MOJOK.COSuatu kali, di Taman Budaya Surakarta (TBS), untuk pertama kalinya saya berjumpa dan bersua dengan Sapardi Djoko Damono.

Sapardi Djoko Damono meninggal dunia Minggu (19/07) dalam usia 80 tahun. Tak ada hujan, hari cerah, dan senja pun masih lama. Tapi kita tak bisa menutupi kesedihan, bahwa kita telah kehilangan seorang penyair—yang syair-syair cinta, dengan metafora hujan dan senjanya—paling romantik setelah Rendra.

Saya senang membaca puisi-puisi Sapardi. Awalnya sebagai kebutuhan praktis, untuk menghaluskan dan memperlancar kebiasaan dalam menulis. Puisi-puisi Sapardi merupakan “sparring partner” yang bagus. Puisi-puisinya sederhana, lembut dan epik, serta kaya dengan “majaz”.

Sapardi Djoko Damono menghidupkan kata-kata seperti kenangan, hujan atau senja menjadi seperti makhluk yang bicara. Dia menciptakan rasa: rindu, lapar, atau sakit, jadi benda-benda yang bisa disentuh dan digenggam. Tak aneh kalau gaya bertuturnya dalam puisi banyak ditiru generasi penyair yang datang kemudian, secara halus maupun kasar.

Puisi-puisi Sapardi bukan rentetan kata dan kalimat yang kering. Ia sangat penuh makna, ditulis dengan pilihan diksi dan narasi yang terencana, dan renungan yang dalam. Karena itu—lebih dari sekadar kebutuhan praktis—ia bagi saya, bisa memperkaya sukma.

Jika dikatakan penyair adalah penyinar rohani masyarakat, maka Sapardi ada dan menjadi sosok terkemuka di dalamnya. Tanpa label penyair sufi atau puisi relijius, puisi-puisinya senantiasa mengundang perenungan.

Puisi “Mata Pisau” dan “Perahu Kertas” sebagai contoh adalah puisi yang maknanya demikian dalam. Pada yang pertama saya seperti diingatkan pada dua sisi kehidupan: kebaikan dan kejahatan, kebahagiaan dan penderitaan, semua terpulang pada kita untuk menjalaninya, sedang yang kedua pada impian dan panjangnya pencarian.

Para penggemarnya, terutama mengenalnya karena puisi-puisi cintanya. Tetapi pada suatu masa, dan jejaknya terus tersisa hingga tua, ia kerap menulis puisi tentang kematian dan pemakaman, yang sangat subtil. Karena terutama ditulis pada tahun 1967-68, ada sementara kalangan yang menduga, Sapardi menuliskan gambaran suram rentetan kematian dan kekerasan paska peristiwa politik 1965. Entahlah.

Suatu kali, di Taman Budaya Surakarta (TBS), untuk pertama kalinya saya berjumpa dan bersua dengan Sapardi. Tubuhnya saat itu tampak tinggi, mungkin karena kurus. Sapardi mengenakan jas yang agak kedodoran dan sebuah topi.

Ketika itu Sapardi Djoko Damono baru saja mengisi acara diskusi sastra. Dia berbincang akrab dengan anak-anak muda dan sama sekali tak ada kesan sombong. Yang membuat saya terkejut, dan serentak dengan itu terkesan, adalah Sapardi menjual secara langsung buku-buku puisinya. Sama sekali tak jaim, dan dengan santai serta diselingi canda melayani beberapa orang yang membeli bukunya secara eceran.

Baca juga:  Jonghyun, Terima Kasih dan Selamat Jalan

“Kalau tidak kita sendiri yang berjuang untuk mempromosikannya, lalu siapa?” katanya kurang lebih waktu itu.

Saat itu belum zaman media sosial seperti sekarang, dan menjual buku puisi tidak mudah, pun bagi seorang SDD, yang sudah masyhur sebagai penyair dan akademisi. Penerbit banyak yang enggan, toko buku banyak yang ogah. Para penyair harus berjuang sendiri, bukan hanya menjual, tapi bahkan untuk menerbitkannya. Sapardi adalah pejuang kesusasteraan. Ia menderita dan berbahagia di dalamnya.

Sapardi merupakan contoh ideal seorang yang belajar secara formal kesusastraan dan sekaligus sebagai sastrawan. Kebanyakan sastrawan bukan dari jurusan sastra, sementara yang jurusan sastra amat langka yang menjadi penulis cum sastrawan. Sapardi, dengan demikian, menggabungkan antara teori dan praktik bersastra.

Kumpulan esainya Politik Ideologi dan Sastra Hibrida menunjukkan otoritasnya sebagai akademisi sastra yang tajam plus sentivitas seorang sastrawan. Dan yang lebih panting lagi, Sapardi menekuni dan menyerahkan hampir seluruh hidupnya pada dunia sastra ini.

Menurutnya, karena dia menulis puisi sejak tahun 1957, tahun kebanyakan para pembacanya, yang paling tua sekalipun, belum lahir. Dengan demikian, Sapardi sudah berkecimpung dalam jagat sastra ini kurang lebih 63 tahun. Konsistensinya pada dunia sastra ini kuat dan terjaga, hingga akhir hayatnya. Sapardi menunjukkan tak pernah ada kata pensiun buat seorang penulis.

