Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Kilas

Jembatan Kewek, Jembatan Ikonik Tempat Mural Kritis Dibungkam

Kenia Intan oleh Kenia Intan
15 Oktober 2023
A A
Jembatan Kewek, Jembatan Ikonik Tempat Mural Kritis Dibungkam MOJOK.CO

Jembatan Kewek, Jembatan Ikonik Tempat Mural Kritis Dibungkam (Wikipedia)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Jembatan Kewek salah satu jembatan ikonik di Jogja. Selain letaknya yang berada di pusat kota, Jembatan Kewek kerap menjadi tempat mural-mural kritis. 

Warga Jogja yang tinggal di pusat kota pasti pernah melewati jembatan yang satu ini. Jembatan Kewek meliputi jembatan kereta api dan jembatan jalan raya yang menghubungkan kawasan Kotabaru dan Malioboro. Kedua jembatan itu merupakan peninggalan Belanda yang sudah berusia ratusan tahun.

Jembatan Kewek yang terletak di dekat pusat Kota Jogja itu sering menyita perhatian. Di salah satu sisinya menjadi tempat menyuarakan suara dalam bentuk mural. Sudah berkali-kali dinding kosong antara jembatan kereta api dan jembatan jalan raya itu menjadi tempat mural dengan berbagai pesan kritis.

Mural-mural kian menyita perhatian setelah masuk pemberitaan karena dihapus oleh Satpol PP. Pada 2021 misalnya, Satpol PP menghapus grafiti karya pemuda yang menamakan dirinya Bamsuck. Grafiti bertuliskan “Dibungkam dan Stop Represi” itu dibuat sebagai bentuk ekspresi kegelisahan dirinya. Belum genap 24 jam, mural itu sudah tidak ada lagi.

Geram, Bamsuck kemudian membuat grafiti lagi yang bertuliskan “Bangkit Melawan atau Tunduk Ditindas!” Dinding di dekat jembatan Kewek selama ini memang terkenal menjadi media seniman jalanan tau street art. Ia tidak memahami kenapa Satpol PP menghapus karyanya.  

Bukan kali pertama, penghapusan mural juga sempat ramai pada 2014. Mural itu bertulisan “Jogja Asat”. Mural itu sebagai bentuk kegelisahan seniman atas sumur-sumur warga yang keruing karena pembangunan hotel. 

Jembatan Kewek memang tempat strategis untuk menyampaikan mural dengan pesan-pesan kritis karena tiap harinya banyak kendaraan melintas. Jembatan ini menjadi akses paling dekat dari kawasan Kotabaru ke Malioboro. Adapun cikal bakal pembangunan jembatan ini pada era Belanda memang untuk memudahkan akses ke Malioboro dari Kotabaru. Pada saat itu memang sudah ada Jembatan Gowongan, tetapi jalannya terlalu memutar.

Sejarah Jembatan Kewek

Sebenarnya, sebutan Jembatan Kewek merujuk pada jembatan jalan raya yang menghubungkan kawasan Kotabaru dan Malioboro dan jembatan kereta api yang berada di atasnya. Keduanya sama-sama ada sejak zaman Belanda.

Jembatan kereta api itu sudah ada sejak pembangunannya  jaringan rel kereta api dan Stasiun Lempuyangan  pada 1872. Jembatan itu dibangun oleh Nederlands-Indische Spoorwegmaatshappelijk (NIS). Sementara, jembatan untuk jalan raya yang menghubungkan Kawasan Kotabaru hingga Malioboro sudah ada sejak 1924.

Nama Kewek berasal dari Bahasa Belanda “Kerk Weg” artinya jalan menuju gereja. Namun, nama itu mengalami penyesuaian karena orang Indonesia pengucapannya yang sulit. Akhirnya, jembatan ini lebih terkenal dengan sebutan Jembatan Kewek.

Kehadiran jembatan jalan raya Kewek tidak lepas dari pengembangan kawasan Kotabaru pada sekitar 1920. Pemerintah Belanda membuat jembatan untuk mempermudah akses dari Kotabaru menuju Malioboro. Asal tahu saja, pada saat itu akses ke Malioboro baru ada jembatan Gondolayu. Melewati jembatan ini lebih jauh.

Akhirnya sebuah jembatan dibuat melintasi di bawah jembatan kereta api dibangun. Jembatan dari kota baru itu melintasi bawa jembatan kemudian berbelok ke barat hingga sampai ke Malioboro. Jembatan itu dibangun di bawah jalur kereta api agar tidak menimbulkan kemacetan atau penumpukan kendaraan akibat perlintasan kereta api.

