Mereka yang Mancing ‘Main Kasar’ di Demo Omnibus Law Tak Kan Menang: Panjang Umur Perjuangan!
Mereka yang Mancing ‘Main Kasar’ di Demo Omnibus Law Tak Kan Menang: Panjang Umur Perjuangan!

Mereka yang Mancing ‘Main Kasar’ di Demo Omnibus Law Tak Kan Menang: Panjang Umur Perjuangan!

MOJOK.COTiba-tiba semua sudah berubah jadi chaos. Mahasiswa yang demo tolak Omnibus Law di Jogja pun jadi kambing hitam kemudian.

Dini hari sebelum aksi, sekira pukul satu pagi, saya ditanya Agus, suami saya, yang masih sama-sama menyelesaikan tenggat pekerjaan, “Kalis, besok mau turun aksi nggak?”

Saya tak langsung menjawab. Saya ingat, suami saya punya dua adik perempuan yang bekerja di sebuah pabrik. Ketika berdiskusi, Agus merasa terganggu perihal poin AMDAL problematik dalam Omnibus Law. Iya, UU yang tiba-tiba jadi sah sama Mbak Puan Maharani dkk. itu.

Saya yang awalnya tidak meniatkan diri untuk berangkat, akhirnya terusik juga. Ikut demo tolak Omnibus Law? Oke, gas.


Akhirnya pagi-pagi, kami memutuskan untuk ikut hadir dalam aksi #JogjaMemanggil. Dan pukul 10, saya dan suami sudah tiba di Bunderan UGM.

Bunderan UGM sudah bergairah dengan massa demo tolak Omnibus Law. Beberapa mahasiswa dari UNY, UGM, UIN, UMY, UPN, APMD, dan kampus-kampus lain sudah datang. Ini belum menghitung serikat buruh plus ada pula elemen pelajar.

Saya dan suami yang praktis hanya menjadi romli (alias rombongan liar) dalam demo tolak Omnibus Law kali ini memutuskan buat ikut satu barisan bersama pelajar saja. Kita sebut saja mereka sebagai anak STM.

Dan inilah beberapa teriakan yang kami dengar sepanjang berjalan kaki dari Bundaran UGM menuju Kantor Gubernur di Jalan Malioboro, Yogyakarta.

“Heee, Mbak, karo Mas buruh Rocket Chicken. Ayo ikut turun, Mbak Masss. Sehari saja kita protes pada negara!”

Teriakan ini ditujukan ke Kantor Indosat, mentang-mentang warna kantornya sama-sama oren. Oalah.

“Mbaaak, ayo turun Mbaak. Sejam aja, Mbaak. Pamit karo bose, Mbaak.”

Teriakan ini ditujukan ke mbak-mbak penjaga toko yang turut berdiri sambil cengengesan di depan toko sambil merekam aksi dengan ponselnya.

“Mbak Karitaaa, aku ngene iki demi kowe lho, Mbaaak. Ayo melu Mbaaak.” Karita, salah satu toko fesyen premium di Jogja.

Dan tentu saja teriakan ini, “Re… vo… lu… si! Revolusi, revolusi!”

Baca juga:  Profesor Hukum Ditilang Polisi: Tak Seorang pun Mau Dipermalukan di Ruang Publik

Banyak “kaum tua” yang mendistorsi partisipasi politik anak muda sebatas pada pertanyaan “siapa dalang aksi” atau “siapa yang mendanai aksi”.

Faktanya, anak-anak muda melakukan kajian, mengorganisir diri, menulis pamflet aksi yang mereka sebar ke massa aksi untuk saling mengedukasi dan juga berkesenian. Produk seni komik bermuatan pesan perubahan sosial, barangkali bisa Anda temukan ketika tulisan ini tayang dan sudah tertempel di banyak titik di Jogja.

Sebagai fasilitator pelatihan remaja untuk isu kekerasan berbasis gender tiga tahun terakhir ini, saya tak pernah meragukan agensi anak muda. Ketika ada studi bilang, anak milenial tidak suka membaca, saya tak pernah percaya.

Pelajar jaman sekarang membaca lebih banyak dibanding masa saya ketika jadi pelajar di sebuah kota kecil dengan akses pengetahuan yang amat terbatas. Ketika ada studi bilang, anak milenial suka yang instan-instan, saya tidak pernah percaya. Hari ini, banyak teknologi dan inisiatif gerakan bertumbuh lewat anak-anak usia pelajar.

Saya yakin betul remaja jaman sekarang sangat well-informed karena akses yang cukup kepada teknologi, mereka terbiasa mengorganisir diri lintas platform dan bahkan globally connected dengan anak muda lainnya dari seluruh dunia (biasanya berbasis hobi).

Tuduhan-tuduhan soal tunggang-menunggangi di setiap aksi yang pasti sudah diorganisasi dengan semaksimal mungkin oleh anak muda dengan pikiran merdeka ini terasa terlalu receh buat saya. Energi muda anak muda ini di jalanan terlalu positif.


Berjalan bersama di barisan anak STM, saya nyaman-nyaman saja. Mereka berjalan dengan rapi. Tahu caranya mematuhi instruksi korlap aksi. Memberi jalan dengan kompak ketika ada ibu-ibu motor metik lewat. Mereka tidak kasar. Celetukannya ‘menthes’ dan tentu saja tetap penuh humor. Mereka kompak, saling jaga kawan masing-masing.

