Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Kalau Tidak Diterima PNS Tidak Masalah, Yang Penting Saya Pernah Mencoba

Ibnu Majah oleh Ibnu Majah
23 Oktober 2018
A A
keberanian lelaki
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Kamu yang tidak berminat jadi PNS, ya tidak perlu mendeskreditkan kami yang memang ingin jadi PNS. Toh, kami juga tidak melakukan sebuah tindak kejahatan.

Tahun 2015 lalu, saya diwisuda dari sebuah universitas negeri. Otomatis, sejak saat itu saya resmi menyandang gelar Sarjana.

Ketika sudah dijalani, kuliah memang tidak semenarik kelihatannya. Kuliah tidak mudah, tetapi juga nggak sulit-sulit amat.

Saya berhasil lulus dalam kurun 3 tahun 7 bulan 28 hari. Proses skripsi, yang katanya paling sulit, saya rampungkan dalam waktu kurang dari lima bulan. Bukan mau sombong atau apa, tapi memang kenyataannya begitu.

Belakangan, 3 tahun selepas prosesi wisuda saya, pengumuman seleksi CPNS 2018 resmi diluncurkan. Alhamdulillah, gelar Sarjana di belakang nama saya akhirnya akan berguna juga. Setidaknya, dengan gelar itu saya bisa mengikuti seleksi CPNS.

Saya tidak mau naif, menjadi PNS masih menjadi salah satu impian saya. Ada banyak hal yang melatarbelakangi, tentu di sini saya tidak bisa mengungkapkan semuanya.

Kalau sekiranya kamu alergi dengan profesi ini, setidaknya hargailah usaha-usaha kami yang benar-benar menginginkannya. Jangan malah membuat kami tampak seperti orang yang hanya mementingkan diri sendiri, ogah berinovasi, tidak kreatif, merepotkan, dan sebagainya.

Beberapa waktu lalu, saya sempat membaca tulisan yang dibagikan oleh salah satu pengguna Facebook. Di situ, ada kalimat yang menyatakan bahwa menjadi seorang PNS adalah cita-cita pemuda zaman baheula.

Kira-kira, mereka yang menempuh pendidikan pada era 80-90-an. Sementara untuk orang-orang yang menempuh pendidikan SMA atau kuliah di atas tahun 2010, para generasi millennials, seharusnya tidak memikirkan untuk menjadi PNS.

Katanya, mereka memiliki banyak kesempatan untuk melakukan hal-hal yang visioner, penuh kreativitas, menjadi seorang pengusaha di berbagai bidang. Tentu saya “seharusnya” masuk kategori itu karena saya adalah pemuda yang kuliah di atas tahun 2010.

Baik, ada bagian dalam diri saya yang mengamini pernyataan tersebut. Sekarang, profesi pekerjaan memang tak terbatas. Tidak melulu harus memiliki kantor, berangkat pagi, pulang petang. Apa pun bisa menjadi profesi, bisa menghasilkan, dan kalau beruntung, pundi-pundi yang diperolah justru akan jauh lebih besar daripada mereka yang menjalani profesi mainstream—pekerja kantoran, termasuk PNS.

Namun, sebentar. Semua profesi itu memang baik. Tapi kenapa muncul stigma buruk kepada orang-orang yang ingin mendaftar jadi PNS ya?

Bagi orang-orang yang terlahir dari keluarga berkecukupan, pilihan profesi mungkin memang bukan perkara penting. Mereka nggak kerja pun nggak masalah untuk beberapa waktu. Pilihan untuk bisa bekerja sesuai passion pun kadang masih bisa dijabanin. Atau kalau mau jadi pengusaha juga bisa, karena punya modal usaha yang lumayan.

Atau bagi mereka yang lahir dengan otak cemerlang, pikiran kreatif, dan punya jiwa petualang, rasanya bisa bebas-bebas saja memilih profesi yang cocok. Bahkan—bisa jadi—jika memang kualifikasi kemampuannya benar-benar kelas wahid, bakal ada banyak perusahaan yang memperebutkannya.

Iklan

Sudahlah, jangan naif, memang ada kok orang yang lahir dengan otak cemerlang dan otak biasa saja. Mereka yang memang sudah pintar sejak orok, belajar sebentar saja, langsung paham. Sementara yang lahir dengan otak pas-pasan, sudah mati-matian belajar, ya susah. Belum lagi, kalau dalam proses belajar itu mereka selalu dibanding-bandingkan.

Orang sukses dengan usaha ekstra keras—memang banyak. Namun, yang sukses karena dianugerahi kemampuan ingatan kuat dan lahir dari keluarga berkecukupan juga tak kalah banyak. Apalagi yang sudah berusaha keras, tetapi nggak sukses-sukses, wah yang ini jauh lebih banyak lagi.

