MOJOK.CODi kubu sana, kami sering dibilang kaum munafik, di kubu satunya kami dibilang Islam radikal. Haduh, maju kena, mundur kena.

Beberapa hari lalu suami saya mendapat undangan untuk reunian dengan teman-teman SMA–nya. Singkatnya setelah pulang, dia membawa cerita bahwa teman–temannya kini kaget dengan tampilannya yang berjenggot lebat dan bercelana cingkrang.

Ini belum ditambah dengan muka suami saya yang ke arab–araban, plus statusnya sebagai guru di sebuah sekolah Islam. Hal ini makin membuat teman-teman suami saya “takut”.

Padahal mah suami saya di sekolah itu cuma ngajar ilmu komputer, bukan ngajar pelajaran agama. Untungnya, suami saya sering mendapat respons seperti itu jadi ya dia santai saja, tetap berbaur dan ngobrol seperti biasa.

Di akhir acara temannya ada yang bertanya, “Kupikir kamu ke sini bakalan menceramahi kita semua, Rif.”

Lah? Suami jelas heran, memang mau ceramah apa pas reuni? Ceramah supaya jangan ada yang terjebak CLBK sama mantannya gitu?

Saya juga jadi ingat dulu ketika masih kuliah ada teman saya yang beragama Hindu ingin datang ke rumah untuk membuat tugas. Ketika saya mengiyakan, dengan polosnya dia bertanya, “Bener nggak apa-apa aku main ke rumahmu, Ma? Aku kan agama Hindu, tatoan lagi.”

Saya langsung menghela nafas panjang. Pertanyaan sejenis ini sering sekali mampir ke saya. Untungnya sejak kecil saya hidup di Bali yang lingkungannya begitu heterogen, bahkan Islam bisa dibilang kelompok minoritas meski jumlahnya kian banyak.

Sebenarnya hubungan antara kaum pribumi Bali dengan pendatang yang beragama Islam baik–baik saja sampai terjadi Bom Bali 1 dan 2. Sejak itu mau tak mau kami sering mendapat cibiran sana-sini.

Sejak itu pula apa pun pemberitaan soal kaum Islam lebih sering yang berkonotasi negatif. Hal itu akhirnya berdampak pada kami yang tidak tahu apa–apa. Setelah aksi teroris yang tak kunjung henti, datang lagi ormas Islam yang memenuhi pemberitaan di tipi dengan sematan “Islam Radikal”.

Jika dulu semasa SD hingga SMP saya diejek teroris oleh teman–teman, maka saat SMA dan kuliah saya dianggap berafiliasi dengan kelompok Islam radikal. Tidak semua teman saya seperti itu sih, tapi spesies seperti itu selalu ada.

Kalau kalimat seperti itu meluncur dari mulut orang non-muslim sih saya masih oke–oke saja, tapi lucunya kalimat seperti itu juga datang dari saudara seiman kami sendiri. Setelah saya ingat-ingat lagi, setidaknya ada dua golongan yang sering mengata–ngatai kami.

Pertama golongan yang sering disebut orang sebagai golongan ekstrimis. Saya sendiri tidak mau menyebut mereka begitu, supaya mudah sebut saja mereka golongan 1A.

Golongan ini sering mengatai kami karena kami katanya terlalu bermudah–mudahan dalam beragama, tidak konsisten, munafik, dan lain–lainnya. Saya aja dikatain sesat gara–gara baca novel Dunia Sophie-nya Jostein Gaarder.

Sesatnya di mana coba?

Ya karena novel itu kan novel filsafat, katanya. Bagi mereka filsafat itu sesat, karena saya baca buku sesat akhirnya saya dihukumi orang sesat.

Baca buku begitu aja dihukumi sesat apalagi kalau mereka tahu saya baca Das Kapital-nya Karl Marx, bisa-bisa saya dianggap kafir. Pokoknya sedikit saja berbeda paham bakal dianggap sesat atau kafir, meski kami masih melaksanakan rukun Islam dengan sebaik-baiknya ya itu nggak masuk hitungan.

