Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Tangani Banjir Jakarta dengan Ajak Air Bicara

Hasanudin Abdurakhman oleh Hasanudin Abdurakhman
6 Desember 2018
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Musim hujan jadi musim waswas bagi warga Jakarta. Sebab hujan berarti ada kemungkinan Jakarta bakalan dilanda banjir. Lagi dan lagi. Seperti sebuah tradisi.

Sebenarnya banjir bukan cuma masalah Jakarta. Ada banyak daerah lain yang juga punya ancaman banjir yang sama—atau—bahkan lebih parah. Masalahnya, Jakarta merupakan pusat semesta dalam pikiran orang Indonesia. Sedangkan daerah lain hanya remah rengginang belaka dibandingkan Jakarta.

Jadi, kalau Depok atau Bekasi banjir, itu bukan soal, karena keduanya bukan Jakarta. Apalagi kalau yang banjir adalah Manado atau Mandailing Natal. Ia hanya akan jadi berita sekilas di televisi. Sudah pasti tidak akan jadi bahan sorak-sorai Cebong dan Kampret.

Sebelum Pilkada 2017, banjir adalah hal yang ditunggu oleh para Kampret. Kalau banjir terjadi, Kampret akan berteriak girang. Banjir adalah peluru bagi Kampret untuk mengejek Gubernur Jakarta saat itu, dari Jokowi lalu dilanjutkan oleh Ahok, sesembahan kaum Cebong.

Setelah Pilkada 2017 kutub histeria perbanjiran berpindah. Kalau terjadi banjir usai gubernur baru terpilih, giliran Cebong berteriak histeris, karena dapat bahan untuk menyoraki Anies, sesembahan baru kaum Kampret.

Kesamaan kedua golongan ini adalah mereka berfantasi bahwa junjungan mereka masing-masing punya kesaktian menghadapi banjir.

Cebong selalu menganggap bahwa Ahok sudah bisa mengatasi banjir selama pemerintahannya. Tak peduli bahwa pada tahun 2017 Kemang dan Bukit Duri terendam banjir. Kampret sama gilanya. Pada banjir tahun lalu ada Kampret yang mengabarkan bahwa meski arus air dari Katulampa begitu dahsyat, ternyata air itu jadi melempem ketika tiba di Jakarta, sehingga tidak menimbulkan bencana yang lebih besar. Itu berkat kesaktian Anies.

Di tengah kekhawatiran kita pada ancaman banjir, saya akan sampaikan berita gembira, bahwa air ternyata bisa diajak bicara. Sifat-sifat air bisa dipengaruhi kalau kita mengajaknya berbicara.

Bayangkan, kalau kita bisa mengajaknya bicara baik-baik, kemudian kita ajak air hujan itu untuk segera masuk ke bumi, tidak berkumpul di permukaan, juga tidak mengalir ke laut dengan melawan kehendak Tuhan, tentu Jakarta dan kota-kota lain akan bebas dari ancaman banjir.

Adalah Dr. Masaru Emoto, orang Jepang yang mengabarkan soal ini. Kata dia, air itu strukturnya dipengaruhi oleh interaksi dengan manusia. Kalau air itu diberi kata-kata positif, ditunjukkan gambar-gambar indah, maka ia akan memiliki struktur yang baik dan indah. Sebaliknya, kalau kepada air itu disampaikan kata-kata yang buruk, air akan memiliki struktur yang buruk.

Lho, ini tidak main-main. Yang ngomong adalah doktor, orang Jepang pula. Kurang meyakinkan apa coba?

Dr. Masaru Emoto melakukan sejumlah eksperimen. Ia mengambil air dari berbagai sumber, kemudian meminta ribuan orang melantunkan doa-doa kepada air itu. Kemudian air itu dibekukan, lalu kristal air yang terbentuk dari air beku itu dipotret dengan mikrofotografi.

Hasilnya sungguh mengejutkan!

Air yang diberi kata-kata positif dan doa-doa ternyata membentuk kristal yang indah. Lebih hebat lagi, bentuk kristal air yang terbentuk ternyata berbeda-beda, tergantung doa agama yang diucapkan padanya. Artinya, kristal yang didoakan dengan doa Islam tampak berbeda dengan yang didoakan dengan cara agama Kristen. Tapi yang penting adalah semua kristal itu walau berbeda, tampak indah belaka.

Iklan

Masaru Emoto juga menunjukkan bahwa air yang kena polusi tidak bisa membentuk kristal yang indah. Setelah didoakan, barulah kristal yang indah bisa terbentuk. Kristal air juga terbentuk dengan indah kalau diperdengarkan lagu-lagu simfoni Mozart.

Hasil yang sama diperoleh dari memperdengarkan lagu “Imagine” karya John Lennon. Kristal air tampak buruk kalau diperdengarkan makian dan lagu-lagu heavy metal. Lebih lanjut, kristal air tampak cantik saat ditunjukkan gambar Bunda Teresa, dan menjadi buruk saat ditunjukkan gambar Hitler.

Artinya apa? Air sepertinya punya jiwa. Ia bisa diajak berkomunikasi. Tinggal tergantung kesanggupan kita membangun komunikasi dengannya. Kemampuan ini yang harus kita latih.

