Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Kilas Memori

Menyelami Sejarah Tamansari Jogja, Sendang Pemandian Raja yang Memiliki Banyak Mitos

Iradat Ungkai oleh Iradat Ungkai
5 September 2023
A A
Menyelami Sejarah Tamansari Jogja, Sendang Pemandian dan Taman Bermain Keluarga Raja MOJOK.CO

Salah satu kolam Tamansari (Wikipedia)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Tamansari dulunya merupakan sendang pemandian dan taman bermain untuk keluarga Sultan. Kompleks itu kini menjelma destinasi wisata, siapa pun bisa mengintipnya. 

Tamansari merupakan salah satu destinasi yang kerap wisatawan kunjungi di Jogja. Letaknya sangat mudah terjangkau, dekat Malioboro dan Keraton. Naik becak atau ojol sebentar sudah sampai.

Kompleks ini merupakan salah satu situs bersejarah bagi Keraton dan warga Jogja. Menjadi bagian dari perjalanan kesultanan Jogja melintasi zaman. Gempa pernah meruntuhkannya beberapa kali, namun bangunan ini tetap masih sanggup berdiri.

Sejarah Tamansari

Tamansari merupakan situs bekas taman atau kebun istana Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Pembangunan Tamansari ini berdasarkan perintah dari Sultan Hamengku Buwono I. Mulai tergarap pada 1758 dan selesai pada 1765.

Taman ini memiliki julukan Water Kasteel karena terdapat banyak kolam yang mengelilinginya. Sebutan lainnya ialah The Fragrant Garden karena terdapat kebun bunga harum yang mengelilingi bangunan.

Kompleks ini memiliki luas lebih dari 10 hektar yang di dalamnya terdiri dari 57 bangunan. Antara lain gedung, kolam pemandian, jembatan gantung, kanal air, danau buatan, pulau buatan, masjid, dan lorong bawah tanah.

Desain Tamansari merupakan hasil tangan dari Demang Tegis, orang Portugis yang konon datang dari wilayah Gowa, Sulawesi. Kendati demikian, gagasan utamanya berasal dari Sultan Hamengku Buwono I. Tumenggung Mangundipuro ditunjuk penanggungjawab proyek ini sebelum kemudian berganti alih ke Pangeran Notokusumo.

Tempat pemandian raja

Kompleks Tamansari berdiri di atas sebuah mata air, Umbul Pacethokan. Tamansari memiliki dua buah danau buatan atau segaran–terinspirasi dari kata segara yang berarti lautan. Kedua segaran ini terhubung berkat adanya sebuah kanal yang memotong lorong penghubung, penghubung Plataran Magangan dan Plataran Kamandhungan Kidul. Ada juga pulau buatan, Pulo Gedhong dan Pulo Kenanga.

Selain berfungsi sebagai tempat rekreasi keluarga Kerajaan, Tamansari memiliki fungsi pertahanan dan religi. Fungsi pertahanan tampak pada tembok tebal dan tinggi, gerbang dengan penjagaan, dan bastion atau tulak bala sebagai tempat menaruh persenjataan.

Selain itu terdapat beberapa urung-urung atau jalan bawah tanah yang menghubungkan satu tempat ke tempat lain. Saat musuh menyerang, Sultan dan keluarganya bisa menggunakan jalan tersebut untuk melarikan diri. Saat mereka sudah dalam keadaan aman, pengawal kerajaan akan membuka pintu air agar jalan tersebut terisi air sehingga musuh-musuh yang mengejar tenggelam.

Fungsi religi tampak dengan adanya bangunan Sumur Gumuling yang berfungsi sebagai masjid dan Pulo Panembung yang berguna sebagai tempat Sultan bermeditasi. Keduanya berada di tengah kolam Segaran, tampak menyebul di tengah kolam air yang luas.

Mitos yang menaungi

Ada banyak mitos yang menaungi situs Tamansari. Konon, lorong bawah tanah di bagian urung-urung Sumur Gumuling bisa menghubungkan kompleks tersebut dengan Pantai Selatan.

Sejumlah masyarakat percaya lorong sumur tersebut menjadi akses pertemuan Sultan Hamengku Buwono dengan Nyi Roro Kidul, Ratu Pantai Selatan. Namun, lorong tersebut telah dipugar pada 1972. Kini, panjang lorong Sumur Gumuling hanya 39 meter.

