Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Kilas

Korupsi yang Lebih Dahsyat daripada Korupsi Al-Quran atau Dana Haji

Redaksi oleh Redaksi
9 November 2017
A A
tugu-antikorupsi-mojok

tugu-antikorupsi-mojok

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Dulu ketika mantan Menteri Agama Suryadharma Ali divonis enam tahun penjara karena kasus dugaan korupsi penyelenggaraan haji di Kementerian Agama, atau Fahd El Fouz divonis empat tahun penjara karena terlibat kasus korupsi pengadaan kitab suci Al-Quran, semua orang yakin tidak akan ada lagi kasus korupsi yang lebih wagu dari kasus dana haji atau kitab suci tersebut.

Wajar saja, sebab bagi banyak orang, penyelewengan dana haji atau korupsi kitab suci adalah puncak paling paripurna dari sebuah kasus korupsi karena keduanya sama-sama berhubungan dengan perangkat iman. Terlebih lagi, kasus yang menimpa Suryadharma Ali dan Fahd El Fouz terjadi di Kementerian Agama, kementerian yang oleh banyak orang dianggap mempunyai standar moral yang paling tinggi, setidaknya dibandingkan kementerian yang lain.

Iklan

Nah, pada akhirnya peribahasa “di atas langit masih ada langit” berlaku juga. Posisi puncak korupsi paling wagu di Indonesia akhirnya direbut oleh korupsi proyek Ruang Terbuka Hijau (RTH) Taman Integritas.

Kasus rasuah ini layak menggeser kasus rasuah dana haji atau kitab suci bukan semata karena jumlah tersangkanya banyak, yakni sebanyak 18 orang, tapi lebih karena apa yang dikorupsi. Lha, gimana nggak super wagu, yang dikorupsi dalam kasus ini adalah dana proyek taman integritas yang mana di dalamnya terdapat tugu antikorupsi.

Bayangkan, korupsi tugu antikorupsi, ini kan namanya mbahnya korupsi.

Seperti diketahui, Taman Integritas adalah taman dengan Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Pekanbaru. Taman ini merupakan proyek di Dinas Cipta Karya dan Bina Marga yang kini menjadi Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Provinsi Riau. Di dalam taman ini, dibangun sebuah tugu yang diberi nama Tugu Integritas. Pembangunan Tugu Integritas tersebut diartikan sebagai bentuk perlawanan terhadap korupsi yang selama ini terjadi Riau, hal yang kemudian membuat tugu tersebut sebagai simbol antikorupsi.

Taman ini diresmikan saat Riau menjadi tuan rumah Hari Antikorupsi Indonesia pada akhir 2016 lalu oleh Gubernur Riau, Ketua KPK, Jaksa Agung, serta sejumlah pejabat negara lain.

Belakangan baru ketahuan bahwa proyek taman ini terindikasi mengandung tindak pidana korupsi. Dan setelah ditelusuri, ternyata benar. Dalam proyek taman tersebut, ada kongkalikong untuk merekayasa pemenangan tender. Pihak Kejati Riau akhirnya menetapkan 18 orang sebagai tersangka dalam kasus korupsi proyek tersebut.

Yah, korupsi memang selalu punya kisahnya masing-masing. Dan khusus untuk korupsi taman antikorupsi ini, rasanya tak ada yang kata yang paling pantas disandangkan selain istilah yang dulu pernah dikatakan oleh SpongeBob Squarepants: “Ironi di atas ironi.”

Lantas, apakah kelak akan ada korupsi yang lebih wagu dari ini? Entahlah. Tapi, yang jelas kita harus tetap percaya bahwa “di atas langit masih ada langit”.

korupsi-tugu-antikorupsi-mojok

Terakhir diperbarui pada 9 November 2017 oleh

Tags: korupsikorupsi alqurankorupsi dana hajipekanbaruriautugu antikorupsi
Redaksi

Redaksi

Artikel Terkait

Dari Kebun Binatang Surabaya, Kita Belajar Cara Penguasa Melakukan Social Murder MOJOK.CO
Esai

Dari Kebun Binatang Surabaya, Kita Belajar Cara Penguasa Melakukan Social Murder

31 Juli 2026
Korupsi makin parah, MUI dorong hukuman mati bagi koruptor MOJOK.CO
Kabar

Kasus Korupsi di Indonesia Kian Mengkhawatirkan, MUI Dorong Hukuman Mati bagi Koruptor

28 Juli 2026
Dugaan Korupsi Bupati Sukoharjo: Warisan Bernama Korupsi MOJOK.CO
Tajuk

Dugaan Korupsi Bupati Sukoharjo: Warisan Bernama Korupsi 

13 Juli 2026
Emas 74 Kilo, Sumatra Gelap Gulita, dan Aparat Hukum yang Berperan Ganda MOJOK.CO
Esai

Emas 74 Kilo, Sumatra Gelap Gulita, dan Aparat Hukum yang Berperan Ganda

10 Juli 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Ngenesnya Jadi Dosen di Rezim Formalistik: Ikut Menyusun Regulasi Negara, Malah Dianggap Tak Bekerja MOJOK.CO

Ngenesnya Jadi Dosen di Rezim Formalistik: Ikut Menyusun Regulasi Negara, Malah Dianggap Tak Bekerja

5 Agustus 2026
El Nino.MOJOK.CO

Ancaman El Nino Kuat Intai Indonesia, Waspada Kekeringan Ekstrem dan Kebakaran Hutan

11 Agustus 2026
Putus pertemanan di lingkungan kantor yang toxic. MOJOK.CO

Putus Pertemanan dengan Rekan Kerja Toxic adalah Jalan Terakhir Saya Hidup Bahagia dari Drama Usia 30-an

5 Agustus 2026
Pengamen di Jalan Malioboro Jogja kayak orang malak MOJOK.CO

Saya Jauh Lebih Rispek ke Pengamen Lampu Merah di Jogja daripada Pengamen Malioboro karena Dua Alasan

6 Agustus 2026
Polemik IKAPI DIY dan toko buku Jogja perihal harga murah MOJOK.CO

Narasi “Harga Murah” Pameran Buku IKAPI DIY Singgung Toko Buku Jogja, Kalimat yang Tidak Seharusnya Keluar

5 Agustus 2026
Wali Kota Surakarta, Respati Ardi, pastikan jaga Lokananta Bloc sebagai kawasan ramah anak MOJOK.CO

Wali Kota Surakarta Pastikan Jaga Lokananta Bloc sebagai Kawasan Ramah Anak dan Ruang Kreatif Anak Muda

9 Agustus 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.