• 17
    Shares

Tanya

Halo Mojok
Perkenalkan, saya seorang ibu dengan seorang anak, nah anak saya mau masuk SD, kebetulan anak saya ini saya lihat memiliki ketertarikan terhadap musik. Untuk menunjang ketertarikannya terhadap musik ini saya sekarang bingung memutuskan apakah bagusnya dia disekolahkan di sekolah swasta (yang lumayan mahal) yang memiliki ekstrakulikuler musik, atau dimasukan sekolah negeri biasa tapi dimasukan ke sekolah musik yang bagus.

Pertanyaan saya, selain pertimbangan biaya, apakah ada hal lain yang harus saya pertimbangkan? Semoga om Haryo punya jawaban terhadap kebingungan saya ini.
Terima kasih banyak, Mojok.

Jawab

Halo Bunda, senang sekali Om mengetahui ada mamah muda yang menaruh perhatian besar pada minat anak, musik khususnya.

Musik menurut banyak penelitian ilmiah, dipersepsikan dapat menyeimbangkan otak kanan dan kiri. Harapannya, musik dapat membantu memperkuat daya ingat, mengasah kepekaan, meningkatkan koordinasi sensorik dan motorik, dan tak kalah pentingnya bermanfaat untuk sosialisasi.

Itu semua akan lebih efektif jika diajarkan kepada anak seawal mungkin. Hanya saja hidup bermasyarakat ternyata tidak mudah. Jika mempunyai keinginan seperti itu, Bunda mungkin akan disergap dengan pertanyaan, “Eh, Bun, emangnya anaknya mau dijadiin musisi, biar terkenal kaya Andika Kangen Band yah?”

Lha kok suara teman atau tetangga. Terkadang pasangan kita pun belum tentu sepaham soal manfaat atau pendidikan musik untuk anak.

“Sudahlah, Bunda. Anak kita biar belajar matematika dan fisika saja. Mau jadi apa mereka kelak kalau sejak awal kita bekali  dengan musik ngak ngik ngok?’

Itu ketidakpahaman paling umum, seolah segala hal yang kita pelajari dalam hidup harus secara langsung dijadikan sumber penghidupan. Dari membaca kita mengetahui bahwa fisikawan terpandang sepanjang masa, Albert Einstein, tidak sekedar bisa menggunakan alat musik biola, tetapi sangat menguasai. Alat tersebut dikuasainya sejak masih sangat sangat muda. Umur 5 tahun, Einstein kecil sudah disuruh maminya mempelajari biola secara khsusus.

Itu Einstein. Orang yang dalam bayangan kita hidupnya hanya belajar dan belajar, kalau ada waktu luang sedikit saja disuruh les kumon atau matematika! Hahaha maaf Bunda, bagian ini bercanda saja. Om tidak kuasa kalau digrebek ALKI (Asosiasi Les Kumon Indonesia). Tapi bukankah sebagian masyarakat kita seperti itu? Anak menjadi laboratorium percobaan sistem pendidikan nasional kita. Hidup seolah hanya dari UN ke UN selama 12 tahun.

Banyak hal yang ternyata tidak kita ketahui dari diri seorang ilmuwan. Dalam benak kita, seorang fisikawan itu mengurung diri di kantor atau laboratorium. Faktanya tidak selamanya seperti itu. Einstein kalau mumet memikirkan teori relativitas larinya juga ke biola, bukan mumet sampai rambut  awut-awutan seperti di banyak foto. Kalau itu sih karena dia jarang nyisir!

“Ah itu kan Einstein. Kasuistis. Ilmuwan lain barangkali tidak seperti itu”

Weits, jangan salah. Secara berkala kampus-kampus besar di bidang eksakta waktu itu sering menyelenggarakan pagelaran musik klasik. Selain mengisi panggung-panggung tersebut dengan musisi gesek profesional, Einstein kerap bermain dengan koleganya, Paul Enrenfest, seorang fisikawan teoritis.

Kalau sudah seperti itu, bagaimana kita akan mematahkan klaim bahwa musik akan menghidupkan setiap bagian dari otak manusia untuk bekerja lebih optimal? Tentu saja  semakin sulit.

Itu contoh tokoh di lapangan sains, dimana mereka tidak melulu berkutat dengan rumus, tapi menyempatkan mempelajari musik secara khusus. Bagaimana dengan contoh-contoh di bidang lain yang tidak mempelajari musik secara formal?

Dari tadi manggil Bunda, Om kok jadi teringat Bunda Maia. Walaupun sudah berumur kok Maia itu kecantikannya masih terjaga banget ya, Bun? Sudah ayu, musikalitasnya tinggi, produser handal yang mengantarkan banyak musisi menjadi terkenal.

Eh, anu, Om hanya mau mengatakan bahwa musik dan penghidupan itu 2 hal yang berbeda. Itu penting sebagai langkah awal untuk menepis saat orang berusaha memversuskan manfaat musik, cita-cita dan kesuksesan.

