Bisa saya katakan bahwa Mojok sangat berpihak kepada kapitalis asing dan tidak pro terhadap gerakan go green. Buktinya nyatanya saya temukan ketika membuka satu per satu artikel di rubrik ini. Isinya tak lain hanya promosi kendaraan yang menggunakan bahan bakar fosil. Oleh karenanya ijinkan saya untuk bicara moda transportasi yang sangat akrab dengan masa kecil kita: se-pe-da.

Bagi saya sendiri, bersepeda tak pernah terbayangkan akan menjadi aktivitas sehari-hari. Sedari dulu saya agak skeptis sama benda ini karena sebuah peristiwa. Dulu pas mau disunat, orang tua bilang saya bakal kasih itu barang. Sungguh ini deal yang menggoda, bagaimana selembar kulit bisa ditukar dengan seperangkat logam.

Belakangan saya hanya bisa menahan sakit hilangnya kulit tadi dan nyeri karena harapan dibelikan sepeda menguap begitu saja. Dalih orang tua saat itu, uang sangu para tamu undangan dipakai buat membayar tagihan. Untuk menebus kesalahan mereka, mamah papah d irumah kasih saya jimbot a.ka.a gameboy yang pilihan permainannya kalau nggak Tetris ya Pacman. Itu pun jimbot seken, sodara-sodara.

Saat SD saya berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki. Menginjak SMP, Kopaja 609 jadi pilihan utama. Masuk SMA orang tua memfasilitasi saya dengan Yamaha Vega R. Hingga akhirnya, alhamdulillah, saya kuliah di Madinah. Kebiasaan saya pun berubah.

Jauhnya jarak asrama mahasiswa ke gedung kuliah, ke kantin mahasiswa, dan ke segala tempat hangout, toko kitab, beserta beragam alasan lainnya membuat saya berpikir untuk membeli sebuah alat transportasi guna menunjang rutinitas sehari-hari. Pilihan saat itu cuma dua: sepeda atau motor matic dua tak merek Bio.

Motor Bio langsung saya coret dari opsi karena harganya intoleran terhadap keberlangsungan hidup mahasiswa. Ditambah, biasanya motor yang dijual adalah motor bodong tanpa surat-surat yang rentan diambil polisi saat razia. Berbekal uang yang dikasih orang-orang kampung saat berangkat, saya memulai ekspedisi mencari sepeda.

Berdasarkan riwayat sahih yang saya dengar dari senior, katanya ada pasar sepeda di daerah utara Masjid Nabawi yang mirip-mirip pasar sepeda Muara Angke. Bersepeda di Saudi ibarat membaca Mojok bagi kalangan akhi dan ukhti: asing dan buang-buang waktu doang. Karena nggak populer tadi, bisa dipastikan pilihan yang ada itu-itu saja.

Pilihan saya jatuh pada sepeda BMX KW merek Banaweer. Sepeda made in China berbalut merek lokal itu memang merajai pasar persepedaan di sini, bukti bahwa nama kearab-araban tidak hanya dikuasai bayi-bayi di Indonesia, tapi juga sepeda di Arab. Warnanya merah menyala, perawakannya kekar dengan velg racing yang juga merah membuat saya jatuh cinta pada pandangan pertama. Setelah selesai transaksi dengan harga 400 rial Saudi (1 real = Rp3500) sepeda saya boyong ke asrama yang jaraknya cukup jauh dari TKP.

Di perjalanan menggowes sepeda anyar, azan Isya berkumandang. Saya buru-buru mencari masjid untuk salat jamaah. Karena masih baru di Madinah dan tidak paham lokasi, saya bertanya kepada seorang bapak-bapak, di mana masjid terdekat berada?

“Di kamar,” dia jawab.

Saya pikir doi bercanda. Saya tanya lagi,

“Di kamar?”

Na’am. Di kamar,” dia meyakinkan saya.

Tadinya saya pikir om itu cuma orang yang males jamaah di masjid. Lalu … beberapa detik kemudian ia mengeluarkan dompet sambil menunjukkan lembar-lembar rial dengan gerakan ayunan kepala miring ke kiri beberapa kali dan memasang mimik muka yang mengisyaratkan rasa haus dan dahaga teramat sangat.

