MOJOK.COSeorang uskup mengunjungi tiga pertapa yang sedang belajar mendekatkan diri dengan Tuhan secara otodidak. Oleh si uskup, ketiganya diajari cara berdoa yang sesuai aturan. Lalu mukjizat datang.

Tersebutlah di sebuah pulau kecil hidup tiga orang pertapa. Telah berpuluh tahun mereka tinggal di pulau tersebut.  Mereka menghindar dari kehidupan dunia, membersihkan batin, dan mencurahkan diri untuk beribadah kepada Tuhan saja.

Seorang uskup yang sedang dalam perjalanan ziarah mendengar perihal ketiga pertapa tersebut. Hatinya terpanggil untuk mendatangi mereka. Kemudi kapal pun diarahkan ke pulau tersebut. Uskup menemui dan memuji ketiga pertapa saleh itu, tetapi ia bertanya, apakah cara mereka berdoa dan mengabdi kepada Tuhan selama ini sudah benar?

Ketiga pertapa itu pun menjelaskan secara sederhana bagaimana mereka selama ini berdoa dan menyembah kepada Tuhan. Dalam setiap doa, mereka mengucapkan, “Tiga itu Engkau, tiga itu kami, semoga rahmat tercurah kepada kami,” sembari hati dan pandangan mereka tertuju kepada Tuhan.

Uskup tersenyum dan berkata, “Kalian telah mendengar sesuatu tentang Tritunggal Mahakudus, tetapi kalian tidak berdoa dengan benar. Kalian telah menarik perhatianku, orang-orang saleh. Aku melihat kalian ingin menyembah Tuhan, tetapi kalian tidak tahu bagaimana cara melayani-Nya. Itu bukan cara berdoa yang benar, karena itu dengarkan aku dan aku akan mengajari kalian. Aku akan mengajari kalian. Ini bukan caraku sendiri, tetapi cara Tuhan dalam kitab suci-Nya yang memerintahkan semua orang untuk berdoa kepada-Nya.”

Baca juga:  Pindah Agama Lantas Mengejek Keyakinan Terdahulu Itu Buat Apaan Sih?

Sang uskup mulai mengajarkan cara berdoa yang benar. Ketiga pertapa tua itu dengan rendah hati menerima pengajarannya. Namun, tidak mudah bagi lidah mereka yang tua dan gigi yang sudah tanggal untuk mengucapkan doa dengan benar. Beberapa kalimat harus mereka ulang berpuluh-puluh kali karena sering meleset dan tidak tepat. Si uskup senantiasa dengan sabar mengajari dan membimbing mereka untuk mengucapkan, “Bapak kami yang ada di surga….”

Setelah hampir sepanjang hari belajar dan mengulang-ulang, barulah para pertapa itu beranjak fasih mengucapkan seluruh doa dan mengerti cara beribadah yang benar. Si uskup senang sekali. Ia lalu pamit pulang.

***

Sudah pasti para pembaca kenal cerita ini. Ditulis oleh Leo Tolstoy (1828-1910) pada 1885 atau lebih dari satu seperempat abad yang lalu dan diterjemahkan ke bahasa Inggris pada 1907, “Three Hermits” atau “Tiga Pertapa” merupakan salah satu cerpen Tolstoy yang memberikan inspirasi mendalam bagi iman dan kehidupan keagamaan para pembacanya. Ia juga menjadi cerpen klasik yang paling sering dibaca.

Tolstoy, seperti dalam kebanyakan cerpennya, menulis dengan alur yang lurus disertai dialog-dialog para tokoh ceritanya. Cerpen bergerak mengalir dan barulah di akhir terjadi kejutan.

Dalam perjalanan pulang, di atas geladak kapal si uskup merasa senang sekali karena merasa telah menyelamatkan ketiga lelaki itu dari kekeliruan dan kesesatan. Berdiri di samping nakhoda, ia memandang luas lautan. Tiba-tiba dari kejauhan ia melihat cahaya putih bergerak menuju kapal yang ia tumpangi. Kini makin jelas di matanya cahaya yang bergerak cepat itu adalah ketiga pertapa yang mengejar kapal mereka. Mereka berlari seolah di atas daratan saja. Nakhoda jadi ketakutan sementara si uskup terdiam.