Baca juga:  12 Tahun Belajar Bahasa Inggris di Sekolah dan Tetap Nggak Bisa Ngomong

Maia tidak secara khusus memasukan anak-anaknya ke pendidikan musik. Hanya saja, dia bersama-sama dengan mantan suaminya, salah satu jenius dalam industri rekaman Indonesia, Ahmad Dhani, mewariskan DNA untuk dapat hidup di Industri hiburan Indonesia. Faktor genetika di industri tersebut sangat berpengaruh. Lihat saja Indra Lesmana dan Mira Lesmana yang mewarisi Jack Lesmana, Barry Likumahuwa yang mewarisi Benny Likumahuwa, dan seterusnya.

Bu Sudjiatmi, Ibunda Jokowi, juga tidak mengalokasikan anggaran mengursuskan musik untuk Jokowi. Kalau kemudian Jokowi mempunyai kecakapan melakukan koordinasi yang sangat baik di segala urusan di negeri ini, seperti halnya presiden sebelumnya, SBY. Sangat mungkin itu tak lepas dari bakat besar mereka dalam memainkan alat musik.

Silahkan lihat permainan Jokowi yang “ngerock formal” saat sepanggung dengan Boomerang. Bisa juga lihat deretan album SBY yang uwuwuwu di tengah kesibukannya menjadi presiden. Lihat antusiasme mereka, lihat rasa percaya diri mereka. Jangan dikira itu tidak terkait dengan keberanian mereka dalam mengambil keputusan  berisiko sebagai kepala negara.

Om tidak bermaksud bertele-tele soal musik dan manfaatnya, Bun. Hanya hendak memberi penekanan bahwa seni secara umum, dan musik secara khsusus tidak pernah dijadikan skala prioritas di dalam sistem pendidikan nasional kita. Sebagian besar orang di negeri kita ini lebih berkiblat pada ilmu-ilmu yang “keras” seperti matematika atau fisika. Padahal seni, khususnya musik akan membuat mereka lebih “halus”, yang pada gilirannya dapat menggandakan kreatifitas dan menebalkan sensitifitas.

Makanya Om itu dari tadi itu kagum sekali dengan antusiasme, Bunda untuk mengajarkan musik pada anak sejak dini.

Memang tidak pernah ada jaminan orang yang secara khusus mempelajari musik akan berhasil hidupnya. Demikian juga dengan tidak terjaminnya orang yang mempelajari matematika sejak kelas 1 SD kelak akan menjadi ahli matematika. Tetapi dalam kasus yang ditanyakan Bunda lain, ada minat dari anak yang bertemu dengan keseriusan orang tua untuk memfasilitasinya.

Itu salah satu ciri kesuksesan, mengetahui secara pasti yang diiinginkan dan diperlukan.

Sekarang ke pertanyaan pokoknya, apa yang seharusnya diputuskan kalau kita dihadapkan pada dua pilihan. Sekolah di swasta yang di dalamnya ada ekstrakurikuler musik (walau mahal), atau sekolah di SD negeri biasa tapi dileskan di sekolah musik yang bagus?

Ada beberapa hal yang harus saya sampaikan sebelum menjawab pertanyaan tersebut.

Pertama, Bunda beruntung sekali mempunyai keleluasaan untuk dapat memilih di antara keduanya. Tidak sedikit orang tua terpaksa mengalah kepada keadaan karena tidak mampu “menyelipkan” anggaran les musik untuk anaknya. Duwit penting, tetapi bukannya tidak ada solusi.

Kedua, alat musik apa yang hendak kita pilihkan untuk anak? Bisa jadi kita baru pada taraf menebak bahwa anak kita, secara umum menyukai musik. Tetapi belum memahami alat musik jenis apa yang lebih mereka sukai. Banyak orang tua yang akhirnya memaksakan ego untuk asal les piano. Selain terkait biaya, sangat mungkin anak kita akan lebih berkembang di alat musik petik, gesek atau perkusi.

Ketiga, seberapa paham kita sebagai orang tua mengetahui ekstrakurikuler musik di sekolah swasta yang dimaksud? Biasanya, ekstrakurikuler musik di banyak sekolah dikemas dalam bentuk ansambel (alat musik campuran yang dimainkan bersama). Tidak secara khusus mengajarkan instrumen yang menjadi minat si anak.

Keempat, tau pasti tujuan mempelajari musik. Cukup dapat memainkannya atau mempelajari banyak aspek di dalamnya?

Implikasi atas keempat hal tersebut dapat kita pergunakan untuk setepat mungkin membuat pilihan. Baik tepat tempat sekolah, tepat jenis instrumen yang akan ditekuni, tepat mengalokasikan anggaran untuk pendidikan musiknya.

Jika biaya tidak menjadi masalah maka sekolah swasta dengan ekstrakuler musik yang bagus dapat dijadikan pilihan. Ansambel dapat untuk melatih kedisiplinan dan harmonisasi, sedangkan untuk alat musik yang tidak diajarkan di sekolah dapat dipelajari di tempat kursus.

