Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Kilas

Rindu Pasar Kangen, Mari Merapat ke Taman Budaya Yogyakarta

Yvesta Ayu oleh Yvesta Ayu
17 Agustus 2022
A A
pasar kangen mojok.co

Instalasi tempat cuci tangan yang dipajang di Pasar Kangen di TBY, Selasa (16/08/2022). (yvesta ayu/mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Ada berita baik bagi pecinta kuliner tradisional. Pasar Kangen akan kembali digelar tahun ini setelah vakum selama dua tahun akibat pandemi COVID-19.

Sebanyak 277 peserta yang terdiri 170 peserta kuliner dan 77 peserta penjual barang-barang lawasan, kerajinan dan komunitas seni akan hadir pada Pasar Kangen ke-14 di Taman Budaya Yogyakarta (TBY) selama sepuluh hari mulai Kamis (18/08/2022) besok.

Acara tahunan yang dimulai sejak tahun 2007 ini kembali menampilkan beraneka ragam jajanan khas yang unik dan langka yang pernah ada di Yogyakarta dan daerah lain. Selain itu pasar kangen juga menjajakan barang-barang lawasan serta mainan tempo doeloe.

Bertajuk “Kumandhange Pasar, Ora Cucul Ora Ngebul”, Pasar Kangen tahun ini digelar sebagai bentuk keprihatinan semakin banyak bermunculan makanan dan jajanan dari luar negeri yang dijajakan dan dikonsumsi masyarakat kita.

“Dalam hal ini kami harus mewaspadai fenomena tersebut, karena kuliner adalah salah satu kebudayaan dalam kehidupan berbangsa,” papar Ketua Pasar Kangen Jogja, Ong Hari Wahyu di TBY, Selasa (16/08/2022).

Menurut Ong, “Kumandhange Pasar” yang menjadi tajuk kali ini sebagai representasi kedaulatan pangan, kemandirian pangan, ketahanan pangan melalui revitalisasi-reaktualisasi pangan. Pasar Kangen mencoba kembali dan terus mengenalkan, memproduksi, mengkonsumsi berbagai jenis pangan yang pernah ada dan dimiliki bangsa ini.

Sedangkan “Ora Cucul Ora Ngebul” merupakan semangat baru pasca pandemi dalam kehidupan yang berarti yang tidak bekerja maka tidak akan mendapatkan apa-apa. Pasar Kangen menjadi ajang kreatifitas dan produktivitas dalam pengolahan pangan berbasis nilai-nilai lokal dan bahan-bahan pangan lokal.

“Kami berharap pasar kangen bukan berarti berhenti dalam hal kelawasannya saja namun juga mempunyai niatan untuk bisa bersanding dan menghadapi perkembangan jaman kedepan tanpa menghilangkan jati diri budaya bangsa,” tandasnya.

Ong menambahkan, dalam Pasar Kangen ini pengunjung akan dibawa ke masa tempo dulu. Bahkan masyarakat dapat bernostalgia di acara festival ini.

Spirit dan relasi dari kegiatan yang sudah 16 tahun digelar ini tidak hanya dialami oleh antar para pedagang, Namun kegiatan ini mempertemukan pedagang dengan pembeli sehingga acara ini tidak hanya sebatas transaksi ekonomi namun terjalin relasi kemanusiaan yang intim.

“Melalui transaksi ekonomi, pengunjung akan dapat merasakan nilai-nilai kearifan lokal seperti bertegur sapa sehingga para pengunjung dapat merasakan transaksi jual beli seperti di pasar tradisional,” jelasnya.

Kepala TBY, Purwanti menyebutkan, peserta telah dipilih melalui kurasi yang berdasarkan kriteria Pasar Kangen. Mereka merupakan pedagang kuliner berbasis lokal dan juga orang-orang yang kreatif dalam pengolahan pangan berbasis bahan lokal.

Meski tradisional, higenisistas makanan tetap harus dijaga. Setiap peserta harus memakai kemasan-kemasan makanan berbahan yang tidak membahayakan kesehatan seperti bahan styrofoam.

“Harga makanan yang dijual pun maksimal Rp 20 ribu, ini untuk menghindari persaingan harga,” ujarnya.

Iklan

Reporter: Yvesta Ayu
Editor: Purnawan Setyo Adi

LIHAT JUGA Pasar Kangen: Jogja, Nostalgia, Makanan, dan Kenangan

Terakhir diperbarui pada 17 Agustus 2022 oleh

Tags: festivalKuliner Jogjakuliner tempo dulupasar kangenTaman Budaya Yogyakarta
Yvesta Ayu

Yvesta Ayu

Jurnalis lepas, tinggal di Jogja.

Artikel Terkait

Olive Chicken di Jogja sama saja dengan Karen Chicken di Surabaya. MOJOK.CO
Urban

Olive Chicken Menyelamatkan Lidah Orang Surabaya dari Kuliner Khas Jogja yang Overrated

6 Agustus 2026
Kerajinan lokal Yogyakarta di INACRAFT. MOJOK.CO
Kabar

INACRAFT Jogja: Jembatan bagi Perajin Lokal Menembus Pasar Global Lewat Karya yang Tak Biasa

15 Juli 2026
Tips Meningkatkan Kenikmatan Ayam Goreng Olive Chicken Jogja (Mojok/Agung)
Pojokan

Tips Meningkatkan Kenikmatan Rasa Ayam Goreng Olive Chicken Jogja yang Sudah Menjadi Legenda Kuliner Itu

3 Juli 2026
3 Ciri Nasi Goreng di Jogja yang Biasanya Nggak Enak (Unsplash)
Pojokan

3 Ciri Nasi Goreng di Jogja yang Biasanya Nggak Enak: Cobain, deh, Kalau Kamu Nggak Percaya

22 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

KAFEIN Gelar Workshop Kritik Film di DIY, Sasar Pelajar hingga Komunitas MOJOK.CO

KAFEIN Gelar Workshop Kritik Film di DIY, Sasar Pelajar hingga Komunitas

3 Agustus 2026
Kemiskinan DIY menurun. MOJOK.CO

Jumlah Orang Miskin di Yogyakarta Berkurang, Penurunannya Jadi yang Tertinggi di Jawa pada Maret 2026

6 Agustus 2026
Seporsi kekalahan anak laki-laki pekerja swasta di Surabaya: merasa gagal karena kerja gaji kecil pas-pasan, tak kunjung sanggup ringankan beban orang tua di masa tua MOJOK.CO

Seporsi Kekalahan Anak Laki-laki: Kerja Ngoyo tapi Masih Begini-begini Saja, Tak Sanggup Ringankan Beban Ortu di Masa Tua

3 Agustus 2026
Token listrik lebih awet setelah mengubah kebiasaan kecil di rumah (Unsplash)

Token listrik lebih awet setelah saya mengubah kebiasaan kecil di rumah

7 Agustus 2026
Lahir di lingkungan NU tapi justru menemukan kedamaian di Muhammadiyah. MOJOK.CO

Tumbuh di Desa dengan Tradisi Keagamaan yang Kental, Saya Justru Menemukan Kedamaian di Muhammadiyah dengan Rasionalitasnya

3 Agustus 2026
Dinas Pendidikan Kabupaten Sleman meluncurkan aplikasi Gandheng ATS untuk atasi masalah anak putus sekolah MOJOK.CO

Sleman Punya Aplikasi Pencegahan Dini Anak Tidak Sekolah

5 Agustus 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.