Mungkin dalam hal ini, Sapardi hanya ditandingi oleh Budi Darma. Sama-sama sastrawan, sama-sama akademisi sastra yang berwibawa, sama-sama terus dan produktif menulis hingga usia senja. Bedanya, Sapardi menulis puisi, Budi Darma menulis cerpen.

Keduanya pendekar tua yang energinya tak pernah habis dan passion-nya selalu menyala di bidangnya masing-masing. Namun Sapardi tak semata menulis puisi, ia juga menulis novel dan cerpen, meski pada kedua genre ini, karyanya tak sekuat puisi-puisinya.

Hal yang lain lagi yang perlu dan penting dicatat dari Sapardi adalah dia juga merupakan penerjemah yang piawai. Sapardi menerjemahkan karya John Steinbeck (Amarah), Ernest Hemingway (Lelaki Tua dan Laut), dan karya-karya sastra dunia lainnya.

Betapa pentingnya orang seperti Sapardi dalam karya terjemahan karena kita tidak hanya butuh seorang yang mengerti bahasa asing, tapi juga paham jiwa dari sebuah karya. Lebih-lebih jika itu adalah sebuah karya sastra.

Bagi Sapardi, terjemahan adalah karya tersendiri. Seorang penerjemah harus berulang-ulang membaca sebuah karya sebelum menerjemahkannya. Ketika menerjemahkannya, ia harus menciptakan bahasa tersendiri yang merupakan perpaduan dari kesetiaan pada kata dan kalimat dalam bahasa asal secara harfiah di satu pihak dan pemahaman pada makna di pihak lain, serta bagaimana ia dituangkan dalam bahasa sasaran secara bebas.

Baca juga:  Tahun Kelahi: Kaleidoskop Sastra Indonesia 2014

Dengan visi penerjemahan seperti itu, maka kita tentu tidak akan ragu membeli dan membaca sebuah buku terjemahan dengan nama seorang semacam Sapardi tertera di sampul atau kredit titelnya. Saya membaca Humor Sufi karya Idris Shah dan Dimensi Mistik dalam Islam karya Annemarie Schimmel dari terjemahan Sapardi yang diterbitkan oleh Pustaka Firdaus sekian tahun lalu.

Akhirnya yang juga penting dicatat adalah kesediaan Sapardi untuk terjun dan menyesuaikan diri dalam kancah media sosial yang dihuni para makhluk milineal. Seperti banyak kalangan “imigran digital”, pasti tak mudah bagi seorang sepuh seperti Sapardi untuk masuk ke sosial media, memperkenalkan karya-karyanya, menuliskan kutipan-kutipan puisinya, dan mengemukakan pendapat-pendapatnya.

Sapardi Djoko Damono seperti harus belajar dari awal dan terutama wajib tabah dengan “etika baru” dalam berkomunikasi ala milineal ini. Sapardi bersedia berbincang dengan generasi baru milineal itu dengan bahasa dan kosakata mereka, dan bahkan sudi bekerjasama dengan sebagian mereka. Seperti menjual buku secara eceran di era pra sosial media lalu, tak merasa jaim dan kehilangan kehormatan.

Baginya, inilah salah satu cara menjaga semangat literasi. Dan ini merupakan bagian dari konsistensinya untuk terus bertahan dan menghidupi jagat kesusteraan. Dia terus menulis, dan tak aneh kalau karyanya tetap laku keras, dan dikenal di kalangan milineal.

Sapardi meniti hidup dan berkarya hingga usia senja. Seperti Chairil yang cuplikan puisinya banyak dikenang, demikian juga, saya kira, dengan Sapardi.

Kata-kata seperti “Yang fana adalah waktu. Kita abadi”; “aku ingin mencintaimu dengan sederhana”; “Tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan juni”; “aku mencintaimu, itu sebabnya aku tak pernah selesai mendoakan keselamatanmu”; “Sesaat adalah abadi”; dan lain-lain, akan selalu dikenang dalam jagat literasi Indonesia.

Sebagai penutup saya kutipkan puisinya, “Pada Suatu Hari Nanti” yang ditulis pada tahun 1991, yang mungkin bisa menggambarkan dengan baik kepergian seorang penyair dan harapan pada sehimpunan puisi yang diwariskannya.

 

Pada suatu hari nanti,

jasadku tak akan ada lagi,

tapi dalam bait-bait sajak ini,

kau tak akan kurelakan sendiri.

 

Pada suatu hari nanti,

suaraku tak terdengar lagi,

tapi di antara larik-larik sajak ini.

Kau akan tetap kusiasati,

 

pada suatu hari nanti,

impianku pun tak dikenal lagi,

namun di sela-sela huruf sajak ini,

kau tak akan letih-letihnya kucari

 

Selamat jalan wahai penyair. Doa kami untukmu. Karena seperti sajakmu yang berapi-api, saat ini dirimu tak akan letih jadi abadi.

BACA JUGA Tersandung Puisi di Jalan Kasak-Kusuk Umat yang Instan, Receh, dan Micin atau tulisan Hairus Salim lainnya.