Baca juga:  Surat buat Tuhan

Para penumpang keluar dan memadati buritan. Mereka melihat para pertapa datang bergandengan tangan dan berseru agar kapal berhenti. Ketiganya meluncur di atas air tanpa menggerakkan kaki mereka. Sebelum kapal bisa dihentikan, para pertapa telah mencapai mereka. Ketiganya kemudian satu suara berkata,

“Kami telah lupa doa yang kamu ajarakan, wahai hamba Tuhan. Selama kami terus mengulanginya, kami ingat, tetapi ketika kami berhenti mengucapkannya, sebuah kata terlupakan dan sekarang semuanya hilang. Kami tidak dapat mengingat sama sekali doa itu. Tolong ajari kami lagi.”

Uskup itu membuat tanda salib dan bersandar di sisi kapal, lalu ia berkata,

“Doa kalian sendiri akan mencapai Tuhan, wahai para lelaki saleh. Aku tak pantas mengajari kalian. Doakanlah kami yang berdosa ini.”

Uskup itu membungkukkan badannya di hadapan orang-orang tua tersebut dan mereka pun berbalik kembali menyeberangi lautan. Di tempat mereka menghilang, cahaya bersinar sampai fajar terbit.

***

Berlatar dunia Kristen ortodoks, sebagaimana latar Tolstoy biasanya, cerpen ini membicarakan topic hal yang sebenarnya universal dalam agama-agama semit: tentang keajaiban, kerendahhatian, serta ketulusan di dalam kehidupan beragama. Ini adalah variasi dari kisah-kisah keajaiban dalam kitab suci, yang dalam lingkungan tradisional Islam disebut Karamah,  yakni adanya hal-hal yang tidak masuk akal dan di luar kebiasaan, tetapi diakui keberadaannya. Karamah arti harfiahnya ‘kemuliaan’.

Baca juga:  Panduan untuk Mensos Baru Bu Risma dari Filsuf-filsuf Cina

Akan tetapi, agama juga mengajarkan bahwa karamah bukanlah tujuan. Ia hanya efek dari pengabdian yang tulus dan mendalam. Karamah hanya diperoleh orang-orang yang mulia. Mereka itulah para kekasih Allah, waliullah.

Tolstoy menggunakan cerpen itu untuk menyampaikan kontras dua bentuk doa. Pertama ialah doa sederhana dari orang yang tidak tahu, yang diwakili para pertapa buta huruf tersebut. Kedua ialah doa formal, hasil doktrin, dan terlembaga, yang diwakili oleh tokoh uskup.

Tiga pertapa itu melantunkan doa dengan kepasrahan total dan ketulusan hati yang dalam. Mereka yakin Tuhan maha mengetahui dan bersemayam di mana saja. Ketiganya bergerak atas pengetahuan batin. Meski demikian, mereka juga tak pernah merasa telah benar-benar mencapai Tuhan. Itulah sebabnya mereka selalu dalam posisi ingin belajar.

Sebaliknya, uskup yang digerakkan oleh kenyataan lahir, yakin adanya aturan-aturan untuk mendekati Tuhan, merasa dirinya benar dan ingin menjejalkan kebenaran yang diyakininya itu kepada orang lain yang dipandangnya keliru dan salah. Barangkali bukan agama sang uskup itu masalahnya, tapi anggapannya bahwa ialah yang benar dan orang lain salah.

Suatu kali Imam Ali bin Abi Thalib berkata, “Tak seorang pun dapat mencapai Kebenaran sebelum ia sanggup berpikir bahwa Jalan Kebenaran itu sendiri mungkin salah.”

Baca edisi sebelumnya: Pujangga China Misterius di Sebuah Pesantren dan tulisan di kolom Iqra lainnya.