What the …. Insting laba-laba saya otomatis menyala. Saya langsung gowes sepeda baru dengan kecepatan cahaya, menjauh dari manusia durjana tadi. Alhamdulillah, Allah menyelamatkan saya potensi menjadi bahan berita media online yang kemungkinan besar judulnya adalah “Mahasiswa Indonesia Tertangkap Razia Polisi Syariah Madinah Sedang Berduaan dengan Om-Om Di Kamar”.

Setelah kejadian itu saya dan Banaweer menjadi sahabat. Saya menamainya Si Merah, selain warnanya memang merah, nama itu mengilustrasikan semangat yang tak pernah padam. Merah juga melambangkan darah yang mengalir dalam tubuh. Dan merah juga me-rewind memori saya akan ukhti berkerudung merah. Kyaaa.

Selama enam semester menemani, si merah sudah saya ganti joknya dua kali. Jok aslinya memang tak sebanding dengan lebar pantat saya, juga kurang presisi, membuat saya kadang nyeri lepas bersepeda. Alhamdulillah, dengan jok yang lebih lebar, saya nyaman menaikinya walau sekarang entah kenapa joknya jadi miring sebelah. Padahal saya pikir tidak ada yang aneh dengan pesebaran lemak di pantat.

Remnya sebanyak tiga buah, dua diantaranya rem tangan yang keduanya sekarang hanya jadi aksesori semata. Nyaris nggak ada fungsinya. Yah pahamlah, namanya juga sepeda buatan China. Sedangkan rem yang satunya, jamak dikenal bocah-bocah SD sebagai rem torpedo. Itu loh, yang pedalnya diputer ke belakang biar ngerem. Dari situ saya belajar bahwa kadang kita perlu memutar roda kehidupan kita sejenak ke belakang untuk mengerem hasrat keduniawian kita. Halah.

Untuk kecepatannya sendiri tergantung dari destinasi yang dituju. Jika tujuannya gedung kuliah dalam kondisi bangun kesiangan ditambah jam pertama yang ngisi dosennya killer, atau bangun kesiangan pas mau Jumatan, dia bisa sampai ke top speed-nya walau si pengendera mengayuh dengan gamis dan peci lengkap. Turun sedikit dari top speed-nya yakni jika diarahkan ke tempat makan mahasiswa, terlebih jika ada jam kosong. Sedangkan kecepatan paling rendah ialah ketika empunya pulang dari warung membawa galon isi ulang ke gedung asrama.

Untuk biaya maintenance sendiri, ini kadang bikin saya makin mudah ingat Allah Yang Maha Pemberi. Berhubung barang China, tentu keluhan barang ringkih dan gampang rusak bukan takhayul yang gampang dinegasikan. Dan parahnya, bengkel sepeda yang terletak dekat gedung asrama kami mematok harga yang kadang nggak peka pada kantong mahasiswa.

Untuk ganti ban dalam bisa dikenakan tarif 15 rial alias 53K. Ganti ban luar kena 20 rial alias 70K. Ganti rantai sepeda atau jok lebih mahal lagi, kena 30 rial alias 105K. Padahal, spare part yang dijual China-China juga. Rasa-rasanya, barang China tapi mahal ya cuma di sini aja. Ibarat beli Vivo dengan harga Samsung, kadang bikin saya, huft, speechless.

Karena itulah kadang saya suka iri pas lihat Pak Jokowi bagi-bagi sepeda mahal dan keren di mana-mana. Kalau Bapak baca ini, ayo dong, Pak, kemari. Bawa sekalian sepeda-sepedanya. Jangankan cuma lima jenis ikan, lima jenis onta juga saya jawab, Pak. Jangankan cuma lima nama menteri, Pak, lima nama kru Mojok juga saya hafal. Jangankan lima nama mantan Presiden, lima nama mantan saya juga … astaghfirullah, saya gak punya mantan, Pak.

No more articles