Nah, kalau golongan 1A mudah ngatai kami sesat atau kafir, sebaliknya golongan 1B justru agak takut kepada kami.

Beberapa orang pernah bertanya saya mengajar di mana, ketika saya sebut nama sekolah saya, eh, mereka langsung tidak mau menyekolahkan anaknya di sekolah saya. Katanya sekolah saya berfaham wahabi, tidak toleran, suka membid’ah–bid’ahkan orang. Mereka takut anaknya dibilang ahli bid’ah.

Jujur saja kami memang tidak pernah melakukan tahlilan, merayakan hari ulang tahun, tahun baru, apalagi valentine. Tapi tidak serta merta kami langsung bisa menghukumi orang lain yang melakukannya sebagai ahli bid’ah apalagi langsung mengkafirkan.

Lah wong orang tua saya sendiri masih melakukan tahlilan kok, mosok mau saya jauhi dan sebut orang tua saya ahli bid’ah? Malah yang ada saya tetap bantu beres–beres kalau ada acara tahlilan atau pengajian. Dan itu biasa saja.

Sekolah kami bahkan punya guru beragama Hindu yang mengajar pelajaran Bahasa Daerah. Kalau memang kami suka menghakimi orang tentu mereka sudah lari sejak lama. Tapi buktinya mereka betah betah saja mengajar di sekolah kami.

Saya juga punya sahabat sejak SD yang beragama Nasrani, dan sejak saya hijrah saya tidak pernah mengucapkan “Selamat Natal” padanya. Tapi toh buktinya hubungan kami masih baik-baik saja.

Nah, di sinilah golongan kedua yang sering ngatai kami adalah golongan Islam open minded sering masuk mencecar kami.

Lha iya, mereka ini ngakunya Islam tapi tidak begitu masalah dengan persoalan halal dan haram. Dengan cara pemahaman tertentu yang hukum awalnya haram bisa jadi tak sekrusial itu untuk dihindari.

Saya punya teman dia suka mabuk–mabukan, pacaran, clubbing, meski begitu salat tetap jalan. Karena kami cukup dekat sebagai teman, dia sering bilang saya ini katrok, kolot karena apa–apa serba-haram.

Dia bahkan pernah bilang jadi orang Islam itu yang penting baik dengan sesama. Dia bilang semua agama itu sama saja yang penting mengajarkan kebaikan.

Saya jadi heran kenapa dia tidak jadi agnostik saja sekalian daripada menyebut dirinya Islam tapi tidak mau ikut aturan di dalamnya? Lagian anjuran di mana sih, di Islam yang jadi ngebolehin pemeluknya buat mabuk–mabukan atau gonta-ganti pacar hanya karena berdasar asal tidak merugikan orang lain?

Saya sih akhirnya terbiasa aja dibilang kolot hanya karena penampilan saya yang pakai kerudung panjang. Cuek aja sih, toh saya juga merasa tak perlu menjelaskan kalau sebenarnya saya banyak punya teman dengan circle yang berseberangan dengan saya tapi hubungan tetap baik-baik saja.

Mulai dari yang gay sampai yang kumpul kebo, saya berkawan baik dengan mereka semua. Oke, saya tahu perbuatan mereka diharamkan di agama saya, tapi menghukumi teman-teman saya sebagai orang kafir atau sesat, waduh itu jelas bukan wewenang saya.

Lagian kalau saya yang berkerudung panjang ini kolot, kaku, dan Islam radikal, mosok iyo saya sampai sekarang masih aja mau baca Mojok yang isinya kadang nyindir-nyindir orang-orang kayak saya?

BACA JUGA Kerudung di Negeri Ini dan Tafsir yang Dilekatkan Pada Kami.

Baca juga:  Dalam Diriku, Agama Mencerahkanku, dalam Masyarakat, Agama Menindasku