Sebenarnya jalan tersebut bernama Jalan Abu Bakar Ali saat ini. Penamaan itu berasal nama pahlawan yang gugur dalam pertempuran Kotabaru pada 1949. Walau sudah berubah menjadi Jalan Abu Bakar Ali, masih banyak masyarakat yang menyebutnya sebagai Jembatan Kewek hingga saat ini.

Adapun jembatan itu menjadi bagian inti dari kawasan pusaka Kotabaru. Keputusan itu tertuang dalam Keputusan Gubernur DIY No 186/KEP/2011 tanggal 15 Agustus 2011 tentang Penetapan Kawasan Cagar Budaya. Jembatan itu sekaligus menjadi menjadi batas antara Kemantren Jetis, Gondokusuman, dan Danurejan.

Iklan

Penulis: Kenia Intan
Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA Sejarah Jalan Kaliurang, Jalan Terpadat di Jogja yang Semakin Menyebalkan
Cek berita dan artikel Mojok lainnya di Google News

Terakhir diperbarui pada 18 Oktober 2023 oleh

Tags: jembatan kewekJogjamural
Kenia Intan

Kenia Intan

Content Writer Mojok.co

Artikel Terkait

Gudeg, Kuliner Jogja yang Makin Tak Cocok untuk Orang Miskin (Unsplash)
Pojokan

Harga Gudeg Jogja Naik, Berpotensi Menguatkan Sisi Gelap kalau Kuliner Jogja Ini Memang Bukan Makanan Murah Lagi

9 April 2026
Jogja Bisa Ditinggalkan Wisatawan kalau Mengandalkan Jebakan Aji Mumpung MOJOK.CO
Esai

Jogja Ditinggalkan Wisatawan kalau Mengandalkan Jebakan Aji Mumpung 

8 April 2026
Deles Indah, Bukti Klaten Punya Harga Diri yang Bisa Kalahkan Jogja dan Solo sebagai Tempat Wisata Populer MOJOK.CO
Catatan

Deles Indah, Bukti Klaten Punya Harga Diri yang Bisa Kalahkan Jogja dan Solo sebagai Tempat Wisata Populer

7 April 2026
Pekerja Jogja kaget pindah kerja di Purwokerto demi alasan slow living. Tapi kaget dengan karakter orang Banyumas MOJOK.CO
Urban

Pekerja Jogja Pindah Kerja ke Purwokerto Nyari Slow Living, Tapi Dibuat Kaget sama Karakter Orang Banyumas karena di Luar Ekspektasi

6 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Hasutan dan jebakan orang minta donasi di Stasiun Tugu Jogja, ternyata berkedok penipuan MOJOK.CO

Turun Stasiun Tugu Jogja Muak sama Orang Minta Donasi: Tidak Jujur Sejak Awal, Jual Kesedihan Endingnya Jebakan

5 April 2026
Mio M3: Motor Yamaha Paling Menderita dan Dianggap Murahan MOJOK.CO

10 Tahun yang Indah Bersama Mio M3: Motor Yamaha yang Dianggap Murahan, Diremehkan Orang, dan Katanya Bikin Orang Menyesal

7 April 2026
perumahan, tinggal di desa, desa mojok.co

Meninggalkan Hidup Makmur di Desa, Memilih Pindah ke Perumahan demi Ketenangan Jiwa: Sadar Tak Semua Desa Cocok Buat Slow Living

8 April 2026
Astrea Grand, Motor Honda yang Menjadi Mitos MOJOK.CO

Astrea Grand, Motor Honda Penuh Dusta yang Celakanya Pernah Menjadi Mitos dan Membuatnya Dikagumi karena Motor Ini Memang Meyakinkan

5 April 2026
Jurusan Antropologi Unair selamatkan saya usai ditolak UGM. MOJOK.CO

Ditolak UGM Jalur Undangan, Antropologi Unair Selamatkan Saya untuk Tetap Kuliah di Kampus Bergengsi dan Kerja di Bali

6 April 2026
Mencintai Musik Underground di Madura: Merayakan Distorsi di Tengah Kepungan Dangdut MOJOK.CO

Mencintai Musik Underground di Madura: Merayakan Distorsi di Tengah Kepungan Dangdut dan Tagihan Shopee PayLater

3 April 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026
Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

4 April 2026
Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

2 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.