Ada pula yang mengatakan kalau bangunan Tamansari menggunakan putih telur untuk merekatkan batu pada saat pembangunan. Mitos lain berbunyi: barang siapa berciuman di sana maka hubungan akan langgeng.

Iklan

Kendati demikian, mitos tetaplah mitos. Boleh percaya, boleh juga tidak. Mitos soal telur misalnya, pernah Prabu Yudianto bantah lewat tulisannya. Terkadang ada juga mitos buatan tour guide agar jasanya tetap laris dan Tamansari tetap jadi destinasi utama wisatawan.

Bangunan Tamansari sendiri telah beberapa kali mengalami renovasi merespons peristiwa luar biasa. Salah satunya gempa bumi pada 1867. Renovasi serius baru serius terjadi pada 1977, beberapa bangunan yang tertimbun dibongkar dan diselamatkan. Pascagempa 2006, renovasi dan revitalisasi kembali dilakukan, beberapa bangunan diperbaiki, diperkuat, dan dilapis ulang.

Tamansari telah bersolek. Meski terhimpit rumah-rumah penduduk, publik masih bisa mengunjungi situs bersejarah dan mengintip betapa megahnya taman dan tempat mandi raja di masa lalu.

Penulis: Iradat Ungkai
Editor: Purnawan Setyo Adi

BACA JUGA Benteng Keraton Yogyakarta dari Masa ke Masa, Tetap Kokoh Berdiri Meski Diserang Bertubi-tubi
Cek berita dan artikel Mojok lainnya di Google News

 

Terakhir diperbarui pada 5 September 2023 oleh

Tags: Jogjamitos tamansarisejarah tamansaritamansaritamansari jogja
Iradat Ungkai

Iradat Ungkai

Kadang penulis, kadang sutradara, kadang aktor.

Artikel Terkait

Sanksi untuk Jagal Anjing di Daerah Istimewa Yogyakarta yang Tertunda Realisasinya. MOJOK.CO
Suara Bawah Tanah

Jalan Terjal Menghentikan Operasi Jagal Anjing karena Dianggap Kurang Penting

9 Juni 2026
Kenapa Hidup di Jogja Membuat Saya Terlalu Santai Menghadapi Tagihan yang Seharusnya Bikin Panik MOJOK.CO
Esai

Kenapa Hidup di Jogja Membuat Saya Terlalu Santai Menghadapi Tagihan yang Seharusnya Bikin Panik

3 Juni 2026
ilustrasi sepeda klaten.MOJOK.CO
Eksplor

Belajar Makna “Paseduluran” dari Penjual Onthel Lawas yang Sudah Tiga Dekade Hidup dari Pit Kebo

2 Juni 2026
Fun Football, Cara Pria Dewasa untuk Tetap Waras dan Punya Alasan untuk Hidup Lebih Lama
Pojokan

Fun Football, Cara Pria Dewasa untuk Tetap Waras dan Punya Alasan untuk Hidup Lebih Lama

2 Juni 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Syifa, WNI yang kuliah di Jagiellonian University, Krakow, Polandia, Eropa. MOJOK.CO

Nekat Daftar Beasiswa Luar Negeri ke Kampus “Kurang Terkenal”, Kini Bisa Keliling Eropa dengan Gaji yang Bikin Sumringah

8 Juni 2026
Proyek pengelolaan sampah menjadi listrik (PSEL) Semarang Raya dilirik dunia MOJOK.CO

Proyek Sampah Jadi Listrik (PSEL) Semarang Raya Dilirik Dunia, Jadi Solusi Masa Depan Kota

5 Juni 2026
Mengajar di Wamena: Dari Perang Suku hingga Jalan Kaki 7 Hari demi Menjadi Sarjana

Mengajar di Wamena: Dari Perang Suku hingga Jalan Kaki 7 Hari demi Menjadi Sarjana

10 Juni 2026
Edi Dimyati. MOJOK.CO

Kisah Pustakawan Menyulap Rumahnya di Pinggir Sungai Jakarta Timur agar Bisa Nongkrong Kalcer sambil Baca Buku

8 Juni 2026
Usai lulus SMA jadi fotografer di Kota Lama Surabaya. MOJOK.CO

Jadi Fotografer Lepas di Kota Lama Surabaya usai Lulus SMA, Gaji Tak Seberapa asal Bisa Menabung untuk Masa Depan yang Lebih Cerah

4 Juni 2026
pekerja kantoran.MOJOK.CO

Akal-akalan “Kantor adalah Keluarga”, Menguras Mental dan Menggerogoti Karier

4 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.