Saya kebetulan lahir bukan dari keluarga kaya. Sangat pas-pasan. Saya menyebut kebetulan, karena memang manusia tidak bisa memilih untuk dilahirkan dari keluarga yang mana. Satu hal yang harus digarisbawahi, saya sama sekali tidak menyesal atas kondisi ini.

Kehidupan saya biasa-biasa saja. Kakak-kakak saya, ada empat orang, tidak ada yang sekolah sampai universitas. Sedangkan saya, beruntung bisa melanjutkan ke perguruan tinggi karena saya beruntung bisa dapat beasiswa.

Bagi saya yang punya otak pas-pasan ini, untuk bisa bersaing mendapakan satu di antara beberapa beasiswa yang ditawarkan sungguh berat sekali. Pada akhirnya kursi yang saya raih dalam SNMPTN Jalur Ujian Tulis tahun 2011 lalu adalah kursi pada jurusan yang kurang populer.

Saya sebetulnya juga sama dengan kamu semua, memilih jurusan dengan prospek yang baik di masa depan saat SNMPTN. Namun, nasib berkata lain. Otak saya yang pas-pasan hanya mampu mempersembahkan kursi ini. Jurusan yang cenderung tidak ada peminatnya, tetapi tetap di perguruan tinggi negeri.

Ada kesempatan kuliah yang tidak bisa didapatkan kakak-kakak saya dengan beasiswa, meski bukan jurusan yang benar-benar saya sukai karena bukan jurusan populer dan cenderung dinilai sebagai jurusan madesu, kalau sampai tidak saya ambil ya itu namanya kufur nikmat.

Setelah saya lulus, madesu yang ditakutkan itu benar adanya. Sulit sekali mencari pekerjaan dengan ijazah sarjana yang saya miliki. Saya ikut job fair ke sana-sini. Saya memasukkan lamaran ke sana kemari. Semua nihil. Tidak ada yang melirik. Dipanggil wawancara pun tidak.

Oh ya, kalau kamu bertanya, kenapa saya nggak mencoba usaha kreatif saja? Yak an secara saya ini termasuk generasi milenial gitu.

My Love, Sayangku, usaha kreatif itu nggak mudah. Otak saya ini pas-pasan, duit nggak punya, teman nggak banyak—karena saya cukup introvert. Lagian orang kampung mana sih yang bisa sangat percaya diri saat memasuki kemegahan dunia kampus? Mesti bergaul dengan anak-anak dari keluarga yang nggak perlu mikir besok bakal makan apa?

Ada memang mahasiswa yang kondisinya seperti saya, tapi jumlahnya nggak banyak.

Poinnya, waktu itu saya harus bekerja ke orang dulu agar tahu dulu bidang yang ingin saya geluti sebagai wirausahawan. Jadi bawahan, nggak masalah juga sih sebenarnya. Nggak usah ngomongin bisnis dulu. Hanya saja kondisinya agak sulit karena saya benar-benar nggak punya modal.

Lalu setelah kuping cukup panas mendengar omongan tetangga karena saya tidak kunjung dapat kerja—dan saat itu saya juga sadar bahwa menjadi sarjana itu sulit sekali. Karena nggak hanya berperang dengan diri sendiri karena belum dapat kerja, tetapi juga harus mendengarkan omongan orang yang pedasnya nggak ketulungan, akhirnya saya dapat sebuah pekerjaan.

Tiga tahun setelahnya, saya masih bekerja di tempat yang sama. Sesuatu yang saya dapat dengan susah payah tidak akan dengan mudah saya lepaskan. Sampai saya mendapat ganti yang jauh lebih menjamin hidup saya.

Dan saat ini, seleksi CPNS sudah dibuka. Untungnya, jurusan madesu saya itu nyelip sebagai kualifikasi di beberapa daftar formasi yang ditawarkan.

Ini adalah kesempatan bagi saya. Kamu mungkin tidak tahu, Beibh, betapa akan bahagianya orang tua saya jika saya nanti sampai jadi PNS. Bisa mengangkat ekonomi keluarga saya yang pas-pasan itu.

Apalagi, belum ada sejarahnya dalam anggota keluarga saya jadi PNS, dan kalau saya sampai berhasil, apakah saya nggak mengukir sejarah baru namanya? Sombong sekali kalau saya menyia-nyiakan kesempatan ini. Teman-teman saya bisa jadi mencibir langkah saya untuk daftar PNS, tapi bagi saya keluarga adalah prioritas utama.

Meski begitu, bukan berarti pekerjaan saya sekarang tidak menyenangkan dan jabatan CPNS yang sedang saya usahakan itu belum tentu akan lebih membuat saya lebih nyaman bekerja.

Namun, saya ingin melihat orang tua saya tersenyum karena saya. Karena capaian saya.

Kalau kamu membicarakan soal: kenapa saya nggak menanamkan pemahaman pada orang tua, bahwa profesi seorang sarjana nggak harus melulu PNS.