“Pak Polisi… Pak Polisi… tugasmu mengayomi. Pak Polisi… Pak Polisi… jangan ganggu aksi kami,” yel-yel damai diserukan.

Sejak aksi #ReformasiDikorupsi tahun lalu, partisipasi anak STM dalam aksi memang jadi fenomena politik yang unik. Untuk demo tolak Omnibus Law ini, mereka tentu sangat sadar posisinya. Setelah lulus, anak STM mayoritas segera mengisi ruang-ruang produksi di banyak perusahaan. Jelas mereka menginginkan masa depan yang lebih baik.

Baca juga:  Lain Jokowi Dulu, Lain Jokowi Sekarang

Baiklah, tidak semua memang yang bakal langsung kerja, banyak juga anak STM yang mengambil peran menciptakan lapangan kerja tapi mari kita bahas umumnya saja.

Isu ketenagakerjaan ini isu anak muda, sebab merekalah masa depan negara ini. Anak muda yang selalu dibanggakan para pejabat publik yang berpidato sebagai bonus demografi. Bonus yang akan beralih menjadi beban demografi jika negara ini terus-menerus salah urus.

Tentu saja, saya awalnya menduga keributan-keributan kecil dalam demo tolak Omnibus Law di Malioboro itu wajar. Maklum, massa aksi di Jogja hari ini tiga kali lebih besar dibanding aksi tolak RUU KPK pada Gejayan Memanggil tahun lalu yang berjalan damai, rapi, penuh koordinasi.

Kalau sampeyan pernah ikut aksi, sampeyan juga pasti tahu massa aksi punya strategi mitigasi sendiri untuk meredam keributan macam ini. Mereka bertepuk tangan sambil menyanyi, “Persaaatuan Persaaatuan,” lalu tiga menit kemudian barisan akan kembali rapi.

Massa aksi cukup banyak yang terdata. Setiap massa dengan identitas berbeda yang datang, selalu disambut dengan tepuk tangan dan yel-yel khas aksi. Setiap yang datang adalah kawan yang setara. Setiap yang ada di barisan wajib saling menghormati. Mereka tak saling mengenal, tapi sangat memahami bahasa solidaritas.

Wong ketika bagi-bagi roti sambi saling melempar pun, mereka teriak, “Dimakan rotinya, itu yang bikin wong cilik!”

Sampai kemudian, entah pada menit ke berapa, tiba-tiba mulai terdengar suara tembakan-tembakan ke udara—yang kita tak tahu dari arah mana—sekaligus secara mengejutkan mengubah peta aksi seketika. Suara keributan yang merusak rencana aksi rapi yang mau dikondisikan damai ini.

Lantas dari keributan yang kami tak tahu itu diawali dari arah mana, semua berubah jadi chaos. Mahasiswa-mahasiswa yang awalnya santai-santai saat demo tiba-tiba kena lemparan gas air mata. Pentungan Polisi tiba-tiba datang dari arah mana-mana.

Baca juga:  Yang Bermasalah dari Kampanye Nikah Muda ala Ukhti Mega

Orang-orang yang menonton dari layar televisi atau potongan-potongan video di media sosial (tentu yang pakai tagar dukungan pada UU ini) akan disajikan kabar tak presisi. Terutama mengenai gambaran yang saya dapat bersama suami. Gambaran-gambaran akan berubah ketika tersaji di kanal berita televisi.

Saya sudah menduga, bahwa mahasiswa yang akan dapat tudingan kesalahan-kesalahan ini. Mereka yang bakal jadi kambing hitam dari aksi provokasi semacam ini.

Namun, saya yakin, video dan foto di lapangan yang pelan-pelan tersebar di media sosial (beruntung, Jalan Malioboro punya banyak CCTV) akan memperlihatkan, siapa yang “main kasar” di demo tolak Omnibus Law ini.

Buat mereka yang dengan serampangan menyalahkan aksi ini, apalagi yang mengasihani kerusakan halte atau fasilitas umum, untuk sekadar mengingatkan: kalau saya sih, lebih kasihan sama anak muda yang tiba-tiba kepalanya dipentungi sama yang punya pentung, dikejar-kejar sama yang pakai pakaian siap perang, dan nanti kalau sampai kantor masih dipaksa buat telanjang.

Sampai subuh hari ketika saya masih terkantuk-kantuk menulis ini, ribuan massa aksi di Polda Metro Jaya tak dipakaikan kaos, tak dipakaikan masker, dan tak boleh mendapat bantuan hukum. Kawan-kawan LBH Yogyakarta juga mengabarkan hal yang sama.

Ratusan mahasiswa yang ditangkap belum boleh ditemui dan belum boleh mendapat bantuan hukum, meski mereka sudah mendapat surat kuasa keluarga untuk didampingi dalam proses hukum. Ratusan nama, termasuk di Jakarta, Malang, Yogyakarta, dan kota lainnya juga masih hilang.

Kepercayaan sudah sampai pada titik terendah. Jika masih tak ada iktikad baik dari pemerintah, saya justru semakin yakin semangat perlawanan akan semakin berdarah-darah.

Panjang umur perjuangan untuk teman-teman mahasiswa dan buruh se-Indonesia.

Semoga, setelah semua yang terjadi hari ini, ada kabar baik dari penguasa. Semoga.

BACA JUGA Kamu Tak Harus Membaca Seluruh Isi UU Cipta Kerja untuk Ikut Menolaknya dan tulisan Kalis Mardiasih lainnya.