Baca juga:  Mengagumi Pertanyaan Absurd Anak Kecil: Dari Bulan Sang Stalker sampai Tuhan Tukang Hacker

Itu berlaku jika uang sekolahnya maksimal 10% dari penghasilan kita. Lebih dari itu (> 1juta) akan membebani pengeluaran bulanan Bunda. Keluarga dengan penghasilan 10 juta perbulan dapat mengambil opsi tersebut. Sedangkan di bawah angka tersebut (5-10 juta) akan lebih optimal kalau memilih sekolah negeri yang relatif murah (gratis).

Tetapi opsi memilih sekolah swasta dan les musik tersebut ada keterbatasannya. Jika Bunda menghendaki anaknya les piano, harus dipikirkan juga kepemilikan instrumen yang relatif lebih mahal jika dibandingkan dengan gitar, misalnya. Piano klasik bekas dengan kondisi ideal setidaknya berharga paling murah 25 juta.

Kalau pembeliannya ditunda? Konsekuensinya kemajuannya juga lebih lambat. Tapi punya pun tidak menjadi jaminan. Betapa banyak instrumen mewah tersebut hanya berakhir jadi pemanis ruangan saja di negeri ini?

Kalau belum ada dana? Gunakan rumus paten dari Om, masukkan kebutuhan les di pengeluaran rutin atau “korbankan” sekian persen dari pengeluaran untuk pribadi.

Ya bunda harus bedakan lebih tipis, maskeran pake timun yang dibeli di pasar saja, dan ngopi di luar rumah sesekali aja. Tas, sepatu, perhiasan? Tunggu kondisi membaik.

Kalau pilihannya instrumen relatif mahal seperti piano, ambilkan dari tabungan (kalau ada) atau masukkan di cicilan sepanjang tidak ada cicilan lain yang dipandang lebih urgen. Komposisinya tetap, pengeluaran rutin 40%, cicilan utang 30%, pribadi 20%, dan tabungan “cukup” 10%. Prinsipnya, kelebihan dari cicilan dan pengeluaran pribadi dapat dialihkan ke tabungan. Yha kalau sisaaa.

Berat nambah pengeluaran per bulan di kisaran 500 ribu – 1 juta? Kalau dirasa berat, si anak sekolah di negeri saja, maka pos baru dalam pengeluaran rutin tidak akan memberikan tekanan yang berarti.

Kalau penghasilannya kurang dari 5 juta bagaimana, Om?

Dalam derajat tertentu musik seolah kegemaran yang mahal. Stereotip tersebut ditepis oleh banyak komunitas diberbagai kota yang mengajarkan musik dengan biaya sekedarnya atau malah tanpa biaya. Beberapa waktu silam, Om pernah menyaksikan sendiri ada komunitas musik di Taman Suropati, Jakarta Pusat, yang tidak memilih atau memilah pesertanya. Seorang anak yang down syndrome pun mereka terima.

Berikutnya, memanfaatkan revolusi di dunia internet yang memungkinkan bertemunya “murid dan guru” secara privat. Tidak ada syarat khusus untuk mendapatkan guru kelas dunia. Kita hanya perlu koneksi internet dan kemauan keras.

Di luar 2 hal tersebut, banyak anak yang dapat bermain musik karena bergaul dengan teman yang dapat bermain musik. Pembuktiannya sederhana, mungkin lebih dari 80% pengamen jalanan hari ini tidak memperoleh pendidikan musik secara khusus.

Musik yang kita bahas kali ini pemaknaan musik secara sempit. Baru pada tahap membicarakan musik dalam tataran praktis, bagaimana cara memainkannya. Banyak aspek musik yang dapat dipelajari, dari mulai sejarah, manajemen industri hingga pendidikan musik.

Padahal menurut para sarjana seperti Francis Rauscher, Gordon Shaw dan Chaterine Ky, cukup mendengarkan Sonata in D Mayor karya Mozart pun sudah sangat baik untuk meningkatkan aspek kognitif anak.

“Om, jangan bikin bingung. Jadi anak saya perlu les musik atau nggak”

Perlu dong walau tidak harus. Kalau ada anggaran lebih tentu belajar musik secara khusus banyak keutamannya. Kalau tidak ada, beragam cara di atas dapat dipraktikan. Jangan sampai faktor keuangan jadi penghambat.

Einstein pun saat bersua dengan Elizabeth, Ratu Belgia, lebih banyak ngobrolin musik kok. Apa menariknya coba ngomongin teori relativitas?

Bagian romantisnya, keduanya bersatu dalam alunan Sonatanya Pakdhe Mozart. Elizabeth mendentingkan piano dengan jari lentiknya, Einstein meningkahi dengan gesekan biola yang menyayat hati. Awwww Jadi inget Mas Pur dan Novita.