modal Usaha, hingga Pengembangan Peternakan

14 Juli 2026
Cerita Pencari Kerja Difabel datang ke Job Fair Ditemani Ibu: ‘Semua Orang Punya Kemampuan asal Diberi Kesempatan’.MOJOK.CO

Cerita Jobseeker Difabel datang ke Job Fair Ditemani Ibu: ‘Semua Orang Punya Kemampuan asal Diberi Kesempatan’

17 Juli 2026
Caruban—sebagai ibu kota dari Madiun—barangkali terkesan tidak bagus-bagus amat. Tapi bikin jatuh hati lewat hal-hal sederhana MOJOK.CO

Caruban Madiun Memang Tidak Bagus-bagus Amat, Tapi bikin Jatuh Hati Lewat Hal-hal Sederhana

13 Juli 2026
Kerjabilitas, Jembatan bagi Pencari Kerja Difabel Menembus Tembok Diskriminasi Industri.MOJOK.CO

Kerjabilitas, Jembatan bagi Pencari Kerja Difabel Menembus Tembok Diskriminasi Industri

17 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.