Saya hanya ingin balik bertanya: apakah kamu bisa membicarakan hal semacam itu pada bapak-ibumu, jika mereka adalah warga dusun, yang setiap waktu menyaksikan, dan merasakan, hidup berdampingan dengan para PNS, yang selalu dihormati dan disegani dalam masyarakat? Maaf, saya tidak pernah sampai hati mendebat orang yang telah membesarkan saya.

Jadi, kamu yang tidak berminat jadi PNS, tidak perlu mendeskreditkan kami, orang-orang yang masih ingin berjuang menjadi PNS. Toh, kami juga tidak merepotkan kalian atau melakukan sebuah tindakan kejahatan yang meresahkan.

Dan, buat kamu yang juga ingin menjadi PNS seperti saya, ya mari kita berjuang bersama-sama. Setidaknya, kalau impian kamu tidak tercapai, kamu sudah mendeklarasikan diri bahwa itu mendaftar jadi PNS itu tidak masalah dan tidak perlu malu karena kita memang menginginkannya.

Saya pun ingin dan akan begitu. Tidak merasa malu, meski ada banyak orang yang mencibir keputusan saya ingin jadi PNS ini. Saya akan berjuang untuk seleksi CPNS 2018. Kalau pun nanti tidak lolos, ya tidak masalah. Toh, setidaknya saya pernah mencoba.

Terakhir diperbarui pada 22 Oktober 2018 oleh

Tags: Cpnskreatifmadesumilenialorang tuaPNSsarjanauniversitasusahawisuda
Ibnu Majah

Ibnu Majah

Artikel Terkait

14 juta pekerja terima gaji di bawah UMP/UMK, sebagian besar dari kalangan lulusan perguruan tinggi (sarjana) MOJOK.CO
Ragam

Nasib Sarjana Kini: Masuk 14 Juta Pekerja Bergaji di Bawah UMP, Jadi Korban Kesenjangan Dunia Kerja

9 Januari 2026
Bapak-ibu dihina saudara sendiri karena ingin kuliahkan anak di PTN, tapi beri pembuktian. Meski anak jadi mahasiswa di PTN ecek-ecek tapi jadi sarjana pekerja kantoran MOJOK.CO
Kampus

Ortu Miskin Dihina Saudara Kaya saat Ingin Kuliahkan Anak, Meski Kuliah di PTN Ecek-ecek Malah Punya Karier Terhormat ketimbang Anak Saudara

8 Januari 2026
Lima Kali Alesha Operasi Mata dan Sebuah Doa yang Tak Lagi Sama MOJOK.CO
Esai

Lima Kali Alesha Operasi Mata dan Sebuah Doa yang Tak Lagi Sama

5 Januari 2026
5 liputan terpopuler Mojok 2025. Cerita para sarjana S1 hingga lulusan S2 yang hadapi realitas menjadi pengangguran MOJOK.CO
Liputan

5 Liputan Terpopuler Mojok Sepanjang 2025: Saat Realita Dunia Kerja Menampar Para Sarjana dan Lulusan S2

1 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Brownies Amanda Memang Seterkenal Itu, Bahkan Sempat Jadi "Konsumsi Wajib" Saat Sidang Skripsi

Brownies Amanda Memang Seterkenal Itu, Bahkan Sempat Jadi “Konsumsi Wajib” Saat Sidang Skripsi

17 Januari 2026
Saya Memutuskan Kuliah di Jogja Bukan Hanya untuk Cari Ilmu, tapi Juga Lari dari Rumah

Saya Memutuskan Kuliah di Jogja Bukan Hanya untuk Cari Ilmu, tapi Juga Lari dari Rumah

12 Januari 2026
“Andai Ibu Tidak Menikah dengan Ayah”: KDRT Tidak Selalu Datang dari Kekerasan, tapi Juga Lewat Ketidakpedulian .MOJOK.CO

“Andai Ibu Tidak Menikah dengan Ayah”: KDRT Tidak Selalu Datang dari Kekerasan, tapi Juga Lewat Ketidakpedulian 

11 Januari 2026
Mens Rea, Panji Pragiwaksono sebagai Anak Abah, dan Bahaya Logika Fanatisme MOJOK.CO

Mens Rea, Pandji Pragiwaksono sebagai Anak Abah, dan Bahaya Logika Fanatisme

12 Januari 2026
Penjual kue putu di Jogja. MOJOK.CO

Kegigihan Gunawan Jualan Kue Putu di Kota-kota Besar selama 51 Tahun agar Keluarga Hidup Sejahtera di Desa

14 Januari 2026
Film Semi Jepang Bantu Mahasiswa Culun Lulus dan Kerja di LN (Unsplash)

Berkat Film Semi Jepang, Mahasiswa Culun nan Pemalas Bisa Lulus Kuliah dan Nggak Jadi Beban Keluarga

14 Januari 2026

Video Terbaru

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

13 Januari 2026
Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

11 Januari 2026
Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

8 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.