Bayangkan. Saat air sedang bergolak di Katulampa sana, lantas kita datangi, kita ajak bicara, lalu perlahan air itu menjadi tenang. Mereka akan secara perlahan menyelinap masuk ke pori-posi tanah, dengan tertib antre, tidak menimbulkan kegaduhan dan banjir. Atau mereka dengan tertib mengalir ke laut, tertib mengikuti bentuk sungai, tidak meluap keluar. Tidak akan ada lagi banjir.

Eh, tapi kan tidak boleh mengalir ke laut, karena melawan hukum Tuhan. Gimana sih, ente nih? Kan ini air yang sudah diajak bicara baik-baik. Artinya tidak bertentangan lagi dengan hukum Tuhan.

Sungguh ini berita gembira. Kita akan segera bebas dari banjir.

Sayangnya, penemuan Dr. Masaru Emoto ini diragukan kebenarannya oleh para ilmuwan sekuler. Padahal temuan ini sudah dimuat di jurnal ilmiah. Menurut pada ilmuwan sekuler, eksperimen Emoto banyak mengandung kesalahan atau error. Banyak pula fakta yang tidak akurat. Intinya, penelitian Emoto ini adalah gathukan yang tidak ilmiah.

Tidak usah heran. Ilmuwan sekuler memang begitu. Mereka tentu tidak senang kalau ada orang yang bisa membuktikan kekuatan Tuhan. Kita tidak perlu terlalu pusing dengan mereka. Kita harus yakin dengan kebenaran. Bahwa air memang bisa diajak bicara baik-baik. Bahkan kalau perlu kita ajak berdiskusi.

Oleh karena itu, mulai dari sekarang coba biasakan untuk bicara yang baik-baik di depan air. Usahakan untuk berdoa atau menyanyikan lagu “Imagine” sebelum mandi. Awas, jangan sampai menyanyikan “Sweet Child of Mine” atau “November Rain” di dekat baik air—apalagi menyanyikan lagu “Yolanda”. Wah, bisa ngamuk tuh airnya.

Terakhir diperbarui pada 6 Januari 2020 oleh

Tags: ahokaniesbanjirbanjir jakartacebongHitleribukotajakartajokowikampretMasaru Emoto
Hasanudin Abdurakhman

Hasanudin Abdurakhman

Artikel Terkait

Hidup mati pekerja Jakarta harus tetap masuk, menerjang arus dari Bekasi
Urban

Menjadi Guru Honorer di Jakarta Tetap Sama Susahnya dengan di Daerah: Gajinya Cuma Seperempat UMR, Biaya Hidupnya 2 Kali Pendapatan

29 April 2026
Mie ayam bintang di Jakarta. MOJOK.CO
Kuliner

Belajar Membangun Bisnis dari Pedagang Mie Ayam Bintang, Sekilas Tampak Sederhana tapi Punya 5 Cabang di Jakarta

29 April 2026
Kerja di Jakarta.MOJOK.CO
Urban

Jakarta Tak Cocok bagi Fresh Graduate yang Cuma “Pengen Cari Pengalaman”: Bisa Bikin Finansial dan Mental Layu Sebelum Berkembang

26 April 2026
Derita orang Jember kerja di Jakarta: teralienasi karena dianggap tertinggal MOJOK.CO
Urban

Orang Jember Kerja di Jakarta: Mencoba Berbaur tapi “Tersisihkan”, Dianggap Tertinggal dan Tak Tersentuh Pendidikan

16 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Merawat Nilai Luhur di Dalam Candi Plaosan agar Tak Memudar Seiring Zaman Mojok.co

Merawat Nilai Luhur di Dalam Candi Plaosan agar Tak Memudar Seiring Zaman

27 April 2026
Keresahan Ibu-Ibu Usai Terbongkarnya Kasus Daycare Little Aresha: Gaji Ortu Semungil itu Harus Berhadapan dengan Absennya Negara dan Sesama WNI Jahat MOJOK.CO

Keresahan Ibu-Ibu Usai Terbongkarnya Kasus Daycare Little Aresha: Gaji Ortu Semungil itu Harus Berhadapan dengan Absennya Negara dan Sesama WNI Jahat

27 April 2026
Kerja di Jakarta naik transum kereta KRL

KRL adalah “Arena Perjuangan” Pekerja Jakarta: Tak Semua Orang Sanggup, Hanya Manusia Kuat yang Bisa

29 April 2026
Pelatihan skill digital IndonesiaNEXT Telkomsel berdampak bagi kesiapan kompetensi untuk terjun industri MOJOK.CO

Pelatihan SKill Digital IndonesiaNEXT Ubah Mahasiswa Insecure Jadi Skillfull, Bisnis Digital pun Tak Kalah Saing

1 Mei 2026
Pelari kalcer, fenomena olahraga lari

Bagi Pelari Kalcer, Kesehatan Tak Penting: Gengsi dan Diterima Sirkel Elite Jadi Prioritas Mereka

27 April 2026
Ibu terpaksa menitipkan anak di daycare karena orang tua harus bekerja

Ibu Menitipkan Anak di Daycare Bukan Tak Tanggung Jawab, Mengusahakan “Aman” Malah Diganjar Trauma Kekerasan

26 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.